Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Panggilan dan Pewartaan

Panggilan dan Pewartaan

Sabtu setelah Rabu Abu

17 Februari 2018

Lukas 5:27-32

 

Setiap orang memiliki kisah panggilannya sendiri. Entah itu seorang imam, biarawan atau orang awam, kita memiliki momen-momen yang membuka mata kita akan tujuan hidup kita sesuai kehendak Allah. Seorang imam Dominikan dari Filipina menceritakan bahwa panggilannya di Ordo Pengkhotbah dimulai gara-gara mantan pacarnya mengajaknya untuk berdoa di Gereja Santo Domingo, Quezon City. Ketika mereka ada di sana, ia melihat kelompok para frater Dominikan memasuki Gereja untuk berdoa. Ia terkagum-kagum dengan penampilan mereka dan ia mulai jatuh cinta dengan jubah Dominikan. Akhirnya iapun memilih masuk dan menjadi imam. Bagi para awam, kisah panggilan mungkin tidak selalu dramatis, tetapi ada titik-titik penting yang membawa kita untuk melayani Tuhan dengan penuh semangat dalam keluarga, tempat kerja atau Gereja.

Injil hari ini menceritakan kisah panggilan Lewi, seorang pemungut cukai. Kisah ini juga muncul di Injil Matius. Saat Yesus memanggil Lewi, dia segera meninggalkan semua dan mengikuti Yesus. Tentunya ini adalah sebuah panggilan yang luar biasa cepat, tetapi saya percaya bahwa Lewi sudah mendengar banyak tentang Yesus dan terinspirasi oleh khotbah dan karya Yesus. Hal ini menjelaskan mengapa Lewi siap sedia ketika Yesus memintanya untuk mengikuti Dia dan meninggalkan hidupnya yang lama sebagai pemungut cukai. Seperti kisah Lewi, semua kisah panggilan berakar di dalam pewartaan Firman Allah.

Setiap kali saya berbicara kepada Dominikan awam, saya selalu menjelaskan bahwa pewartaan pertama mereka harus terjadi di dalam keluarga. Sebelum kita memiliki program pelayanan bagi masyarakat miskin atau kunjungan ke penjara, keluarga harus menjadi misi pertama kita. Untuk mengajar dan membesarkan anak kita menjadi seorang Kristiani yang baik tentunya sulit luar biasa, tetapi jika para orang tua menolak untuk melakukannya ini, siapa lagi yang akan melakukannya? Bahkan, panggilan imamat dan biarawan dapat sangat berkurang jika evangelisasi dalam keluarga gagal. Panggilan dan iman saya tumbuh dan berkembang di dalam keluarga. Saya selalu ingat bagaimana ibu saya mengajarkan saya berdoa rosario, dan ayah saya membawa kami ke Gereja setiap hari Minggu sebagai keluarga. Mereka mendidik saya juga dengan teladan mereka sebagaimana mereka menunjukkan nilai-nilai kesetiaan, pengorbanan dan kasih. Saya mengasihi Tuhan dan Gereja, karena saya melihat bagaimana orang tua saya juga mengasihi Tuhan dan Gereja.

Yesus mengingatkan bahwa panggilan kita berakar, terpelihara dan berkembang di dalam pewartaan Injil. Kita memiliki pemanggilan yang berbeda dengan kisah-kisah yang unik, tetapi sebagai Romo Timothy Radcliffe, OP pernah katakan, kita mungkin masuk ke Ordo (atau panggilan sebagai awam) untuk alasan yang tidak tepat, tapi kita harus tinggal karena alasan yang tepat. Kita percaya bahwa salah satu yang alasan yang tepat adalah pewartaan Kabar Baik di antara kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

Puasa untuk Berbagi

Puasa untuk Berbagi

Jumat setelah Rabu Abu

16 Februari 2016

Mat 9: 14-15

 

“… tapi muridmu tidak berpuasa?”

 

Masyarakat kita semakin konsumtif dan berorientasi pada uang. Semakin banyak orang percaya bahwa uang bisa menyelesaikan segalanya dan dengan demikian, bekerja gila-gilaan untuk mendapatkannya. Seorang teman dari Filipina bercerita bagaimana dia menghabiskan 12 sampai 14 jam di kantornya setiap hari hanya untuk mendapatkan uang yang cukup untuk menopang keluarganya. Di Amerika Serikat, tingkat pengangguran melonjak, bahkan mereka yang memiliki gelar master di saku mereka kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak. Pada tahun 1865, Amerika Serikat secara resmi menghapuskan perbudakan dan ini menyebabkan perang saudara Amerika berdarah untuk membebaskan para budak. Ironisnya, semakin banyak orang dengan bebas memberi diri mereka ke dalam perbudakan modern saat mereka bekerja keras hanya untuk mendapatkan sesuatu untuk dimakan.

Dengan sistem perbankan dan kredit modern, orang didorong untuk mengonsumsi bahkan sebelum mereka memiliki uang. Lebih buruk lagi, beberapa orang hanya tahu bagaimana cara membeli tanpa ada ide bagaimana membayar hutang mereka. Utang terus terkumpul, dan sebagai konsekuensinya, mereka yang sebenarnya tidak pernah meminjam uang harus membayar hutang. Setiap bayi yang lahir di Amerika Serikat mewarisi hutang senilai $ 50.000 dan rekan-rekan mereka di Jepang ditugaskan untuk membayar hutang senilai $ 90.000. Ini sebuah kenyataan gila!

Dalam konteks negara-negara berkembang seperti Indonesia dan Filipina, masalah ekonomi yang masih ada adalah memburuknya kemiskinan. Sementara sebagian besar masyarakat bekerja keras untuk mendapatkan upah minimum, sebagian kecil masyarakat menyedot uang orang miskin melalui korupsi besar-besaran. Semakin banyak orang jatuh ke dalam pelacuran, perdagangan manusia, perdagangan narkoba dan sindikat kejahatan, hanya untuk menemukan sesuatu untuk mengisi perut kosong mereka. Beberapa negara miskin lainnya, termasuk Indonesia, menjadi lahan subur bagi terorisme, bukan karena ideologi tertentu, namun karena gajih yang memikat. Saya bahkan mendengar rumor bahwa teroris mendapat bayaran yang lebih baik daripada tentara pemerintah atau polisi.

Yesus mengakui mentalitas fundamental yang bermasalah ini di dalam diri kita. Yesus tahu bahwa uang bukanlah jawabannya, tapi justru pada kemampuan kita untuk berbagi apa yang kita miliki dan juga kehidupan bagi sesama. Masa Prapaskah mengajarkan kita untuk berpuasa. Namun, puasa pada dasarnya bukan karena alasan diet atau kesehatan, namun memungkinkan kita untuk memiliki sesuatu untuk dibagikan. Saat kita merasakan kelaparan, kita juga merasakan penderitaan orang lain dan kita tergerak untuk berbagi. Bila kita berpantang, kita memiliki lebih banyak untuk dibagikan, tidak hanya makanan dan uang tapi juga waktu dan diri kita sendiri. Dengan demikian, masalah ekonomi mendasar yang kita hadapi sekarang bukanlah untuk mendapatkan uang, tapi ketidakmampuan kita untuk berbagi. Saat kita menjadi terlalu egois dan melakukan apa pun untuk mengumpulkan kekayaan, orang-orang lemah lainnya akan terus menderita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Realitas Salib

Realitas Salib

Kamis setelah Rabu Abu

15 Februari 2018

Lukas 9:22-25

 

“Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku (Luk 9:24)”

 

Hari ini, Yesus mengajarkan kita bagaimana menghadapi penderitaan. Hanya dua kata: Rangkullah mereka! Hal ini mungkin terdengar sangat salah. Tentu, sebagai manusia, kita selalu menghindari rasa sakit dan ingin selalu bahagia. Ini mengapa kita menyukai cerita-cerita klasik (seperti Cinderella, Snow White, dll) yang berakhir dengan pernikahan dan kedua karakter utamanya hidup bersama bahagia selamanya. Maka, saat Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk “menyangkal diri mereka dan memikul salib mereka setiap hari”, Yesus sepertinya tidak begitu waras. Sungguhkah demikian?

Mari kita melihat realitas salib pada zaman Yesus. Disalib adalah cara yang paling brutal dan memalukan untuk menghukum seorang penjahat. Setiap ancaman bagi Kekaisaran Romawi tidak hanya akan dipaku di batang kayu salib tetapi juga menjadi tontonan khalak ramai. Para korban akan mati perlahan-lahan. Tidak hanya sangat menyiksa bagi yang tergantung di pohon, tetapi juga menyakiti perasaan orang yang dicintai melihat dia tergantung dan putus asa. Penyaliban pasti menuju kematian, tapi semakin lama penderitaan yang ditimbulkan semakin baik pula penyaliban itu.

Sekarang, realitas salib menjadi sangat jelek ketika Yesus, Tuhan kita, dengan bebas memilih untuk menerimanya dan mati dengan salib. Apakah Dia cukup gila ketika ia memutuskan untuk mengambil bagian terburuk dari kematian? Apakah dia cukup gila untuk mempromosikan hal ini kepada para pengikutnya?

Kita kehilangan maknanya jika kita hanya terpusat pada penderitaan itu sendiri. Mari kita lihat gambaran yang lebih besar. Teologi Kristiani menjelaskan bahwa penderitaan dan kematian adalah konsekuensi dari dosa kita. Karena semua orang melakukan dosa, penderitaan adalah nasib kita. Dalam Kemurahan-Nya, Tuhan selalu bisa menghapus penderitaan, tetapi Dia tidak melakukannya. Kenapa? St. Paulus memiliki jawabannya: “Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah (1 Kor 1:18).”

Dengan merangkul salib, Yesus membuat penderitaan sumber perkembangan, kebijaksanaan dan bahkan kekudusan. Fokus sebuah salib bukanlah pada pada penderitaan itu sendiri, melainkan pada Allah yang tergantung di sana. Bukan paku yang menahan Yesus di kayu salib, tetapi kasih. Kita diajak untuk melihat Allah bahkan di saat-saat paling suram kehidupan. Ketika seorang ibu mengetahui bahwa putri satu-satunya hanya hamil di luar nikah, ia bisa memilih untuk menghujat Allah. Namun, iapun bisa menemukan Tuhan dalam putrinya yang menolak untuk menggugurkan sang bayi dan dalam komunitas Kristiani yang selalu mendukung.

Salib bukanlah tentang sekedar penderitaan, tetapi bagaimana kita menemukan Allah dalam penderitaan dan membuat salib sungguh bermakna.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

 

Abu

Abu

Rabu abu 2018

14 Februari 2018

Matius 6: 1-6, 16-18

 

Rabu Abu adalah awal dari Masa liturgi Pra-paskah di Gereja Katolik. Nama ini berasal dari tradisi kuno di mana setiap orang Katolik yang menghadiri misa pada hari ini akan menerima tanda salib abu di dahinya. Abu ini biasanya berasal dari daun palma yang telah diberkati pada Minggu Palma tahun sebelumnya, dan kemudian dibakar.

Mengapa  harus abu? Apakah ini sesuai dengan Kitab Suci?

Dalam Alkitab, abu (atau debu) melambangkan kemanusiaan kita yang fana dan rapuh. Kita ingat bagaimana Tuhan menciptakan manusia dari debu bumi (Kej 2:7). Dan, ketika Adam jatuh dalam dosa, Tuhan mengingatkan kembali Adam akan kemanusiaannya yang fana, “Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kej 3:19).” Karena dosa, kematian masuk ke dalam hidup manusia, dan membawa Adam dan semua keturunannya kembali ke tanah. Jadi, ketika seorang imam menandai dahi kita dengan abu, kita diingatkan tentang siapa diri kita sesungguhnya. Kita adalah manusia, dan hanya mengandalkan kekuatan dan kemampuan kita sendiri, terlepas dari segala kesuksesan dan keberhasilan, kita akan mati dan kembali ke bumi.

Abu juga merupakan tanda kerendahan hati dan pertobatan. Setelah Yunus bernubuat, orang-orang Niniwe kemudian bertobat, dan sebagai bentuk pertobatan, mereka memakai kain kabung dan duduk di atas abu (Yun 3: 5-6). Di bawah pimpinan Nehemia, warga Yerusalem berkumpul dan meminta pengampunan dari Tuhan. Mereka semua berkumpul “sambil berpuasa dan memakai kain kabung, kepala mereka tertutup debu (Neh 9: 1).” Hal ini menjelaskan mengapa imam mengatakan, “bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” saat menandai kita dengan abu. Sama seperti bangsa Israel di masa lalu, abu ini adalah tanda dan ajakan bagi kita untuk mengubah hidup kita dan memohon belas kasih dan pengampunan dari Tuhan.

Salib abu adalah tanda kemanusiaan kita yang terbatas. Namun, abu ini juga adalah simbol kekuatan sejati dan sukacita kita. Ketika kita menyadari dan mengakui bahwa kita hannyalah abu di tangan Tuhan, inilah juga saat kita menjadi sekali lagi benar-benar hidup. Salib abu berubah menjadi momen penciptaan kembali bagi kita. Sama halnya seperti Tuhan yang menghembuskan roh-Nya pada manusia pertama yang terbuat dari debu, Tuhan juga menghembuskan rahmat-Nya kepada kita yang mengakui bahwa kita adalah debu, bahwa kita tidak berdaya tanpa Dia. Dengan rahmat-Nya, kita menjadi benar-benar hidup karena kita sekarang mengambil bagian dalam hidup Tuhan. St. Paulus berkata, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku (Gal 2:20).” Debu menjadi sebuah paradoks kepenuhan hidup.

Terkadang, abu membawa kita pada suasana sedih dan suram karena kita mulai menyadari dosa dan kelemahan kita. Karena kita menjalankan pantang dan puasa pada hari ini, kita juga merasa lapar dan lesu. Namun, kita tidak boleh berhenti di situ saja. Salib abu yang sejati harus membawa kita kepada Injil, yang adalah Kabar Baik. Saat kita bertobat, kita menghapus semua hal yang membebankan dan menjauhkan kita dari Tuhan. Kita menjadi sekali lagi ringan dan energetik. Saat kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, yang adalah sumber kehidupan, kita tidak bisa tidak menjadi hidup dan penuh dengan sukacita. Ini adalah abu yang membawa kita kepada Injil, sukacita Injil. Ini adalah Kabar Baik karena kita sekarang telah diselamatkan!

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ragi

Ragi

Selasa dalam Pekan Biasa ke-6

13 Februari 2018

Markus 8:14-21

 

Ragi adalah sebuah zat yang menyebabkan proses fermentasi. Proses fermentasi sendiri telah digunakan oleh manusia ribuan tahun lalu, secara khusus untuk pembuatan makanan dan minuman. Banyak makanan yang kita konsumsi sehari-hari merupakan hasil dari proses fermentasi, seperti roti, anggur, acar, tempe, tape, dan bir.

Di dalam Kitab Suci, ragi menjadi simbol sesuatu yang tidak baik. Seluruh adonan roti yang diberi sedikit ragi akan mengembang, dan rasanya akan lebih gurih dibandingkan roti tak beragi. Namun, roti beragi juga cepat mengalami kerusakan dibandingkan dengan roti tak beragi. Oleh karena itu, ragi sering dikaitkan dengan biang dari kerusakan dan korupsi. Saat bangsa Yahudi akan dibebaskan dari tanah Mesir, Allah melalui Musa memerintahkan mereka hanya untuk memakan dan membawa roti tak beragi (Kel 12). Alasannya cukup praktis karena roti tak beragi tahan lama, dan menjadi bekal yang baik dalam perjalanan menuju tanah terjanji. Pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir dirayakan setiap tahun sebagai hari raya Paskah Yahudi, dan salah satu hal yang dilarang adalah adanya ragi di antara bangsa Israel. Bahkan mereka yang memakan makanan beragi pada Hari Raya ini akan diusir dari komunitas bangsa Israel (Kel 13).

Yesus dan para murid-Nya mengerti arti simbolis dari sebuah ragi. Yesus pun memperingati para murid akan bahaya dari ragi para kaum Farisi. Melihat dari kisah sebelumnya di mana Yesus menolak tuntutan para Farisi yang meminta tanda dari langit, kita bisa menduga bahwa ragi kaum Farisi adalah kekerasan hati dan ketidakpercayaan kaum Farisi terhadap Yesus. Saat para murid khawatir bahwa mereka hanya memiliki satu buah roti dalam perjalanan, Yesus harus mengingatkan kembali tentang Mujizat penggandaan roti yang Ia lakukan sebelumnya. Sepertinya Yesus memperingati para murid akan ragi para Farisi yang telah menyusup ke dalam hati mereka. Ini adalah ragi yang membuat hati para murid menjadi keras dan juga kehilangan iman pada Yesus.

Merenungkan bacaan hari ini, dan sebagai murid-murid Tuhan Yesus, apakah kiranya yang menjadi ragi Farisi di dalam hidup kita? Apakah hal-hal yang menghalangi kita melihat karya-karya Tuhan di dalam hidup kita? Apakah yang membuat kita berkeras hati dan kurang percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi?

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »