Tuhan adalah harta yang kita miliki
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Ignasius Joko Purnomo
Matius 5:43-48
Dalam Injil hari ini, Yesus menyampaikan sebuah ajaran yang sangat radikal dan cukup menantang bagi siapa saja yang ingin sungguh-sungguh menjadi murid-Nya: “Kasihilah musuh-musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). Bagi kita, ajaran ini kita rasakan begitu sulit untuk dapat kita wujud-nyatakan, dan bahkan terasa tidak masuk akal dalam dunia yang penuh dendam, kepahitan, dan keinginan membalas. Namun justru inilah jantung Injil — kasih yang melampaui batas.
Tantangan dari Yesus adalah agar kita mengasihi seperti Bapa di surga. “Karena Ia menerbitkan matahari bagi orang jahat dan orang baik dan menurunkan hujan bagi orang benar dan orang tidak benar” (ay. 45). Kasih Allah tidak selektif. Ia tidak menunggu kita menjadi sempurna untuk dikasihi. Ia mencintai kita terlebih dahulu. Dan kini, Yesus meminta kita untuk menjadi saluran kasih Allah itu — bahkan kepada musuh kita.
Mengapa Yesus menekankan kasih kepada musuh? Karena hanya dengan kasih yang seperti itu, dunia ini bisa berubah. Dendam hanya akan melahirkan dendam baru. Luka yang dibalas dengan luka hanya akan memperpanjang rantai kekerasan. Tetapi kasih — kasih yang berani mengampuni, yang berani memutus siklus kebencian — itulah kekuatan yang sejati.
Mari kita lihat salib. Di sanalah kasih tertinggi dinyatakan. Dalam keadaan tergantung, disalibkan, difitnah, dihina, Yesus justru berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Kasih sejati bukan tentang perasaan, tetapi tentang pilihan. Pilihan untuk tetap setia mengasihi meskipun tidak dianggap, meskipun disakiti. Menjadi murid Kristus berarti berjalan dalam jalan yang sempit ini — jalan kasih yang radikal.
Semoga kita semua dikuatkan oleh rahmat Tuhan untuk menjadi anak-anak Bapa yang Mahakasih, yang mencintai bukan hanya yang menyenangkan, tetapi juga yang menyulitkan — agar dunia mengenal bahwa Allah itu kasih.
Rm Yusuf Dimas Caesario
(Bacaan: Matius 6:1-6, 16-18)
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk memurnikan motivasi kita dalam berbuat baik. Ia berkata: “Jagalah supaya jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka…” (Mat 6:1). Kalimat ini terasa sangat relevan di zaman sekarang, saat banyak orang cenderung menunjukkan kebaikan di media sosial, terkadang lebih demi “likes” daripada demi kasih.
Yesus tidak melarang sedekah, doa, dan puasa. Justru Ia sangat mendorong praktik-praktik tersebut. Namun, Ia menekankan satu hal penting: hati kita. Apa yang menjadi dorongan di balik setiap tindakan rohani kita? Apakah kita melakukannya untuk kemuliaan Allah atau untuk tepuk tangan manusia?
Mari kita akui, dalam budaya yang serba “pamer” ini, godaan untuk tampil saleh demi citra diri sangat besar. Bahkan, bisa saja seseorang membagikan foto dan video saat berdoa atau saat membantu orang lain, tapi sebenarnya sedang membangun panggung bagi dirinya sendiri, bukan altar bagi Allah.
Tuhan Yesus memakai frasa yang tajam namun menggelitik: “mereka sudah mendapat upahnya.” Artinya, kalau motivasi kita hanya untuk dipuji orang, ya sudah—pujian itu saja yang kita dapat. Tuhan tidak menambahkan pahala dari Surga karena niat kita sudah teralihkan. Ini seperti orang yang pergi ke warung bakso, tapi malah beli nasi bungkus di sebelahnya. Ya dapat nasi, tapi bukan bakso yang sebenarnya ia tuju!
Yesus mengajak kita untuk masuk ke “kamar tersembunyi”, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara rohani—masuk ke ruang batin yang intim dengan Bapa. Doa yang tulus, sedekah yang diam-diam, dan puasa yang tidak diumbar bukan berarti kita munafik, tapi justru itu menunjukkan keaslian iman kita. Tuhan hadir dalam keheningan. Ia melihat yang tersembunyi, dan kepada yang setia dalam hal-hal tersembunyi, Ia memberikan rahmat yang tak terlihat namun sungguh nyata.
Pertanyaan reflektif:
Doa singkat:
Ya Bapa yang melihat yang tersembunyi,
Sucikanlah hati kami agar dalam setiap doa, sedekah, dan puasa,
kami tidak mencari pujian manusia, tetapi wajah-Mu yang kudus.
Ajarkanlah kami untuk setia dalam keheningan,
dan teguhkan kami agar hidup kami menjadi pujian bagi nama-Mu,
bukan panggung bagi diri kami sendiri.
Amin.