Browsed by
Month: October 2018

Lebih dari Besar dari Doa Kita

Lebih dari Besar dari Doa Kita

Kamis pada Pekan Biasa ke-27

11 Oktober 2018

Lukas 11:5-13

Berdoa itu sangat baik. Yesus sendiri banyak berdoa dan Dia meminta kita untuk berdoa secara terus-menerus (lih. Luk 18: 1). Dia menyakinkan kita bahwa jika kita memohon di dalam nama-Nya, Ia akan mengabulkannya (Yoh 14:14). Dia bahkan meminta kita untuk percaya kepada-Nya setiap kali kita menyampaikan ujud kita, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu (Luk 11:9).”

Namun, permasalahnya adalah kita cenderung lupa bahwa doa adalah sarana kita untuk berkomunikasi dengan Allah, dan kita mulai menempatkan iman kita pada sarana daripada Pribadi dengan siapa kita berbicara. Kita lebih menaruh iman kita pada doa dan usaha kita daripada pada Tuhan sendiri. Kita mulai berpikir tentang cara untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas doa-doa kita. Doa terbaik adalah yang terpanjang dan kata-kata paling indah. Yang penting sekarang adalah tentang berapa banyak rosario yang kita daraskan, berapa novena yang kita doakan, berapa banyak misa yang kita hadiri dalam seminggu. Kemudian, saat kita menyadari bahwa doa-doa kita tidak terkabul sesuai dengan keinginan kita, kita menggerutu dan kecewa karena doa-doa kita yang indah tidak didengar!

Suatu hari saat saya menghadiri kuliah Retorika di Institute of Preaching, saya diminta untuk menulis homili. Saya begitu asyik dalam menulisnya, dan saya yakin bahwa homili saya telah ditulis dengan baik, dan benar secara teologis. Lalu saya sampaikan homili tersebut di depan kelas. Saya pikir saya melakukannya dengan baik, tetapi ternyata teman-teman saya bereaksi bahwa mereka tidak terlalu mengerti apa yang saya katakan. Bahasa saya terlalu sulit dan abstrak. Kemudian, dosen kami menunjukkan penyebabnya. Di antara beberapa elemen dari sebuah pidato, yang paling penting sebenarnya para pendengar. Dalam semua persiapan dan penyampaian, selalu ada dalam pikiran kita adalah para pendengar kita. Sebuah khotbah yang baik mengerti kebutuhan pendengarnya. Saya percaya bahwa itu adalah sama halnya dengan doa. Pendengar utama kita adalah Allah, dan itu berarti perhatian utama kita adalah bagi Dia dan selebihnya adalah pelengkap.

Dengan demikian, tidak mengherankan bahwa banyak santo-santa dan juga mistikus menyarankan bahwa cara terbaik dalam berdoa adalah masuk dalam keheningan. Seorang wartawan bertanya kepada Bunda Teresa dari Kalkuta tentang apa yang dia lakukan dalam doa. Dia berkata, “Saya mendengarkan-Nya dalam keheningan.” Dan wartawan tersebut, berharap untuk menghasilkan wawancara yang baik, bertanya lagi, “Lalu, apa yang Tuhan katakan kepada Anda?” Bunda Teresa menjawab, “Allah juga mendengarkan saya dalam keheningan.”

Injil menunjukkan kepada kita bahwa Allah melakukan banyak hal untuk memenuhi permintaan kita, tetapi Dia melakukannya dengan Kebijaksanaan-Nya sendiri. Masalahnya adalah kita terjebak dalam doa dan harapan kita yang kaku. Ketika tampaknya Tuhan tidak mendengar doa kita, itu bukan karena Dia tidak mendengarkan, tapi karena kita tidak ingin mendengar jawaban-Nya. Semoga hati kita pun terbuka bagi Allah, dan semakin menaruh iman kita kepada-Nya, dan bukan pada diri kita sendiri.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Doa kepada Bapa Kita

Doa kepada Bapa Kita

Rabu pada Pekan Biasa ke-27

10 Oktober 2018

Lukas 11:1-13

“Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. 3 Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya (Luk 11: 2-3)”

Ketika kita mulai berdoa, kita mengakui bahwa kita bergantung pada-Nya. Tidak heran jika salah satu bentuk doa yang paling mendasar dan umum adalah doa permohonan. Kita berdoa untuk meminta sesuatu dari Allah. Kita mohon untuk kesehatan, kesembuhan, sukses dalam karir, lulus ujian, perlindungan dari bahaya, dan banyak lagi.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajarkan para murid bagaimana berdoa. Ia mengajar mereka doa yang paling indah, ‘Doa Bapa Kami.’ Meskipun versi Lukas lebih pendek dari versi Matius, keduanya mengandung sikap dasar yang sama. Ini adalah doa permohonan. Kita meminta Kerajaan-Nya datang. Kita meminta rejeki yang cukup. Kita memohon pengampunan dan pembebasan dari yang jahat. Kita memohon Tuhan memberikan kebutuhan yang paling mendasar dalam kehidupan kita sehari-hari.

Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk berdoa dengan rendah hati, tetapi juga berdoa dengan penuh keyakinan. Kita berdoa dengan yakin karena bagi Yesus, Tuhan adalah Bapa yang peduli dan penuh kasih. Kadang-kadang, kita bertanya-tanya mengapa Tuhan tidak menjawab doa permohonan kita. Kita perlu ingat bahwa Dia adalah Bapa yang baik dan Dia tahu apa yang terbaik bagi kita. Jika Ia tidak menjawab doa kita mungkin apa yang kita inginkan bukanlah yang terbaik bagi kita. Ada sesuatu yang lebih baik telah disiapkan bagi kita. Dia selalu menjawab doa-doa kita, tetapi seringkali, kita tidak mendengarkan jawaban terbaik-Nya.

Bentuk doa paling agung dalam tradisi Katolik adalah Ekaristi Kudus. Ekaristi sebenarnya berarti doa syukur (dari bahasa Yunani ‘eucharistein’, untuk bersyukur), namun Ekaristi juga bisa diartikan sebagai doa permohonan. Bahkan, dalam Ekaristi, kita memohon Tuhan sesuatu yang paling kita butuhkan, keselamatan kita dan keselamatan dunia. Untuk mencapai hal ini, kita mempersembahkan sebuah kurban yang paling baik kepada Bapa, yakni Yesus Kristus sendiri. Tentunya, Bapa akan bahagia menerima kurban yang paling sempurna ini. Bapa pun melimpahi kita dengan rahmat-Nya. Tidak salah jika kita mengatakan bahwa keselamatan kita bergantung dalam doa.

Kita berdoa karena ini adalah siapa kita. Kita bukanlah apa-apa tanpa Tuhan. Kita bergantung seluruhnya pada Allah. Kita berlutut di hadapan-Nya. Namun juga, kita berdoa karena kita yakin Dia akan mendengarkan doa kita. Kita yakin bahwa Tuhan akan memperhatikan dan memberikan yang terbaik. Kita berdoa karena Allah adalah Bapa kita.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Menjadi Bagian yang Terbaik

Menjadi Bagian yang Terbaik

Selasa pada Pekan Biasa ke-27

9 Oktober 2018

Lukas 10:38-42

 “Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya (Luk 10:42)”

 Injil hari ini merupakan salah satu kisah yang paling menyentuh hati di dalam Alkitab. Marta dan Maria menyambut Yesus yang lelah setelah Ia menjalani berbagai pelayanan dan misi pewartaan-Nya. Keduanya mencoba menawarkan yang terbaik: tangan yang aktif melayani dan telinga yang mendengarkan. Sungguh, Yesus sangat bergembira dengan keduanya.

Namun, kisah ini menjadi lebih intensif ketika Martha mulai mengeluhkan sikap saudara perempuannya. Lalu, untuk pertama kali, Yesus menyebut nama seseorang dua kali berturut-turut dengan penuh afeksi, “Marta, Marta”. Di sini, kita bisa menduga bahwa Yesus memiliki persabatan yang erat dengan Marta dan Maria. Yesus menghargai kerja keras Martha, tetapi Dia lebih menghargai hati Maria yang lembut dan mendengarkan. Kita bisa melihat Yesus dalam kemanusiaan-Nya yang sejati dan di dalam-Nya kemanusiaan kita sendiri. Kita sebagai manusia tidak hanya memerlukan kebutuhan jasmani, tetapi juga sebuah sentuhan yang mengisi jiwa kita. Kita ingin diterima, didengarkan, dipahami dan dicintai.

Yesus menunjukkan bahwa kita bisa berbicara, bekerja, dan sibuk dengan sangat mudah, namun ironisnya, kita harus mengerahkan upaya yang luar biasa hanya untuk diam, tenang dan mendengarkan untuk memahami.

Kata-kata Yesus untuk Martha adalah sebuah kebijaksanaan yang juga berlaku bagi generasi kita. Yesus berbicara tentang kebenaran bahwa kerinduan terdalam manusia tidak bisa dipuaskan dengan internet, gadgets ataupun uang. Beberapa pasangan suami-istri bekerja begitu keras untuk mencari nafkah bagi keluarga mereka dan sibuk meniti tangga karir, tapi hanya sedikit waktu digunakan untuk menyentuh hati sang pendamping mereka. Beberapa orangtua mungkin berpikir mereka telah melakukan yang terbaik dengan mengirim anak-anak mereka ke sekolah terbaik, tapi berapa banyak waktu, kita menghabiskan waktu dengan anak-anak mereka untuk mendengarkan cerita dan sentimen sederhana mereka? Beberapa imam dan kaum religius menjadi begitu sibuk dengan pelayanan mereka, tetapi ironisnya, mereka tidak memiliki waktu untuk mendengarkan saudara-saudara mereka sendiri dalam komunitas. Hanya pribadi manusia yang dapat memenuhi kebutuhan terdalam sesamanya. Saat Yesus menegur Martha, Yesus juga menegur kita untuk mengambil bagian yang lebih baik dalam melayani sesama kita. Benar bahwa kebutuhan jasmani adalah penting namun tidak akan pernah menggantikan sebuah hati yang mencintai dan telinga yang mendengarkan dengan tulus. Jadilah bagian yang lebih baik!

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Belajar Melihat Sebuah Hidup

Belajar Melihat Sebuah Hidup

Senin dalam Pekan ke-27

8 Oktober 2018

Lukas 10:25-37

Kisah tentang orang Samaria yang baik hati adalah kisah keutamaan hidup. Jika kita melihat lebih dalam karakter-karakter pada kisah ini (sang korban, sang imam, orang Lewi, dan orang Samaria), kita akan melihat kekayaan budaya Yahudi pada zaman Yesus. Mari kita fokus sekarang pada dua karakter utama kisah ini: sang imam dan orang Lewi.

Mengapa sang imam dan orang Lewi menolak menolong sang korban yang adalah orang Yahudi juga? Sang Imam dan Lewi meghindari sang korban bukan hanya karena jijik atau kurangnya keahlian medis, tapi itu terutama karena alasan hukum Agama. Hukum Taurat Musa melarang orang Yahudi khususnya para imam dan orang-orang Lewi untuk menyentuh orang mati atau darah (Im 15 dan 21). Sang Imam dan orang Lewi dalam kisah ini pada dasarnya mentaati Hukum dengan sepenuh hati. Kitab Makabe menceritakan bagaimana seorang ibu dan tujuh anaknya lebih memilih mati daripada melanggar Hukum Taurat dengan makan makanan haram (2 Mak 7). Sang iman dan orang Lewi ini adalah orang yang pada dasarnya taat hukum, namun Yesus mengkritik mereka karena mereka gagal untuk mengenali realitas yang jauh lebih besar hukum Taurat. Mereka menolak untuk melihat kehidupan!

Namun, saya menduga bahwa ada alasan yang tersembunyi dibalik penolakan mereka. Seorang imam dan seorang Lewi terutama hidup dan melayani di Bait Allah dan Sinagoga. Setiap kali, seorang imam atau seorang Lewi menjadi najis, mereka tidak diperbolehkan untuk memasuki wilayah Bait Allah. Ini adalah pukulan yang sangat telak bagi mereka. Mereka praktis kehilangan identitas mereka yang terhormat. Tidak hanya kehilangan kehormatan mereka, kegagalan untuk melakukan tugas suci mereka di Bait Allah berarti kehilangan nafkah. Tentu, tak seorang pun ingin menjadi miskin mendadak karena kehilangan pekerjaan. Di sini, harga diri dan kepentingan ekonomi dapat menutup mata seorang imam dan seorang Lewi untuk melihat dan menyelamatkan hidup.

Setiap kali, kita menyaksikan kehormatan dan kepentingan bisnis lebih besar daripada kehidupan, kita menemukan sang imam dan orang Lewi yang hadir di antara dan bahkan di dalam kita. Melalui kisah orang Samaria yang baik ini, Yesus mengajak kita untuk melihat hidup kita dan bagaimana kita berhubungan dengan Tuhan dan sesama kita. Apakah kita memperlakukan teman-teman kita sebagai sumber pendapatan dan sekedar mitra bisnis untuk memenuhi kebutuhan kita? Apakah kita berdoa kepada Tuhan hanya karena ingin keinginan kita terpenuhi dan dengan demikian, menjadikan Tuhan sebagai ATM? Tidak! Mari kita kita memilih untuk menjadi orang Samaria yang baik dan memperjuangkan hidup.

 

Frater Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

 

Rosary and Family

Rosary and Family

27th Sunday in Ordinary Time

Feast of the Holy Rosary

October 7, 2018

Mark 10:2-16

 

If there is one prayer that can change the course of world history, it is the earnest recitation of the holy rosary.  In 1571, through the unceasing prayer of the rosary, a league of Christian nations called by Pope Pius V was able to stop the military advancement of the mighty Ottoman empire to western Europe in the Gulf of Patras, near Lepanto, Greece. In 1917, Our Lady appeared to three little children in Fatima, and one of her messages was to pray the rosary for the peace of the world. Through nation-wide recitation of the rosary, Austria was freed from the communist regime in 1955. In 1960, led by Catholic women marching the streets while praying the rosary, Brazil was also spared from communism.

For the Catholics in the Philippines, the recitation of the rosary has conquered the impossible. In 1646, the Dutch armada attempted to take over the Philippines from the weakened Spanish authority. With only three modified galleons, the combined Spanish and Filipino forces defended the country from Dutch warships in a series of sea battles. The eyewitness narrated how the soldiers prayed the rosary while the battle was being waged. The miracle took place. The three galleons were practically unharmed, while the enemy’s ships either were sunk or sustained heavy damages. The miracle was attributed to the intercession of Our Lady of the Rosary, La Naval de Manila. The rosary is believed to have made the People Power revolution in 1986 a peaceful event.

These are several among many historical events in which the recitation of the rosary has played a significant role in the lives of nations. However, the praying of the rosary does not only affect the nations but more meaningfully the lives of ordinary people and families.

Today’s Gospel speaks about the sanctity of marriage and family. In marriage, husband and wife promise each other something that they cannot fulfill, namely perfect happiness. We are imperfect creatures and wounded by sin, and it is just beyond our natural ability to achieve our genuine happiness. Left to our own strength, we are bound to fail or face meaninglessness. We are emotionally unstable, we want things for ourselves, and we just hurting each other. No wonder Bishop Fulton Sheen once said, “Marriage is not difficult. It is just humanly impossible.”

Jesus reminds us that man and woman are created for each other to be “one flesh,” and immediately Jesus teaches, “what God has joined together, no human being must separate.”  We often forget that the one who unites man and woman is God Himself. Marriage and family are primarily the work of God, not just human beings. God wants a true joy for us, and this can be achieved by the paradox of love. It is not by accumulating things for ourselves but giving up ourselves totally to others. Marriage becomes one way that God designs to achieve this self-giving. Husband gives himself totally to his wife, and the wife gives herself wholly to her husband. As they are losing themselves, they gain everything they cannot humanly gain, namely genuine self-growth, meaningful life, and true happiness. Thus, prayer together turns out to be an unassuming yet powerful way to remind the couples of this God’s work in their midst.

Fr. Patrick Payton once said, “A family that prays together stays together.” As the founder of Family Rosary Crusade, the prayer he means in this classic line is no other than the recitation of the rosary. At first, it sounds cliché, but on a personal note, I can say it is indeed a powerful prayer for the family. I still could remember how my parents taught me the rosary, and it was within the context of family and community prayer. I do believe that my family has survived a lot of storms because we do not forget to pray together. I also believe countless families, and communities have conquered the difficulties and challenges because they have prayed the rosary faithfully.

 

Br. Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Translate »