Browsed by
Month: February 2019

MEMIMPIN DENGAN MELAYANI

MEMIMPIN DENGAN MELAYANI

Jumat, 22 Februari 2019
Pesta Takhta St. Petrus
1Ptr. 5:1-4; Mzm. 23:1-3a,3b-4,5,6; Mat. 16:13-19

MEMIMPIN DENGAN MELAYANI

Salah satu pembicaraan di seminari, yang semua anggotanya adalah laki-laki adalah sepakbola, yang biasanya diwujudkan dengan menunjuk klub-klub sepakbola kesayangan. Acara makan pagi biasanya menjadi meriah, kalau malam sebelumnya ada pertandingan yang mempertemukan klub-klub kesayangan. Apes, misalnya kalau klub kesayangannya kalah, dan biasanya dia takkan berani muncul makan pagi, karena kalau berani menampakkan ‘batang-hidung’-nya, maka siap-siap akan diejek habis-habisan. Ya, cara menambah keakraban memang, meski entah sadar atau tidak sadar, semua orang menganggap bahwa klub sepakbola kesayangannya adalah yang paling baik, paling unggul, paling nomer satu, paling jempolan. Saya membayangkan, itu hanya sebagai penonton dan pendukung, coba kalau ikut bermain dan berkompetisi, tentu suasana akan ‘panas’ dan tak terkendali. Memang, banyak orang ingin menjadi nomer satu, menjadi juara, menjadi pemimpin, menduduki tahta kekasaan tertinggi. Maka, demi menjadi yang terbaik, kadang banyak orang akan menghalalkan segala cara, bahkan dengan cara-cara yang tidak manusiawi dan merugikan orang lain.

Namun, Yesus memberi pandangan berbeda tentang makna seorang pemimpin. Bagi Yesus pemimpin adalah orang yang menjadi besar, dengan menjadi kecil. Orang yang mau menjadi terkemuka dengan cara melayani sesamanya. Hari ini Gereja merayakan Pesta Tahta Santo Petrus. Gereja merayakan masa kepemimpinan Rasul Petrus. Apa perbedaan tahta Petrus dan tahta yang diperebutkan orang zaman ini? Perbedaannya, Petrus memperoleh tahta kepemimpinan sebagai anugerah pemberian Tuhan, sedangkan tahta sekarang diperebutkan dengan mengunggulkan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu. Tuhan memberikan anugerah ini karena pengakuan iman Petrus kepada Yesus bahwa Dia adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Kelemahan dan kekurangan dalam diri Petrus tidak mengalangi dia untuk semakin kuat dalam iman dan justru keterbukaan pada kehendak Allah telah menyingkapkan rahmat Allah kepadanya. Menjadi pemimpin bukan berarti menguasa yang dipimpin, namun justru melayani sesama yang dipimpin. Menjadi pemimpin tentu harus mampu memimpin diri sendiri dahulu, sehingga setiap orang punya bekal untuk memimpin orang lain.

Semoga, kita pun bisa menjadi orang nomer satu di hadapan Yesus, seperti Rasul Petrus, yang karena kerelaan hati, kerendahan hati, pemberian diri dan pengabdiannya menjadi inspirasi dalam menghayati iman dan melayani sesama. Selamat pagi, selamat melayani sesama hari ini.

Ikut berduka cita

Ikut berduka cita

RIP

Segenap pemerhati Lubukhati ikut berduka dan berdoa bagi

arwah Bapak Suratman

Ayah dari Rm. Gigih CM

Semoga Tuhan membawa beliau pada kediaman abadi di surga

Misa arwah pada hari Kamis 21 Februari 2019 di Ngawi

BERANI MENERIMA SISI-SISI GELAP MENJADI MURID KRISTUS

BERANI MENERIMA SISI-SISI GELAP MENJADI MURID KRISTUS

Kamis, 21 Februari 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa VI
Mzm. 102:16-18,19-21,29,22-23; Mrk. 8:27-33

BERANI MENERIMA SISI-SISI GELAP MENJADI MURID KRISTUS

Dalam tahap akhir pendidikan, biasanya ada yang dinamakan ujian akhir, yang memiliki tujuan untuk mengukur kemampuan dan pengetahuan seorang murid terhadap mata pelajaran yang diujikan. Terkadang konsep tentang ujian akhir ini menjadi tidak adil, ketika yang menjadi patokan adalah nilai atau perhitungan angka-angka, sehingga seorang murid tidak mencapai standar tertentu, akan dinyatakan: ‘tidak lulus’. Padahal untuk bisa menilai kemampuan seorang siswa, banyak aspek turut diperhatikan dan menjadi pertimbangan, sehingga penilaian menjadi lebih menyeluruh dan holistik.

Dalam Injil hari ini, Yesus tampaknya juga sedang mengadakan ‘ujian akhir’ bagi para muridNya, dalam sekolah ‘pendidikan iman’. Namun, pertanyaan yang muncul sungguh tak terduga, karena Yesus justru bertanya: “Kata orang, siapakah Aku ini?” Yesus, tampaknya ingin mengetahui seberapa jauh para murid telah mengenal Dia. Namun, jawaban para murid menunjukkan bahwa mereka juga belum paham siapa Yesus, sampai Yesus mesti menjelaskan bahwa Dia adalah Mesias yang harus menderita dan mati, karena para murid masih berpikir bahwa Mesias yang dimaksud adalah Mesias yang dibanjiri pujian dan kekaguman dari orang banyak.

Dari sini, kita diajak untuk mengenal sosok Mesias selangkah lebih jauh, karena mengenalnya dalam keadaan mulia saja tidak cukup. Dengan mengenal Mesias sebagai sosok yang ditolak, menderita dan bahkan dibunuh, maka kita juga bisa yakin dan percaya bahwa untuk menjadi pengikutNya pun, kita harus rela dan berani menderita, serta memanggul salib. Mengikuti Yesus yang adalah Mesias, bukan saja menerima bagian-bagian yang penuh kemuliaan, namun juga berani menerima sisi-sisi gelap berupa penderitaan, penolakan dan kegagalan.

Selamat pagi, selamat memanggul salib bersama Kristus.

SEGALA SESUATU BUTUH PROSES DAN WAKTU

SEGALA SESUATU BUTUH PROSES DAN WAKTU

Rabu, 20 Februari 2019
Hari Biasa, Pekan Biasa VI
Kej. 8:6-13,20-22; Mzm. 116: 12-13,14-15,18-19; Mrk. 8:22-26

SEGALA SESUATU BUTUH PROSES DAN WAKTU

Sebuah perjalanan adalah sebuah proses. Hidup ini adalah sebuah perjalanan, maka hidup itu ada sebuah proses yang berkelanjutan dan berlangsung terus menerus. Tidak ada sesuatu pun yang ada di dunia ini, yang sekali jadi, atau langsung jadi. Awal mula kehidupan pun terdiri dari beragam proses. Kalau anda berangkat kerja, tentu berawal dari bangun pagi dan perjalanan, tidak tiba-tiba sampai di tempat kerja. Seorang yang bersekolah, tentu melewati tahap demi tahap, tingkat demi tingkat, tidak langsung lulus. Untuk sebuah tujuan, untuk sebuah hasil, semua membutuhkan proses, semua membutuhkan waktu.

Yesus hari ini menyembuhkan seorang yang buta. Proses penyembuhan orang buta tersebut, ternyata tidak sekali jadi. Awalnya, penglihatan si buta masih samar-samar dan belum sempurna. Baru kemudian, ketika Yesus meletakkan tangan untuk kedua kalinya, si buta dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas. Yesus tidak pernah menyia-nyiakan orang yang datang dan memohon kepadaNya. Namun, Yesus mengajarkan bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu dan proses. Ada tahapan-tahapan yang mesti dilalui. Kalau yang menjadi harapan atau tujuan belum tercapai, maka butuh berjuang dan bersabar, karena memang segala sesuatu indah pada waktunya.

Selamat pagi, selamat menikmati tahapan-tahapan dalam hidup dan proses yang terjadi di antaranya.

Translate »