Browsed by
Month: August 2019

#Love Papua and the Papuans

#Love Papua and the Papuans


Aug 24, 2019

Yoh 1:43-51

Hari ini kita merayakan Pesta St. Bartolomeus, Rasul, yang di dalam Injil ini dikenal sebagai Natanael. Ia diperkenalkan sebagai sahabat Filipus. Awalnya ia skeptis tentang kedatangan Mesias yang datang dari Nazaret: “Adalah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”

Kita juga barangkali memiliki sikap seperti Natanael yakni cenderung memberi kategori yang bersifat negatif terhadap orang atau sekelompok orang. Entah karena alasan historis, budaya, asal-usul, suku, agama dan ras. Contoh yang paling nyata sekarang adalah kasus rasisme yang dialami oleh saudara-saudara kita dari Papua. Adakah sesuatu yang baik datang dari Papua? Papua terkenal sebagai salah satu provinsi terkaya di Indonesia. Selain kaya akan emas dan tembaga, juga pelbagai sumber daya alam yang melimpah ruah, dengan flora dan faunanya yang beraneka ragam. 

Pertanyaannya: Apakah kita juga sungguh mencintai saudara-saudari kita ini? Secara warna kulit mereka berbeda. Secara budaya dan cara hidup mereka berbeda. Apakah dengan itu perbedaan-perbedaan mesti dijadikan alasan untuk saling mengejek, membully, dan mengganggap ras mereka sebagai rendah dan kurang manusiawi?

Injil hari ini mengingatkan kita bahwa meskipun kita berbeda asal, budaya dan tempat tinggal kita tetap dicintai sebagai anak-anak Allah. Kita memiliki asal-usul yang sama yakni Allah sendiri. Maka kita harus selalu mengedepankan rasa hormat akan perbedaan yang kita miliki. 

Ketika lahir misalnya, kita tidak pernah memilih untuk berwarna kulit seperti ini atau itu, berbahasa ini atau itu, berbudaya ini atau itu. Kita juga tidak pernah memilih untuk tidak dilahirkan di atau di luar Papua; juga kita tidak memilih untuk tidak menjadi anak Papua yang berkulit hitam dan berambut keriting. Semua yang kita terima, entah sebagai anak Papua atau bukan kita terima dengan cuma-cuma. 

Allah menciptakan setiap kita baik adanya dengan pelbagai perbedaan dan keunikan dalam diri kita. Semoga kita mengapresiasi apa yang Tuhan berikan itu dan selalu terbuka satu sama lain untuk saling melengkapi demi memajukan kemanusiaan kita yang satu dan sama sebagai anak-anak dari Tuhan Pencipta yang satu dan sama. 

Hukum pertama dan utama

Hukum pertama dan utama


Aug 23, 2019

Mat 22:34-40

Di dalam Injil hari ini kita melihat bagaimana Yesus menjawab pertanyaan Ahli Taurat tentang apa yang menjadi hukum paling utama. 

Yesus menjawab dengan sangat gamblang bahwa mengasihi Allah dan sesama adalah hukum pertama dan utama. Semua hukum yang lain bergantung padanya dua hukum ini. 

Pertanyaan untuk kita: Bagaimana kita menghayati hukum cinta kasih? Sebagai orang beriman yang percaya pada kasih Allah kita harus menghayati kasih Allah ini melalui pengorbanan diri sebagai ekspresi iman kita. 

Di dalam Mat 25 tertera dengan jelas daftar karya-karya yang harus kita buat yang dikenal dengan karya-karya kerahiman atau belas kasih. Karya-karya kerahiman ini bersifat jasmani dan rohani dan merupakan satu-kesatuan yang menjadi misi gereja dalam mewartakan Injil Allah. 

Kita dipanggil untuk berpartisipasi aktif dalam misi Allah ini sebagai tanda cinta kepada-Nya dan kepada sesama. 

Semoga Roh Kudus menguatkan dan menganimasi jiwa kita agar kita selalu kuat dan tabah serta gembira dalam karya dan doa-doa kita demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia. 

Selalu siap-sedia dan aktif menanggapi undangan kasih Tuhan

Selalu siap-sedia dan aktif menanggapi undangan kasih Tuhan


Aug 22, 2019

Mat 22: 1-14

Perumpamaan yang kita dengar hari ini lagi-lagi berbicara dalam perumpamaan tentang kerajaan Allah dengan memakai gambaran tentang seorang raja yang membuat pesta pernikahan bagi anaknya. Karakter-karakter yang ditampilkan dalam perumpamaan ini antara tuan raja yang baik hati berhadapan dengan sikap para tamu-undangan yang aneh-aneh dan menyebalkan. 

Aneh dan menyebalkan karena menolak undangan pesta. Padahal yang mengundang adalah orang terhormat, seorang raja. Karena menolak, raja mengeluarkan undangan yang kedua. Kali ini dengan pesan yang lebih spesifik tentang pesta yang sudah siap dan menu makanan yang pasti lezat dan enak. Toh, mereka tetap tidak peduli. Bahkan mereka memperlakukan para hamba itu secara keji dengan menangkap, memukul dan bahkan membunuh mereka. 

Akibatnya tidak main-main. Raja itu menurunkan pasukannya dengan kekuatan penuh dan membumihanguskan kota itu. 

Pesan yang kita bisa petik dari perikop Injil ini adalah bahwa Allah selalu peduli dengan kita manusia namun banyak kali manusia tidak peduli dengan undangan keselamatan Allah. Kasih Allah tidak terbatas. Namun, terjadi juga bahwa keadilan Allah jatuh atas orang yang tidak peduli dan berlaku jahat terhadap kebaikan dan kesetiaan Allah. Sikap dingin, seperti orang tanpa pakaian pesta, juga adalah tanda  ketidakseriusan; apatis dalam pesta. Apa bedanya dengan mereka yang menolak datang!

Pertanyaan untuk kita: Sejauh mana kepedulian, semangat, keaktifan, keterlibatan, perhatian dan kesetiaan kita dalam kehidupan beriman di dalam dan di luar gereja/masyarakat: dalam keluarga, di tempat kerja, dan setiap aktivitas harian kita? Semoga kita selalu tekun dan serius, siap-sedia dan tanggap terhadap sabda kasih dan keselamatan Yesus di dalam seluruh hidup dan karya kita. 

Iri hatikah engkau karena Aku murah hati?

Iri hatikah engkau karena Aku murah hati?


Aug 21, 2019

Mat 20:1-16

Injil hari ini berbicara tentang perihal kerajaan Allah seperti seorang pemilik kebun anggur yang pergi mencari para pekerja untuk bekerja di kebun anggurnya. Yang menarik dari teks Injil ini adalah bahwa si pemilik kebun anggur ini memberi upah sama saja untuk para pekerjanya tanpa peduli lamanya jam kerja para pekerja itu. 

Teks ini merupakan satu ilustrasi menarik tentang sifat Allah yang baik hati dan Allah juga bebas untuk menggunakan kebaikan-Nya itu tanpa intervensi apapun. Allah juga

maha baik dan maha adil dalam memenuhi kebutuhan manusia. 

Dari pihak manusia, rasa keadilan cenderung diukur menurut apa yang dikerjakan dan dihasilkan. Namun ini tidak berlaku bagi Allah. Kebaikan hati Allah melampaui semua ukuran manusia dan Allah juga bebas memakai pemberian-Nya itu untuk memenuhi kebutuhan kita manusia. 

Karena itu rasa syukur adalah sikap yang paling tepat bagi semua pemberian Allah. Syukur atas rahmat hidup yang kita terima secara cuma-cuma. Syukur atas kasih sayang orang tua dan keluarga yang tanpa lelah menjaga dan membesarkan kita. 

Syukur atas kesehatan dan kesuksesan yang kita terima. Syukur atas jasa bapa dan ibu guru yang mendidik kita dengan ilmu yang mereka ajarkan. Syukur atas pekerjaan yang kita tekuni. Sejuta rasa syukur takkan habis terungkap karena Allah itu memang maha pengasih. Allah pada dasarnya adalah kasih (St. Yohanes).

Semoga kita selalu dibebaskan dari iri hati yang berlebihan karena cenderung melihat kesuksesan dan kelebihan yang dimiliki oleh orang lain menurut ukuran yang kita patok sendiri dan bukan menurut rahmat kasih Allah yang bekerja dalam seluruh hidup kita. 

Surga dan orang kaya

Surga dan orang kaya

Aug 20, 2019

Mt 19:23-30

Injil hari ini kembali berbicara tentang kekayaan. Dan nampak tergambar dalam injil ini bahwa surga bukan tempat orang kaya.

Yesus mengumpamakannya dengan unta, binatang berbadan jumbo yang berusaha masuk melalui lubang jarum yang sangat kecil. 

Sesuatu yang tidak mungkin, imposible. 

Beberapa alasan dapat dikemukakan:

Pertama, orang kaya berpikir bahwa ia dapat membeli segala sesuatu, termasuk kebahagiaan; kedua, ia terbelenggu oleh kekayaannya, oleh kuasa dunia; dan ketiga, ia jatuh ke dalam ingat diri yang ekstrem, egoisme.

Kendati demikian, Yesus juga membuka kemungkinan bahwa perihal masuk surga bukan sama sekali tertutup bagi orang kaya. 

Kemungkinan itu adalah berkat kuasa rahmat Allah yang bisa mencairkan, merubah hati manusia yang beku untuk beralih kepada sikap belas kasih kepada sesama. 

Manusia harus solider, berbagi dan terbuka dengan kebutuhan orang yang berkekurangan. 

Sebab cinta kepada dunia, kepada kekayaan dan uang semata, adalah akar dosa, dan pasti membinasakan manusia. 

Semoga ingatan dari Injil hari ini membuat kita sadar agar kita senantiasa bijaksana dalam memakai setiap rahmat yang diberikan Allah secara baik, serta selalu berbelas kasih kepada sesama yang sangat membutuhkan bantuan kita. 

Translate »