Browsed by
Month: April 2025

RENUNGAN 17 APRIL 2025

RENUNGAN 17 APRIL 2025

Kel 12:1-8.11-14; Yoh 13:1-15 

Petang hari ini kita merayakan Ibadah Kamis Putih. Peringatan Perjamuan Tuhan Yesus bersama dengan murid-murid-Nya.

Yesus mengubah Paskah Yahudi menjadi Paskah Perjanjian Baru. Yesus mengubah Paskah Yahudi menjadi perayaan Ekaristi. Setelah membasuh kaki para rasul. Yesus memerintahkan mereka untuk melakukan pelayanan yang rendah hati bagi satu sama lain. Yesus mengakhiri perjamuan Seder dengan domba Paskah panggang dengan memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri kepada para rasul dalam bentuk roti dan anggur sebagai makanan dan minuman rohani.

Pada perjamuan malam bersama dengan para murid-Nya Tuhan Yesus mendirikan dua Sakramen yaitu Sakramen Imamat dan Sakramen Ekaristi. Hari ini lahir kedua Sakramen tersebut. Patut kita syukuri bersama cintakasih Yesus yang memberikan diri-Nya, membagikan Tubuh-Nya agar selalu hadir secara nyata dan dikenang oleh umat beriman. Imamat pelayanan untuk: menghadirkan terus menerus Ekaristi, untuk menyampaikan pengampunan Allah kepada orang berdosa yang bertobat, dan untuk mewartakan Kabar Baik keselamatan. Kita bersyukur dengan kehadiran para Imam yang mempersembahkan Sakramen Ekaristi dan sakramen lainnya bagi kita agar semakin dekat dan akrab Bersatu dengan Tuhan Yesus.

Tuhan Yesus pada malam ini, mengajarkan cara mengasihi sebagai sahabat yang melayani tanpa pamrih. Sebuah peringatan pewartaan perintah baru kasih oleh Yesus: “Kasihilah satu sama lain, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 13:34). Sahabat yang selalu ada bagi sahabat lainnya. Setiap perbuatan dan kata-kata di dalam Perjamuan merujuk pada diri-Nya sendiri pada saat itu bersama mereka, dan selanjutnya dihadirkan kembali dan dikenangkan di antara para murid. Kasih tanpa ciuman pengkhianatan. Kasih yang tulus berjalan bersama dalam berbagai situasi.

Pada hari Kamis Putih ini, marilah kita berdoa bagi para imam yang telah membaptis Bapak, Ibu, Saudara Saudari sehingga menjadikan anak-anak Allah dan putra putri gereja. Kita berdoa bagi para imam yang telah membantu kita berdamai dengan Allah dan mengampuni dosa kita melalui Sakramen Tobat/ Rekonsiliasi.

Para imam yang membuat kita mengalami persatuan kasih yang mesra sejak pertama kali menerima Komuni Pertama hingga saat ini. Ketika kita sakit membutuhkan doa peneguhan agar sembuh dan menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit, dan kita berdoa untuk mereka yang telah memberikan bagi kita.

Berdoa bagi Imam yang telah mengantar Bapak, Ibu, Saudara-Saudari menerimakan Sakramen Perkawinan dalam Gereja Katolik, untuk berjalan bersama sebagai suami istri yang setia sampai akhir. Berdoa bagi para Uskup yang telah memberikan Sakramen Krisma  yang membuat kita diperteguh dengan anugerah Roh Kudus dan bertumbuh dalam iman yang dewasa. Serta berdoa bagi para Bapa Uskup yang telah mentahbiskan para imam agar dapat melayani sakramen bagi umat Allah.

Pada Perjamuan Kamis Putih ini kita diingatkan kembali untuk setia tidak meninggalkan sakramen-sakramen yang telah kita terima dalam Gereja Katolik. Setia sampai akhir hidup. Kita juga diajak untuk melayani dengan totalitas dan loyalitas seperti Tuhan telah melayani para murid-Nya. Semoga setiap orang merasakan pelayanan kita sebagai perpanjangan tangan Tuhan di manapun berada. Selamat mengadakan perjamuan bersama dengan keluarga dan saling melayani. Tuhan memberkati perjamuan di dalam keluarga. (rm. Medyanto, O.Carm)

Holy Week Reflection: Dimuliakan dalam Keheningan

Holy Week Reflection: Dimuliakan dalam Keheningan

Rm. Agung Wahyudianto O.Carm


(Refleksi berdasarkan Yohanes 13:21–33, 36–38)

Di banyak komunitas tradisional Andes di Peru, terdapat pemahaman mendalam bahwa segala sesuatu saling terkait—gunung, langit, manusia, dan bahkan penderitaan. Dalam filsafat hidup mereka, tidak ada kejadian yang berdiri sendiri, dan bahkan apa yang tampak sebagai kehancuran bisa menjadi bagian dari proses penyucian atau kelahiran kembali. Ada keyakinan bahwa ketika sesuatu “runtuh,” itu bukan akhir, melainkan pemulihan harmoni yang lebih dalam dan tersembunyi.

Dalam Injil hari ini, Yesus baru saja mengungkapkan bahwa seorang dari antara murid-Nya akan mengkhianati Dia. Di tengah peristiwa yang tampaknya gelap dan memilukan itu, Ia berkata, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan, dan Allah dimuliakan di dalam Dia.” Ini bukan kemuliaan yang gemerlap atau penuh sorak-sorai. Ini adalah kemuliaan yang muncul di tengah pengkhianatan, dalam keheningan malam, dalam luka yang sedang terbuka.

Yesus tidak memisahkan penderitaan dari kemuliaan. Ia tidak memisahkan kegelapan dari cahaya. Dalam dirinya, semuanya hadir sebagai satu kesatuan yang utuh dan tak terpisahkan. Dan karena itulah, Allah dimuliakan di dalam Dia, dan Ia dimuliakan dalam Allah. Ini bukan tentang satu momen istimewa atau tindakan heroik, melainkan tentang keutuhan kehadiran—tetap tinggal, tetap mengasihi, tetap percaya, bahkan ketika semua tampak runtuh.

Seperti filosofi hidup masyarakat Andes yang melihat waktu sebagai siklus, bukan garis lurus, Yesus menunjukkan bahwa kemuliaan tidak datang “nanti setelah semuanya baik kembali,” melainkan hadir sekarang, di tengah peristiwa yang sedang berlangsung. “Ia akan dimuliakan segera,” kata-Nya. Tidak ada penundaan, karena apa yang sejati tidak dibatasi oleh urutan waktu atau penilaian manusia.

Dalam Pekan Suci ini, kita diundang untuk merenungkan: Di mana kita sedang mengalami luka atau kehilangan? Di bagian hidup mana kita merasa segalanya mulai runtuh? Mungkin, justru di sanalah tempat di mana kemuliaan sedang muncul, diam-diam, tanpa sorotan. Bukan karena penderitaan itu indah, tetapi karena di dalamnya, ada kemungkinan untuk tetap hadir dalam kasih, untuk tetap membuka diri terhadap karya Allah yang sedang berjalan.

Yesus tidak melawan malam itu—Ia tinggal di dalamnya, sepenuhnya. Dan dalam ketidakterpisahan antara Allah dan Dia, kemuliaan tidak perlu dicari. Ia hanya perlu disadari. Dan saat kita ikut masuk ke dalam keheningan itu, kita pun dibentuk menjadi bagian dari kemuliaan yang sama—yang tidak datang dari kemenangan di luar, tetapi dari kesatuan yang tak tergoyahkan di dalam.

Renungan Hari Selasa

Renungan Hari Selasa

Romo Endi


(Yoh. 13:21–33; 36–38).

Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita merenungkan kasih yang tanpa batas dan kenyataan manusia menanggapinya. Injil mengisahkan kepada kita dimana Yesus duduk bersama para murid-Nya, dalam suasana yang tenang tapi berat. Hati-Nya sedang bergolak. Dia tahu bahwa salah satu dari mereka akan mengkhianati-Nya. Dan itu bukan orang asing, tapi seseorang yang selama ini berjalan bersama-Nya, makan bersama-Nya, bahkan dilayani-Nya.

Bayangkan bagaimana rasanya disakiti oleh orang yang begitu dekat. Tapi Yesus tidak menjauh. Ia tetap membasuh kaki Yudas. Ia tetap memberinya roti. Ia tetap mengasihi.

Apa yang Yesus lakukan saat itu bukan hanya menunjukkan betapa besar kasih-Nya, tapi juga mengajak kita untuk melihat diri sendiri. Karena dalam hidup ini, kita pun pernah atau bahkan sering menjadi seperti Yudas, yakni memilih yang salah, demi kenyamanan, demi keuntungan, atau karena takut.

Lalu ada Petrus. Yang begitu yakin akan tetap setia, tapi kemudian menyangkal tiga kali bahkan sebelum ayam berkokok. Kita pun bisa seperti dia. Begitu mudah berkata: “Tuhan, aku mengasihimu,” tapi ketika tekanan datang, saat takut, kita mundur. Kita lupa janji kita.

Yang menarik adalah, Yesus tahu semua itu. Dia tahu Yudas akan pergi. Dia tahu Petrus akan menyangkal. Tapi Dia tetap mengasihi mereka. Tetap setia sampai akhir. Bahkan saat malam menjadi begitu gelap, kasih-Nya tetap menyala. Inilah kasih yang tanpa batas, bahkan mengasihi hingga terluka.

“Malam pun tiba,” kata penginjil Yohanes. Tentu, yang dimaksud bukan hanya malam secara waktu, tapi juga malam dalam hati. Malam pengkhianatan. Malam ketakutan. Malam di mana manusia lebih memilih gelap daripada terang.

Kita pun punya malam-malam seperti itu. Saat hidup terasa berat. Saat relasi rusak. Saat kita merasa sendirian atau dikhianati. Tapi kabar baiknya: Tuhan tidak pergi. Dia tetap hadir. Dia tahu kerapuhan kita, dan tetap mengasihi kita.

Pertanyaan dari Petrus, “Tuhan, ke mana Engkau pergi?” adalah pertanyaan banyak dari kita. Dan jawaban Yesus adalah janji: “Sekarang kamu belum bisa ikut Aku. Tapi nanti, kamu akan ikut.” Artinya: kamu tidak sendirian. Aku tahu jalan yang kamu tempuh. Aku lebih dulu ke sana. Dan kamu akan menyusul. Akan ada jalan pulang.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus tidak menunggu kita menjadi sempurna baru dikasihi. Ia mengasihi dulu, dan mengajak kita kembali. Malam boleh datang. Tapi kasih-Nya tidak pernah hilang.

Mari kita kembali pada-Nya. Diam sejenak.
Dan izinkan terang kasih-Nya perlahan menyinari sisi gelap dalam hati kita. Dengan demikian, kita sungguh-sungguh hidup di dalam terang kasih-Nya dan mampu memancarkan terang itu pada orang/orang yang Tuhan temptkan dalam hidup kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »