Orang biasa
Bacaan I : Kis 4:13-21
Bacaan Injil : Mark 16:9-15
Seorang katekis suatu saat bercerita pada saya, bagaimana dia merasa terpanggil turut ambil bagian dalam tugas pengajaran Gereja. Mulanya dia hanya menemani seorang kawannya yang tertarik untuk mendalami ajaran Kristus dan GerejaNya. Dari sana muncul kegembiraan dan kerinduan turut ambil bagian dalam pertumbuhan Gereja. Namun ada satu komentar yang mengingatkan saya akan komentar senada dari katekis-katekis lain yang pernah saya kenal: Saya ini sebenarnya merasa tidak layak. Saya bukan orang pandai, atau sangat rajin berdoa dan saleh. Saya sendiri masih punya banyak pertanyaan, yang sekaligus saya cari jawabannya sembari saya menyiapkan pelajaran untuk para murid saya. Saya ini orang biasa.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus mengatakan “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami (2 Kor 4:7)” Meski pun dia sendiri termasuk kelompok terpelajar, Paulus menyadari bahwa dia hakekatnya sama dengan orang kebanyakan, orang biasa, yang seperti tanah liat, namun menjadi berharga karena apa yang ditaruh Tuhan di dalam bejana itu. Di hadapan para pemimpin Yahudi, tua-tua serta ahli-ahli Taurat, Yohanes dan Petrus hanyalah orang biasa (Kis 4:13). Toh gerakan mereka yang merupakan kelanjutan dari gerakan Yesus sang Guru mengubah wajah dunia. Orang biasa bisa menjadi luar biasa karena Tuhan yang bekerja di dalamnya.
Meski ada orang-orang luar biasa di sekitar kita, kebanyakan kita adalah orang-orang biasa, yang yang diberkati dan diutus untuk turut mewartakan kabar gembira Injil ke seluruh bumi (Mark 16:9-15). Meski seperti Musa, Yesaya, Yeremia, Petrus, pada awalnya kita sendiri mungkin merasa tidak layak untuk melayaniNya, Tuhan akan mencukupi apa yang kita butuhkan. Dari kita hanya diminta kerendahan hati untuk membiarkan Tuhan bekerja dalam dan lewat diri kita. Semoga Paskah membaharui semangat kita untuk merayakan dan menghidupi identitas kemuridan kita, mengikuti jejak Sang Guru menjadi pewarta kasih. Biarlah hari-hari biasa dalam hidup kita menjadi hari-hari luar biasa dalam Tuhan yang memberi berkat kebangkitanNya.
Menemukan Harapan dalam Kristus

Jangan Putus Asa

153
Bacaan I : Kis 4:1-12
Bacaan Injil : Yoh. 21:1-14
Tahun 1990, Iraq menyerbu Kuwait karena masalah minyak. Setahun kemudian, koalisi Perang Teluk pimpinan USA menggelar Operation Desert Storm, membebaskan kembali Kuwait. Pada saat itu, seorang teman sesama mahasiswa Katolik di ITS Surabaya dengan serius berkata pada saya: Ardi, kamu tahu nggak, kita sudah makin dekat kiamat. Di Kitab Wahyu disebutkan tentang naga berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh yang berhadapan dengan perempuan yang hendak melahirkan Anak laki-laki yang akan memimpin bangsa-bangsa dengan gada besi. Kamu tahu berapa jumlah Negara Uni Eropa yang saat ini bersama-sama memerangi Irak? Sepuluh. Mereka lah naga itu, dan kedatangan Mesias yang kedua kali, akan terjadi sebentar lagi. Hmm… sesampai di rumah, penasaran saya cari keterangan tentang Uni Eropa. Saat itu anggotanya 12 negara, bukan sepuluh. Entah bagaimana teman saya mendapatkan angka 10. Dan tentu saja, kiamat belum terjadi, hingga kini, sementara jumlah anggota Uni Eropa terus bertambah!
Dalam Kitab Suci, angka bukannya tidak punya penting dan tidak punya makna. Duabelas rasul kiranya dipilih dengan sengaja oleh Yesus untuk melambangkan Israel baru, pengganti 12 suku Israel lama. Tiga kali Petrus ditanya Yesus apakah dia mencintaiNya dan kemudian memintanya untuk menggembalakan domba-dombaNya setelah kebangkitanNya, kiranya juga mau melambangkan “koreksi” atas tiga kali penyangkalan Petrus di malam Yesus ditangkap. Dalam bacaan Injil hari ini, menarik juga disebutkan secara mendetail dan presisi jumlah ikan yang ditangkap para rasul didanau: 153. Apa artinya?
St Hieronimus, penerjemah Alkitab dari Bahasa Yunani dan Ibrani ke dalam Bahasa Latin dari abad ke 4, menunjuk daftar jenis ikan yang diketahui oleh ahli binatang saat itu adalah 153. Dari sana penafsir Kitab Suci menyatakan bahwa 153 mewakili setiap bangsa di dunia yang dikenal saat itu, tidak hanya bangsa Yahudi saja. Dengan kata lain, seluruh bangsa dipersatukan dalam jaring yang utuh tidak robek. Tafsir lain menghubungkannya dengan Tetragrammaton, 4 huruf Ibrani yang menyatakan nama Tuhan (YHWH) yang muncul 153 kali dalam kitab Kejadian. St Agustinus mengusulkan 153 adalah bilangan integer segitiga yang ke 17 (lihat gambar, sumber Wikipedia), dengan 17 menyatakan kombinasi dari 7 karunia Roh Kudus dan 10 perintah Allah. Ada pula yang menghubungkan 153 dengan untaian doa Salam Maria dalam doa Rosario: 150 Salam Maria dari 5×3 peristiwa (gembira, sedih, mulia) + 3 Salam Maria antara Aku Percaya dan peristiwa pertama. Ada yang skeptis dengan macam-macam penjelasan yang ada dan menyatakan, dua kemungkinan: bisa jadi ada maknanya tapi sungguh tersembunyi, bisa saja tidak ada maknanya sama sekali kecuali bahwa memang jumlah ikan yang tertangkap betul-betul 153.
Jadi? Menafsir angka dan code rahasia bisa jadi sangat mengasyikkan. Tetapi baik kita tidak lupa mencecap pesan yang utama dan lebih nyata dulu: murid yang dikasihi mengenali Tuhan. Hanya kalau kita sampai pada kedekatan tertentu, dan dengan rahmatNya, kita bisa mengenali kehadiranNya. Adalah undangan bagi kita untuk terus belajar mengenalNya, mencintaiNya, mengikutiNya. Dan makan pagi Yesus bersama para murid menggambarkan juga Ekaristi, saat kita juga mengenali kehadiranNya beserta kita, dalam Sabda, dalam Roti dan Anggur, dalam kesatuan umat yang adalah Tubuh Mistik Kristus. Melalui keikutsertaan dalam Ekaristi, kita pun dimampukan mengenali kehadiran Tuhan yang bangkit dalam hidup kita sehari-hari. Semoga.


