Mereka dibuatNya selamat
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Gunawan Wibisono O.Carm
(Yes. 60:1-6; Ef. 3:2-3a.5-6; Mat. 2:1-12)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, Hari Raya Penampakan Tuhan, yang kita rayakan hari ini, mengajak kita merenungkan misteri Allah yang berkenan menyatakan diri-Nya kepada seluruh umat manusia. Kata “epifani” berarti penyingkapan, penampakan, atau perwujudan. Dalam Yesus Kristus, Allah yang semula tersembunyi kini menjadi dekat, dapat dijumpai, dan dialami oleh semua orang tanpa kecuali. Ia bukan hanya Allah bagi satu bangsa atau satu kelompok tertentu, melainkan Tuhan bagi seluruh dunia.
Bacaan pertama dari Kitab Nabi Yesaya (Yes. 60:1–6) menghadirkan gambaran yang sangat kuat dan penuh pengharapan. Nabi menyerukan, “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu.” Seruan ini ditujukan kepada bangsa Israel yang sedang mengalami masa sulit, berada dalam bayang-bayang kehancuran dan kegelapan. Namun Tuhan tidak membiarkan umat-Nya terpuruk dalam keputusasaan. Ia menjanjikan terang yang akan menghalau kegelapan, kemuliaan yang akan menarik bangsa-bangsa datang kepada-Nya.
Yesaya menggambarkan bagaimana bangsa-bangsa akan berjalan menuju terang Tuhan. Mereka datang membawa emas dan kemenyan, tanda hormat, penyembahan, dan pengakuan bahwa Tuhanlah sumber keselamatan. Gambaran ini menegaskan bahwa sejak awal, rencana keselamatan Allah bersifat universal. Allah tidak menutup diri-Nya, melainkan membuka diri-Nya bagi semua bangsa.
Gambaran nubuat Yesaya ini menemukan penggenapannya dalam Injil Matius (Mat. 2:1–12). Kita mendengar kisah orang-orang majus dari Timur, para pencari kebenaran yang dengan setia mengikuti bintang. Mereka bukan orang-orang yang berasal dari bangsa pilihan, bukan pula ahli Taurat atau pemuka agama. Namun mereka memiliki hati yang terbuka, kepekaan batin, dan keberanian untuk melangkah.
Perjalanan para majus adalah perjalanan iman. Mereka meninggalkan kenyamanan, menghadapi jarak yang jauh dan medan yang tidak mudah, serta berhadapan dengan Herodes yang penuh kecurigaan dan ambisi. Namun mereka tidak berhenti. Mereka terus berjalan, sebab terang kecil yang mereka ikuti memberi harapan besar. Di sini kita
belajar bahwa iman sering kali bukan soal kepastian mutlak, melainkan kesetiaan dalam melangkah meski belum melihat secara utuh.
Ketika para majus akhirnya menemukan Yesus, mereka tidak menemukan istana megah atau takhta emas. Mereka menemukan seorang bayi kecil, lemah dan sederhana. Namun justru di situlah mereka bersujud. Mereka mengenali kehadiran Allah dalam kesederhanaan. Emas, kemenyan, dan mur yang mereka persembahkan melambangkan pengakuan iman: Yesus adalah Raja, Allah, dan sekaligus manusia yang kelak menderita demi keselamatan dunia.
Perjumpaan dengan Kristus mengubah hidup mereka. Injil mencatat bahwa mereka pulang melalui jalan lain. Ini bukan sekadar perubahan rute geografis, melainkan simbol perubahan hidup. Setiap perjumpaan sejati dengan Tuhan selalu mengubah arah langkah kita.
Makna peristiwa ini ditegaskan dalam Bacaan Kedua dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus (Ef. 3:2–3a.5–6). Paulus menyatakan bahwa rahasia keselamatan kini telah disingkapkan: bangsa-bangsa lain turut menjadi ahli waris, anggota tubuh yang sama, dan peserta dalam janji Allah di dalam Kristus Yesus. Apa yang tampak dalam kisah para majus kini ditegaskan secara teologis: dalam Kristus, tidak ada lagi tembok pemisah.
Hari Raya Penampakan Tuhan mengajak kita bercermin. Apakah kita masih menutup terang Kristus hanya untuk diri sendiri, ataukah kita membiarkannya bersinar bagi orang lain? Kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati terang itu, tetapi juga untuk menjadi pantulan terang Kristus di tengah dunia.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita dipanggil menjadi terang melalui sikap sederhana: kejujuran di tengah godaan, kesabaran dalam konflik, pengampunan dalam luka, dan kepedulian kepada mereka yang kecil dan tersingkir. Tindakan-tindakan kecil ini dapat menjadi “bintang” yang menuntun orang lain kepada Kristus.
Semoga perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan ini meneguhkan kita sebagai umat yang mau mencari Tuhan dengan tekun, mau bersujud dengan rendah hati, dan mau pulang dengan hidup yang diperbarui. Kiranya terang Kristus semakin nyata dalam hidup kita, dan melalui hidup kitalah banyak orang dapat melihat kemuliaan Allah. Tuhan memberkati kita semua. Amin.