Browsed by
Month: March 2018

MEMANGGUL SALIB DEMI HIDUP YANG SEMAKIN BERBUAH

MEMANGGUL SALIB DEMI HIDUP YANG SEMAKIN BERBUAH

Minggu, 18 Maret 2018

Hari Minggu Prapaskah V

[Yer. 31:31-34; Mzm. 51:3-4,12-15; Ibr. 5:7-9; Yoh. 12:20-33]

MEMANGGUL SALIB DEMI HIDUP YANG SEMAKIN BERBUAH

Saya suka sepakbola, dan Barcelona adalah tim favorit saya. Kamis dinihari kemarin, Barcelona berhasil mengalahkan Chelsea, dengan skor telak 3-0. Barangkali, ini menjadi ‘pembalasan’ yang sempurna, atas kekalahan yang dialami Barcelona pada tahun 2012 dari tim yang sama. Semua orang yang melihat pertandingan itu, akan sepakat bahwa pemain terbaik atau ‘man of the match’ dari pertandingan itu adalah Lionel Messi, berkat dua gol dan satu assist-nya. Namun, ada banyak hal yang bisa dilihat dari sosok Messi, dalam pertandingan tersebut, selain perannya dalam semua gol Barcelona. Saya yang menyaksikan pertandingan itu secara ‘live’ di televisi, akan menyaksikan bagaimana Messi menjelajah semua sudut lapangan untuk mendapatkan dan membawa bola. Ia memang seorang pekerja keras, dan bukan tipe seorang yang ‘suka menunggu’ seperti Cristiano Ronaldo yang banyak mencetak gol karena menerima umpan dari rekannya atau dari titik penalti. Selain itu beberapa kali, Messi terlihat memberi instruksi dan arahan kepada Ousmane Dembele yang dilanda ‘krisis’ kepercayaan diri, karena baru sembuh dari cedera, sedangkan dia harus ‘membuktikan-diri’ sebagai pemain yang ‘berharga mahal’. Maka, ketika gol kedua terjadi, yang sekaligus menjadi gol perdana Dembele bagi Barcelona, Messi adalah orang yang paling bahagia dengan gol itu. Kehadiran Messi memberikan jaminan rasa nyaman dan ketenangan bagi tim, dan di setiap pertandingan, dia selalu bekerja keras dan memberikan diri sepenuhnya bagi kesuksesan tim. Bahwa, kalau dia sekarang memiliki banyak tropi, entah tim atau personal, termasuk lima gelar Ballon d’Or atau gelar Pemain Terbaik Dunia, adalah buah kerja keras, determinasi dan perjuangan seorang Messi, demi memberikan yang terbaik bagi Barcelona. Oh ya, sampai saat ini, Messi masih setiap pada satu klub saja, dan tampaknya akan demikian sampai nanti ‘gantung sepatu’ alias pensiun.

Mungkin saya terlalu berlebihan menceritakan kisah seorang Messi, atau bisa jadi justru terlalu sederhana. Namun, yang ingin saya tekankan adalah bahwa sebuah hasil yang baik didapatkan dari sebuah usaha yang tiada henti, bahkan pernah mengalami pengalaman gagal sebelumnya. Seorang Messi pernah gagal menghadapi Chelsea di tahun 2012, namun tidak mengendurkan semangatnya kembali, dan berhasil menang 5 tahun kemudian. Messi memiliki karir gemilang tidak instan, dan semua dimulai dari masa mudanya. Messi tidak pernah berhenti, seperti dia yang tidak pernah berhenti berlari di lapangan. Messi tidak pernah berhenti berprestasi, karena hidup terus berjalan, sedangkan mereka yang sudah merasa cukup adalah orang yang sudah selesai hidupnya, maka rekor demi rekor terus ‘dibangkitkan’ dari kaki dan kepalanya. Dan, tentu, yang perlu kita ingat adalah, Messi adalah tipe seorang yang setia: satu tim dan satu pendamping hidup. Bahwa, kesuksesan kadang berbanding terbalik dengan kesetiaan. Ketika orang sudah mendapatkan segalanya, maka bisa jadi segala hal ‘digadaikan’ termasuk kesetiaan. Namun, Messi mengajarkan bahwa kunci kesuksesan adalah kesetiaan itu sendiri. Dari Messi-lah saya hendak masuk pada permenungan hari Minggu ini, tentang ‘biji gandum, yang jatuh di tanah, akan menghasilkan banyak buah’. Logika alam tentang biji gandum, mengajarkan kepada kita bahwa segala tanaman yang berasal dari biji, memang perlu ‘mengorbankan’ biji untuk jatuh di tanah, memecahkan diri, berkecambah, mulai bertumbuh, semakin besar dan akhirnya berbuah. Satu hal harus mati, pertumbuhan banyak hal. Bahwa hidup kita, termasuk hidup beriman adalah sebuah perjuangan, yang ditandai dengan salib yang mesti dipanggul, dalam kehidupan sehari-hari. Salib kita bisa saja kecil, bisa jadi besar, namun dari salib lah kita akan memperoleh kehidupan. Caranya adalah dengan setia! Tanpa kesetiaan, kita akan cenderung mudah berkompromi dan membuat pembenaran-pembenaran, sehingga salib yang tadi menjadi simbol perjuangan hidup, dengan mudahnya juga akan digeletakkan demi menuruti rasa aman dan nyaman. Banyak hal harus dimatikan, seperti biji yang mati, termasuk ego dan ke-aku-an, yang dalam dunia sekarang ini makin besar dan merajalela, dalam wujud yang bermacam-macam. Realitas hidup kita memang tidak mudah, dan makin ke sini, tantangan-tantangan makin berat dan besar, namun justru kita ditantang untuk semakin berani melangkah, dan semakin bersemangat memanggul salib hidup kita. Pengalaman memanggul salib, juga kadang diwarnai dengan kegagalan-kegagalan, dimana kita sering jatuh dan tak mampu bangkit lagi, namun secara ajaib, kita kadang mampu bangkit berdiri, dan melangkah lagi, meski untuk itu sebenarnya sudah tak ada kemampuan dan kekuatan lagi.

Semoga hidup kita, adalah hidup yang memancarkan kasih Kristus, dari kesaksian kita untuk tetap tekun dan setia memanggul salib hidup kita, dari kesediaan diri kita untuk tetap tegak berdiri menghadapi kenyataan hidup yang kadang pahit dan mengecewakan, dari kesaksian kita untuk bersedia mematikan ego pribadi demi kebaikan dan kemajuan sesama, dari kesaksian kita untuk berani mengalami pertobatan sehingga kita turut diselamatkan lewat salib Kristus, dan pada akhirnya, kisah ‘biji gandum, yang jatuh di tanah’, akan benar-benar menghasilkan buah, bagi diri dan bagi sesama.

IMAN AKAN KRISTUS YANG HIDUP

IMAN AKAN KRISTUS YANG HIDUP

Renungan Harian

Sabtu, 17 Maret 2018

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

[Yer.11:18-20; Mzm.7:2-3,9-12,Yoh.40:-53]

IMAN AKAN KRISTUS YANG HIDUP

Kalau membaca bacaan Injil hari ini, spontan ingatan saya meloncat kembali ke suasana kuliah Kristologi Kontekstual. Kuliah ini hendak merefleksikan tentang siapa Kristus, dalam berbagai macam konteks dan latar belakang, misalnya dari berbagai macam budaya (Toraja, Sumba, Flores, Jawa) dan realitas sosial (media sosial, korupsi, kaum muda, narkoba, intoleransi, kemiskinan, AIDS, feminisme, pengungsi). Saya dan beberapa teman, memperoleh ‘bagian’ untuk merefleksikan Kristus dari sudut pandang gerakan dan pegiat feminisme, dalam ranah ketidakadilan gender. Prosesnya sebenarnya sederhana, yaitu mengadakan wawancara dengan beberapa orang, dan mencoba menarik kesimpulan, dan diakhiri dengan refleksi tentang siapa Kristus menurut mereka. Dalam refleksi pegiat feminisme, Kristus bagi mereka adalah seorang pembebas, yang memperjuangkan kebebasan sejati, karena kita tahu sendiri bahwa ketidakadilan gender membuat perempuan kehilangan hak dan kewajiban terhadap laki-laki. Maka, para pegiat feminisme memperoleh kekuatan bahwa Kristus adalah sosok pembebas, yang memberi kelegaan dan pengayoman seperti seorang sahabat. Bagi pegiat feminis, Kristus adalah sosok laki-laki baru, yang menempatkan keadilan hak dan kewajiban perempuan dan laki-laki di tempat yang sama. Inilah refleksi tentang Kristus, yang berasal dari konteks dan latar belakang yang berbeda-beda.

Pun hari ini, kisah dalam Injil mengkisahkan tentang orang-orang yang mempertanyakan identitas Yesus. Banyak orang yang merasa bingung tentang siapakah Yesus di mata mereka. Ya, mereka datang dari berbagai macam konteks dan latar belakang, sehingga pengenalan mereka akan sosok Kristus ini juga berbeda-beda. Namun, Kristus kemarin dan hari ini adalah sama. Kristus mempunyai segala cara untuk masuk dalam konteks budaya dan realita, berganti-ganti dan berubah-ubah. Maka, dalam kehidupan kita sekarang, kita pun dianugerahi kemampuan untuk beriman dan merefleksikan kehadiran Kristus, dalam segala latar belakang konteks kehidupan kita masing-masing, sehingga iman akan Kristus tidak berhenti dan mati, namun senantiasa hidup dan berkembang.

WAKTU UNTUK TUHAN

WAKTU UNTUK TUHAN

Renungan Lubuk Hati

Jumat, 16 Maret 2018

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

[Keb. 2:1a,12-22, Mzm. 34:17-21, 23, Yoh. 7:1-2,10,25-30]

WAKTU UNTUK TUHAN

Saya termasuk orang yang mudah resah karena waktu. Kalau harus pergi atau menghadiri acara tertentu, sudah tertanam dalam hati bahwa saya tak boleh terlambat. Lebih baik menunggu daripada ditunggu orang lain. Maka, perhitungan waktu menjadi sesuatu yang teramat penting. Saya juga belajar untuk membuat jadwal dan agenda, sehingga setiap tugas dapat diselesaikan tepat waktu. Perihal kesibukan kini menjadi sesuatu yang relatif, karena pengaturan waktu menjadi sesuatu yang lebih diutamakan. Semua hal bisa dijangkau untuk dikerjakan asalkan manajemen waktu berlaku konsisten. Benar bahwa, dalam situasi seperti ini, segala hal ada waktunya sendiri-sendiri untuk dilakukan atau dikerjakan, tergantung kebutuhan dan prioritas. Namun, mengambil keputusan untuk mempergunakan waktu dengan baik, adalah sesuatu yang sangat berharga dan terbukti memberi dampak bagi hasil akhir atau capaian serta tujuan hidup kita.

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus pun sedang melakukan pertimbangan perihal waktu. Yesus menghindar dari orang-orang yang hendak membunuhnya, dengan mencoba lepas dari kepungan mereka, serta berkata, “Saatnya belum tiba!” Yesus tahu secara persis, waktu dan tempat Dia harus mengalami kesengsaraan, maka kalau waktunya memang belum tiba, mereka tentu tidak akan pernah bisa menangkapNya. Kita semua juga dianugerahi waktu, dan dipercaya untuk mengelolanya dengan baik sesuai kebutuhan dan prioritas hidup kita. Namun, kita juga diajak juga untuk senantiasa menyediakan waktu khusus bersamaNya, karena Tuhan juga bersedia hadir bersama kita dalam waktu-waktu istimewa bersama. Kalau waktu untuk Tuhan sudah tersedia, baru waktu untuk hal lain bisa direncanakan.

YESUS MENGERJAKAN KARYA BAPA, DAN KITA BERSAKSI ATAS-NYA

YESUS MENGERJAKAN KARYA BAPA, DAN KITA BERSAKSI ATAS-NYA

Renungan Lubuk Hati

Kamis, 15 Maret 2018

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

[Kel. 32:7-14; Mzm. 106:19-23; Yoh. 5:31-37]

YESUS MENGERJAKAN KARYA BAPA, DAN KITA BERSAKSI ATAS-NYA

Setiap negara di dunia hadirlah perwakilannya di negara-negara lain, dalam wujud kantor kedutaan. Kantor kedutaan ini menjadi wakil sekaligus representasi dari negara yang ‘dihadirkan’, sehingga tanpa perlu datang ke negara yang hendak dituju, segala macam urusan dapat dilakukan di kantor kedutaan tersebut. Atau kalau anda seorang pemimpin, yang karena suatu hal, tidak dapat mengikuti sebuah rapat atau acara, maka anda mengirimkan seorang wakil sebagai ganti kehadiran anda di tempat rapat atau acara tersebut. Namun, terkadang, namanya juga seorang wakil atau pengganti, kehadirannya sering diragukan atau kapasitas serta kapabilitasnya tidak dihiraukan, meski sebenarnya pengganti dan wakil tersebut pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh pihak yang mengutusnya.

Yesus pun mengalami hal yang sama dalam Injil hari ini, ketika banyak orang meragukan ‘kehadiran’-Nya di dunia sebagai wakil dari Bapa. Para pendengar Yesus tidak sungguh-sungguh ingin mengenal kehadiran Yesus dan terus menggali identitas ilahi dariNya, namun malah mengambil sikap yang berseberangan dengan Yesus, hingga hasil akhirnya bisa ditebak, yaitu tidak kenal sama sekali dengan Yesus, yang berarti tidak kenal juga dengan Bapa. Kita pun kadang bersikap demikian, dalam keragu-raguan kita tak henti bertanya, dan akhirnya, kita pun tidak mau dan bersedia menjadi saksiNya. Hanya dalam Yesus-lah karya Bapa terwujud dan terlaksana, karena Yesus sendiri berkata, “Segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepadaKu, supaya Aku (yang) melaksanakannya.” Mari kita terbuka pada kehadiranNya.

IDENTITAS MENENTUKAN TINDAKAN

IDENTITAS MENENTUKAN TINDAKAN

Renungan Lubuk Hati

Rabu, 14 Maret 2018

Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

[Yes. 49:8-15; Mzm. 145:8-9,13-14, 17-18; Yoh. 5:17-30]

IDENTITAS MENENTUKAN TINDAKAN

Setiap orang tentu memiliki identitas, entah itu karena asal usul atau tujuan yang hendak dicapai. Identitas seseorang menentukan cara berada orang tersebut, terhadap yang lain. Cara berada akan menjadi sebuah perwakilan dari identitas yang dicirikan. Kalau ada seorang dari Jawa, maka ungkapan-ungkapan dalam bahasa Jawa menjadi cara berada yang mencirikan bahwa dia memang orang Jawa. Dan seterusnya. Perihal identitas ini, juga dialami oleh Yesus ketika berhadapan dengan ahli-ahli Taurat, yang terus menerus ‘mengincar’ kesalahanNya. Kali ini, masih meneruskan perkara tentang hari Sabat, dan Yesus menyingkapkan identitasNya yang berasal dari Bapa. Semua tindakanNya merujuk dari semua tindakan Bapa, tempat Dia berasal. IdentitasNya ditentukan oleh Bapa sendiri. Maka, Yesus akan bertindak, sesuai dengan perintah Bapa kepadaNya.

Dari situ, kita juga belajar tentang identitas hidup kita. Apa identitas hakiki hidup kita? Apa perutusan hidup kita di dunia? Sekedar manusia biasa, atau manusia yang mendapat anugerah hidup baru dari Allah. Identitas rohani kita berasal dari Allah sendiri, maka sudah seharusnya kalau hidup kita pun mencirikan hakekat rohani tersebut. Semua perbuatan, tugas dan karya kita, semata-mata adalah menghadirkan Allah sebagai identitas utama hidup kita. Maka, kalau menghadirkan ‘selain’ Allah, berarti kita sedang mengingkari identitas kita sendiri, tapi itulah yang sering terjadi. Maka, semoga kita, senantiasa dalam posisi sadar identitas, manakala berpikir, berucap dan bertindak, terlebih dalam relasi kita bersama sesama manusia, karena tidak bisa tidak, kita ini memegang identitas dari Allah, dan untuk Dia-lah kita bertindak dan berkarya.

Translate »