Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Tiga Jalan untuk Tinggal di dalam Kristus

Tiga Jalan untuk Tinggal di dalam Kristus

Minggu Paskah kelima [B]
2 Mei 2021
Yohanes 15: 1-8

Yesus berkata, “Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. [Yoh 15:4].” Tetap berada di dalam Yesus bukan hanya sebuah pilihan tetapi keharusan agar dapat menghasilkan buah-buah kehidupan kekal.

Pertanyaannya adalah bagaimana kita akan tetap tinggal di dalam Yesus? Setidaknya kita bisa melakukan tiga cara ini. Pertama, kita perlu tetap di dalam Firman-Nya. Yesus berkata, “Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu [Yoh15:3].” Sering kali, kita, umat Katolik, dituduh kurang membaca Alkitab. Meskipun tuduhan itu mungkin salah, ajakan untuk membaca dan merenungkan Alkitab tetap benar dan sangat relevan. Membaca Kitab Suci mungkin menantang, tetapi ini sangat mendasar untuk hidup di dalam Kristus. Bagaimana kita bisa tetap di dalam Yesus jika kita tidak mengenal Dia? Bagaimana kita bisa mengenal Dia jika kita tidak membaca kisah dan ajaran-Nya di dalam Alkitab? Itulah mengapa St. Heronimus berkata, “Ketidaktahuan akan Kitab Suci adalah ketidaktahuan akan Kristus.”

Kedua, kita tinggal di dalam Dia melalui sakramen, khususnya Ekaristi. Yesus berkata, “Barang siapa makan dagingku dan minum darahku, tetap di dalam aku dan aku di dalam dia [Yoh 6:56].” Kita menghadapi masa-masa sulit karena pandemi, dan banyak orang kehilangan kesempatan untuk menerima komuni Kudus. Tidak ada yang bisa menggantikan persatuan sakramental dengan Kristus dalam Ekaristi. Sebagai seorang imam, saya sedih dengan situasi ini, tetapi pada saat yang sama, saya juga terharu karena saya melihat beberapa umat meneteskan air mata ketika mereka menerima Tubuh Kristus setelah lama tidak bisa menerima-Nya. Pandemi memaksa kita untuk merefleksikan lebih dalam tentang makna Ekaristi dalam hidup kita. Sungguh, banyak dari kita merindukan Ekaristi. Terkadang, kita juga perlu belajar dari orang-orang kudus. Bl. Alexandrina da Costa dari Portugal hanya mengkonsumsi Ekaristi Kudus selama 13 tahun sampai kematiannya. Dari kisah Alexandrina, kita belaja bahwa Roti Kehidupan benar-benar memelihara jiwa, dan ketika jiwa sehat, tubuh akan mewujudkan vitalis ini.

Ketiga, kita tetap di dalam Kristus dengan terus bersatu dengan Tubuh-Nya, yakni Gereja. Yesus adalah pokok anggur, dan kita adalah ranting-rantingnya, dan karena satu pokok anggur, semua cabang saling berhubungan erat. Satu cabang tidak hidup untuk dirinya sendiri tetapi untuk seluruh tanaman. Satu cabang yang sehat dapat berkontribusi pada kesejahteraan seluruh ekosistem, dan pada saat yang sama, cabang lain mungkin membutuhkan lebih banyak nutrisi dan dukungan dari cabang-cabang yang lain. Inilah mengapa saya selalu mendorong umat menjadi bagian dari komunitas dan aktif di Gereja. Gereja memiliki komunitas yang sangat beragam. Ada kelompok-kelompok berdasarkan usia. Ada juga komunitas-komunitas yang memiliki berbagai tradisi spiritual dan devosi. Memang benar bahwa menjadi bagian dari komunitas terkadang sulit, hal itu juga memberikan kesempatan untuk tumbuh, mengasihi, dan berbuah.

Ini adalah tiga cara agar kita dapat tetap di dalam Yesus, dan Yesus tetap di dalam kita. Kita terus bertumbuh dan menghasilkan buah untuk kemuliaan Tuhan.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Gembala yang Baik dan Kudus

Gembala yang Baik dan Kudus

Minggu Paskah keempat [B]
25 April 2021
Yohanes 10: 11-18

Minggu Paskah keempat umumnya dikenal sebagai Minggu Gembala yang Baik. Alasannya adalah bahwa setiap tahun Gereja selalu memilih Injil dari Yohanes khususnya bab 10 [tahun A: Yoh 10: 1-10; tahun B: Yoh 10: 11-18; tahun C: Yoh 10: 27-30]. Dalam bab ini, Yesus memperkenalkan diri-Nya sebagai Gembala yang Baik. Minggu ini juga dikenal sebagai Minggu Panggilan. Pada tahun 1964, Paus Paulus VI menetapkan Hari Doa Sedunia bagi Panggilan pada hari Minggu keempat Paskah. Mengapa minggu Panggilan? Dalam Injil yang sama, Yesus berkata bahwa Sang Gembala ‘memanggil’ domba-domba-Nya menurut nama mereka dan mereka mendengar suara-Nya [lihat Yoh 10: 3-4].

Seringkali, kita mengasosiasikan panggilan dengan panggilan seorang imam atau kehidupan membiara, menjadi bruder atau menjadi suster. Namun, Yesus, Gembala yang Baik, tidak hanya memanggil sebagian kecil domba-domba-Nya, tetapi seluruh kawanan. Yesus mengundang setiap orang untuk mengikuti Dia, dan dengan demikian, setiap orang memiliki dipanggil dan memiliki panggilan.

Secara umum, di Gereja, kita memiliki kaum klerus dan kaum awam. Klerus adalah mereka yang menerima Sakramen Imamat atau tahbisan. Di bawah kelompok ini adalah para diakon, imam, dan uskup. Sedangkan yang tidak menerima tahbisan adalah kaum awam. Di dalam kelompok awam ini, ada yang menikah dan mereka yang tetap sendiri untuk Tuhan [disebut juga selibater awam]. Ada juga kategori khusus, yaitu orang-orang yang mengucapkan kaul. Secara tradisional, kita memiliki tiga kaul atau janji kepada Tuhan, kaul ketaatan, kaul kemurnian dan kaul kemiskinan. Umat Katolik yang mengikrarkan kaul biasanya tergabung dalam komunitas [secara teknis disebut lembaga hidup bakti] seperti Ordo Pengkhotbah, Serikat Yesus, dan banyak lainnya. Ketika seorang wanita awam mengikrarkan kaul, dia menjadi seorang suster dari komunitas tertentu seperti, Sr. Maria, OP, dan ketika seorang imam berkaul, dia disebut sebagai imam biarawan atau taraket, seperti Rm. Joseph, OFM. Seorang imam yang tidak mengikrarkan kaul, dan terikat pada keuskupan disebut imam projo, diosesan atau sekular. Tentu saja, kategori-kategori ini hanya sebuah penyederhanaan, dan masih banyak lagi bentuk kehidupan lain di dalam Gereja Katolik. Intinya adalah bahwa Gembala yang Baik memanggil kita semua untuk mengikuti-Nya dan bersama-Nya. Ini adalah panggilan universal menuju kekudusan.

Namun, apakah kekudusan itu? Apakah ini berarti ketika seseorang ditahbiskan menjadi imam, dia auto suci? Apakah mengenakan pakaian keagamaan merupakan tanda kesucian? Apakah doa terus menerus dan kesalehan merupakan manifestasi dari orang-orang kudus? Jika kekudusan mengikuti dan menjadi satu dengan Gembala yang Baik, maka menjadi suci adalah hidup dan bertindak seperti Gembala yang Baik itu sendiri. Lalu, apa karakter utama dari Gembala yang Baik? Yesus menyatakan, “Gembala yang Baik memberikan hidup-Nya untuk domba-dombanya [Yohanes 10:15].” Gembala yang Baik itu ‘Baik’ karena kasih-Nya yang radikal dan pengorbanan.

Menjadi kudus berarti mengasihi secara radikal dan rela berkorban, dan cinta kasih sejati dilakukan setiap hari dengan segala cara yang bahkan sangat sederhana. Kekudusan adalah saat seorang pria bekerja keras setiap hari untuk keluarganya. Kekudusan adalah seorang ibu yang merawat bayinya dan siap kehilangan waktu tidurnya setiap malam. St. Theresa dari Avila pernah berkata, “Ketahuilah bahwa jika kamu berada di dapur, Tuhan berjalan di antara panci dan wajan.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Good and Holy Shepherd

The Good and Holy Shepherd

Fourth Sunday of Easter [B]
April 25, 2021
John 10:11-18

The fourth Sunday of Easter is commonly known as the Good Shepherd Sunday. The reason is that every year, the Church always chooses the Gospel from John, especially chapter 10 [year A: John 10:1-10; year B: John 10:11-18; year C: John 10:27-30]. In this chapter, Jesus introduces His identity as the Good Shepherd. This Sunday is also famously called the Vocations Sunday. In 1964, Pope Paul VI established the World Day of Prayer for Vocations on the fourth Sunday of Easter. Why ‘Vocations Sunday’? The word ‘vocation’ comes from the Latin word, ‘vocare’ that means ‘to call’. In the same Gospel, Jesus says that the shepherd ‘calls’ his sheep by name and they hear his voice [see John 10:3-4].

Often, we associate vocation with the vocation to the priesthood or religious life, become a priest, or become a religious sister. However, Jesus, the Good Shepherd, does not only call a few sheep to follow Him, but the entire flock. Jesus invites everyone to follow Him, and thus, everyone has a vocation.

Generally, in the Church, we have the clergy and the laity. The clergies are those who received the sacrament of Holy Orders or ordination. Under this group are the deacons, priests, and bishops. Meanwhile, those who do not receive the ordination are the laity. Under this distinction, we have married people and those who remain single for the Lord. There is also a special category, that is people with vows. Traditionally, we have three vows or promise to God, the vow of obedience, the vow of chastity and the vow of poverty. Christians who professed vows usually belong to communities [technically called institutes of consecrated life] like the Order of Preachers, the Society of Jesus, and many others. When a laywoman professes vows, she becomes a religious sister of a specific community like Sr. Maria, OP. When a priest has vows, he is called a religious priest, like Fr. Joseph, OFM. A priest who does not profess vows and attached to a diocese is called a diocesan priest. Indeed, these categories are oversimplified and fail to do justice to many other forms of lives within the Catholic Church. The point is that the Good Shepherd is calling all of us to follow and to be with Him. It is a universal call to holiness.

Yet, what is holiness? Does it mean when a man is ordained to be a priest, he is automatically holy? Is wearing a religious habit a sign of holiness? Is constant prayer and piety manifestation of holy persons? If holiness is following and becoming one with the Good Shepherd, then to be holy is to live and act like the Good Shepherd Himself. What, then, is the main character of the Good Shepherd? Jesus tells us, “The Good Shepherd lays down His life for His sheep [John 10:15].” The Good Shepherd is ‘Good’ because His love is radical and sacrificial.

To be holy is to love radically and sacrificially, and true love is performed every day in every way possible. Holiness is when a man works hard every day for his family. Holiness is a mother who cares for her baby and ready to lose her sleep every night. St. Theresa of Avila used to say, “Know that if you are in the kitchen, God walks among the pots and pans.”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Tubuh Mulia

Tubuh Mulia

Minggu Ketiga Paskah [B]
18 April 2021
Lukas 24: 35-48

Mukjizat adalah kejadian langka, tetapi ada jenis-jenis mukjizat yang bahkan lebih langka dan lebih berharga daripada yang lain. Penyembuhan memang mukjizat dashyat tetapi hidup kembali setelah kematian lebih luar biasa. Namun, ada satu mukjizat yang sepenuhnya unik dan tak tertandingi: kebangkitan. Namun, apa yang membuat kebangkitan berbeda dari mukjizat-mukjizat lainnya?
Kebangkitan mengandaikan kematian, dan definisi kematian adalah keterpisahan permanen antara tubuh dan jiwa. Jadi, kebangkitan adalah penyatuan kembali tubuh dan jiwa yang telah terpisah oleh kematian. Injil hari ini menceritakan bahwa Yesus menunjukkan kepada murid-murid tubuh-Nya serta luka-luka-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada mereka bahwa apa yang dialami para murid di ruang atas bukanlah ilusi atau fantasi, mereka juga tidak melihat hantu atau roh tanpa tubuh. Apa yang mereka temui adalah tubuh manusia yang hidup. Apalagi luka itu membuktikan bahwa tubuh Kristus yang bangkit sama dengan tubuh yang disalibkan. Yesus bahkan meminta makanan dan sungguh makan ikan yang diberi. Dia bertingkah laku seperti manusia biasa, dan oleh karena itu, murid-murid-Nya tidak perlu takut lagi, tapi diajak untuk percaya.
Namun, kebangkitan Yesus pada dasarnya berbeda dari yang terjadi pada Lazarus. Kita ingat bahwa Lazarus, saudara Maria dan Marta, wafat, tetapi Yesus membangkitkan dia dari kubur. Namun, Lazarus pada akhirnya akan menghadapi kematian sekali lagi. Apa yang terjadi pada Lazarus biasanya disebut ‘resuscitatio’. Sementara itu, Yesus bangkit dari kematian dan tidak akan mati lagi. Kristus tidak akan lagi mengalami kematian karena Ia tidak menerima tubuh biasa, tetapi tubuh yang sangat mulia. Ini adalah tubuh yang sama yang Yesus terima dari Perawan Maria, ini adalah tubuh yang sama yang berjalan di Galilea, ini adalah tubuh yang sama yang mewartakan Injil kepada para murid, dan ini adalah tubuh yang sama yang disiksa, disalibkan, dan dikuburkan di makam. Dan sekarang, kekuatan ilahi telah mengubah tubuh ini menjadi tubuh yang mulia.
Apa yang membuat tubuh yang dimuliakan ini luar biasa? Pertama, tubuh ini kekal dan tidak akan mati. Kedua, tidak lagi mengalami penderitaan seperti sakit atau penuaan. Ketiga, tubuh ini tidak tunduk pada hukum alam dan terbebas dari batasan ruang dan waktu. Ini menjelaskan mengapa Yesus bisa masuk ke ruang para murid yang terkunci [lihat KGK 645]. Keempat, tubuh ini bisa mengubah wujudnya. Ini menjelaskan mengapa para murid sering tidak mengenali Tuhan yang telah bangkit. Kebangkitan tidak hanya tentang penyatuan kembali antara jiwa dan tubuh, tetapi tentang tubuh yang dimuliakan dan disucikan untuk hidup yang kekal.
Realitas tentang kebangkitan memperkuat kebenaran dasar tentang tubuh kita. Kitab Kejadian mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dunia material sebagai sesuatu yang baik. Pribadi manusia, termasuk tubuh kita diberkati dan disebut ‘sangat baik.’ Adalah rencana Tuhan agar ciptaan-Nya yang luar biasa tidak menjadi sia-sia dalam kematian dan dekomposisi. Dia menghendaki agar tubuh yang baik dan diberkati ini terus ada selama-lamanya dan menjadi bagian dari surga-Nya yang menakjubkan.
Dari kesadaran ini, apakah kita mempersiapkan tubuh kita untuk surga? Apakah kita menyalahgunakan tubuh kita dengan gaya hidup yang tidak sehat? Apakah kita menggunakan tubuh kita untuk menghormati Tuhan dalam doa dan perbuatan baik? Apakah kita menghancurkan tubuh kita, Bait Roh Kudus, dengan kejahatan dan kecanduan? Apakah kita mempersembahkan tubuh kita sebagai korban yang hidup dan menyenangkan kepada Tuhan?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

The Glorious Body

The Glorious Body

Third Sunday of Easter [B]

April 18, 2021

Luke 24:35-48

Miracles are rare occurrences, but some are even rarer and more precious than others. Miraculous healings are exceptional but coming back to life after death is even extraordinary. However, there is one miracle that is wholly unique and incomparable: resurrection. Yet, what makes resurrection different from other miracles?

Resurrection presupposes death or permanent separation between body dan soul. Thus, resurrection is the reunion of body and soul. Our Gospel today informs us that Jesus showed His disciples His body as well as His wounds. He wanted to show them that what disciples experienced in the upper room was not an illusion or fantasy. They did not see a ghost or disembodied spirit. What they encountered was a living human body.

Moreover, the wounds prove that the resurrected body of Christ is the same as the crucified body. He was not an imposter! Jesus even asked for food and ate the baked fish. He acted just like an ordinary living person, and the disciples should not be afraid anymore but believe.

However, Jesus’ resurrection is fundamentally different from what happened to Lazarus [see John 11]. Lazarus was dead, but Jesus raised him from the dead, but Lazarus would eventually face death once more. What happened to Lazarus is usually called ‘resuscitation.’ Meanwhile, Jesus was raised from the dead and will die no more. The resurrected Christ will no longer experience death because He received no ordinary body. His body was a glorious one. It is the same body that Jesus received from Virgin Mary, the same body that walked in Galilee, the same body that preached to the disciples, and the same body that was tortured, crucified, and buried in the tomb. Yet, the divine power has transformed this body.

What makes this glorified body unique? Firstly, this body is immortal. Secondly, it is no longer experiencing suffering like pain, sickness, or aging. Thirdly, the body will not be subjected to the laws of nature and freed from the limitation of time and space. This explains why Jesus was able to enter the locked upper room [see CCC 645]. Fourthly, the body can change its appearance. This explains why the disciples often did not recognize the risen Lord. Resurrection does not only about the reunion between the soul and the body but about the body glorified and sanctified for eternal life.

The reality about the resurrection amplifies the fundamental truth about our bodies. The Book of Genesis narrated that God created the physical world as something good. Human persons, including their bodies, were blessed, and called ‘very good.’ God plans that His magnificent creation will not go to waste in death and decay. He wills that this amazing and blessed body continue to exist for eternity and become part of His marvelous heaven.

From this realization, do we prepare our bodies for heaven? Do we abuse our bodies with unhealthy lifestyles? Do we use our bodies to honor God in prayer and good works? Do we destroy our body, the Temple of the Holy Spirit, with vices and addictions? Do we offer our bodies as a living and pleasing sacrifice to God?

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »