Browsed by
Month: March 2022

BAGAIMANA ORANG HARUS BERPUASA

BAGAIMANA ORANG HARUS BERPUASA

Jumat, 4 Maret 2022


Matius 9:14-15

Yesus menjawab pertanyaan murid-murid Yohanes ; mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa seperti yang lain sesuai aturan yang sudah ada?  Jawaban Yesus bukan mengatakan iya atau tidak, tetapi menyatakan bahwa puasa dilakukan bukan karena aturan, tetapi karena tujuan, yaitu untuk semakin dekat dan bersatu dengan Tuhan.  “Jawab Yesus kepada mereka: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa.”(Mat 9:15).

Dengan demikian bagi murid-murid Kristus, berpuasa bertujuan agar mereka semakin dekat dengan-Nya dengan cara merasakan penderitaan-Nya, dan mengikuti jalan salib bersama-Nya. Agar dekat dengan Tuhan Yesus, maka seseorang harus meninggalkan dosa-dosa mereka dan memberi perhatian serta mengarahkan diri kepada-Nya agar bisa melakukan kehendak-Nya. Dalam rangka supaya dekat dengan Tuhan, maka murid-murid Kristus berpuasa. Oleh karena itu berpuasa bukan sekedar menepati aturan yang dibuat manusia tetapi membawa pada pertobatan yaitu semakin percaya dan dekat dengan Kristus, serta terjadi perubahan tingkah laku yang semakin baik.

Perubahan bisa terjadi mulai dari dalam diri manusia. Oleh karena itu, berpuasa diarahkan untuk menata kembali hati dan budi seseorang agar menjadi lebih dekat relasinya dengan Tuhan, dan kemudian mengubah pola hidup yang baik dan kudus sesuai sifat-sifat Allah sendiri. Dengan demikian berpuasa berarti juga menghentikan niat,  kecenderungan dan kebiasaan-kebiasaan buruk/dosa, yang melawan Alllah sendiri. Akhirnya melalui puasa yang dijalani, maka setiap murid Kristus berubah menjadi pribadi yang rendah hati, peduli, murah hati, penuh damai, dan menjadi berkat bagi banyak orang. “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”(Yesaya 58:6-7).

Rm. Didik, CM 

PENYERTAAN KRISTUS BAGI PARA MURID-NYA

PENYERTAAN KRISTUS BAGI PARA MURID-NYA

Kamis, 3 Maret 2022


Lukas 9:22-25

Setiap murid Kristus adalah orang-orang yang dipercaya oleh Allah untuk tugas perutusan yang khusus yaitu menghadirkan Kerajaan Allah. Oleh karena itu mereka dibekali dan disertai oleh kasih karunia Allah, sehingga mereka mampu dengan setia  memanggul salib dan mengikuti Yesus Kristus. “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”(Luk 9:23). 

Panggilan menjadi murid Kristus pertama-tama adalah kehendak Allah sendiri, yang kemudian membutuhkan jawaban dari manusia. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.”(Yoh 15: 16). Jawaban masing-masing orang bisa berbeda. Hal itu tergantung dari keterbukaan seseorang untuk mau menerima, mengimani, dan mengikuti, serta melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah. Seperti halnya tanah, ada tanah yang tandus, berbatu, dan berduri, namun ada tanah yang subur dengan penuh humus. Kondisi yang berbeda-beda menentukan pertumbuhan benih dan buah yang dihasilkan. Orang yang terbuka dan percaya serta setia mengikuti  Kristus adalah orang siap menumbuhkan benih iman dan berbuah dalam karya kasih. “Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.”(Luk 8:15).

Ketika menjalani hidup sebagai murid Kristus, pribadi-pribadi terpilih ini akan berhadapan dengan aneka tantangan, namun mereka tidak berjalan sendiri karena Roh Allah menyertai mereka. dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”(Mat 28:20). Oleh karena itu, agar mereka selalu teguh dalam pelayanan dan perjuangan, maka perlu mereka teguh dalam iman. Secara manusia, semua pengikut Kristus bisa merasakan kekuatiran dan kecemasan, namun dengan iman tersebut semua bisa diangkat dan Allah menopang, sebab Dia menyertai mereka, sehingga ketakutan itu akan berlalu dan mereka teguh setia kembali mewartakan Kerajaan Allah (Kerajaan Damai).”…Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit. Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah.”(Luk 12:6-7).

Rm. Didik, CM 

PERAYAAN RABU ABU

PERAYAAN RABU ABU

Rabu, 2 Maret 2022


Matius 6:1-6.16-18

Panggilan semua orang beriman adalah setia mengikuti Kristus dalam kehidupan sehari-hari dengan berani menyangkal diri dan memanggul salib.  “Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.” (Luk 9:23). Keberanian meyangkal diri dan memanggul salib diperlukan agar seseorang mampu memuliakan Allah dan menjadi pelayan-Nya di dalam diri sesama, sebab Tuhan dan Guru yang mereka ikuti datang bukan untuk dilayani melainnya untuk melayani. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”(Mrk 10:45).

Menyangkal diri dan memanggul salib berarti ; setiap murid Kristus harus menolak segala hal yang bertentangan dengan panggilannnya sebagai pengikut Kristus. Hal-hal yang tidak sejalan dengan panggilan tersebut adalah sikap ingin dihormati dan dipuji, sikap hanya mementingkan diri sendiri, dan sikap sombong. Sikap-sikap tersebut menjadi akar dari dosa dan penghambat seseorang untuk bisa melayani  Tuhan. Oleh karena itu segala hal yang baik ( berdoa, amal kasih dan puasa,dll ) yang dilakukan harus dijauhkan dari sikap-sikap diatas( merasa lebih dari yang lain, supaya dilihat orang dan dipuji). “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga.”(Mat 6:1).

Dengan demikian, sikap yang diperlukan untuk bisa mengikuti Kristus adalah sikap yang sejalan dan seiring dengan sifat-sifat Allah sendiri, yaitu kesucian, belas kasih, kerendahan hati, kemurhan hati, dan kebenaran. Dan untuk mencapai itu semua jalan yang harus ditempuh adalah penyangkalan diri dan memanggul salib (pengorbanan) setiap hari.

Pada hari perayaan Rabu Abu ini saatnya setiap murid Kristus menyadari kembali bahwa keberanian diri untuk menyangkal diri dan memanggul salib merupakan cara yang harus ditempuh untuk membangun sikap tobat dan menyadari kerapuhannya sebagai manusia yang tidak bisa berdiri sendiri dalam kebenaran jika tanpa ditopang oleh Allah sendiri. Dengan demikian, setiap orang dihantar untuk memurnikan hati, meninggalkan dosa, dan menyiapkan diri untuk menerima buah penebusan Kristus, yaitu kebangkitan dan keselamatan kekal.

Rm. Didik, CM 

Translate »