Browsed by
Author: admin

MENGENDALIKAN DIRI

MENGENDALIKAN DIRI

Jumat, 13 Juni 2025

Matius 5:27-32

Oleh: Agustinus Suyadi, O.Carm



Teks ini tidak bisa ditafsirkan secara hurufiah belaka. Maksud inti dari ungkapan Yesus ini adalah sebagai berikut:

[1] MENGENDALIKAN INDERA

Bagi para guru Yahudi, mata dan tangan adalah dua pengantara dosa. Mata dan hati adalah dua kaki tangan dosa. Maka, orang yang hanya membiarkan mengikuti kesenangan mata, akan terjerumus ke dalam dosa. Oleh karena itu, langkah awal menuju kepada kebenaran adalah mengekang keinginan mata. Itulah yang disebut dengan matiraga, supaya keselamatan nyata.

[2] MELAWAN DENGAN KEHENDAK

Yesus mengungkapkan perintah yang lebih besar dan tuntas dengan menyebut kata “menyesatkan”. Kata aslinya berbunyi skandalon, artinya tongkat atau umpan. Kalau digerakkan akan masuk ke dalam jerat. Segala sesuatu yang menyebabkan manusia jatuh ke dalam jerat. Maka, pikiran dan angan-angan bisa menjerat kita ke dalam dosa. Untuk hal ini dibutuhkan kemampuan untuk melawan atau agere contra.

[3] HIDUP BERSAMA

Hidup bersama, entah dalam komunitas entah dalam keluarga berada dalam ikatan yang tidak boleh dirusak oleh tindakan sendiri. Kebersamaan berarti menempatkan kehendak bersama di atas kehendak sendiri. Namun, kehendak bersama tidak berarti bersekongkol akan hal-hal yang buruk. Keberadaan diri yang ditempatkan dalam kebersamaan selalu bermaksud menjadi bintang kebenaran, sehingga membawa hidup bersama mengalami keselamatan.

RENUNGAN 12 JUNI 2025

RENUNGAN 12 JUNI 2025

Kis 3:15- 4:1.3-6, Mat 5:20-26

Banyak orang mudah terpesona dengan gaya hidup saudara saudarinya. Mereka terperangkap dengan sosial media yang selalu menampilkan kemegahan, kemewahan gaya hidup saat ini. Flexing itulah yang terjadi. Kadangkala orang yang terperangkap tidak pernah sadar bahwa dia sedang terjerat dan terperangkap dengan sebuah ilusi hidup. Banyak orang berlomba menampilkan gaya hidup di sosial media, berdasarkan pendidikan, ekonomi, liburan, makanan bahkan hidup keagamaan. Ya benar, hidup keagamaan. Seakan-akan jika sudah melakukan tindakan tersebut, sudah benar dan baik hidup keagamaannya.

Yesus dalam Injil hari ini menekankan hidup keagaaman yang baik dan benar.  “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” Adakah sesuatu yang istimewa dilakukan ahli Taurat dan orang Farisi? Kata-kata Yesus lebih tepatnya sebuah sindiran bagi ahli Taurat dan orang Farisi. Apakah mereka sudah menjalani hidup keagamaan dengan benar?

Orang Farisi dan ahli Taurat sangat taat menjalankan hidup keagamaan. Mereka taat pada peraturan dan hukum peribadatan,  berdoa berpuasa dan memuji Tuhan, hadir dan tekun mendengarkan firman Allah di peribadatan. Tindakan lahiriah yang mereka lakukan sebagai gantinya sikap batiniah yang benar. Mereka melakukannya supaya dipandang sebagai orang benar di hadapan saudara saudarinya. Tindakan semacam inilah yang kerapkali ditegur oleh Tuhan Yesus. Perbuatan keagamaan hanya supaya dilihat orang lain. Sikap batin dan rohnya mungkin belum selaras dengan kehendak Allah.

Yesus menghendaki cara hidup yang jujur, baik dan benar di hadapan sesama dan Allah. Ia menunjukkan sikap yang selaras lewat beribadah dan mengampuni. Beribadah, mendengarkan firman Tuhan dan melakukan perbuatan keagamaan sepatutnya selaras dengan cara hidup sehari-hari. “Jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.” Hati yang bersih dan penuh pengampunan semakin layak dalam beribadah kepada Tuhan. Orang tidak memiliki dendam dan tidak membnawa amarah pada saat beribadah. Pikiran dan perasaannya tidak bercabang karena ingat perseteruan dengan sesama saudaranya. Pikiran dan perasaan kita hanya untuk Allah pada saat beribadah, seraya berdoa bagi mereka siapapun yang berelasi dengan kita.

Semoga kita pun hidup jujur, baik dan benar di hadapan Allah dan sesama saudara. Isi doa dan persembahan kepada Allah, semakin selaras dengan perbuatan kita yang penuh belaskasih dan murah hati pada setiap orang. (rm. Medyanto, O.Carm)  

Hadiah yang Tidak Diberikan dengan Tangan, Tetapi dengan Kehadiran

Hadiah yang Tidak Diberikan dengan Tangan, Tetapi dengan Kehadiran

Rm Agung Wahyudianto O.Carm
(Matius 10:7–13 | 11 Juni 2025 Peringatan Santo Barnabas Rasul

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.” (Matius 10:8b)

Dalam masyarakat Andes, ada satu praktik yang terus hidup hingga hari ini—minka. Bukan sekadar gotong royong, minka adalah tindakan bersama yang dilakukan tanpa perhitungan imbalan. Ketika satu keluarga membangun rumah, menanam ladang, atau menghadapi kesulitan, seluruh komunitas datang membantu. Tidak ada kontrak, tidak ada upah. Semuanya datang memberi waktu, tenaga, dan kehadiran, karena apa yang dimiliki satu orang dianggap sebagai bagian dari keseluruhan.

Yesus mengutus murid-murid-Nya dengan pesan yang sederhana tapi penuh daya: “Beritakanlah, Kerajaan Surga sudah dekat… Sembuhkan, bangkitkan, bersihkan, usir roh jahat… Kalian telah menerima semuanya dengan cuma-cuma, berikanlah dengan cuma-cuma juga.” Di sini, tidak ada transaksi. Tidak ada pembatas antara siapa yang memberi dan siapa yang menerima. Yang ada hanyalah aliran kasih, seperti dalam minka, yang bergerak bukan dari keinginan untuk mengubah orang lain, tapi dari kesadaran bahwa tidak ada pemisahan sejati antara kita.

Santo Barnabas disebut sebagai “anak penghiburan”. υἱὸς παρακλήσεως . Ia bukan pewarta yang menonjol karena khotbah-khotbah besar, melainkan karena kehadirannya membawa damai. Ia tahu bagaimana hadir bersama orang lain tanpa tergesa-gesa mengubah mereka. Dalam perjumpaan, ia tidak memaksakan kebenaran dari luar, tetapi membantu orang lain menemukan terang yang sudah ada di dalam diri mereka. Seperti dalam pengutusan para murid, Barnabas memberi bukan sebagai tindakan yang terpisah, tetapi sebagai kelanjutan dari sesuatu yang telah ia terima dan alami.

Dalam pendekatan ini, memberi bukanlah aktivitas yang dilakukan “dari luar ke dalam”, tetapi muncul dari kesadaran bahwa hidup, kasih, dan bahkan penyembuhan bukan milik siapa pun. Mereka hanya bisa mengalir melalui orang-orang yang tidak lagi merasa harus memiliki atau mengontrol. Di sinilah letak kebebasan rohani: ketika kita memberi tanpa agenda, mengunjungi tanpa menuntut perubahan, dan hadir tanpa memisahkan antara siapa yang menolong dan siapa yang ditolong.

Yesus berkata: “Jika rumah itu layak menerimanya, damai sejahtera turun atasnya. Jika tidak, damai itu kembali kepadamu.” Artinya, damai tidak pernah hilang. Kasih yang sejati tidak tergantung pada hasil, karena ia bukan reaksi, melainkan cara hidup. Sama seperti dalam minka, ketika seseorang datang dan tidak memberi apa-apa sebagai imbalan, tidak ada yang merasa kehilangan. Karena kebersamaan itu sendiri sudah merupakan penyembuhan.

Hari ini, saat kita mengenang Santo Barnabas, dan mendengarkan sabda Yesus tentang memberi dengan cuma-cuma, kita diajak untuk meninggalkan cara berpikir yang memisah-misahkan: siapa yang memberi, siapa yang pantas menerima, siapa yang benar atau belum siap. Barangkali hidup rohani menjadi jernih justru ketika kita berhenti mengatur siapa yang layak menerima kasih, dan mulai melihat bahwa setiap orang sudah berada dalam jangkauan Kerajaan—bahkan sebelum kita berbicara sepatah kata pun.

Translate »