Browsed by
Month: March 2015

Mengungkit masa lalu!

Mengungkit masa lalu!

darah

Bacaan: Isaiah 1:18

Marilah, baiklah kita berperkara! firman TUHAN Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Orang Indonesia marah besar kala perdana mentri Australia Tony Abbot mengungkit masa lalu soal memberi bantuan pada tsunami Aceh, tapi presiden Jokowi tak mau memberi grasi pada narapidana Australia terhukum mati. Perasaan marah itu diekpresikan dengan mengumpulkan uang receh untuk diberikan pada Tony.

Sering kita juga merasa amat bersalah ketika masa lalu kita terus diungkit orang. Bahkan kadang rasa bersalah itu seperti memeras hati kita sampai terasa sakit hati dan sulit mengampuni diri sendiri. Sering rasa bersalah menjadi amarah kala orang lain berkata, “kamu sejak dulu juga begitu…..!” Lalu meneruskan litani kesalahan kita yang sudah lalu, dan disambungkan dengan pengalaman kini yang kadang tak ada hubungannya sama sekali.

Seorang teman berkata, “When I am doing a good thing, no one remember, but when I am doing something wrong, everyone never forgets!” Kita lebih suka menyimpan pengalaman-pengalaman luka dan kekecewaan, dari pada mengingat pengalaman kegembiraan dan rahmat. Akibatnya, pengalaman relasi dengan orang lain yang buruk lebih mudah terbuka, dan peristiwa yang baik tenggelam tak teringat.

Di saat orang lain bersalah pada anda, janganlah diingat terus dan disimpan. Yang perlu kita punya saat itu malah belaskasih serta pengampunan. Ingatlah, Tuhan saja hanya ingat sekali semua kesalahan dan dosa kita bahkan, “walau kesalahan itu  merah seperti darah, akan dihapus menjadi putih seperti salju!”

Kalau kita bisa demikian, kita akan menjadi serupa dengan Yesus yang membebaskan orang dari cengkeram kesalahan dan rasa berdosa, menjadi orang merdeka dan penuh terima kasih.

Be Perfect!

Be Perfect!

 

perfect

Lukas 6: 36-38

 Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.  Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”

Setiap kali ada pelajaran persiapan baptis dewasa, pertanyaan pertama dalam setiap awal pertemuan hampir selalu sama, “Mengapa ingin menjadi Katolik?” Lalu orang mulai bercerita kisah hidupnya, “saya tertarik karena pacar saya Katolik!”, “karena sembuh dari sakit!” “setelah saya mempelajari semua agama, saya percaya Katolik yang paling baik untuk saya” dan cerita lainnya…

Bacaan kemarin dan hari ini menginspirasi kita, Yesus memanggil semua muridnya, “Jadilah sempurna seperti BapaMu di surga sempurna adanya!” Orang Kristen tidak hanya dipanggil Allah menjadi orang baik, tapi mereka dipanggil menjadi sempurna dalam hidup!  Semua orang bisa menjadi baik, tapi hanya segelintir yang sempurna.

Berdoa untuk teman dan sahabat itu baik, berdoa untuk musuh itu sempurna! Mengasihi saudara adalah baik, mengasihi orang yang membenci itu tanda sempurna! mengampuni tetangga itu baik, mengampuni yang mengkhianati kita itu barulah sempurna.

Menjadi sempurna adalah ajakan agar setiap orang bertindak seperti apa yang dilakukan Yesus, mencontoh dan mengikuti dia. Maka, hari ini tak cukup anda menjadi baik, Jadilah sempurna!

Translate »