Browsed by
Author: admin

Di Gunung, Kita Mulai Melihat

Di Gunung, Kita Mulai Melihat

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

Lukas 9:28b–36 | Pesta Transfigurasi – 6 Agustus

Mengapa peristiwa transfigurasi Yesus terjadi di atas gunung? Bukankah Yesus bisa menyatakan kemuliaan-Nya di mana saja? Tapi gunung dalam Kitab Suci selalu menjadi tempat perjumpaan—tempat orang “naik”, menjauh sejenak dari keramaian, dan membuka diri dalam keheningan.

Saat Yesus berdoa di gunung, wajah-Nya bercahaya, pakaian-Nya berkilau. Tapi mungkin yang berubah bukan Yesus—melainkan mata para murid. Terang itu bukan baru muncul. Terang itu sudah ada, hanya belum mereka sadari. Dan dalam keheningan, mata mereka dibuka.

Sering kali kita juga seperti itu. Kita menunggu pengalaman rohani yang luar biasa, padahal yang ilahi sudah hadir dalam hidup kita sehari-hari—di tengah kesibukan, relasi, pekerjaan, bahkan dalam lelah dan luka. Kita hanya perlu “naik ke gunung” batin kita: berhenti sejenak, hadir sepenuhnya, dan melihat dengan mata hati yang tenang.

Transfigurasi bukan hanya tentang Yesus yang bercahaya, tapi tentang kesadaran kita yang berubah. Yang ilahi tidak terpisah dari yang biasa. Wajah yang bersinar di gunung adalah wajah yang sama yang nanti akan menderita. Dalam hidup pun begitu: terang dan gelap bukan dua hal yang terpisah, tetapi satu gerak yang utuh.

Hari ini, mari kita naik ke “gunung” kita masing-masing. Bukan untuk lari dari dunia, tapi untuk melihat dunia dengan cara yang baru. Karena mungkin terang itu sudah lama hadir—kita hanya belum sempat memperhatikannya.

Pengharapan tidak mengecewakan!

Pengharapan tidak mengecewakan!

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Matius 14:22-36

Selasa, 5 Agustus 2025

Dalam hidup dan kehidupan sehari – hari, berbagai tantangan, kesulitan, rintangan dan penderitaan membuat kita sering kurang bahkan tidak merasakan kehadiran Tuhan. Akibatnya ketika bahtera hidup kita diterpa gelombang, tidak jarang iman kita goyah, dan kita menjadi ragu bahkan takut seperti para murid Yesus. Namun Sabda Tuhan, “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” dalam warta hari ini kiranya mengingatkan dan meneguhkan iman kita bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita. Sebaliknyalah justru kitalah yang seringkali meninggalkan Dia.

Ketika Petrus berjalan di atas air menuju kepada Yesus, ia takut akan tiupan angin, dan iapun berteriak, “Tuhan, tolonglah aku! Tuhanpun mengulurkan tangan dan bersabda kepada Petrus, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?”  Teguran untuk Petrus ini kiranya masih sangat cocok bagi kita yang hidup di zaman ini. Sebab sebagaimana Petrus, kita sering merasa takut dan ragu mengarungi lautan hidup ini. Sebenarnya tidak ada alasan untuk takut dan ragu sebab Tuhan ada bersama kita. Akan tetapi realitanya seperti Petrus, kita tetap merasa takut. Mengapa ? Karena kita kurang atau bahkan tidak merasakan kehadiran Tuhan. Karenanya, mungkin juga kurang percaya kepadaNya.

Redupnya kepercayaan kepada Tuhan yang dialami oleh penduduk dunia jaman ini ditangkap oleh Paus Fransiskus. Keadaan inilah kiranya yang merupakan salah satu alasan beliau dalam tahun yubileum ini mendasarinya dengan bulla “Spes non confundit”, Pengharapan Tidak Mengecewakan [Rm 5:5]. Kita tahu bahwa di antara iman, harapan dan kasih, yang paling besar adalah kasih, dan yang paling kecil adalah harapan. Akan tetapi yang paling kecil menentukan 2 yang lain. Artinya siapapaun yang harapannya kecil, maka iman dan kasihnya juga kecil. Sebaliknya siapa saja yang harapannya besar, maka dapat dipastikan iman dan kasihnya juga besar. Karenanya jangan pernah kehilangan harapan. Siapa saja yang kehilangan harapan berarti kehilangan segalanya. Dalam keadaan apapun mari kita tetap berharap. Karena Dia yang kita imani dan kasihi tetap layak untuk kita harapkan. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” sabda ini menegaskan bahwa Pengharapan tidak mengecewakan!

Senin Pekan Biasa XVIII

Senin Pekan Biasa XVIII

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm


4 Agustus 2025
Bil 11: 4-15 + Mzm 81 + Mat 14: 13-21

Lectio
Suatu hari setelah Yesus mendengar berita pembunuhan Yohanes, menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka. Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Menjelang malam, murid-murid-Nya datang kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa.” Tetapi Yesus berkata kepada mereka: “Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan.” Jawab mereka: “Yang ada pada kami di sini hanya lima roti dan dua ikan.” Yesus berkata: “Bawalah ke mari kepada-Ku.” Lalu disuruh-Nya orang banyak itu duduk di rumput. Dan setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya membagi-bagikannya kepada orang banyak. Dan mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, dua belas bakul penuh. Yang ikut makan kira-kira lima ribu laki-laki, tidak termasuk perempuan dan anak-anak.

Meditatio
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Ketidakberdayaan umat semakin mendatangkan belaskasih Allah. Malah tak jarang Dia memanggil dan memanggil setiap orang datang kepadaNya. Datanglah kepadaKu kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat.
Makanan memang menjadi kebutuhan sehari-hari. Apakah para murid berkata-kata: ‘tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa’, karena mereka ingat akan sungut-sungut bangsa Israel yang kelaparan? (Bil 11). Yesus malah meminta mereka memberi mereka makan.
Akhirnya setelah diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, Yesus menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya. Bagaimana semakin tersedianya roti pada waktu itu, tidak dituliskan dalam Injil memang. Apakah tiba-tiba roti dan ikan itu bertumpuk-tumpuk atau Yesus terus memotong dan memotongnya sehingga jumlahnya semakin banyak?
Murid-murid-Nya membagi-bagikan makanan kepada orang banyak sampai kenyang, dan bahkan ada roti yang sisa sebanyak dua belas bakul penuh. Semuanya ini terjadi setelah mereka membawa lima roti dan dua ikan kepada Yesus. Keberanian para murid membawa segala yang mereka miliki kepada Kristus membuat mereka mampu berbagi, sebagaimana Allah yang penuh belaskasih.

Oratio
Ya Yesus Kristus, apa yang kami miliki semuanya adalah anugerahMu, bantulah kami untuk semakin berani berbagi terhadap sesama. Amin

Contemplatio
‘Kamu harus memberi mereka makan’.

Translate »