Browsed by
Month: October 2015

Memorial Santu Ignatius dari Antiokia

Memorial Santu Ignatius dari Antiokia

Memorial Santu Ignatius dari Antiokia

Rom 4:13, 16-18; Luk 12:8-12

Santu Ignatius dari Antiokia lahir di Syria (sekarang bagian dari Turkey) antara tahun 35 atau 50 dan mati sebagai martir di Roma dengan cara dibuang ke dalam koloseum dan dimakan oleh binatang-binatang buas.

Ada banyak tulisan dan ajaran terkenal yang ditinggalkannya. Dalam Surat kepada Umat di Smyrna, Ignatius disebut bertanggung jawab atas penggunaan kata Yunani katholikos untuk menggambarkan universalitas Gereja: “Wherever the bishop shall appear, there should the multitude [of the people] also be — even as wherever Jesus Christ is, there is the Universal Church.”

Sumbangan lain yang amat penting dalam Surat Kepada Umat di Efesus di mana ia menyebut Ekaristi sebagai Obat kepada keselamatan kekal: “breaking one bread, which is the medicine of immortality and the antidote that we should not die but live forever in Jesus Christ.”

Dari St. Ignatius, kita belajar tentang keselamatan sebagai rahmat dengan berpegang teguh pada iman akan Kristus. Ia adalah saksi kebenaran iman dan contoh kesetiaan dalam memikul salib Kristus demi keselamatan jiwa-jiwa.***

Menjadi ragi yang baik

Menjadi ragi yang baik

 

Rm 4-18; Luk 12:1-7

Ragi biasa dipakai untuk proses fermentasi bahan makanan. Misalnya, ragi dicampur tepung terigu akan membuat adonan roti menjadi besar dan nikmat rasanya. Ada juga roti yang tanpa ragi.

Yesus memperingatkan para murid agar berhati-hati dengan ragi orang farisi. Dalam Mark 6, ditambahkan Herodes. 1 Kor 5 tertulis “Bukankah ragi yang sedikit merusak seluruh adonan?”

Ragi yang baik melambangkan kecenderungan batin yang baik. Yesus mengecam dengan keras sikap batin para farisi yang jahat. Tiadanya ketulusan dan kejujuran hati – ragi yang tidak baik.

Pemimpin dan pengajar tanpa ketulusan dan kejujuran akan merusak mereka yang dipimpin dan diajar. Ketidakjujuran orang tua atau guru akan menyebar dan merambat juga kepada anak-anak.

Yesus menawarkan sikap rendah hati. Sikap ini menuntun kita kepada iman dan kasih yang benar seperti Yesus sendiri. Sikap rendah hati dan taat membawa-Nya sampai mati di salib, membuka jalan demi keselamatan semua orang. Kita dipanggil untuk mengambil bagian, berpartisipasi dalam pengorbanan diri-Nya, menjadi persembahan yang benar dan berkenan kepada Bapa, Allah Tuhan kita.***

Memorial St. Theresa dari Avila

Memorial St. Theresa dari Avila

 

Rm 3:21-20; Lk 11:47-54

Hari ini Gereja memperingati seorang mistikus besar Spanyol, St. Theresa dari Avila (1515- 1582). Ia terkenal sebagai pewaris praktik meditasi Kristen dan doa batin untuk memperoleh kesempurnaan hidup. Ketekunannya untuk mencari Yesus dalam kontemplasi membawanya kepada pengenalan dan kedekatan rohani secara mendalam dengan-Nya.

Dalam doa dan kesunyian yang mendalam seperti ini, St. Theresa sesungguhnya mengambil bagian secara aktif dalam karya misi Gereja. Melalui kehidupan mistik, Allah menurunkan rahmat keselamatan bukan hanya baginya melainkan juga bagi seluruh Gereja dan dunia.

St. Paulus dalam bacaan pertama, menegaskan kehadiran dan kedekatan Allah bagi siapa saja yang beriman kepada Allah. Rahmat dianugerahkan bukan hanya untuk bangsa terpilih atau orang tertentu saja, melainkan juga bagi bangsa-bangsa lain. Rahmat Allah, bagi St. Paulus, terbuka bagi setiap orang – yang disunat dan tidak disunat – Yahudi dan bukan-Yahudi. Melalui pengorbanan-Nya di salib, lewat darah yang ditumpahkan-Nya, kita berboleh rahmat penebusan sebagai anak-anak Allah.

Mohon Doa untuk Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumatra

Mohon Doa untuk Uskup Agung Semarang Mgr Johannes Pujasumatra

index

Mohon Doa untuk Mgr Johannes Pujasumatra yang dirawat di Rumah Sakit Semarang , dimana pada pukul 9.00 pagi tanggal 15 Oktober telah mendapat Sakramen Minyak Suci.oleh Kardinal.

Doa saudara2 sekalian sangat dibutuhkan untuk Beliau , agar Tuhan mendampinginya selalu dan memberikan yang terbaik untuk nya dan umat semua .

 

Translate »