Browsed by
Month: November 2024

Refleksi Harian Injil: Lukas 14:15-24 ( 5 November)

Refleksi Harian Injil: Lukas 14:15-24 ( 5 November)

Fr. Agung Wahyudianto

Refleksi Harian Injil: Lukas 14:15-24 ( 5 November)

Kesibukan kehidupan modern membuat banyak orang tenggelam dalam rutinitas. Namun, masih di Peru ada momen-momen di mana orang-orang meluangkan waktu untuk comida comunitaria—makan bersama di lingkungan atau komunitas. Di sini, bukan hanya makanan yang dibagikan, tetapi juga kebersamaan, kehangatan, dan rasa saling mendukung. Di tengah hiruk pikuk kesibukan pribadi, acara seperti ini mengingatkan kita bahwa ada ruang dalam diri kita yang merindukan sesuatu yang lebih dari sekadar pencapaian material. Ini adalah kesempatan untuk terhubung dengan yang lebih dalam, untuk mengalami kebersamaan sejati di tengah kehidupan yang sering kali terasa terpisah.

Dalam Injil hari ini, Yesus menceritakan perumpamaan tentang seorang tuan rumah yang mengundang banyak orang ke pesta besar. Sayangnya, banyak yang menolak datang karena sibuk dengan urusan mereka: ladang yang baru dibeli, lembu yang harus dicoba, atau keluarga yang baru dibangun. Sang tuan rumah, yang kecewa namun penuh kasih, mengundang mereka yang tersisih dan terlupakan, yang akhirnya memenuhi ruang perjamuan. Ini bukan sekadar kisah tentang undangan untuk menghadiri sebuah pesta, melainkan panggilan bagi kita untuk terbuka dan hadir dalam momen-momen yang menghubungkan kita dengan Tuhan.

Undangan Tuhan bukanlah semata-mata perintah untuk datang atau menjalankan aturan agama, melainkan sebuah ajakan untuk mengalami perjumpaan yang lebih dalam dengan-Nya—di dalam hati kita. Sama seperti comida comunitaria yang membawa orang keluar dari rutinitas dan keterpisahan, undangan Tuhan adalah kesempatan untuk melampaui keterikatan duniawi dan menyadari ruang di dalam diri kita yang selalu terhubung dengan kehadiran-Nya. Dalam kesibukan dunia modern, kita sering kali lupa bahwa di tengah semua pencapaian dan kegiatan, ada bagian dari kita yang haus akan kehadiran ini, yang tidak dapat dipuaskan oleh apa pun selain kesadaran akan kasih Tuhan.

Para tamu dalam perumpamaan ini mewakili sisi diri kita yang sering kali tertarik pada hal-hal duniawi dan tidak menyadari bahwa undangan Tuhan adalah untuk sesuatu yang lebih mendalam. Ketika kita menolak undangan ini, kita bukan hanya menolak kesempatan untuk memenuhi kewajiban spiritual, tetapi kita menutup diri dari pengalaman yang memperkaya jiwa—pengalaman di mana kita dapat menemukan kehadiran Tuhan yang selalu ada di dalam hati kita. Seperti orang-orang yang sibuk dengan aktivitas mereka sendiri, kita pun sering kehilangan kesempatan untuk merasakan kedekatan Tuhan yang hadir di dalam setiap momen.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa undangan Tuhan adalah untuk menjadi “hadir” sepenuhnya, untuk membuka diri kita terhadap realitas yang melampaui kepentingan duniawi. Di tengah kesibukan sehari-hari, kita diundang untuk berhenti sejenak, untuk mengarahkan perhatian kita ke dalam, dan menyadari bahwa Tuhan tidak jauh, tetapi sangat dekat—bahkan lebih dekat dari pikiran dan perasaan kita sendiri. Undangan ini mengajak kita bukan hanya untuk datang secara fisik, tetapi juga untuk hadir secara utuh, dengan hati yang terbuka dan penuh kesadaran.

Pada akhirnya, perjamuan Tuhan adalah simbol dari persatuan dan kehadiran yang bisa kita alami setiap saat ketika kita meluangkan waktu untuk hening dan terbuka. Kita diajak untuk tidak lagi mencari Tuhan di luar diri kita, tetapi menemukannya dalam ruang hati yang penuh kasih dan damai. Seperti comida comunitaria yang mendekatkan komunitas dan memperkuat hubungan batin, perjamuan Tuhan adalah ajakan untuk masuk lebih dalam ke dalam diri, di mana kita selalu dapat menemukan-Nya, dan di mana kita diingatkan bahwa hidup ini, dengan segala keragamannya, adalah bagian dari pesta yang penuh dengan kasih-Nya.

Sepikir dan Seperasaan dengan Kristus

Sepikir dan Seperasaan dengan Kristus

RP Hugo Yakobus Susdiyanto O.Carm

Senin, 4 November 2024

Pw St. Karolus Boromeus

Flp 2:1-4; Luk 14:12-14

Hari ini Gereja memperingati St. Karolus Boromeus. Sejak kecil Karolus sudah bercita-cita untuk menjadi seorang biarawan. Karena itu pada usia yang sangat muda ia sudah masuk seminari. Awalnya Karolus terkesan sebagai murid yang lamban karena ia tidak dapat berbicara dengan lancar, tetapi berkat ketekunannya, ia memperoleh kemajuan yang menggembirakan. Kelak sebagai Kardinal Karolus menjadi suri teladan bagi umatnya. Ia menyumbangkan sejumlah besar uang kepada kaum miskin. Ia sendiri hanya memiliki sehelai jubah lusuh berwarna hitam. Tetapi, di hadapan umum, ia berpakaian seperti layaknya seorang kardinal. Dalam melaksanakan tugas pengembalaannya yang penuh kesibukan, Kardinal Karolus  senantiasa cemas kalau-kalau ia semakin jauh dari Tuhan karena banyaknya godaan di sekelilingnya. Oleh sebab itulah, setiap memiliki waktu luang ia selalu berlatih menyangkal diri terhadap segala kesenangan dan senantiasa berusaha untuk rendah hati serta sabar.

Apa yang dilakukan, dihidupi St. Karolus berlandaskan sabda Allah, “janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga” [Flp 2:4]. Orang lain yang perlu mendapatkan perhatian adalah mereka yang tidak memiliki kekuatan [kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel]. Pelayanan ini merupakan gerak inkarnatoris, yakni Ia yang adalah Allah berkenan merendahkan diri-Nya, turun menjadi manusia seperti kita. Bahkan Ia mengambil rupa hamba, menderita sengsara, dan disalibkan. Tetapi, Allah Bapa-Nya menerima tindakan merendahkan diri serendah-rendahnya itu dengan membangkitkan-Nya dari mati dan memberi-Nya kemuliaan. Semangat pengosong diri Yesus ini seharusnya menginspirasi, melandasi siapapan dalam hidup dan kehidupan di dunia ini. Semangat pengosongan diri dalam injil tampak dalam ungkapan orang Semit “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya” [Luk 14:12]. Pesan inti yang ingin disampaikan adalah kerjaan Allah untuk semua orang [universal], dan keramahan kita hendaknya merangkul semua orang,  terutama mereka yang kurang mendapatkan perhatian dari orang-orang yang memiliki motif kepentingan diri sendiri. Mari kita belajar untuk melaksanakan pekerjaan baik kita dengan bebas, tanpa mempedulikan keuntungan. Biarlah  pembalasan datang dari Allah, seperti Yesus mengosongkon diri bagi keselamatan orang lain, tanpa memperhitungkan kerugian diri sendiri. Beranikah kita? Semoga!

Translate »