Dengan Jawaban “YA” Kepada Tuhan, Anda Sudah Memuliakan Tuhan
Hari Sabtu Minggu Pertama Masa Biasa
16 January, 2016
1 Samuel 9:1-4, 17-19; 10:1a
Markus 2:13-17
“Tuhan sudah mempunyai rencana untuk kita masing-masing. Dan kalau kita menjawab panggilanNya dengan mengatakan “YA”, kita sudah memuliakan Tuhan.”
Saudara-saudariku terkasih,
Saya yakin bahwa setiap orang sudah pernah dipilih, ditentukan, diseleksi untuk suatu tugas tertentu dalam hidupnya. Mungkin pernah dipilih untuk masuk ke dalam suatu organisasi, team sebagai missal dari suatu cabang olahraga, dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam paduan suara, ataukah pernah diminta untuk menjadi wali baptis atau pernah diminta untuk menjadi saksi dalam suatu pernikahan dan lain sebagainya. Sangat mungkin karena pengalaman, kedewasaan, keterampilan, bakat, kemampuan serta contoh hidup yang baik sehingga anda diminta, dipilih dan ditentukan untuk tugas atau jabatan tertentu. Ataupun sangat mungkin pilihan itu merupakan suatu kejutan yang tidak pernah anda pikirkan sebelumnya. Namun apapun situasinya bahwa pilihan itu merupakan suatu yang sudah diduga atau diprediksi sebelumnya ataupun merupakan suatu kejutan dimana anda tidak pernah memikirkan sebelumnya, kita tetap bersyukur kepada Tuhan akan segala sesuatu yang telah kita terima dari Tuhan sendiri. Tuhan telah menciptakan dan melengkapi kita dengan segala kemampuan, bakat dan talenta agar kita bisa mempergunakannya secara maksimal untuk bisa berguna bagi sesama, bagi gereja dan Negara.
Bacaan-bacaan hari ini menunjukkan cinta kasih Allah yang tak terbatas dan bagaimana Allah telah memperhatikan semua orang yang Ia ciptakan. Sebagai missal dari bacaan pertama hari ini, kita bisa melihat bagaimana Allah memilih seorang pemimpin untuk memimpin bangsa Israel. Dalam pemilihan itu, sama sekali tidak ada proses pencalonan, atau tidak ada pidato kampanye, tidak diminta resume. Yang kita lihat dari bacaan hari ini ialah Allah melihat kebagian yang paling dalam pada diri seseorang dan memilih mereka bukan berdasarkan kwalitas tetapi berdasarkan kesetiaan mereka. Saul tidak pernah berambisi untuk menjadi raja atas bangsa Israel. Allah mengambil inisiatip, memanggil Saul melalui Samuel. Saul menyetujui tanpa syarat dan Allah mengurapinya melalui Samuel sebagai panglima untuk umatnya Israel…”Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepada Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: ‘Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umatNya Israel?” Pada ayat ini kita sudah bisa melihat betapa Allah telah membuat Saul menjadi seseorang yang benar-benar berbeda dari yang lain…memberi Saul suatu hati yang baru dan mengurapi Saul dengan Roh Allah. Apa yang telah terjadi pada Saul sungguh-sungguh merupakan suatu karunia dari Allah – suatu rahmat yang tidak semua orang bisa memperolehnya agar Saul bisa menjalankan tugas yang Tuhan percayakan kepadanya.
Demikian pula saudara-saudariku terkasih. Sama halnya dengan Yesus yang coba mengikutsertakan para murid dalam proses pemilihan. Sebagaimana kita lihat dalam bacaan Injil hari ini, ketika Yesus sedang berjalan di tepi danau, Yesus melihat Lewi pemungut cukai. Yesus lalu datang kepadanya dan berkata: “Ikutlah Aku!”. Bukankah lebih bijaksana bagi Yesus kalau hal itu diumumkan dahulu, diberitahukan dahulu untuk posisi sebagai rasul, minta resumenya dan membuat semacam interview sebelum memilih Matheus? Rupanya inilah cara yang paling bijaksana dan baik kalau kita mau memilih seseorang untuk tugas dan jabatan tertentu dalam kehidupan ini. Dalam keadaan seperti ini boleh dibilang bahwa Yesus telah memakai cara yang sama seperti yang telah dilakukan Tuhan ketika Saul dipilih dan dipanggil Allah. Demikian pula Yesus memanggil para muridnya dengan maksud tertentu dan yang membuat mereka tidak bisa mengelak. Hal ini boleh dikatakan sama seperti yang kita jumpai dan alami dewasa ini. Bahwa Allah telah menciptakan kita semua dengan segala macam keunikan tetapi dengan segala bakat, kemampuan yang meskipun berbeda-beda, tetapi semua bisa bersama-sama menyumbangkan yang terbaik demi tegaknya kerajaan Allah di dunia ini.
Oleh karena itu, dalam dan melalui sakramen pembaptisan, kita semua telah diberikan suatu kehidupan yang baru dalam Kristus. Kita diklaim sebagai putera dan puteri Allah, dan selanjutnya secara resmi kita semua telah dipanggil untuk tetap setia menjalankan tugas dan panggilan kita masing-masing dengan penuh dedikasi dan tanggungjawab. Pada akhirnya saudara-saudariku terkasih, kitapun diminta untuk bisa menjawab panggilan Tuhan dengan mengatakan: “YA”, seperti Matheus; ketika Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia. Amin.
Berkorban Melakukan Sesuatu Yang Tidak Biasa, Dengan Tujuan Yang Bermanfaat Untuk Orang Lain, Karena Kasih
Hari Jumat Minggu Pertama Masa Biasa
15 January, 2016
1 Samuel 8:4-7, 10-22a
Markus 2:1-12
Saudara-saudariku terkasih,
Kalau setiap hari kita melakukan sesuatu yang routine untuk memenuhi tugas dan tanggungjawab kita atas kehidupan yang Tuhan berikan, sudah sangat tepat karena itu adalah komitmen dan sekaligus telah menjadi ungkapan pertumbuhan relasi kita dengan Tuhan. Segala sesuatu yang routine seperti waktunya untuk tidur, waktu untuk berdoa atau kapan kita meninggalkan rumah ke tempat kerja dan lain sebagainya. Tetapi bukan tidak mungkin hal-hal yang routine itu sempat kacau kalau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan lalu lintas yang membuat perjalanan kita ke tempat kerja itu tidak lancar (macet total), atau mobil kita mogok, bahkan ada halangan lain; ada anggota keluarga yang sakit dan sudah harus segera dihantar ke dokter dan lain sebagainya. Tantangan-tantangan seperti ini benar-benar terjadi di luar rencana, di luar schedule routine dan di luar kemampuan kita untuk menghindarinya atau bersikap masa bodoh. Bukan mustahil bahwa dalam keadaan yang sudah tidak berdaya, kita lari kepada Tuhan minta tolong, minta terang Roh Kudus untuk bisa dengan sabar, tenang serta bijaksana mengatasi tantangan-tantangan itu.
Keempat sahabat bahkan juga mungkin anggota keluarga dari orang yang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini, diluar dugaan telah melakukan sesuatu yang tidak biasa…menghantar orang yang lumpuh itu kepada Yesus. Keputusan yang mereka ambil itu hanya berdasarkan pada kepercayaan yang penuh kepada Allah. Sebelum kita melakukan permenungan yang lebih jauh dan mendalam, kita perlu memberi perhatian yang khusus kepada keempat sahabat itu. Seperti yang sudah saya katakan, bahwa sangat mungkin mereka itu adalah sahabat dekat/akrab dari si lumpuh itu dan bahkan sangat mungkin bahwa mereka itu adalah anggota keluarganya. Rupanya mereka sudah pernah melakukan pelbagai macam cara untuk membantu proses kesembuhan dari si lumpuh itu.
Saudara-saudari terkasih,
Ketika mereka mendengar bahwa Yesus – yang sudah menyembuhkan begitu banyak orang, baik di kampungnya sendiri maupun di kampung orang lain, mereka sepakat untuk meninggalkan segala kesibukannya, acara pekerjaannya setiap hari lalu focus untuk menghantar si lumpuh itu kepada Yesus. Mereka berani melakukan hal itu karena mereka “percaya”. Karena kepercayaan mereka yang begitu luar biasa, sampai tidak peduli lagi cara dan jalan apa saja yang mereka tempuh; bahkan sampai harus membongkar atap rumah orang lain dimana Yesus tinggal. Yang penting bahwa si lumpuh itu dapat bertemu dengan Yesus. Mereka terpaksa melakukan hal itu karena terlalu banyak orang baik di luar maupun di dalam rumah dimana Yesus berada. Hambatan itu tidak membuat mereka putus asa, atau menyerah kepada keadaan. Dikatakan bahwa: “Ketika Yesus melihat iman mereka (keempat orang itu), berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu: ‘Hai anakKu, dosamu sudah diampuni!'” Selanjutnya untuk membuktikan bahwa Yesus punya kuasa untuk mengampuni dosa, Yesus berkata kepada si lumpuh itu: “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” “Dan orang lumpuh itu bangun, segera mengangkat tempat tidurnya dan pergi ke luar di hadapan orang-orang itu…”
Lalu apa relevansinya untuk kita? Pertama-tama kita perlu kembali melihat acara harian kita yang menunjukkan rasa tanggungjawab kita, komitmen kita kepada kehidupan yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Selain itu kita juga perlu mawas diri, dan bertanya: sudah sejauh mana kepercayaan kita kepada Yesus seperti kepercayaan keempat sahabat si lumpuh dalam bacaan injil hari ini? Apakah kita juga cukup fleksibel mengorbankan waktu routine kita untuk bisa memenuhi kebutuhan orang lain yang sungguh-sungguh membutuhkan perhatian dan uluran tangan kita? Dan kalau kita sudah bisa atau sudah pernah melakukan hal yang sama seperti yang sudah dilakukan oleh keempat orang sahabat si lumpuh dalam bacaan injil hari ini, “apakah pengorbanan yang kita persembahkan untuk membantu orang lain itu, sudah berdasarkan pada cintakasih yang murni/tulus ataukah ada perhitungan lain? Selamat bermeditasi. Tuhan memberkati. Amin.
Pengampunan adalah Bukti Kasih Setia dan Belaskasihan Allah Kepada Kita
Hari Kamis Minggu Pertama Masa Biasa
14 January, 2016
1 Samuel 4:1-11
Markus 1:40-45
“Pengampunan adalah bukti kasih setia dan belaskasihan Allah kepada kita umatNya”
“Yesus menyembuhkan seorang yang sakit kusta” dari bacaan Injil kita hari ini mengingatkan kembali bagaimana perasaan saya ketika pertama kali bersama dengan sejumlah siswa Seminary Menengah, San Dominggo Hokeng, Flores Timur, Indonesia mengunjungi pasien kusta di rumah sakit kusta Lewoleba, Lembata. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana “mama putih” dan “mama hitam” demikian julukan yang diberikan kepada dua perawat asal German dan Lembata asli; mama putih mengingatkan saya sebagai pemimpin group Seminarians ini untuk bersalaman dengan para penderita kusta ketika kami memasuki kampus rumah sakit itu. Ketika itu saya sedang menjalani internship saya setelah menyelesaikan BA dalam bidang Filsafat dan ditugaskan untuk mengajar di Seminary menengah San Dominggo Hokeng, Flores Timur selama dua tahun. Anda sudah bisa membayangkan juga bagaimana saya begitu takut sampai keringat dingin, teapi saya harus memberanikan diri bersalaman dengan para penderita kusta. Setelah beberapa menit setelah itu saya akhirnya memberanikan diri bersalaman dengan mereka dan sekaligus memberi contoh kepada para siswa seminary yang saya pimpin untuk bisa melakukan hal yang sama. Seharian kami berada di tengah-tengah mereka, dengan pelbagai macam kegiatan seperti bible study/sharing kitab suci, sambil menciptakan keakraban dengan mereka, mendengarkan cerita mereka, tidak lupa juga kami bisa berolahraga bersama mereka, bermain volley ball. Akhirnya pada malam hari setelah makan malam para siswa mementaskan sebuah drama untuk menghibur para penderita kusta dan staff di rumah sakit itu. Suatu pengalaman yang tidak pernah akan saya lupakan…luar biasa, menyenangkan dan para siswa seminary semuanapun merasa bahagia dan bangga bisa berbuat sesuatu untuk mereka yang seringkali dikucilkan atau diisolasikan dari kehidupan sosial.
Ketika Yesus masih berjalan keliling Galilea mengajar, menyembuhkan orang sakit dari pelbagai macam penyakit; pasien kusta mengidap penyakit yang menakutkan dan masih sangat sulit untuk dipantau… dan ditanggulangi. Orang yang sakit kusta dalam bacaan injil hari ini telah dikucilkan dari kehidupan bersama orang lain, hidup diluar komunitas, tetapi Yesus melakukan suatu gebrakan dengan mendengarkan permohonan si kusta itu. Sambil berlutut di hadapan Yesus si kusta itu mengatakan: “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Dan yang menarik bahwa Yesus tidak melakukan proses penyembuhan jarak jauh. Yesus tidak bertindak selaku agen nya Tuhan, tetapi Ia adalah Tuhan sendiri. Yesus adalah yang kudus dari Allah dan yang telah datang ke dalam dunia ini untuk membersihkan yang tidak bersih, dengan kata lain untuk menguduskan yang tidak kudus….menyucikan yang tidak suci. Bukan tidak mungkin bahwa kita juga menjadi orang kusta bukan physically tetapi spiritually. Oleh karena itu sudah sangat pasti kita boleh bercermin kepada si kusta dalam bacaan injil hari ini yang mau datang kepada Yesus, berlutut dihadapanNya dan minta disucikan. Sikap ini hanya bisa terjadi kalau kita berani untuk mengalahkan kesombongan rohani kita sendiri, yang merasa lebih baik, lebih suci dari orang lain.
Oleh karena itu pada kesempatan ini boleh kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah saya bersedia memohon Yesus untuk menjamah hidup saya? seperti Ia telah menjamah si kusta itu? Kesalahan dan dosa macam apakah yang pernah saya lakukan, atau yang orang lain lakukan terhadap saya dan sukar saya ampuni? Kalau Yesus bisa menguduskan, menyucikan dan membersihkan si kusta dari penyakitnya, physically and spiritually, maka kitapun terutama tahun ini adalah “the year of mercy” juga mampu mengampuni orang lain seperti kita juga sering mendapat pengampunan dari Tuhan. Paus Fransiskus dalam sikap dan tindakannya telah memberikan kita contoh untuk menjamah dan merangkul siapa saja yang ia jumpai, yang sakit dengan penyakit seperti apapun.
Saudara-saudariku terkasih,
Hanya Dia yang adalah kudus telah memberikan dirinya untuk keselamatan kita,..agar kitapun menjadi kudus dihadapanNya. Kita perlu menerima sakramen pengampunan. “Terimalah Roh Kudus”, itulah kata-kata yang diberikan kepada para rasulNya pada malam setelah Ia bangkit dari mati…”Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yohanes 20:23).Oleh karena itu kita juga perlu bermurah hati kepada sesama, mengampuni sesama seperti Tuhan telah bermurah hati dan rela mengampuni semua kesalahan dan dosa-dosa kita. “Be generous in sharing forgiveness. It is God’s gift of love for us – not just for our own sakes but for the life of the world.” Amen.
“Katakanlah, Tuhan, hambamu mendengarkan”
Hari Rabu Minggu Pertama Masa Biasa
13 Januari 2016
1 Samuel 3:1-10, 19-20
Markus 1:29-39
“Berbicaralah ya Tuhan, hambaMu mendengarkan.” ( 1 Samuel 3:10)
Saudara-saudariku terkasih,
Dalam masa biasa selama tahun liturgy seringkali kita menemukan ketidak cocokan antara bacaan pertama dan Injil. Tetapi hari ini boleh dibilang ada pengecualian. Karena hari ini baik Samuel maupun Yesus “mendengarkan” ketika Tuhan (Bapa di Surga) mau berbicara kepada mereka.
Dalam bacaan pertama hari ini ada sesuatu yang cukup menarik untuk diangkat, bahwa “Pada masa itu firman TUHAN jarang; penglihatan-penglihatanpun tidak sering.” ( 1 Samuel 3:1) Ketika Tuhan memanggil Samuel, kedengaran seolah-olah bapanya Eli yang memanggilnya ketika dia sedang tidur. Lalu dalam bacaan Injil hari inipun, dikatakan bahwa setelah Yesus mengajar, menyembuhkan banyak orang sakit dan mengusir banyak setan di Kaparnaum, Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa disana; Yesus menyempatkan diri untuk berbicara dengan BapaNya di surga. Berangkat dari pengalaman Samuel dan Yesus, sudah seharusnya kita yang telah mengikuti Yesus dianjurkan untuk selalu bisa memberi waktu dari kesibukan sehari-hari untuk berbicara dengan Tuhan dan mendengarkan Tuhan. Oleh karena itu Katekismus Gereja Katolik menganjurkan tentang pelbagai macam cara dan tempat berdoa.(2558-2758)
Saudara-saudari terkasih,
Ajaran Gereja tentang doa merupakan suatu ajaran yang sangat penting bagi kita dewasa ini yang dibilang begitu sibuk dengan pelbagai macam pekerjaan. Karena seringkali kita dengar keluhan bahwa sangat sulit mendapat waktu yang tenang untuk diam sejenak bersama Tuhan. Oleh karena itu St. Augustinus menyarankan agar kita berusaha sedapat mungkin mempersiapkan waktu sejenak bersama Tuhan dalam keheningan. Sementara orang lain mau menyediakan tempat khusus baik di dalam rumahnya, maupun di tempat kerjanya dimana ia dapat dengan tenang, diam sejenak bisa berbicara kepada Tuhan, atau untuk merasakan kehadiran Tuhan ataupun mendengarkan suara Tuhan dalam dan melalui bacaan Kitab SuciNya. Sungguh suatu yang luar biasa, kalau kita bisa menyediakan tempat khusus di rumah, atau di tempat yang special di halaman rumahnya dimana keluarga bisa berkumpul berdoa dan atau bermeditasi, mengalami kesendirian bersama Tuhan.
Suatu kesempatan yang luar biasa kalau kita bisa membuat satu commitment menghadiri perayaan Ekaristi Kudus setiap hari, menerima tubuh dan darah Yesus atau menyempatkan diri sejenak dihadapan Sakramen Mahakudus.
Selain itu melihat pengalaman Samuel yang mendengar suara Tuhan ketika ia sedang tidur, mengingatkan saya akan pengalaman hidup doanya uskup agung Fulton Sheen. Beliau setiap hari menyiapkan waktu untuk selalu berdiam sejenak dihadapan Sakramen Mahakudus. Uskup agung Fulton Sheen pernah mengatakan bahwa seringkali ia tertidur dihadapan Sakramen Mahakudus, beliau mengatakan bahwa itu “tidak apa-apa”, karena Tuhan memberikan dia waktu juga dihadapanNya untuk memperoleh kembali kesegaran. Bukan tidak mungkin anda juga punya pengalaman yang sama…kadang-kadang tertidur ketika sedang mendoakan Rosary.
Oleh karena itu saudara-saudariku terkasih, selain bagaimana kita berdoa, kita pun perlu melihat sarana-sarana apa saja yang bisa membantu kita untuk berdoa dengan lebih baik dan efektip. Tentu saja Kitab Suci merupakan sarana yang sangat berarti dan sangat kuat pengaruhnya untuk kita berdoa dengan lebih baik…juga bacaan-bacaan rohani lainnya yang boleh kita gunakan kalau kita mau bermeditasi. Kita juga punya Rosary, Divine Mercy Chaplet. Ada begitu banyak sumber yang dapat kita pergunakan untuk berdoa dengan lebih baik dan mantap. Gunakanlah waktu bersama Tuhan dan dengan Tuhan, berbicara kepadaNya dan mendengarkanNya. Hari ini bersama Samuel dan Yesus kita mau mengatakan “berbicaralah ya Tuhan, hambaMu mendengarkan.” Semoga kata-kata ini akan selalu memberi kita motivasi, agar kita bisa dan selalu memelihara relasi kita dengan Tuhan setiap hari. Amin.