Browsed by
Month: January 2026

Pesta Pembaptisan Tuhan

Pesta Pembaptisan Tuhan

(Yes. 42:1–4.6–7; Kis. 10:34–38; Mat. 3:13–17)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Selamat Natal dan Tahun Baru. Semoga rahmat, damai, dan sukacita Natal yang baru saja kita rayakan tidak cepat pudar, tetapi terus memancar dalam hidup kita, menuntun langkah kita memasuki tahun yang baru dengan hati yang penuh harapan. Amin.
Hari ini kita merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan, yang sekaligus menutup Masa Natal dan membuka Masa Biasa. Namun sesungguhnya, apa yang kita rayakan hari ini bukanlah sesuatu yang “biasa”. Justru di sinilah Injil menyingkapkan secara mendalam siapakah Yesus itu dan jalan hidup apa yang Ia pilih.
Injil hari ini mengisahkan Yesus yang datang kepada Yohanes Pembaptis di Sungai Yordan untuk dibaptis. Sekilas, peristiwa ini terasa janggal. Yohanes membaptis orang-orang yang mengakui dosa dan bertobat, sementara Yesus tidak berdosa. Namun justru di situlah letak keindahan dan kedalaman iman kita: Yesus memilih berdiri sebaris dengan umat-Nya, masuk ke dalam air yang sama, dan mengambil jalan solidaritas dengan manusia. Bacaan pertama dari kitab Yesaya menolong kita untuk memahami makna peristiwa ini. Nabi Yesaya berbicara tentang Hamba Tuhan yang dipilih dan dikasihi Allah: “Aku telah memanggil engkau demi keselamatan… Aku telah memegang tanganmu… Engkau akan membuka mata orang-orang buta dan membebaskan mereka yang terkurung.”
Hamba Tuhan ini tidak datang dengan kekerasan, tidak berteriak atau mematahkan buluh yang terkulai. Ia hadir dengan kelembutan, kesetiaan, dan belas kasih. Gambaran ini menemukan kepenuhannya dalam diri Yesus. Dengan dibaptis di Sungai Yordan, Yesus secara diam-diam tetapi tegas berkata: “Inilah jalan-Ku: jalan Hamba, jalan yang turun ke bawah, jalan yang menyembuhkan, bukan menghakimi.”
Dalam bacaan kedua, Santo Petrus dalam Kisah Para Rasul menegaskan hal yang sama. Ia berkata bahwa Yesus dari Nazaret diurapi Allah dengan Roh Kudus dan kuasa, dan Ia berkeliling sambil berbuat baik serta menyembuhkan semua orang yang dikuasai oleh kejahatan. Inilah buah dari pembaptisan Yesus: sebuah perutusan untuk menghadirkan kebaikan Allah secara nyata, konkret, dan menyentuh hidup banyak orang.
Puncak peristiwa pembaptisan Yesus terjadi ketika langit terbuka, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan terdengarlah suara dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”
Saudara-saudariku terkasih, kata-kata ini bukan hanya sebuah pengumuman, melainkan peneguhan. Setelah sekitar tiga puluh tahun hidup sederhana di Nazaret sebagai anak keluarga biasa dan sebagai tukang kayu, Yesus kini melangkah memasuki perutusan-Nya secara penuh. Ia meninggalkan kenyamanan hidup tersembunyi dan melangkah ke jalan yang penuh risiko. Dan tepat pada saat itu, Bapa meneguhkan-Nya: “Engkau tidak sendiri. Aku menyertaimu.”
Di sinilah kita bisa bercermin. Dalam hidup, ada saat-saat ketika kita juga harus mengambil keputusan penting: meninggalkan kebiasaan lama, berani berubah, memilih yang benar meski tidak mudah. Sering kali, langkah pertama itu terasa seperti “turun ke sungai Yordan” yang dingin, tidak nyaman, dan penuh keraguan. Namun perayaan hari ini mengingatkan kita bahwa Allah setia meneguhkan setiap langkah yang diambil dalam ketaatan dan kasih.
Pesta Pembaptisan Tuhan juga mengajak kita untuk kembali mengingat baptisan kita sendiri. Pada hari kita dibaptis, mungkin kita masih kecil dan tidak sadar apa-apa. Tetapi secara rohani, pada hari itu Allah juga berkata kepada kita: “Engkau adalah anak-Ku yang Kukasihi.” Kita pun diurapi oleh Roh Kudus dan diutus, bukan untuk menjadi orang besar, tetapi untuk menjadi pembawa terang, alat damai, dan saksi kasih Allah di tengah dunia.
Saudara-saudariku terkasih, Air baptisan itu seperti benih yang ditanam. Benih itu sungguh hidup, tetapi ia baru akan bertumbuh bila dirawat, disiram, terkena cahaya, dan dijaga dari hama. Demikian pula rahmat baptisan kita. Rahmat itu tidak pernah hilang, tetapi bisa menjadi tidak berkembang jika tidak kita hidupi. Maka pertanyaannya bukanlah “Apakah aku sudah dibaptis?”, melainkan “Apakah aku sudah hidup sebagai orang yang dibaptis?”
Karena itu, baiklah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah dalam hidup kita sudah tampak buah-buah Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri? Apakah kehadiran kita membawa terang, atau justru menambah gelap? Menguatkan, atau melukai?
Saudara-saudariku terkasih, hari ini kita tidak hanya mengenang pembaptisan Yesus, tetapi kita diundang untuk memperbarui komitmen baptisan kita. Mari kita mohon agar Roh Kudus yang sama, yang turun di Sungai Yordan, juga terus bekerja dalam hati kita, menuntun kita menjalani tahun yang baru ini sebagai putera-puteri Allah yang setia. Semoga hidup kita, dengan segala keterbatasannya, boleh menjadi suara lembut Allah di tengah dunia: suara yang tidak berteriak, tetapi menyembuhkan; tidak menghakimi, tetapi memulihkan. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »