Menghujat Roh Kudus
Senin pada Pekan ke-2 Masa Biasa
Peringatan St. Thomas Aquino
28 Januari 2019
Markus 3:22-30
Di dalam Alkitab, roh adalah konsep dan kenyataan yang mendasar. Dalam bahasa Ibrani, roh adalah ‘ru’ah’. Kata ‘ru’ah’ ini erat kaitannya dengan nafas, udara atau angin. Roh itu seperti udara. Ini tidak berbentuk dan tak terlihat, tapi semua benda terisi dan dikelilingi olehnya. Roh itu seperti angin. Ini tidak bisa dikendalikan, tapi adalah kekuatan dahsyat yang membentuk alam. Dan roh itu seperti nafas. Kita tidak bisa melihat dan menyentuhnya, namun ini memenuhi kita dengan kehidupan. Pada awal kisah penciptaan, Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air (lih. Kej 1: 2). ‘Nafas ilahi’ ini muncul juga dalam kisah penciptaan manusia. Tuhan kemudian menghembuskan nafas kehidupan ke dalam lubang hidungnya dan manusia menjadi hidup (lih. Kej 2:7). Kemudian, ketika pria dan wanita menjadi jahat, Tuhanpun mengambil kembali ‘roh’-Nya dari mereka dan mereka akan kembali menjadi debu (lih. Kej 6: 3). Dari sini, kita bisa mengerti bahwa roh adalah kekuatan di balik ciptaan. Roh adalah sumber kehidupan kita. Selain itu, roh juga menghubungkan kita dengan Yang Ilahi. Namun, karena dosa, roh akan diambil, dan manusia akan kembali menjadi debu.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan bahwa Roh Allah ini bukan hanya sebuah kekuatan alamiah yang tak bernyawa, tapi Roh Allah ini adalah juga pribadi yang hidup. Walaupun dalam Injil hari ini Yesus memperkenalkan Dia dalam konteks penghujat Roh Kudus yang berbuah dosa kekal. Konteks bacaan Injil sendiri bercerita tentang ahli-ahli Taurat yang menghujat Yesus dengan mengatakan bahwa Yesus kerasukan dan bekerja untuk menghulu Setan, Beelzebul. Hal ini rupanya sudah melampaui batas karena mereka tidak hanya menghina Yesus, tetapi juga mengkaitkan Roh Kudus yang adalah Roh Yesus dengan roh jahat. Roh Kudus adalah sumber hidup dan menjadi menghubung manusia dengan yang ilahi. Jika manusia menghujat Roh Kudus, manusia memutuskan hubungan dengan sumber hidup yang ilahi itu sendiri. Kematian kekal adalah pahalanya.
Hari ini kita merayakan perayaan St. Thomas Aquino. Salah satu kontribusi terbesar dari St. Thomas adalah ajarannya tentang Allah Tritunggal Mahakudus. Secara khusus, di karya besarnya Summa Theologiae, ia juga menulis tentang Allah Roh Kudus yang adalah kasih yang mengalir dari Allah Bapa dan Allah Putra saling mengasihi. Jika manusia menghujat dan menolak Roh yang adalah kasih itu sendiri, manusia itu menolak Allah itu sendiri, dan ia menolak keselamatan itu yang mengalir dari kasih Allah.
Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP
One of the greatest joys of being a deacon is to baptize babies and little children. The joy is not simply springing from touching the cheeks of a cute little baby or be part of festive parents, but it is something deeper. In fact, my experiences with baptism are not always pleasant. I remember at my first baptism in Sto. Domingo Parish, Metro Manila, when I began pouring water upon the baby’s forehead, the little girl suddenly burst in tears and cried aloud. I realized the water has touched the baby girl’s eyes. I was shocked and almost paralyzed not knowing what to do next. The good thing is the parents were able to handle the situation well. As the little baby calmed down, I apologized and continued the rite. Traumatizing!