Browsed by
Month: March 2016

The Seven Last Words of Christ. Sabda ketujuh

The Seven Last Words of Christ. Sabda ketujuh

Selesailah sudah (Yoh 19:30)

Tuntas sudah perutusanMu,
mengasihi tanpa tepi, tanpa henti,
hingga dengan sisa daya tenaga,
Kau tutup mata,
dan hembuskan nafas terakhirMu…

Sempurnalah sudah,
Engkau sudahi satu kisah terbesar sepanjang putaran masa,
dan tinggalkan benih,
yang setelah kebangkitanMu,
akan memercikkan kisah-kisah kasih baru,
dalam diri ratusan juta orang pengikutmu,
dari segala tempat dan waktu.

Consummatum est!

Yes 50:4-9a dan Mat 26:14-25

Yes 50:4-9a dan Mat 26:14-25

Hari Rabu pada Pekan Suci ini juga pernah dikenal sebagai “Rabu Tenang”. Sebutan ini muncul dari kenyataan bahwa Injil tidak menceriterakan kepada kita apa yang dilakukan Yesus pada hari Rabu di dalam Pekan Suci ini. Yesus “menenangkan diri” pada hari itu. Beberapa orang berspekulasi bahwa sesudah perjalananNya ke Yerusalem dan menjalani dua hari yang menegangkan dan melelahkan dalam perdebatan dengan para pemimpin Yahudi, Yesus memilih untuk istirahat dengan murid-muridNya di Bethany. Mereka melakukan rekoleksi sehari, penenangan diri dalam doa yang intensif dan efisien sebelum memasuki dan menghadapi hari-hari yang berat.

Kita akan mudah menjadikan hari penuh dengan kegiatan; kita merasa takut untuk tidak memiliki aktivitas. Tidak jarang orang menjadi tertekan apa bila harus tinggal diam dalam doa satu jam saja. Kalau toh bisa datang ikut Perayaan Ekaristi sering kita menggerutu: “Misanya terlalu lama”. Kita harus mencapai target; ini belum selesai, itu belum tersentuh. Bila kita melihat kalendar kita, ternyata sudah sangat penuh dan masih ada kegiatan yang tidak mendapatkan tempat. Kita masuk dalam dunia komoditi; kerja; kesibukan yang tidak semuanya buruk.

Akan tetapi, menyisihkan waktu untuk penenangan diri adalah esensial karena penenangan diri bersifat restoratif. Istirahat adalah suci ketika di dalamnya kita membuka hati menyambut Tuhan Yesus yang berkenan istirahat dalam “rumah” kita. Memiliki waktu tenang bersama Tuhan Yesus sangat diperlukan terutama ketika kita akan mengambil suatu keputusan yang sangat penting dalam hidup kita. Apalagi apabila masa depan yang akan kita jalani adalah tidak menentu atau tidak menjanjikan datangnya keberhasilan melainkan penderitaan.

Selama masa Prapaskah ini kita telah menjalaninya bersama Tuhan Yesus yang berjalan menuju ke bukit Kalvari. Kita hampir mencapai puncaknya. Besok kita akan mengenangkan kembali kisah penangkapan Yesus di taman Getsemani. Pada hari Jumat kita akan menyaksikan kisah penyalibanNya. Dan pada hari Minggu kita akan melihat kebangkitanNya yang mulia melalui perarakan Lilin Paskah. Namun hari ini, “Rabu Tenang” kita lalui sebelum hari-hari dalam badai.

Barangkali schedule kita tidaklah tenang hari ini, namun kita masih bisa menyisihkan diri dan menyiapkan diri kita untuk menerima Tubuh Kristus pada Perayaan Tri Hari Suci yang sangat berarti bagi kita orang Katolik.

The Seven Last Words of Christ. Sabda keenam

The Seven Last Words of Christ. Sabda keenam

Ya Bapa, ke dalam tanganMu Ku serahkan nyawaKu (Lukas 23:46)

Pada akhirnya,
persembahan yang terindah dan tersulit adalah diri,
seutuhnya dan sepenuhnya.
Nyawa, semangat, roh,
yang menggerakkan segala dinamika ragawi yang di permukaan.

Pada akhirnya,
hanya yang sungguh bernilai yang kita bawa meninggalkan mayapada,
pasrah dan berserah,
bukan sekedar karena lelah dan tak punya pilihan lain.

Pada akhirnya,
kita masih bisa memilih menggengam lentera harapan dengan iman dan cinta,
memasuki misteri perjalanan di balik tabir kematian,
menapaki dimensi baru kehidupan
yang mengatasi segala pemahaman serba terbatas kita.

Pilihan mulia dalam kesetiaan tanpa kompromi hingga akhir
dibentangkan di hadapan kita,
oleh Sang Kasih,
Siapkah kita mengikutiNya?
Apakah kata terakhir yang akan terucap dari bibir kita bila saatnya tiba?

Yes 42:1-7 dan Yoh 12:1-11

Yes 42:1-7 dan Yoh 12:1-11

Bacaan Misa: Yes 42:1-7 dan Yoh 12:1-11
Petikan Injil yang dibacakan hari ini mengajak kita untuk semakin memahami siapa Yesus itu. Pada hari-hari terakhir hidupNya, Ia tetap konsisten dalam pengajaran agar supaya para pengikutnya tidak kehilangan iman akan Yesus Kristus yang akan mengalami penderitaan yang berakhir penyaliban. Melalui pengajaranNya ini para pengikutnya harus bersedia belajar dariNya. Ia memperbolehkan Marta melayaniNya, Ia mengiyakan kebaikan budi dari Maria, Ia menentang Yudas yang hatinya mendua dan Ia menantang para pengikutNya untuk memusatkan diri kepada apa yang sangat penting untuk masa depan iman kepadaNya.

Marilah kita melihat tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam Injil tadi. Kita melihat sosok pekerja Marta; juga pribadi Lazarus yang telah mengalami dihidupkan kembali oleh Yesus; seorang Yudas Iskariot yang kritis dan mementingkan diri sendiri; dan sosok Maria yang cintanya kepada Yesus mengharumi seluruh rumahnya.

Tokoh mana yang Anda dengan mudah bisa tersentuh? Mengapa Anda tersentuh oleh sosok pribadi itu? Jika sosok itu adalah Maria, apa yang ada dalam hati Anda? Apa yang  memotivasi Anda untuk mencintai Yesus lebih dari segalanya termasuk uang, harta, waktu dan diri Anda sendiri? Perasaan apa yang muncul dalam hati Anda ketika menyadari bahwa Yesus tidak hanya menerima persembahan Anda tetapi juga mengatakan bahwa Anda menjadi teladan bagi yang lain?

Jika Anda mengidentifikasikan diri dengan salah satu tokoh yang lain, bagaimana reaksi Anda pada tindakan cinta dan devosi yang Maria lakukan kepada Yesus? Barangkali Anda melihat diri Anda seperti Yudas. Anda bisa membayangkan ratusan cara lain yang lebih baik dalam mempergunakan uang daripada membeli minyak wangi sebotol? Barangkali Anda melihat tindakan Maria itu bisa menjadi skandal yang memalukan dan mengejutkan bagi orang miskin. Barangkali Anda merasa ditantang oleh pribadi Yesus; apakah Anda tidak akan meninggalkan iman akan Yesus apa pun yang terjadi dalam hidup Anda? Injil hari ini menantang dan mengundang Anda untuk mengevaluasi diri seberapa dalam cinta dan devosi kita pada Tuhan.

The Seven Last Words of Christ. Sabda Kelima

The Seven Last Words of Christ. Sabda Kelima

Aku haus (Yohanes 19:28)

Sang Air Hidup,
yang menjanjikan mata air yang memancar hingga kekal,
Engkau nyatakan kehausanmu akan kasih perhatian kami,
sementara yang Kau dapatkan hujatan dan cemoohan:
Jika Engkau Raja,
turun dari salibMu,
dan tolong diriMu sendiri!!!

Kutatap mataMu lekat,
pilu hati yang ingin bergegas menghunjukkan apa saja yang Kau minta,
namun begitu banyaknya jerak tali temali menahanku lari mendekat padaMu…
Mungkin aku tak menghinaMu,
namun aku juga tak mampu menanggapi permintaan sederhanaMu.
SuaraMu terus mencekam di hatiku,
dalam setiap sosok yang butuh kasih dan perhatianku:
Aku haus…

Translate »