Tinggal selalu dalam kasihNya
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
RENUNGAN INJIL – Yohanes 15:1–8
“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya.”
Rm Yusuf Dimas Caesario
Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menggambarkan relasi kita dengan-Nya melalui citra pokok anggur dan ranting. Sebuah gambaran yang sangat mendalam: Yesus adalah pokok anggur, kita adalah ranting-rantingnya, dan Allah Bapa adalah sang pengelola kebun. Relasi ini bukan hanya indah secara simbolis, tetapi juga sangat konkret dalam kehidupan rohani kita.
Yesus menegaskan, “Tinggallah di dalam Aku,” sebab di luar Dia, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Ini bukan sekadar pernyataan teologis, melainkan realitas hidup sehari-hari. Berapa banyak dari kita yang pernah mencoba mengandalkan diri sendiri, berjalan tanpa doa, tanpa firman, dan akhirnya merasa kering, kosong, kehilangan arah? Seperti ranting yang lepas dari pokok anggur, kita cepat sekali kehilangan daya hidup bila tidak terhubung dengan Sang Sumber.
Bayangkan sebuah handphone canggih, lengkap dengan semua fitur. Tapi jika tidak terhubung dengan sumber daya—alias charger—maka secanggih apa pun, ia hanya menjadi benda mati. Demikian juga kita. Tanpa keterhubungan dengan Kristus, kita bisa sibuk dalam banyak kegiatan, tetapi tidak menghasilkan buah rohani yang bertahan.
Dalam bagian lain, Yesus juga berkata bahwa ranting yang tidak berbuah akan dipotong. Sekilas terdengar keras. Namun justru di sanalah kasih Allah bekerja: pemangkasan itu adalah bagian dari pemurnian. Ada saat dalam hidup kita ketika Tuhan memangkas hal-hal yang tidak sehat: kesombongan, keterikatan yang salah, rutinitas kosong. Tidak nyaman, tetapi dari sanalah pertumbuhan baru bisa muncul.
Refleksi untuk kita:
Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah pokok anggur yang sejati. Aku ingin tinggal di dalam Engkau, hidup dari kekuatan-Mu, dan menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Mu. Ajarilah aku untuk menerima proses pemurnian dengan rendah hati, dan jadikanlah hidupku saluran kasih dan damai bagi sesama. Amin.
Rm Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 14:27-31a
Mungkin kita sering mendengar orang mengatakan bahwa dunia saat ini tidak sedang baik-baik saja. Di sana-sini timbul kekacauan, entah itu perang, berbagai demonstrasi, krisis ekonomi, dan lain sebagainya; yang sering membuat hidup ini tidak menentuk. Hal ini tentu membuat banyak orang gelisah dan takut menatap masa depannya.
Sering kali, kita hidup dalam ketakutan — takut akan masa depan, akan kegagalan, akan kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Tetapi Yesus tidak ingin kita hidup dalam ketakutan dan kegelisahan. Yesus berkata: “Janganlah gelisah dan gentar hatimu.” Ini adalah panggilan untuk mempercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Allah, seperti Kristus sendiri yang menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa. St. Yohanes Paulus II dalam masa kepemimpinannya yang panjang selalu mengingatkan kita: “Jangan takut! Bukalah pintu lebar-lebar bagi Kristus.” Ketika kita membuka hati bagi Kristus, damai-Nya masuk ke dalam batin kita dan menggantikan kegelisahan dengan pengharapan.
Apakah kita sudah menjadi pembawa damai di sekitar kita? Ataukah kita masih ikut menyebarkan kepanikan, kebencian, atau prasangka?
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm