Berbuat baik atau jahat pilihan kita?
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Yusuf Dimas Caesario O.Carm
Penjual Bakso yang Bijaksana
Suatu hari, seorang penjual bakso terkenal di desa memutuskan untuk libur setiap Minggu demi waktu istirahat dan pergi ke gereja. Namun, pada hari Minggu itu juga, seorang anak kecil mengetuk pintunya sambil menangis, “Pak, saya lapar. Saya belum makan seharian.” Dengan penuh iba, penjual itu menyalakan kompor, memasak semangkuk bakso, dan memberikannya kepada si anak. Sambil tersenyum, dia berkata, “Melayani Tuhan itu bukan hanya soal tutup warung di hari Minggu, tapi juga berbagi dengan yang lapar.”
Kisah sederhana ini mirip dengan apa yang Yesus ajarkan dalam Injil hari ini. Ketika murid-murid-Nya memetik gandum pada hari Sabat, orang Farisi mengkritik mereka karena dianggap melanggar aturan. Namun, Yesus dengan tegas berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.”
Yesus mengingatkan bahwa hukum agama diciptakan untuk mempermudah manusia mendekat kepada Allah, bukan untuk membelenggu. Tuhan tidak ingin kita sekadar mematuhi aturan tanpa memahami tujuan utamanya: kasih dan belas kasih.
Menemukan Kasih dalam Hukum Tuhan
Kita sering terjebak dalam formalitas aturan. Misalnya, kita merasa sudah cukup menjadi orang Katolik yang baik karena mengikuti misa mingguan atau mendoakan Rosario, tetapi apakah kita juga peka terhadap kebutuhan sesama? Jangan sampai hukum agama yang harusnya membawa kedamaian justru menjadi alat untuk menghakimi atau menekan orang lain.
Hari Sabat adalah waktu istimewa yang Tuhan berikan agar kita dapat beristirahat dan merenungkan kasih-Nya. Namun, lebih dari itu, Sabat juga menjadi kesempatan untuk membawa kasih kepada sesama. Yesus menunjukkan bahwa hukum terbesar adalah kasih kepada Allah dan sesama. Aturan dan ritual keagamaan hanya menjadi sarana untuk mewujudkan kasih itu dalam hidup kita sehari-hari.
Coba tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya menggunakan waktu saya untuk melayani Tuhan dengan penuh cinta? Atau justru saya terlalu sibuk dengan formalitas agama hingga melupakan esensinya? Jangan sampai iman kita hanya menjadi rutinitas tanpa makna, melainkan biarlah itu menjadi kekuatan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan sesama.
Pertanyaan Reflektif
Doa Penutup
Ya Allah yang Maharahim, kami bersyukur atas hukum-Mu yang penuh cinta. Bantulah kami untuk memahami bahwa segala aturan yang Engkau berikan bertujuan membawa kami lebih dekat kepada-Mu dan sesama. Berilah kami hati yang lembut, agar kami mampu melampaui formalitas hukum demi mewujudkan kasih-Mu dalam tindakan nyata. Semoga hidup kami menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Mu. Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Romo Ignatius Joko Purnomo O.Carm
Markus 2:18-22
Saudara-saudari terkasih dalam Yesus Kristus.
Puasa bukanlah sesuatu yang asing bagi kita umat beriman. Dalam Gereja Katolik, puasa dipahami dan maknai sebagai bentuk pengendalian diri dan penyangkalan diri, kerendahan hati, dan solidaritas dengan penderitaan Kristus. Puasa membantu umat beriman untuk: mendekatkan diri kepada Allah, mengajarkan disiplin rohani untuk membantu umat mengenali kebutuhan akan rahmat Allah, serta berbelarasa dengan orang yang menderita kelaparan melalui tindakan amal kasih. Puasa dimaknai sebagai tanda pertobatan, wujud penyesalan atas dosa, dan usaha untuk hidup lebih sesuai dengan kehendak Allah.
Dengan demikian, Yesus tidak menghapuskan tradisi seperti puasa, tetapi Ia memberikan makna baru. Puasa tidak lagi hanya menjadi rutinitas – untuk memenuhi kewajiban keagamaan, tetapi menjadi ungkapan cinta dan kerinduan kita untuk bersatu dengan Tuhan. Dengan kehadiran-Nya, kita diajak untuk melihat bahwa puasa dan disiplin rohani lainnya bukan sekadar kewajiban, melainkan sarana untuk memperbarui hubungan kita dengan Allah.
Saudara-saudari terkasih. Seringkali kita ingin menerima kasih karunia Allah, tetapi hati kita tetap terjebak dalam pola lama: prasangka, kebiasaan buruk, atau rutinitas iman yang tidak hidup. Yesus mengingatkan kita semua bahwa jika kita ingin hidup dalam kebaruan kasih Allah, kita harus rela berubah. Kita perlu membuang “kantong anggur lama” dalam hidup kita, seperti sikap egois, iri hati, atau penghakiman terhadap orang lain, agar hidup kita sungguh menjadi tempat bagi anggur baru yang berlimpah.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm