Minggu Palma: Menyongsong Musuh Dengan Cinta

Yer. 20:10-13; Mzm. 18:2-3a,3bc-4,5-6,7; Yoh. 10:31-42
Sekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka: “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu: “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan Allah.” Kata Yesus kepada mereka: “Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu: Aku telah berfirman: Kamu adalah Allah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut Allah?sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan?, masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku,tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti, bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali lagi mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka. Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Dan banyak orang datang kepada-Nya dan berkata: “Yohanes memang tidak membuat satu tandapun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini adalah benar.” Dan banyak orang di situ percaya kepada-Nya.
Kebencian orang Yahudi terhadap Yesus tidak haya disebabkan oleh pernyataanNya bahwa Dia dan Allah adalah satu dan sama. Kebencian mereka terhadap Yesus disebabkan oleh rasa iri dengan kepopuleran Yesus ditengah masa terutama orang-orang biasa. Orang-orang Yahudi merasa mulai kehilangan cekraman kekuasaan karna Yesus. Oleh karena itu mereka merencanakan membunuh Yesus dengan berbagai macam cara.
Dalam hidup kita sehari-hari, kita bertemu dengan orang-orang yang kita harus akui bahwa hidup mereka lebih baik dari kita; lebih rendah hati daripada kita. Jangan pernah merasa iri hati terhadap mereka, jangan pernah merencanakan apapun yang tak diinginkan, terhadap mereka. Sebaliknya, bergembiralah bersama mereka. Berbahagia bersama orang yang membuat kita tidak popular lagi adalah suatu hal yang tidak mudah untuk kita lakukan. Akan tetapi sebagai pengikut Kristus yang sejati, kita dapat melakukannya.
Kesalahan orang Farisi dan ahli-ahli taurat pada zaman Yesus adalah mereka mereka membiarkan iri hati dan rasa bangga akan diri mereka sendiri mengontrol mereka. Dengan melakukan hal ini, mereka sebenarnya dalam proses membuka diri mereka untuk dikontrol oleh kuasa kegelapan sehingga mereka merencanakan kejahatan dan mengikuti setan melawan Jesus.
Semoga kita tidak melakukan kesalahan yang sama.
Kejadian 17:3-9; Yoh 8:51-59
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” Kata orang-orang Yahudi kepada-Nya: “Sekarang kami tahu, bahwa Engkau kerasukan setan. Sebab Abraham telah mati dan demikian juga nabi-nabi, namun Engkau berkata: Barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.
Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kita Abraham, yang telah mati! Nabi-nabipun telah mati; dengan siapakah Engkau samakan diri-Mu?”
Jawab Yesus: “Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia, tetapi Aku mengenal Dia. Dan jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, maka Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.
Abraham bapamu bersukacita bahwa ia akan melihat hari-Ku dan ia telah melihatnya dan ia bersukacita.”
Maka kata orang-orang Yahudi itu kepada-Nya: “Umur-Mu belum sampai lima puluh tahun dan Engkau telah melihat Abraham?”
Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” Lalu mereka mengambil batu untuk melempari Dia; tetapi Yesus menghilang dan meninggalkan Bait Allah.
“Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, maka kemuliaan-Ku itu sedikitpun tidak ada artinya; akan tetapi Bapakulah yang memuliakan Aku. Terlepas dari apa yang kita lakukan, jika kita lakukan demi kemuliaan diri kita sendiri maka kemuliaan itu tidak ada artinya. Kadang dalam hidup harian kita, kita mengalami bahwa ketika banyak kesulitan atau problem kita kadang lupa bahwa Yesus ada disamping kita. kita terlalu sibuk dengan urusan kita masing-masing dan lupa bahwa Yesus selalu ada bersama kita. Ketika kita sudah terlalu jauh tersesat, kita butuh untuk mengingat kembali dan melihat Tuhan serta kekuataNya.
Dalam bacaan pertama (kejadian), kita belajar bahwa Abraham diberikan banyak hal oleh Tuhan termasuk PERJANJIAN. Abraham semakin berkembang dan menjadi bapak dari segala bangsa. Perjanjian itu telah berabad-abad bersama Abraham serta keturunanNya, termasuk kita; Perjajian itu menjadi bagian dari tanggungjawab kita untuk tetap dipelihara.
Setiap kali kita mengalami hari-hari yang sulit, tantangan yang mengganggu hidup kita, luangkanlah waktu sejenak untuk menyadari bahwa semuanya telah dilakukan Tuhan untuk kita. Ingatlah semua kebaikan yang telah Dia lakukan dan ingat bahwa Dia telah mempunyai rencana yang baik untuk kita masing-masing; mungkin kita belum mengetahui sebelumnya.
Dalam masa prapaskah ini, mari kita menyadiri Perjajian yang telah ditetap Tuhan bersama Abraham dan kemudian dilajutkan kepada kita. Semoga perjajian ini membantu kita untuk tetap yakin bahwa dalam situasi apapun Tuhan tetap ada bersama kita. amin
