Browsed by
Month: July 2014

Bertobat terus-menerus

Bertobat terus-menerus

 

Ketika membaca bacaan-bacaan untuk hari ini dari Yes 7:1-9 dan Mt 11:20-24 bayangan saya langsung tertuju pada apa yang sedang terjadi di Gaza. Sudah hampir seminggu orang-orang Palestina diperangi habis-habisan oleh tentara Israel. Sudah 186 orang yang mati akibat serangan militer Israel ke Gaza. Sementara 1390 yang lain menderita luka-luka. Jumlah ini adalah yang terbesar sejak konflik 2012. Betapa kejinya perang! Anak-anak kehilangan orang tua. Orang tua kehilangan anak-anak. Tempat-tempat pemukiman dihancurkan. Tiada tempat untuk berteduh. Entah sampai kapan konflik ini akan berakhir agar Palestina dan Israel bisa hidup berdampingan dan merasakan apa yang diselalu dirindukan setiap orang: Damai …

Injil menyebut tiga kota bertetangga di Galilea: Korazim, Betsaida dan Kapernaum dan atasnya dikenakan kata-kata yang paling keras: Woe to you …! Kalau kita gugel woe sinomim dengan great sorrow, distress, misery, wretchedness, sadness, unhappy. Kota-kota ini dikutuk karena orang-orang yang tinggal di sana tidak mau bertobat sehingga membawa kebinasaan atasnya.

Pertobatan adalah ekspresi diri dan perasaan yang didorong oleh keinginan hati yang kuat untuk bertobat dari perbuatan salah/dosa. Pertobatan ini adalah kategori iman sejauh iman itu adalah anugerah cuma-cuma yang diterima dari Allah. Dosa itu selalu membawa beban batin. Membuat hidup tidak nyaman. Malu. Sedih. Tidak bahagia. Karena itu harus ada proses pertobatan. Ritual pertobatan ini harus dilalui dengan penyesalan mendalam atas kesalahan. Karena objek dari setiap kesalahan itu riil, maka harus dicerna dan kesalahan itu diterima sebagai bagian dari diri yang menjadi sebab putusnya hubungan dengan sesama dan dengan Tuhan. Ketika sebuah kesalahan dan dosa itu disadari dan diakui, maka proses penyembuhan diri itu menjadi terbuka. Beban-beban batin menjadi terlepas. Sedih berubah menjadi rasa bahagia. Hidup baru bisa dimulai. Harapan untuk transformasi diri ke arah yang lebih baik menjadi mungkin. Sikap rendah hati untuk selalu memeriksa diri di hadapan Tuhan adalah sebuah disiplin yang perlu dalam keseharian. Dalam terang ini, kita membiarkan diri diterangi oleh Roh Kudus dalam setiap proses pertobatan. Doa dan penyerahan diri yang total kepada Allah akan membantu kita keluar dari setiap penderitaan yang kita alami. Betapapun besarnya luka yang diderita, betapa gelapnya dosa yang dialami, bahkan kematian sekalipun, Tuhan tetap berada di atas segalanya. Dialah damai itu. Dialah terang. Dialah kebahagiaan, sukacita dan hidup kekal. Hidup tidak lain adalah pertobatan terus-menerus. Marilah kita menjadi pribadi-pribadi yang selalu mau bertobat mulai dari hal-hal kecil dan sederhana. Kasih, pengampunan dan damai itu selalu datang dan menyapa kita. Semoga kegembiraan, sukacita, kelemahlembutan dan damai dalam Tuhan meraja dalam hati kita dan hati semua orang. Amen!

Pesta St. Kateri Tekhawita

Pesta St. Kateri Tekhawita

Dalam kunjungannya ke Vatican bulan Februari lalu, Presiden Brazil Dilma Rousseff mengingatkan Paus Fransiskus untuk bersikap netral selama Piala Dunia berlangsung. Bapa Suci mengenang kembali pesan tersebut saat diwawancarai oleh koran Barcelona, La Vanguardia, menjelang partai final antara Argentina vs German. “The Brazilians asked for neutrality. I’ll keep my word because Brazil and Argentina are always opponents,” kata Paus sambil tertawa.

Sikap netral ini secara sederhana bisa diartikan sebagai berada di tengah-tengah dari dua pihak yang berlawanan satu sama lain. Bukan Argentina, bukan Brazil, bukan German, bukan Algeria, bukan Jepang, bukan Ghana, bukan Korea Selatan, dst. Jadi kelihatan bahwa seorang paus tidak boleh memihak tim sepak bola manapun. Harus netral. Meskipun German yang akhirnya keluar sebagai pemenang, menyingkirkan Argentina dengan skor tipis 1-0, orang lalu berpikir kalau-kalau doa Paus Benediktus lebih kuat dari Fransiskus. Apakah demikian? Masing-masing bolehlah menerawang …

Terlepas dari lobi-lobi dalam sepak bola, Injil hari ini menghadirkan pesan Yesus: Aku datang untuk membawa pemisahan. Bukan damai. Bukan ketenangan. Bukan pula sikap netral. Melainkan pedang! Pedang apa yang Yesus maksudkan? Pedang adalah senjata untuk membunuh. Pedang juga adalah taktik untuk mengelabui lawan. Pedang adalah bahasa untuk membasmi. Kata perceraian dan bukan persekutuan. Kata ini dengan cepat mengingatkan orang akan kematian. Bukan hidup. Kematian adalah lawan dari kasih. Dan akhir dari kisah. Ia adalah ungakapan kebencian dalam bentuknya yang paling radikal. Sekali lagi, apakah pedang seperti ini yang dimaksudkan oleh Injil?

Sesungguhnya tidak! Yesus sebaliknya membekali para murid-Nya untuk memiliki kasih. Bahasa kasih lebih kuat dari perang dan kekerasan. Bahasa-bahasa perdamaian lebih bertahan dari ketakutan dan saling memusuhi. Kasih itu abadi. Hidup itu kekal. Yesus mengantisipasi para murid bahwa penganiayaan akan datang sebagai akibat dari mengikuti Dia. Rasa sakit dan kehilangan diri akan menjadi tanda keberpihakan para murid untuk berjalan dalam kebenaran. Yesus membuka pikiran para murid-Nya bahwa mengikuti Dia berarti memikul salib. Bukan pedang tetapi salib. Bukan untuk memusuhi melainkan damai, keramahan dan kebaikan. Inilah jalan Tuhan: Memikul salib dan mengikuti Yesus. Siap untuk dicela. Siap untuk dimaki. Siap untuk ditolak. Siap untuk kalah. Tapi di balik semua itu Yesus berpesan: Jangan takut! Senjata kebenaran adalah kebenaran itu sendiri. Senjata damai tidak lain adalah damai itu sendiri. Kebaikan selalu lebih besar. Dan kesembuhan selalu lebih dari rasa sakit. Demikian juga kehilangan itu menyakitkan. Namun betapa indah dan membahagiakan ketika diri ini ditemukan kembali. Tuhan berpesan agar jangan takut kehilangan demi Dia, karena akan mendapatkannya kembali. Inilah kegembiraan rohani dan harapan Ilahi yang hanya bisa didapat dalam kesetiaan dan ketaatan sebagai seorang murid Yesus.

Hari ini juga kita merayakan pesta St. Kateri Tekhawita. Sebagai orang asli, native American, yang digelari kudus, kita berdoa agar iman dan kesetiaannya yang teguh akan Yesus terpantul pula dalam diri kita yang sedang berziarah di dalam dunia. Iman dan kesetiaan St. Kateri terungkap dalam sebuah kesaksian terkenal: “seorang wanita yang mengerti dengan baik dan menerima dengan tabah penyerahan diri ke dalam misteri Salib, misteri yang mengungkapkan bahwa iman kita dibangun di atas … paradoks kematian kepada hidup; penderitaan menuju kemuliaan; kekalahan dan kegagalan menuju kemenangan” (Bishop Howard J. Hubbard).

Bohong!

Bohong!

TIADA SESUATU PUN TERTUTUP YANG TAKKAN TERBUKA.
  “Jadi kalian jangan takut kepada mereka yang memusuhi-mu, karena tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi, yang takkan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah dalam terang. Dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah dari atas atap rumah. Dan janganlah kalian takut kepada mereka  yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa. ( Mat 10:25)
Tuhan Yesus menegaskan bahwa kita tidak perlu kuwatir untuk berkata benar, sebab apa yang sifatnya bohong-bohongan atau tipu-tipuan, yang sifatnya akan merugikan orang lain pada suatu ketika akan tersingkap. Sekarang ini baru marak adanya usaha untuk membohongi masyarakat, tetapi kita tak perlu takut. Sebab kebenaran yang berasal dari Tuhan walaupun tersembunyi akan tersiar kemana-mana. Rupanya kebenaran ini yang rupanya paling ditakuti oleh banyak orang. Maka banyak kenyataan yang benar sering ditutup-tutupi. Kejahatan korupsi banyak yang ditutupi, tetapi akhirnya terbongkar juga. Dalam keluarga pun banyak terjadi. Hal yang kurang benar, seperti penyelewengan, penggelapan dan perselingkuhan sering ditutupi, sehingga begitu terbuka lalu mengakibatkan situasi yang keruh.
Dalam Gereja Katolik pun Paus Fransiscus sudah mulai membersihkan apa yang kurang beres dalam tubuh Gereja, termasuk soal keuangan dan ketulusan para imam. Yang dikhawatirkan oleh Pimpinan Gereja yaitu kalau terjadi formalitas yang palsu, berkembang tata-lahirnya saja, sehingga Gereja akan berkembang secara tidak benar. Nampaknya banyak orang yang saleh dan khusuk dalam Gereja, tetapi kadang tidak demikian dalam kenyataannya di dalam keluarga dan di dalam masyarakat. Nampaknya menurut statistik jumlah Umat Katolik banyak sekali, tetapi dalam praktek tidak membawa dinamika dalam kehidupan masyarakat.
Orang tulus, jujur, dan yang mau selalu berpegang pada kebenaran itu mencerminkan sifat Tuhan Allah sendiri, Semakin kita rajin meresapkan firman Tuhan, hidup kita juga akan dibangun  menjadi gambaran Tuhan yang mencer-minkan kesucian dan kebenaran Tuhan. Secara tidak langsung kalau orang hidup demikian itu sebenarnya telah memberikan kesaksian pada masyarakat. Rasanya seperti sia-sia kalau hanya diri kita sendiri yang menjadi suci, tetapi   walau pun hanya satu orang yang memelihara hidup suci, tulus, jujur dan benar, itu  akan kelihatan pula pada suatu saat. Yang benar akan kelihatan.
Ditulis oleh Rm Al Budya Pr
Translate »