Barangsiapa menerima banyak, dituntut banyak daripadanya
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
MAT 13 : 10-17
Tuhan Yesus hadir memberitakan Kerajaan Sorga. Kata-kataNya tidak selalu mudah dimengerti oleh para pendengar di jamannya. Ada orang yang bisa menangkap maksud Yesus. Namun ada pula yang tidak bisa menangkap perkataan Yesus.
Sama halnya dengan kita di jaman ini. Kita kerapkali tidak bisa menangkap pesan dan memahami kata-kata dalam Kitab Suci. Ada teks-teks yang sulit dipahami. Di sisi lain, ada teks-teks yang mungkin kita bisa cepat memahaminya. Di Tengah situasi pergumulan semacam itulah, kita membutuhkan rahmat Allah agar bisa memahamniya.
Nilai-nilai pengajaran Yesus sangat luhur dan agung. Sebuah inspirasi yang tak lekang oleh zaman, dan membantu kita memahami situasi zaman dari sudut pandang Allah yang hidup. Nilai-nilai itulah yang kita cari, temukan, pahami dan akhirnya kita hidupi dalam keseharian.
Dari pihak kita sebagai murid Yesus, sangat diharapkan memiliki sikap terbuka dan rendah hati tidak berhenti membaca pesan Yesus sesuai konteks jaman saat ini. Yesus telah memberikan kemampuan setiap murid-Nya untuk mengerti dan memahami pesan-Nya. Yesus berkata, “Kalian diberi karunia mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi orang-orang lain tidak. Karena barangsiapa mempunyai, akan diberi lagi; tetapi barangsiapa tidak mempunyai, maka apa pun yang ada padanya akan diambil juga.” Para pengikut Kristus sebenarnya sudah diberi kemudahan untuk memahami perkataan Yesus. Inilah nilai lebihnya dari para murid Yesus daripada mereka yang bukan murid-Nya. Tidak mengherankan banyak bukan pengikut Yesus keliru atau salah dalam memahami kata-kata dan tindakan Yesus.
Kita telah diberi rahmat, karunia untuk mengerti ajaran Yesus. Jangan sampai rahmat dan karunia itu hilang karena tidak kita gunakan dengan baik dalam memahami teks-teks ajaran Yesus. Bersyukur atas rahmat tersebut. Kita diberi kemampuan lebih dan tidak mudah keliru menangkap pesan Yesus.
Membaca teks, masuk dalam keheningan, merenungkan, mengulangi kembali membaca teks. Itulah salah satu jalan kita mengenal, mengerti dan memahami ajaran dan pesan Yesus. Semoga Roh Kudus selalu menerangi dan membantu kita memahami ajaran Yesus. Tuhan memberkati keluarga. (rm. Medyanto, O.Carm)
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Agung Wahyudianto O.Carm
Yohanes 15:1–8
Pada tanggal 24 Juli 1911, dunia luar untuk pertama kalinya mendengar nama Machu Picchu, sebuah kota peninggalan Inka yang megah dan tersembunyi di antara kabut pegunungan Cusco. Sejak saat itu, Machu Picchu menjadi simbol keajaiban budaya dan spiritualitas Andes. Namun bagi penduduk lokal, tempat itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tetap hidup dalam ingatan kolektif, dalam langkah-langkah para petani dan peziarah yang melintasi jalur gunung setiap hari. Yang ditemukan kembali bukan sekadar reruntuhan, tetapi sebuah kehadiran yang telah lama ada, namun belum diakui.
Dalam Injil hari ini, Yesus berkata: “Akulah pokok anggur yang benar… Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Ini bukan ajakan untuk mencari sesuatu yang jauh, tetapi untuk menyadari kembali bahwa kita sudah terhubung dengan sumber hidup itu. Persatuan antara ranting dan pokok bukan sesuatu yang perlu diupayakan secara paksa—ia sudah ada. Yang sering hilang bukan ikatan itu, tetapi kesadaran kita akan kehadirannya.
Kita seperti orang-orang yang berdiri di kaki Machu Picchu, tetapi tertutup kabut. Kita hidup di dekat sumber, namun sibuk mencari di tempat lain. Kita ingin berbuah, namun lupa untuk tinggal. Padahal ranting tidak menghasilkan buah dengan usaha keras, melainkan dengan tetap menyatu dengan pokoknya. Hidup yang berbuah adalah hidup yang hadir, yang sadar, yang terbuka terhadap aliran kasih yang tak pernah berhenti dari Sang Pokok Hidup.
Buah bukan hasil dari ambisi rohani. Ia muncul dari hidup yang utuh, dari seseorang yang tidak terbagi antara dunia dan doa, antara relasi dan ibadah, antara batin dan tindakan. Seperti Machu Picchu yang berdiri tenang di antara kabut selama ratusan tahun, hidup yang terhubung dengan pokok tidak tergesa membuktikan apa-apa—ia cukup ada, cukup hadir, dan dari kehadiran itu, muncul kekuatan yang menghidupkan.
Yesus tidak menyuruh kita untuk berprestasi rohani, tetapi untuk tinggal. Tinggal bukan berarti pasif, tapi berarti menyatu. Tidak terbagi. Tidak terseret ke sana kemari oleh penilaian, keinginan, atau pencitraan. Karena hanya dari tempat itu, buah yang sejati akan muncul—bukan sebagai hasil kerja keras, tetapi sebagai pancaran dari hidup yang terhubung.
Maka seperti Machu Picchu yang ditemukan kembali setelah lama tersembunyi, hari ini kita pun diajak untuk menemukan kembali kehadiran Tuhan yang telah lama diam di dalam hidup kita. Bukan dengan mendaki ke puncak, tetapi dengan diam, tinggal, dan menyadari bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah. Dan dari situ, kasih akan tumbuh. Diam-diam. Tapi nyata.
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm