Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Keluarga Yesus

Keluarga Yesus

Sabtu pada Pekan Biasa ke-27

13 Oktober 2018

Lukas 11:27-28

Dalam kebudayaan Israel kuno dan juga banyak budaya di Asia dan Afrika, keluarga adalah inti dari identitas seseorang. Seseorang dilahirkan, tumbuh, menjadi tua dan wafat dalam keluarga. Sewaktu uskup agung Pontianak, Agustinus Agus memberi ceramah di University of Santo Tomas, Manila, dia bangga sebagai bagian suku Dayak yang berasal rumah betang. Dalam budaya tradisional suku Dayak, sebuah keluarga besar atau klan tinggal, hidup dan melakukan rutinitas bersama di rumah besar dan panjang. Inilah rumah betang. Pada tahun 1977, Presiden Tanzania Julius Nyerere, salah satu tokoh Afrika paling terkenal waktu itu, mengunjungi Amerika Serikat dan berbicara di depan para mahasiswa Afrika yang belajar di sana. Di depan mereka, dia mengkritik orang-orang Afrika yang menerima banyak dukungan dari keluarga dan suku mereka, namun menolak untuk kembali ke tanah Afrika setelah belajar. Itu adalah tindakan pengecut dan pengkhianatan ke Afrika.

Namun, membaca Injil hari ini dengan seksama, umat Katolik yang baik akan terkejut. Kita tentunya mengharapkan Yesus mengamini para wanita yang memuji Maria, ibu-Nya. Anehnya, Yesus tidak melakukan apa yang diharapkan, tetapi sebaliknya Dia mengambil kesempatan itu untuk menunjukkan siapa keluarga baru-Nya. Kata-kata Yesus terkesan keras karena Yesus tampaknya tidak memasukkan Maria dari komposisi keluarga baru-Nya. Apakah ini berarti Yesus tidak menghormati Maria, yang adalah bunda-Nya? Apakah ini berarti bahwa keluarga biologis dan tradisional tidak memiliki nilai?

Jawabannya jelas tidak. Tentu saja, Yesus menghormati dan mengasihi ibu-Nya. Yesus juga mengajarkan kekudusan sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga (lihat Mat 5:31-32; Mat 19:19). Jemaat Gereja perdana juga mengikuti ajaran Yesus tentang integritas sebuah pernikahan dan kehidupan keluarga, sebagaimana tercermin dalam surat-surat St. Paulus (lihat 1 Kor 7: 1-17; Ef 6: 1-5). Kita yakin bahwa bagi Yesus, pernikahan dan keluarga itu baik. Namun, inti dari Injil kita hari ini adalah Yesus memanggil kita semua untuk melampaui hubungan alami ini. Keluarga baru Yesus tidak didasarkan pada darah tetapi berakar pada iman dan kemauan kita menjalankan kehendak Allah. Ini juga panggilan yang Yesus alamatkan kepada Maria. Tentunya, Maria menjadi model iman ketika dia mematuhi kehendak Allah saat ia menerima Kabar Sukacita (Luk 2: 26-38), ketika ia mengikuti Yesus bahkan sampai ke salib (Yoh 19: 25-26) dan setia berdoa bersama dengan Gereja perdana (Kis 1:14). Santo Agustinus pun mengatakan dalam kotbahnya, “Suatu berkat yang lebih besar bagi Maria karena ia telah menjadi murid Kristus daripada menjadi ibu Kristus.”

Keluarga sebagai institusi itu baik, tetapi Yesus mengajarkan bahwa kita perlu menjadi murid-Nya Yesus terlebih dahulu sebelum kita menjadi anggota keluarga yang baik. Kalau tidak, keluarga akan terbuka terhadap godaan sang jahat. Adalah kehendak Tuhan bahwa kita setia, bahwa kita melakukan keadilan, bahwa kita berbelas kasih terutama bagi yang lemah dan miskin. Tanpa nilai-nilai Kristiani, keluarga tidak akan menjadi sumber kebaikan. Menggemakan kata-kata St. Agustinus, menjadi bagian dari keluarga adalah sebuah berkat, tetapi menjadi murid Kristus adalah berkat yang jauh lebih besar.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Eksorsisme sebagai Sarana Membangun Kerajaan Allah

Eksorsisme sebagai Sarana Membangun Kerajaan Allah

Jumat pada Pekan Biasa ke-27

12 Oktober 2018

Lukas 11:15-26

Ada tiga hal dasar yang Yesus lakukan dalam menjalan misi-Nya: pengajaran, eksorsisme (mengusir roh jahat) dan penyembuhan. Pada hari Sabat, Dia mengajar dengan penuh otoritas di rumah ibadat. Dia menghadapi roh-roh jahat yang merasuki orang-orang dan mengusir mereka. Dan tentunya, banyak kisah penyembuhan dan mujizat yang terjadi karena Yesus bersabda atau mengulurkan tangan-Nya kepada orang sakit.

Mengapa tiga tugas ini mendasar bagi Yesus? Jawabannya adalah karena ketiga aspek ini menjadikan pelayanan Yesus sebagai pelayanan yang holistik atau menyeluruh. Pengajaran adalah untuk membentuk pikiran yang sehat, mengusir roh jahat adalah untuk membangun kehidupan rohani yang kudus, dan penyembuhan adalah untuk memberdayakan tubuh kita. Ini adalah Kabar Baik karena keselamatan yang Yesus bawa mencakup semua aspek kemanusiaan kita. Ini adalah membangun Kerajaan Allah di dunia. Sebagai murid-murid-Nya, kita semua dipanggil untuk mengajar, mengusir roh jahat, dan menyembuhkan.

Secara khusus, Injil hari ini berbicara tentang beberapa orang yang tidak percaya akan kuasa Yesus, terutama kuasa-Nya untuk mengusir roh-roh jahat. Bahkan mereka menuduh Yesus menggunakan kuasa Beelzebul, sang pengulu setan. Orang-orang ini gagal melihat bahwa eksorsisme yang dilakukan Yesus tidaklah terpisah dari misi utama-Nya mewartakan dan membangun Kerajaan Allah dan membentuk manusia yang holistik. Eksorsisme yang terpisah dari pengajaran dan penyembuhan tidaklah lengkap, hanya akan mendatangkan roh-roh jahat yang lebih banyak, dan menghancurkan sang manusia. Yesus mengajak mereka yang tidak percaya untuk melihat apakah pengusiran setan yang Ia lakukan adalah bagian dari Kerajaan Beelzebul, atau dari Kerajaan Allah.

Pada masa ini, eksorsisme benar-benar merupakan pelayanan khusus di Gereja, dan hanya didelegasikan kepada beberapa orang di bawah wewenang para uskup, namun kita semua dipanggil untuk mengusir roh jahat dalam kehidupan dan hati kita. Ini adalah tugas kita untuk menjalani kehidupan yang kudus dengan menerima sakramen-sakramen secara rutin, dan berdoa dengan sungguh-sungguh. Inilah beberapa cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, dan dengan demikian, memungkinkan kita memiliki kehidupan rohani yang sehat. Mengusir roh jahat juga berarti membebaskan diri kita dari belenggu dosa dan kebiasaan jahat. Ini adalah semacam penyembuhan spiritual. Iblis terkadang merasuki tubuh manusia, namun seringkali, dia merasuki hati kita. Keterikatan kita yang berlebihan terhadap berbagai hal, seperti uang, kesenangan seksual, kehormatan, adalah manifestasi dari roh-roh jahat yang bekerja di dalam hati kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Lebih dari Besar dari Doa Kita

Lebih dari Besar dari Doa Kita

Kamis pada Pekan Biasa ke-27

11 Oktober 2018

Lukas 11:5-13

Berdoa itu sangat baik. Yesus sendiri banyak berdoa dan Dia meminta kita untuk berdoa secara terus-menerus (lih. Luk 18: 1). Dia menyakinkan kita bahwa jika kita memohon di dalam nama-Nya, Ia akan mengabulkannya (Yoh 14:14). Dia bahkan meminta kita untuk percaya kepada-Nya setiap kali kita menyampaikan ujud kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Luk 11:9).”

Namun, permasalahnya adalah kita cenderung lupa bahwa doa adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan Allah, dan kita mulai menempatkan iman kita pada sarana daripada Pribadi dengan siapa kita berbicara. Kita lebih menaruh iman kita pada doa dan usaha kita daripada pada Tuhan sendiri. Kita mulai berpikir tentang cara untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas doa-doa kita. Doa terbaik adalah yang terpanjang dan kata-kata paling indah. Yang penting sekarang adalah tentang berapa banyak rosario yang kita daraskan, berapa novena yang kita doakan, berapa banyak misa yang kita hadiri dalam seminggu. Kemudian, saat kita menyadari bahwa doa-doa kita tidak terkabul sesuai dengan keinginan kita, kita menggerutu dan kecewa karena doa-doa kita yang indah tidak didengar!

Suatu hari saat saya menghadiri kuliah Retorika di Institute of Preaching, saya diminta untuk menulis homili. Saya begitu asyik dalam menulisnya, dan saya yakin bahwa homili saya telah ditulis dengan baik, dan benar secara teologis. Lalu saya sampaikan homili tersebut di depan kelas. Saya pikir saya melakukannya dengan baik, tetapi ternyata teman-teman saya bereaksi bahwa mereka tidak terlalu mengerti apa yang saya katakan. Bahasa saya terlalu sulit dan abstrak. Kemudian, dosen kami menunjukkan penyebabnya. Di antara beberapa elemen dari sebuah pidato, yang paling penting sebenarnya para pendengar. Dalam semua persiapan dan penyampaian, selalu ada dalam pikiran kita adalah para pendengar kita. Sebuah khotbah yang baik mengerti kebutuhan pendengarnya. Saya percaya bahwa itu adalah sama halnya dengan doa. Pendengar utama kita adalah Allah, dan itu berarti perhatian utama kita adalah bagi Dia dan selebihnya adalah pelengkap.

Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa banyak santo-santa dan juga mistikus menyarankan bahwa cara terbaik dalam berdoa adalah masuk dalam keheningan. Seorang wartawan bertanya kepada Bunda Teresa dari Kalkuta tentang apa yang dia lakukan dalam doa. Dia berkata, “Saya mendengarkan-Nya dalam keheningan.” Dan wartawan tersebut, berharap untuk menghasilkan wawancara yang baik, bertanya lagi, “Lalu, apa yang Tuhan katakan kepada Anda?” Bunda Teresa menjawab, “Allah juga mendengarkan saya dalam keheningan.”

Injil menunjukkan kepada kita bahwa Allah melakukan banyak hal untuk memenuhi permintaan kita, tetapi Dia melakukannya dengan Kebijaksanaan-Nya sendiri. Masalahnya adalah kita terjebak dalam doa dan harapan kita yang kaku. Ketika tampaknya Tuhan tidak mendengar doa kita, itu bukan karena Dia tidak mendengarkan, tapi karena kita tidak ingin mendengar jawaban-Nya. Semoga hati kita pun terbuka bagi Allah, dan semakin menaruh iman kita kepada-Nya, dan bukan pada diri kita sendiri.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Doa kepada Bapa Kita

Doa kepada Bapa Kita

Rabu pada Pekan Biasa ke-27

10 Oktober 2018

Lukas 11:1-13

“Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (Luk 11: 2-3)”

Ketika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid bagaimana berdoa. Ia mengajar mereka doa yang paling indah, ‘Doa Bapa Kami.’ Meskipun versi Lukas lebih pendek dari versi Matius, keduanya mengandung sikap dasar yang sama. Ini adalah doa permohonan. Kita meminta Kerajaan-Nya datang. Kita meminta rejeki yang cukup. Kita memohon pengampunan dan pembebasan dari yang jahat. Kita memohon Tuhan memberikan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk berdoa dengan rendah hati, tetapi juga berdoa dengan penuh keyakinan. Kita berdoa dengan yakin karena bagi Yesus, Tuhan adalah Bapa yang peduli dan penuh kasih. Kadang-kadang, kita bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita. Kita perlu ingat bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Ia tidak menjawab doa kita mungkin apa yang kita inginkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Ada sesuatu yang lebih baik telah disiapkan bagi kita. Dia selalu menjawab doa-doa kita, tetapi seringkali, kita tidak mendengarkan jawaban terbaik-Nya.

Bentuk doa paling agung dalam tradisi Katolik adalah Ekaristi Kudus. Ekaristi sebenarnya berarti doa syukur (dari bahasa Yunani ‘eucharistein’, untuk bersyukur), namun Ekaristi juga bisa diartikan sebagai doa permohonan. Bahkan, dalam Ekaristi, kita memohon Tuhan sesuatu yang paling kita butuhkan, keselamatan kita dan keselamatan dunia. Untuk mencapai hal ini, kita mempersembahkan sebuah kurban yang paling baik kepada Bapa, yakni Yesus Kristus sendiri. Tentunya, Bapa akan bahagia menerima kurban yang paling sempurna ini. Bapa pun melimpahi kita dengan rahmat-Nya. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa keselamatan kita bergantung dalam doa.

Kita berdoa karena ini adalah siapa kita. Kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan. Kita bergantung seluruhnya pada Allah. Kita berlutut di hadapan-Nya. Namun juga, kita berdoa karena kita yakin Dia akan mendengarkan doa kita. Kita yakin bahwa Tuhan akan memperhatikan dan memberikan yang terbaik. Kita berdoa karena Allah adalah Bapa kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Menjadi Bagian yang Terbaik

Menjadi Bagian yang Terbaik

Selasa pada Pekan Biasa ke-27

9 Oktober 2018

Lukas 10:38-42

 “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42)”

 Injil hari ini merupakan salah satu kisah yang paling menyentuh hati di dalam Alkitab. Marta dan Maria menyambut Yesus yang lelah setelah Ia menjalani berbagai pelayanan dan misi pewartaan-Nya. Keduanya mencoba menawarkan yang terbaik: tangan yang aktif melayani dan telinga yang mendengarkan. Sungguh, Yesus sangat bergembira dengan keduanya.

Namun, kisah ini menjadi lebih intensif ketika Martha mulai mengeluhkan sikap saudara perempuannya. Lalu, untuk pertama kali, Yesus menyebut nama seseorang dua kali berturut-turut dengan penuh afeksi, “Marta, Marta”. Di sini, kita bisa menduga bahwa Yesus memiliki persabatan yang erat dengan Marta dan Maria. Yesus menghargai kerja keras Martha, tetapi Dia lebih menghargai hati Maria yang lembut dan mendengarkan. Kita bisa melihat Yesus dalam kemanusiaan-Nya yang sejati dan di dalam-Nya kemanusiaan kita sendiri. Kita sebagai manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan jasmani, tetapi juga sebuah sentuhan yang mengisi jiwa kita. Kita ingin diterima, didengarkan, dipahami dan dicintai.

Yesus menunjukkan bahwa kita bisa berbicara, bekerja, dan sibuk dengan sangat mudah, namun ironisnya, kita harus mengerahkan upaya yang luar biasa hanya untuk diam, tenang dan mendengarkan untuk memahami.

Kata-kata Yesus untuk Martha adalah sebuah kebijaksanaan yang juga berlaku bagi generasi kita. Yesus berbicara tentang kebenaran bahwa kerinduan terdalam manusia tidak bisa dipuaskan dengan internet, gadgets ataupun uang. Beberapa pasangan suami-istri bekerja begitu keras untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka dan sibuk meniti tangga karir, tapi hanya sedikit waktu digunakan untuk menyentuh hati sang pendamping mereka. Beberapa orangtua mungkin berpikir mereka telah melakukan yang terbaik dengan mengirim anak-anak mereka ke sekolah terbaik, tapi berapa banyak waktu, kita menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka untuk mendengarkan cerita dan sentimen sederhana mereka? Beberapa imam dan kaum religius menjadi begitu sibuk dengan pelayanan mereka, tetapi ironisnya, mereka tidak memiliki waktu untuk mendengarkan saudara-saudara mereka sendiri dalam komunitas. Hanya pribadi manusia yang dapat memenuhi kebutuhan terdalam sesamanya. Saat Yesus menegur Martha, Yesus juga menegur kita untuk mengambil bagian yang lebih baik dalam melayani sesama kita. Benar bahwa kebutuhan jasmani adalah penting namun tidak akan pernah menggantikan sebuah hati yang mencintai dan telinga yang mendengarkan dengan tulus. Jadilah bagian yang lebih baik!

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Translate »