Browsed by
Month: August 2017

Yesus selalu mempunya cara untuk bertemu dengan kita

Yesus selalu mempunya cara untuk bertemu dengan kita

 

Sabtu, 19 Agustus, 2017

Yos 24:14-29; Mat 19:13-15

 

Yesus selalu mempunya cara untuk bertemu dengan kita

Dalam bacaan injil hari ini kita mendengar bahwa orang-orang membawa anak-anak mereka datang kepada Yesus, supaya Ia meletakan tanganNya atas mereka dan mendoakan mereka. Setiap orang tua secara natural menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Apalagi mereka  menyadari bahwa Yesus adalah seorang yang dalam pekerjaanya membawa orang kepada kebahagian hidup sejati.

Di zaman kita, setiap pengikut Yesus yang percaya dan hidup sesuai pesannya, mempumpunya kerinduan yang sama untuk membawa anak-anaknya kepada Yesus. Mereka menyadari bahwa Yesus adalah hadiah terbesar Alah bagi kita  dan mereka menginginkan hadiah itu pun diterima oleh anak-anaknya.

Sering kali orang tua menemukan kesulitan untuk membawa anak-anaknya untuk bertemu dengan Yesus. Banyak tantangan  dan kesulitan yang sering kali dihadapinya baik itu orang tuanya sendiri ataupun karena sangat sayang anaknya sehingga lebih mengikuti apa yang dimaui anaknya daripada membawa anaknya untuk mengenal Yesus.  Bacaan injil hari ini, menunjukan salah satu  tantangan yang dihadapi orang tua pada saman Yesus, yakni murid-murid Yesus yang melarang mereka untuk bertemu dengan Yesus.

Sangat menarik bahwa dalam situasi penolakan oleh para murid, Yesus tidak tinggal diam. Yesus sebaliknya sangat antusias untuk  bertemu dengan anak-anak yang hendak datang kepada Dia.

Anak-anak sering kali mewakili orang-orang yang tidak berdaya, orang – orang yang perlu dibantu. Bacaan injil meyakini kita bahwa dalam pergumulan hidup kita, baik itu berkaitan dengan keluarga termasuk anak-anak kita, atau bahkan problem kita sendiri yang membuat kita tak berdaya – problem yang sungguh menghalangi kita datang kepada Yesus, Yesus tetap ada dan mau membantu kita. Dia tidak membiarkan kita untuk dihalangi oleh apapun untuk datang kepada Dia. Dia mau bekerja sama dengan kita agar kita memiliki hidup sejati seperti yang Dia kehendaki.  Keinginan yang kuat untuk bertemu dengan kita dalam keaadan tak berdaya, memampukan kita untuk mengatasi segala rintangan yang selalu menghalangi kita. Hanya satu kunci utama yang perlu kita miliki: Percaya kepada Dia, bahwa dia selalu mempunyai cara untuk membawa kita kepadaNya walau selalu ada tantangan dan rintangan.

Kita tidak berjalan sendiri

Kita tidak berjalan sendiri

 

Jumat, 18 Agustus 2017

Jos 24:1-13; Mat 19:3-12

 

Kita tidak berjalan sendiri

Hidup keluaraga zaman ini dipenuhi dengan begitu banyak tantangan. Tantangan baik dari luar maupun dalam keluarga sendiri menyebabkan banyak perceraian terjadi. Sangat disayangkan begitu banyak keluarga harus mengalami situasi tersebut. Melihat kenyataan tersebut mungkin banyak orang mulai berpikir, kalau hidup keluarga tidak bahagia lebih baik cerai saja. Ini adalah pikiran-pikiran kerdil yang menghantui pikiran banyak orang.

Hari ini orang Farisi dapat mewakili siapa saja yang berpikir tentang perceraian dalam hidup perkawinan. Jawaban yesus hari ini mudah-mudahan bisa meneguhkan kita semua. Yesus dengan tegas menunjukan bahwa dari awal mula Tuhan telah menciptakan pria dan wanita. Pria meninggalkan orang tuanya dan tinggal bersama isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging. Demikianlah mereka itu bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Yesus sangat jelas menolak adanya perceraian apalagi dengan alasan apa saja untuk menceraikan istinya. Yesus meyakini bahwa pria dan wanita mampu untuk saling mencintai sampai mati.

Ajaran Yesus ini sampai hari ini diteruskan oleh gereja katolik. Gereja sungguh merumuskan ajaran ini dengan sangat jelas untuk membantu setiap keluarga. Perkawinan tidak hanya dilihat sebagai sebuah perjanjian semata, akan tetapi perkawinan diangkat ke tingkat sakreman, dimana setiap pasangan harus menjadi tanda akan kehadiran Tuhan dalam hidup perkawinan mereka. Perkawinan Katolik dipahami sebagai sebuah perjanjian antara seorang laki-laki dan seorang perempuan membentuk antara mereka persekutuan seluruh hidup, yang menurut ciri kodratinya terarah pada kesejahteraan suami-istri dan kelahiran serta pendidikan anak, antara orang-orang yang dibaptis, yang diangkat oleh Tuhan ke dalam martabat sakramen.

Semoga bacaan hari ini mengingatkan kita kembali akan nilai-nilai hidup berkeluarga dan mudah-mudahan tetap menjadi pedoman dalam membangun keluarga kristiani ditengah berbagai macam tantangan.

Yesus hari ini juga mengajak kita semua, baik hidup berkeluarga atau pun yang hidup sendirian, mari kita berikan yang terbaik yang telah dipercayakan kepada kita oleh Tuhan. Panggilan Tuhan kepada setiap kita  kadang dilihat sebagai sesuatu beban, akan tetapi Dia meyakini kita bahwa untuk itulah kita diciptakan dan dipercayai, kita tidak berjalan sendiri, oleh karena itu mari kita jalani dengan gembira dan penuh suka cita.

Menjadi Katolk 100% – Menjadi warga NKRI 100%

Menjadi Katolk 100% – Menjadi warga NKRI 100%

Kamis  17 Agustus 2017

HR Kemerdekaan Republik Indonesia

Bacaan  Sir 10:1-8; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21

 

Menjadi Katolk 100% – Menjadi warga NKRI 100%

Merdeka! Merdeka!! Merdeka!!!

Hari ini kita sebagai keluarga besar bangsa Indonesia merayakan hari jadi Negara kita yang ke 72. Kita bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan yang Maha Esa atas segala berkatnya yang telah dilimpahkan kepada kita selama 72 tahun ini. Kalau kita hening sejenak merefleksikan perjalanan bangsa kita, kita semua pasti sepakat bahwa selama 72 tahun ini sudah begitu banyak hal yang telah kita lakukan, akan tetapi masih begitu banyak impian yang masih terus kita raih. Perjuangan kita untuk menjadi sebuah bangsa yang makmur dan sejathtera masih terus kita  usahakan. Sebagaima para pendiri bangsa kita berjuang dengan mengorbankan nyawanya demi kemerdekaan bangsa kita, kita yang telah merdeka sebagai bangsa berjuang untuk memerdekakan anak-anak bangsa dari belenggu kebodohan, kemiskinan, penindasan hak-hak sebagai anak bangsa dan sebagainya.

Pendiri Bangsa sejak awal telah menyadari bahwa Negara yang baru di bangun ini terdiri dari keanekaragaman budaya, suku, bahasa, golongan, agama dan kepercayaan. Oleh karena kebihnekaan tersebut maka Pendiri bangsa ini menyepakati  adanya satu dasar sebagai landasan untuk mengatur bangsa ini. Dengan demikian lahirlah dasar Negara kita: PANCASILA dan UUD 1945 yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Kemampuan untuk merumuskan dasar Negara kita  – demi mempersatukan keanekaragaman menunjukkan kepada kita bahwa mereka sungguh dianugerahi kebijaksanaan sejati. Kendati masih saja ada rong-rongan untuk membubarkan bangsa ini, dasar Negara kita tetap kokoh sampai dengan hari ini.

Kebijaksanaan pendiri bangsa kita sungguh seperti apa yang dikatakan Kitab Putra Sirakh hari ini: “Pemerintah yang bijak menjamin ketertiban dalam masyarakat, pemerintah yang arif adalah yang teratur…Raja yang tidak terdidik membinasakan rakyatnya, tetapi sebuah kota sejahtera berkat kearifan para pembesarnya.

Kita terus berdoa semoga para pemimpin saat ini dianugerahi kebijaksanaan dalam memimpin bangsa kita agar kita dapat mewujutkan cita-cita bangsa kita, menjadi Negara yang adil, makmur dan sejahtera. Semoga kita sebagai warga Negara pun pada akhirnya memiliki kemerdekaan sejati, hidup yang tak terikat dan terbelenggu oleh kepentingan kelompok atau golongan atau penguasa, sebagaimana dikatakan oleh Santu Paulus, “Hiduplah sebagai orang merdeka, bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka.”

Semoga dalam merayakan kemerdekaan Negara kita ini, kita sebagai orang Katolik semaking menghayati pesan injil  “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar, dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Dengan kata lain, mari  menjadi katolik 100% dan menjadi warga Negara kesatuan Republik Indonesia 100%

 

 

Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.

Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.

Rabu, 16 Agustus 2017

Injil   Mat 18:15-20

 

Di mana ada dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku hadir di tengah-tengah mereka.

 

Pesan Yesus dalam bacaan injil hari ini sangat relevant bagi kita sebagai komunitas umat beriman, bahwa dalam komunitas tidak semua orang selalu memilih jalan yang telah Yesus ajarkan. Yesus sangat sadar bahwa gereja yang dibentuknya bukan gereja yang sempurna. Gereja adalah kumpulan orang-orang berdosa yang  berusaha menjadi orangyang lebih baik. Dalam injil hari ini, Yesus  memberikan usulan bagaimana membantu orang yang berada dalam jalan yang keliru kepada jalan yang benar dan baik. Langkah pertama adalah melalui dialog pribadi. Dialogkan apa yang menjadi problem atau kesulitan yang dihadapinya sehingga dia memilih jalan yang keliru. Kalau langkah pertama tidak membantu, hadirkan satu atau dua orang lagi untuk membantu dia meyakini bahwa jalan yang diambil adalah keliru. Kalau langkah keduapun tidak berhasil maka seluruh jemaat perlu dilibatkan, mudah-mudahan dia menyadari bahwa jalan salah yang ditempuh punya effek bagi yang lain. Sangat diharapkan dengan melibatkan lebih banyak orang, orang ini menyadari kesalahanya dan mau kembali kejalan yang benar.

Anjuran Yesus ini bisa saja tidak dapat diterapkan pada kebudayaan tertentu, akan tetapi  prinsip dasarnya dapat berlaku. Yesus sesungguhnya menyatakan bahw masing-masing kita bertanggung-jawab akan kesejateraan sesama kita, tidak hanya secara fisik tetapi juga moral. Dia mengajak kita untuk saling membantu menuju kebahagiaan. Masing-masing kita mempunyai peran untuk saling membantu dalam hal mencintai sebagaimana Yesus telah lakukan untuk kita. Bukan berarti ada yang lebih baik secara moral dan ada yang tidak. Kita semua adalah orang berdosa dan kita butuh orang lain untuk membantu kita dalam usaha untuk menjadi lebih baik, kembali ke jalan Tuhan.

Sebagai manusia, berusaha seperti Kristus, mencintai adalah suatu hal yang tidak mudah dan kita semua dapat berbuat salah dalam proses belajar pemelajaran untuk menjadi lebih baik. Kita pelu menemukan cara untuk bersama-sama dalam proses tersebut.  Ketika kita bersama-sama berusaha untuk salaing membantu menjadi seperti apa yang Tuhan kehendaki, Yesus akan menyertai kita sebagaimana Dia katakana dalam injil hari ini. Dimana dua atu tiga orang berkumpul dalam namaKu, Aku hadir  ditengah–tengah mereka.

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

 

Selasa, 15 Agustus 2017

HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA DIANGKAT KE SURGA

Why 11:191;12:1.3-6a.10a;  1 Kor 15:20-26;  Luk 1:39-56

 

“Lakukan apa yang dikatakan kepadamu”

Hari Raya Santa Perawan Maria diangkat ke surga menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan duniawi Bunda Maria telah berakhir, akan tetapi di saat yang sama sesungguhnya menjadi awal dari pertolongan yang dashyat bunda Maria bagi kita semua.

Kita dapat melihat  Bunda Maria diangkat ke surga sebagai sesuatu yang sangat special baginya, akan tetapi  kita juga dikuatkan untuk melihat  hal ini sebagai sebuah pemenuhan janji bagi kita semua. Dia adalah tujuan  gereja dan semua pengikut Yesus. Dalam Dia, kita melihat bahwa kita dipanggil sebagaimana dirinya.  Kenaikannya ke surga menunjukan kepada kita masing-masing akan tujuan hidup kita dan kehidupan duniawinya menunjukan jalan kepada kita untuk sampai pada tujuan hidup kita sesungguhnya.

Ketika berada di dunia ini, Bunda Maria sangat setia kepada panggilan Tuhan dan kehendak Tuhan  bagi dirinya.  Kesetiaan kepada Tuhan sangat jelas di expresikan dalam injil Lukas, ketika dia  menjawab panggilan Tuhan dengan berkata, “Jadilah padaku seperti apa yang Engaku kehendaki.” Hidupnya selalu diletakan pada penyerahan diri yang total pada kehendak Tuhan  dan panggilan Tuhan. Dia adalah contoh pertama dan utama pengikut Kristus yang mau mendengarkan sabda Tuhan dan memeliharanya. Jawaban YA kepada panggilan Tuhan dan kehadiran Tuhan ditemukan juga dalam expresi YA-nya kepada orang-orang disekitarnya terutama mereka yang sangat membutuhkannya.  Bacaan injil hari ini dengan jelas juga menceritakan bagaimana reaksinya akan kebutuhan Elisabet, sepupuhnya. Dia tidak hanya mengunjunginya, tetapi mau tinggal dengan Elisabeth tiga bulan lamanya.

Pada hari raya ini, kita diajak untuk melihat Bunda Maria tidak hanya sebagai seorang yang mewujudkan tujuan akhir dari perjalan hidup kita dan sebagai orang yang menunjukkan kepada kita  bagaimana melakukan perjalanan, tetapi juga  sebagai orang yang berdoa untuk kita sepanjang perjalanan itu. Dia selalu bersama kita saat kita berjuang untuk mempraktekan iman kita melalui pekerjaan kasih.

Patut kita sadari bahwa selalu saja ada tantangan untuk tetap setia,  untuk terus mengatakan “YA” kepada kehendak Tuhan bagi hidup kita dan mempraktekan “ya” dalam hubungan dengan sesama. Namun, dalam perjuang itu, kita tidak sendirian. Kita dikuatkan oleh surat kepada orang ibrani yang mengatakan: sekumpulan besar saksi, semua orang kudus, orang-orang yang tinggal diantara kita dan mereka yang telah mendahului kita yang telah mendapat pahala. Pesta hari ini meneguhkan kita bahwa diantara sekumpulan besar saksi, Maria adalah yang terpenting.  Dia mendukung kita sepanjang perjalanan kita dan dia lakukan dengan membawa kita kepada Yesus putranya, yang berkata kepada kita: lakukan apa yang dia katakana padamu.

 

Translate »