Browsed by
Month: May 2025

Kamis, 08 Mei 2025

Kamis, 08 Mei 2025

Injil Yohanes 6:44-51

“Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku.” (Yoh 6:44)

          Satu ungkapan yang membawa setiap umat beriman menyadari arti penting dari keselamatan. Inisiatif keselamatan berasal dan berawal dari Allah sendiri. Campur tangan Allah begitu besar bagi umat beriman yang sungguh merindukan keselamatan iman dalam hidupnya. Kasih karunia Allah menjadi bentuk nyata bahwa rahmat pengampunan, belas kasih, kerahiman jauh lebih besar daripada segala macam usaha manusia mengupayakan keselamatan itu sendiri. Mengupayakan keselamatan merupakan bagian penting dari tanggapan iman untuk terus belajar mengenal siapa melalui Yesus dalam seluruh kisah hidupnya. Namun, pada akhirnya misteri keselamatan tetaplah menjadi karunia luar biasa bagi setiap orang beriman karena cara Allah dan waktu Allah tetap unik dan personal, tak seorang pun bisa menebak dan mengaturnya. Apa yang kita pandang baik dan benar bisa saja dalam rangkaian rencana Allah sebaliknya.

          Hari ini Yesus memberikan pernyataan yang lebih tegas lagi yaitu “Akulah Roti Kehidupan” (ayat 48). Yesus adalah santapan rohani yang memberikan nutrisi iman, harapan, dan kasih tak berkesudahan. Bagaimana nutrisi ini dialirkan dalam diri manusia? Yesus sungguh dalam Doa, Sabda serta Ekaristi Kudus yang dirayakan sebagai ungkapan keintiman relasi antara Allah dan manusia yang mengimaninya. Lebih dari itu, relasi yang semakin mendalam mengarahkan setiap pribadi semakin mengenal maksud dan makna sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Kita menyebutnya sebagai misteri Paskah Kristus. Maka dari itu, merenungkan pernyataan Yesus sebagai Roti Hidup tidak dapat kita lepaskan untuk menimba inspirasi dan kekuatan rohani dari peristiwa sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus sendiri. Bentuk pemberian diri secara nyata demi menanggung dosa para pendosa.

          Apakah saya dan Anda yang mengaku pengikut dan murid-murid Tuhan Yesus ini sudah memperlakukan “Roti Hidup” dengan bijaksana? Inilah saatnya merenung dan berefleksi bersama. Bagaimana kita menempatkan dan memperlakukan hidup doa baik pribadi dan bersama, Sabda Allah serta Ekaristi Kudus dalam keseharian hidup kita ini? Cara kita memperlakukan kebiasaan olah rohani yang sederhana ini tentunya menjadi gambaran konkret bagaimana kita memperlakukan Yesus sebagai makanan rohani yang memberikan kehidupan kekal. Hidup kekal bukan saja dimaknai sebagai hidup setelah peziarahan di dunia ini berakhir, melainkan hidup kekal yang dimaknai sebagai peziarahan di dunia yang selalu mengandalkan Allah dan dalam penyertaan Allah. Marilah saudara dan saudariku yang dikasihi dan mengasihi Kristus, Yesus Kristus tidak hanya membuat kita kenyang secara rohani, tetapi membawa kita untuk berkarya dan bersaksi akan kebenaran iman kepada semakin banyak orang setelah kita dikenyangkan oleh berkat dan rahmat Allah sendiri.

(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)

RENUNGAN: TGL. 6 MEI 2025

RENUNGAN: TGL. 6 MEI 2025

Rm Ignasius Joko Purnomo

        Yohanes 6:30-35

  1. Saudara-saudari terkasih. Kita tahu bahwa makanan merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, karena makanan menyediakan energi dan zat gizi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi vital seperti bernapas, bergerak, berpikir, dan menjaga sistem imun. Tanpa makanan, tubuh tidak dapat bertahan hidup dalam waktu cukup lama atau tidak dapat berkembang secara optimal. Makanan bukan hanya soal mengisi perut, tetapi juga soal menjaga hidup dan kesehatan secara menyeluruh.
  • Dalam Injil hari ini dikisahkan bahwa ketika Yesus berada di rumah ibadat di Kapernaum, orang banyak meminta tanda dari Yesus agar mereka percaya kepada-Nya. Mereka membandingkan Yesus dengan Musa yang telah memberi nenek moyang mereka manna di padang gurun. Terhadap permintaan dan pernyataan  mereka itu, Yesus menjelaskan bahwa bukan Musa yang memberikan roti dari surga, melainkan Bapa di surga yang memberikan roti sejati yang memberi hidup kepada dunia. Rupanya pernyataan Yesus tersebut membuat mereka penasaran, sehingga mereka berkata: “Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa.” Yesus kemudian menyatakan bahwa Dialah roti hidup: “Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Dengan pernyataan-Nya ini Yesus mengundang mereka untuk melihat lebih dalam, untuk memahami bahwa hanya dalam diri-Nya ada kepenuhan hidup. Yesus-lah sumber kehidupan sejati. Manna di padang gurun memang memberi makan tubuh, tetapi Roti Hidup, yaitu Yesus sendiri, memberi kehidupan kekal.
  • Saudara-saudari terkasih. Seperti orang-orang pada zaman Yesus yang larut dalam pencarian dan pemenuhan kebutuhan jasmani, mungkin demikian juga kita. Tidak jarang tanpa kita sadari kita menghabiskan seluruh waktu hidup kita – pikiran dan tenaga kita – untuk usaha pemenuhan kebutuhan jasmani kita. Kita terjebak hanya berfokus pada kebutuhan jasmani; lupa bahwa yang paling penting adalah kebutuhan rohani kita. Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sungguh mengandalkan Yesus sebagai sumber kehidupan kita? Apakah kita mendekat kepada-Nya dalam doa, dalam sabda-Nya, dan terutama dalam Ekaristi?
  • Dalam setiap Perayaan Ekaristi, kita menerima Yesus sebagai Roti Hidup. Ia memberikan diri-Nya bagi kita dalam Sakramen Mahakudus agar kita dikuatkan, dihidupkan, dan disatukan dengan-Nya. Oleh karena itu, marilah kita memperbaharui iman kita kepada Yesus, percaya bahwa hanya dalam Dia kita memperoleh kepenuhan hidup dan kebahagiaan sejati. Seperti manna yang menopang bangsa Israel di padang gurun, Yesus menjadi kekuatan kita dalam perjalanan menuju tanah air surgawi.

“Tuhan Yesus, Engkaulah Roti Hidup yang turun dari surga. Penuhilah kami dengan rahmat-Mu, agar kami selalu bersatu dengan-Mu dalam Ekaristi Kudus. Amin.”

============================================================

Translate »