Sebuah Misi
Kamis dalam Pekan Biasa ke-4
Markus 6:7-13
“Yesus memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat.”
Apakah Anda tahu berapa banyak umat Kristiani di bumi ini? Ada sekitar 2,2 miliar orang yang menyebut diri mereka Kristiani di bumi ini, dan ini berarti tiga dari tujuh orang yang Anda temui di bumi ini praktis adalah orang Kristiani. Dan, umat Kristiani terus bertambah jumlahnya! Namun, tahukah anda bahwa Kristiani yang menjadi agama terbesar di dunia sebenarnya bermula dari sebuah awal yang sangat sederhana 2000 tahun silam: Yesus dan beberapa pengikut-Nya. Jadi, apa yang membuat Kristiani tumbuh besar dan lebih besar dari hari ke hari? Jawabannya adalah “mandat misionaris” Yesus Kristus.
Sebelum Ia diangkat ke surga, Yesus mengutus murid-murid-Nya untuk “Pergi ke seluruh dunia dan mewartakan Injil kepada segala makhluk” (Markus 16:15). Sejak itu (dan terutama setelah Pentakosta), para rasul dengan semangat pergi untuk memberitakan Injil Yesus baik kepada orang Yahudi dan bukan Yahudi, di dalam kemudahan maupun kesulitan. Misi menjadi inti dari Gereja Yesus Kristus.
Sungguh, dari zaman para rasul hingga saat ini, mandat misionaris Yesus terus dilaksanakan dalam berbagai macam bentuk. Pemahaman yang lazim tentang kegiatan misionaris adalah bahwa seorang imam pergi ke daerah sangat terpencil untuk memberitakan Injil.
Walaupun demikian, kegiatan misionaris tidak mengharuskan kita untuk pergi ke tempat jauh, tetapi bisa dilakukan di dalam Gereja lokal kita. Mgr. Luis Antonio Tagle, Uskup Agung Manila, menceritakan bahwa ketika dia masih seorang imam muda di Imus, ia bisa melayani 8 sampai 9 misa setiap hari Minggu. Jelas, apa yang dilakukannya tidaklah sehat secara spiritual maupun fisikal bagi dirinya, tapi demi umat yang haus akan Tuhan, ia mengabdikan dirinya untuk memenuhi kebutuhan umat Tuhan.
Namun, kegiatan misionaris tidak hanya terbatas pada kaum berjubah saja! Justru keindahan misi adalah ia menyentuh setiap kehidupan Kristiani. Ketika Rm. Edmund Nantes, OP, pimpinan Dominikan misi Indonesia, bertanya pada ibu saya tentang profesinya, sang ibu menjawab bahwa dia ibu rumah tangga “saja”. Fr. Nantes lansung bereaksi dan mengatakan kepada ibu saya untuk menghapus kata “saja”. Rm. Nantes sungguh benar! Mendedikasikan diri untuk kesejahteraan keluarga menuntut sebuah komitmen yang total. Melahirkan, membesarkan anak-anak dan membawa anak-anaknya untuk menjadi orang yang dewasa dan mandiri menempatkan diri seorang ibu pada situasi yang sangat tidak menguntungkan, terutama bila Anda memiliki Fr. Bayu sebagai anak Anda! Setelah mengorbankan segalanya, seorang ibu praktis tidak akan mendapat apa pun sebagai imbalan, namun dia tidak pernah goyah untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Saya menyadari menjadi seorang misionaris tidak berarti bahwa kita harus pergi ke tempat-tempat jauh, tapi kita bisa mulai dari dalam diri kita dan keluarga kita.
Misi adalah inti dari Gereja dan hati dari misi adalah panggilan kita untuk mencintai. Untuk memberikan diri kita kepada sesama, berkorban untuk orang lain, dan untuk mencintai adalah misi kita. Kita dipanggil oleh Yesus untuk dicintainya dan kita diutus oleh-Nya untuk membagikan cinta yang kita alami kepada orang lain sehingga mereka juga dapat mengalami kasih Yesus.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
After calling the disciples, Jesus begins his ministry proper in Capernaum. There, Jesus performs a threefold task: teaching, exorcism (driving away the evil spirits) and healing. On the Sabbath, He immediately enters the synagogue and teaches with authority. He faces the unclean spirits who possess a man and rebukes them to leave. And in the next Sunday’s reading, he heals Peter’s mother-in-law (Mk. 1:29-39). All these he does with authority.
Jesus begins His public ministry by calling His first disciples to follow Him. In ancient Palestine, to become a student of a particular teacher means to follow him wherever he goes and stays. In fact, the Greek words used is “deute hopiso”, that means “come after me” because the disciples are expected to literally walk few steps behind Jesus. No wonder, that when the four first disciples, Peter, Andrew, James and John, are called, they have to leave practically everything behind, their works, their family and their hometowns. Thus, to become Jesus’ disciples are a radical commitment that entails great sacrifices.
In the Gospel of John, we will not discover the word “apostle” or one who is sent to preach the Gospel. John the Evangelist consistently calls those who faithfully gather around Jesus as the disciples. Why so? Perhaps, John the Evangelist wants to show us that the most important and fundamental aspect of being a follower of Jesus is truly to be a disciple.