Beriman harus tetap memperhatikan peran akal budi
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
katagory untuk renungan
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
(Yes. 42:1–4.6–7; Kis. 10:34–38; Mat. 3:13–17)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Selamat Natal dan Tahun Baru. Semoga rahmat, damai, dan sukacita Natal yang baru saja kita rayakan tidak cepat pudar, tetapi terus memancar dalam hidup kita, menuntun langkah kita memasuki tahun yang baru dengan hati yang penuh harapan. Amin.
Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan, yang sekaligus menutup Masa Natal dan membuka Masa Biasa. Namun sesungguhnya, apa yang kita rayakan hari ini bukanlah sesuatu yang “biasa”. Justru di sinilah Injil menyingkapkan secara mendalam siapakah Yesus itu dan jalan hidup apa yang Ia pilih.
Injil hari ini mengisahkan Yesus yang datang kepada Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan untuk dibaptis. Sekilas, peristiwa ini terasa janggal. Yohanes membaptis orang-orang yang mengakui dosa dan bertobat, sementara Yesus tidak berdosa. Namun justru di situlah letak keindahan dan kedalaman iman kita: Yesus memilih berdiri sebaris dengan umat-Nya, masuk ke dalam air yang sama, dan mengambil jalan solidaritas dengan manusia. Bacaan pertama dari kitab Yesaya menolong kita untuk memahami makna peristiwa ini. Nabi Yesaya berbicara tentang Hamba Tuhan yang dipilih dan dikasihi Allah: “Aku telah memanggil engkau demi keselamatan… Aku telah memegang tanganmu… Engkau akan membuka mata orang-orang buta dan membebaskan mereka yang terkurung.”
Hamba Tuhan ini tidak datang dengan kekerasan, tidak berteriak atau mematahkan buluh yang terkulai. Ia hadir dengan kelembutan, kesetiaan, dan belas kasih. Gambaran ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus. Dengan dibaptis di Sungai Yordan, Yesus secara diam-diam tetapi tegas berkata: “Inilah jalan-Ku: jalan Hamba, jalan yang turun ke bawah, jalan yang menyembuhkan, bukan menghakimi.”
Dalam bacaan kedua, Santo Petrus dalam Kisah Para Rasul menegaskan hal yang sama. Ia berkata bahwa Yesus dari Nazaret diurapi Allah dengan Roh Kudus dan kuasa, dan Ia berkeliling sambil berbuat baik serta menyembuhkan semua orang yang dikuasai oleh kejahatan. Inilah buah dari pembaptisan Yesus: sebuah perutusan untuk menghadirkan kebaikan Allah secara nyata, konkret, dan menyentuh hidup banyak orang.
Puncak peristiwa pembaptisan Yesus terjadi ketika langit terbuka, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan terdengarlah suara dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Saudara-saudariku terkasih, kata-kata ini bukan hanya sebuah pengumuman, melainkan peneguhan. Setelah sekitar tiga puluh tahun hidup sederhana di Nazaret sebagai anak keluarga biasa dan sebagai tukang kayu, Yesus kini melangkah memasuki perutusan-Nya secara penuh. Ia meninggalkan kenyamanan hidup tersembunyi dan melangkah ke jalan yang penuh risiko. Dan tepat pada saat itu, Bapa meneguhkan-Nya: “Engkau tidak sendiri. Aku menyertaimu.”
Di sinilah kita bisa bercermin. Dalam hidup, ada saat-saat ketika kita juga harus mengambil keputusan penting: meninggalkan kebiasaan lama, berani berubah, memilih yang benar meski tidak mudah. Sering kali, langkah pertama itu terasa seperti “turun ke sungai Yordan” yang dingin, tidak nyaman, dan penuh keraguan. Namun perayaan hari ini mengingatkan kita bahwa Allah setia meneguhkan setiap langkah yang diambil dalam ketaatan dan kasih.
Pesta Pembaptisan Tuhan juga mengajak kita untuk kembali mengingat baptisan kita sendiri. Pada hari kita dibaptis, mungkin kita masih kecil dan tidak sadar apa-apa. Tetapi secara rohani, pada hari itu Allah juga berkata kepada kita: “Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi.” Kita pun diurapi oleh Roh Kudus dan diutus, bukan untuk menjadi orang besar, tetapi untuk menjadi pembawa terang, alat damai, dan saksi kasih Allah di tengah dunia.
Saudara-saudariku terkasih, Air baptisan itu seperti benih yang ditanam. Benih itu sungguh hidup, tetapi ia baru akan bertumbuh bila dirawat, disiram, terkena cahaya, dan dijaga dari hama. Demikian pula rahmat baptisan kita. Rahmat itu tidak pernah hilang, tetapi bisa menjadi tidak berkembang jika tidak kita hidupi. Maka pertanyaannya bukanlah “Apakah aku sudah dibaptis?”, melainkan “Apakah aku sudah hidup sebagai orang yang dibaptis?”
Karena itu, baiklah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah dalam hidup kita sudah tampak buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri? Apakah kehadiran kita membawa terang, atau justru menambah gelap? Menguatkan, atau melukai?
Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita tidak hanya mengenang pembaptisan Yesus, tetapi kita diundang untuk memperbarui komitmen baptisan kita. Mari kita mohon agar Roh Kudus yang sama, yang turun di Sungai Yordan, juga terus bekerja dalam hati kita, menuntun kita menjalani tahun yang baru ini sebagai putera-puteri Allah yang setia. Semoga hidup kita, dengan segala keterbatasannya, boleh menjadi suara lembut Allah di tengah dunia: suara yang tidak berteriak, tetapi menyembuhkan; tidak menghakimi, tetapi memulihkan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
(Yes. 60:1-6; Ef. 3:2-3a.5-6; Mat. 2:1-12)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Hari Raya Penampakan Tuhan, yang kita rayakan hari ini, mengajak kita merenungkan misteri Allah yang berkenan menyatakan diri-Nya kepada seluruh umat manusia. Kata “epifani” berarti penyingkapan, penampakan, atau perwujudan. Dalam Yesus Kristus, Allah yang semula tersembunyi kini menjadi dekat, dapat dijumpai, dan dialami oleh semua orang tanpa kecuali. Ia bukan hanya Allah bagi satu bangsa atau satu kelompok tertentu, melainkan Tuhan bagi seluruh dunia.
Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yesaya (Yes. 60:1–6) menghadirkan gambaran yang sangat kuat dan penuh pengharapan. Nabi menyerukan, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” Seruan ini ditujukan kepada bangsa Israel yang sedang mengalami masa sulit, berada dalam bayang-bayang kehancuran dan kegelapan. Namun Tuhan tidak membiarkan umat-Nya terpuruk dalam keputusasaan. Ia menjanjikan terang yang akan menghalau kegelapan, kemuliaan yang akan menarik bangsa-bangsa datang kepada-Nya.
Yesaya menggambarkan bagaimana bangsa-bangsa akan berjalan menuju terang Tuhan. Mereka datang membawa emas dan kemenyan, tanda hormat, penyembahan, dan pengakuan bahwa Tuhanlah sumber keselamatan. Gambaran ini menegaskan bahwa sejak awal, rencana keselamatan Allah bersifat universal. Allah tidak menutup diri-Nya, melainkan membuka diri-Nya bagi semua bangsa.
Gambaran nubuat Yesaya ini menemukan penggenapannya dalam Injil Matius (Mat. 2:1–12). Kita mendengar kisah orang-orang majus dari Timur, para pencari kebenaran yang dengan setia mengikuti bintang. Mereka bukan orang-orang yang berasal dari bangsa pilihan, bukan pula ahli Taurat atau pemuka agama. Namun mereka memiliki hati yang terbuka, kepekaan batin, dan keberanian untuk melangkah.
Perjalanan para majus adalah perjalanan iman. Mereka meninggalkan kenyamanan, menghadapi jarak yang jauh dan medan yang tidak mudah, serta berhadapan dengan Herodes yang penuh kecurigaan dan ambisi. Namun mereka tidak berhenti. Mereka terus berjalan, sebab terang kecil yang mereka ikuti memberi harapan besar. Di sini kita
belajar bahwa iman sering kali bukan soal kepastian mutlak, melainkan kesetiaan dalam melangkah meski belum melihat secara utuh.
Ketika para majus akhirnya menemukan Yesus, mereka tidak menemukan istana megah atau takhta emas. Mereka menemukan seorang bayi kecil, lemah dan sederhana. Namun justru di situlah mereka bersujud. Mereka mengenali kehadiran Allah dalam kesederhanaan. Emas, kemenyan, dan mur yang mereka persembahkan melambangkan pengakuan iman: Yesus adalah Raja, Allah, dan sekaligus manusia yang kelak menderita demi keselamatan dunia.
Perjumpaan dengan Kristus mengubah hidup mereka. Injil mencatat bahwa mereka pulang melalui jalan lain. Ini bukan sekadar perubahan rute geografis, melainkan simbol perubahan hidup. Setiap perjumpaan sejati dengan Tuhan selalu mengubah arah langkah kita.
Makna peristiwa ini ditegaskan dalam Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus (Ef. 3:2–3a.5–6). Paulus menyatakan bahwa rahasia keselamatan kini telah disingkapkan: bangsa-bangsa lain turut menjadi ahli waris, anggota tubuh yang sama, dan peserta dalam janji Allah di dalam Kristus Yesus. Apa yang tampak dalam kisah para majus kini ditegaskan secara teologis: dalam Kristus, tidak ada lagi tembok pemisah.
Hari Raya Penampakan Tuhan mengajak kita bercermin. Apakah kita masih menutup terang Kristus hanya untuk diri sendiri, ataukah kita membiarkannya bersinar bagi orang lain? Kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati terang itu, tetapi juga untuk menjadi pantulan terang Kristus di tengah dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil menjadi terang melalui sikap sederhana: kejujuran di tengah godaan, kesabaran dalam konflik, pengampunan dalam luka, dan kepedulian kepada mereka yang kecil dan tersingkir. Tindakan-tindakan kecil ini dapat menjadi “bintang” yang menuntun orang lain kepada Kristus.
Semoga perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan ini meneguhkan kita sebagai umat yang mau mencari Tuhan dengan tekun, mau bersujud dengan rendah hati, dan mau pulang dengan hidup yang diperbarui. Kiranya terang Kristus semakin nyata dalam hidup kita, dan melalui hidup kitalah banyak orang dapat melihat kemuliaan Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
Rm Endi
(1Yoh 2:18–21; Yoh 1:1–18).
Kita berdiri di ambang batas waktu. Satu tahun hampir selesai, dan tahun yang baru perlahan menyongsong kita. Malam tutup tahun bukan sekadar peralihan kalender, bukan hanya soal hitungan detik dari pukul 23.59 menuju 00.00, melainkan saat rahmat. Gereja mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, dan bertanya dengan jujur: bagaimana aku menjalani tahun yang telah berlalu? Di mana Tuhan hadir? Dan di bagian mana aku justru menjauh dari-Nya?
Bacaan Injil hari ini dibuka dengan kata-kata yang sangat dalam dan agung: “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dg Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Yohanes tidak mengajak kita menghitung hari, bulan, dan tahun, melainkan mengajak kita kembali ke asal segalanya, yakni Allah sendiri. Seolah-olah Gereja ingin berkata kepada kita: sebelum engkau menutup satu tahun dan membuka tahun yang baru, pastikan engkau kembali ke sumber hidupmu yaitu Tuhan. Firman itu bukan gagasan abstrak, bukan pula teori rohani, melainkan Pribadi yang hidup, yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita.
Bayangkan sebuah perjalanan jauh. Seseorang bisa saja sibuk memikirkan jarak tempuh, waktu keberangkatan, dan tujuan akhir, tetapi lupa memeriksa apakah ia masih berada di jalan yang benar. Tutup tahun adalah momen “berhenti di pinggir jalan” untuk melihat peta kembali. Apakah arah hidupku masih mengarah kepada Tuhan, atau aku sudah terlalu jauh terseret oleh ambisi, kekecewaan, dan rutinitas tanpa makna? Injil hari ini menegaskan: arah hidup kita hanya bisa dipahami dengan benar jika kita kembali kepada Firman.
Ketika kita menoleh ke tahun yang hampir berlalu, perasaan kita pasti bercampur aduk. Ada rasa syukur karena kita masih diberi hidup, kesehatan, pekerjaan, keluarga, dan kesempatan untuk melayani. Mungkin kita bersyukur karena Tuhan menyelamatkan kita dari bahaya, memulihkan kita dari sakit, atau menguatkan kita di saat-saat sulit. Namun kita juga jujur mengakui bahwa tahun ini tidak selalu mudah. Ada rencana yang gagal, usaha yang tidak berhasil, relasi yang merenggang, bahkan doa-doa yang terasa seperti jatuh ke dalam keheningan.
Tidak sedikit dari kita yang memasuki akhir tahun dengan hati lelah. Ada orang yang tersenyum di luar, tetapi hatinya penuh luka. Ada yang tampak kuat, tetapi diam-diam menanggung beban berat. Ada pula yang membawa penyesalan karena kata-kata yang menyakiti hati, keputusan yang keliru, atau kesempatan baik yang disia-siakan. Malam ini Gereja tidak menutup-nutupi kenyataan itu. Justru di sinilah kabar baik Injil menjadi sungguh nyata.
“Injil malam ini membawa penghiburan yang besar: Firman itu tinggal di antara kita.” Allah tidak menunggu hidup kita rapi dan sempurna. Ia tidak datang hanya ketika semuanya beres. Ia hadir justru di tengah kerapuhan, di dalam tahun yang berantakan, di dalam cerita hidup yang belum selesai. Seperti seorang ibu yang tidak meninggalkan anaknya yang jatuh dan kotor, Tuhan tidak meninggalkan kita ketika hidup kita berantakan. Ia hadir bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menerangi.
Yohanes menegaskan: “Terang itu bercahaya dalam kegelapan, dan kegelapan tidak menguasainya.” Ini bukan sekadar kalimat indah, melainkan janji iman. Artinya, sekelam apa pun tahun yang kita lewati, kegagalan apa pun yang kita alami, dosa sebesar apa pun yang kita sesali, terang Tuhan tidak pernah padam. Mungkin kita merasa gelap, tetapi gelap itu tidak pernah lebih kuat dari terang Allah.
Bacaan pertama dari Surat Yohanes mengingatkan kita tentang kebenaran dan kepalsuan. “Kamu telah menerima pengurapan dari Yang Kudus.” Kita hidup di zaman yang penuh suara. Setiap hari kita dibanjiri informasi, opini, tuntutan, dan standar hidup yang sering kali membuat kita gelisah. Ada suara yang berkata: “Engkau harus lebih berhasil.” Ada suara yang berbisik: “Engkau tidak cukup baik.” Ada pula suara ketakutan yang membuat kita kehilangan harapan.
Tutup tahun adalah saat yang tepat untuk bertanya dengan jujur: suara siapa yang paling sering saya dengarkan sepanjang tahun ini? Apakah suara Firman yang menenangkan dan meneguhkan, atau suara dunia yang membuat saya lelah dan cemas? Bacaan ini mengingatkan kita bahwa kita telah diurapi, artinya kita diberi kemampuan oleh Tuhan untuk membedakan mana yang benar dan mana yang menyesatkan. Tahun baru bukan pertama-tama soal resolusi besar, tetapi soal kesetiaan kecil: setia mendengarkan Firman, setia hidup dalam terang, setia berjalan bersama Tuhan, hari demi hari.
Saudara-saudariku terkasih, sebentar lagi kita akan melangkah ke tahun yang baru. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin akan ada keberhasilan yang membanggakan, mungkin juga salib yang berat. Namun malam ini kita diingatkan akan satu kepastian iman: Firman telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita. Ia akan berjalan bersama kita ke tahun yang akan datang: di rumah kita, di tempat kerja kita, dalam pelayanan kita, dan juga di saat-saat sunyi yang tidak dilihat siapa pun.
Maka marilah kita menutup tahun ini dengan hati yang berserah. Kita serahkan kepada Tuhan rasa syukur kita dan penyesalan kita, air mata kita dan harapan kita. Kita membuka tahun yang baru bukan dengan keangkuhan, seolah-olah kita mampu menguasai segalanya, melainkan dengan doa yang sederhana namun penuh iman:
“Tuhan, tinggallah bersama kami. Terangilah langkah kami. Jadikanlah kami anak-anak terang, agar hidup kami, apa pun yang terjadi, menjadi kesaksian bahwa Engkau sungguh hadir di tengah dunia.” Selamat memasuki tahun yang baru, Tuhan Yesus memberkati. Amin.
Amin.