Browsed by
Month: March 2026

Minggu Prapaskah VA

Minggu Prapaskah VA



(Yeh 37:12-14; Rom 8:8-11; Yoh 11:1-45)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, pada Minggu Prapaskah kelima ini kita semakin dekat pada misteri Paskah, yaitu misteri kehidupan baru yang dianugerahkan Allah kepada manusia melalui Yesus Kristus. Bacaan-bacaan minggu ini tidak pertama-tama berbicara tentang kematian, melainkan tentang Allah yang membangkitkan harapan di tengah situasi yang tampaknya sudah tidak mungkin lagi diubah. Nubuat Yehezkiel, refleksi Rasul Paulus, dan kisah kebangkitan Lazarus dalam Injil Yohanes sama-sama menegaskan satu pesan, yaitu Tuhan tidak pernah membiarkan manusia tenggelam dalam keputusasaan, sebaliknya Ia selalu membuka jalan menuju kehidupan baru.
Dalam bacaan pertama, Nabi Yehezkiel berbicara kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam pembuangan. Mereka merasa seperti bangsa yang sudah mati: kehilangan tanah air, kehilangan harapan, dan kehilangan masa depan. Dalam situasi itu Allah bersabda, “Aku akan membuka kubur-kuburmu dan membangkitkan kamu… Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke dalam dirimu dan kamu akan hidup kembali.” Sabda ini bukan sekadar janji tentang kebangkitan setelah kematian, tetapi lebih dahulu merupakan janji tentang pemulihan hidup di tengah keterpurukan. Allah sanggup membangkitkan manusia dari kelelahan, dari luka batin, dari dosa, dari kegagalan, dan dari rasa tidak berdaya. Prapaskah menjadi saat yang tepat untuk menyadari bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidup kita, bahkan ketika kita merasa seperti berada dalam “kubur” keputusasaan.
Injil hari ini semakin memperjelas pesan tersebut melalui kisah Lazarus. Yang menarik bukan hanya peristiwa Lazarus dibangkitkan, tetapi juga sikap Yesus yang penuh empati terhadap keluarga Lazarus. Yesus tidak datang sebagai tokoh yang dingin dan jauh dari penderitaan manusia. Ia hadir, mendengarkan keluhan Marta dan Maria, melihat tangisan mereka, bahkan ikut menangis. Tangisan Yesus menunjukkan bahwa Tuhan sungguh dekat dengan penderitaan manusia. Ia tidak berdiri di luar kesedihan kita, tetapi masuk ke dalamnya dan berjalan bersama kita. Di sinilah kita menemukan wajah Allah yang penuh kasih: Allah yang tidak hanya memberi kehidupan, tetapi juga menemani setiap perjalanan hidup manusia dengan kelembutan hati-Nya.
Ketika Yesus berkata kepada Marta, “Akulah kebangkitan dan kehidupan,” Ia sebenarnya mengajak kita untuk percaya bahwa di dalam diri-Nya selalu ada harapan baru. Lazarus yang telah empat hari dalam kubur menjadi lambang situasi manusia yang tampaknya sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Namun Yesus membuktikan bahwa tidak ada yang terlalu terlambat bagi Allah. Batu kubur dapat disingkirkan, kain kafan dapat dilepaskan, dan orang yang terbelenggu dapat berjalan kembali. Pesan ini sangat relevan dalam hidup kita sehari-hari. Ada saatnya kita merasa iman kita lemah, semangat pelayanan menurun, relasi keluarga retak, atau masa depan terasa gelap. Injil hari ini mengingatkan bahwa Tuhan selalu mampu membuka jalan baru, selama kita mau percaya dan membuka hati kepada-Nya.
Rasul Paulus dalam bacaan kedua menegaskan bahwa Roh Allah yang membangkitkan Yesus dari antara orang mati juga bekerja dalam diri kita. Artinya, kehidupan Kristiani bukan sekadar menunggu kehidupan kekal di masa depan, tetapi sudah mulai sekarang kita hidup dalam Roh yang menghidupkan. Hidup dalam Roh berarti membiarkan Tuhan menggerakkan pikiran, hati, dan tindakan kita. Roh Allah membangkitkan kita dari egoisme menuju kasih, dari kemalasan menuju tanggung jawab, dari keputusasaan menuju pengharapan. Dengan demikian, kebangkitan bukan hanya peristiwa yang akan terjadi di akhir hidup, tetapi pengalaman yang terus berlangsung dalam perjalanan iman kita setiap hari.
Masa Prapaskah mengundang kita untuk berani membuka “kubur-kubur” dalam diri kita. Mungkin kubur itu adalah luka lama yang belum sembuh, dosa yang terus berulang, kekecewaan yang disimpan dalam hati, atau relasi yang retak dan belum diperdamaikan. Tuhan tidak meminta kita menjadi sempurna terlebih dahulu; Ia hanya meminta kita membuka batu penutup kubur itu dan membiarkan Roh-Nya bekerja. Ketika batu itu disingkirkan, rahmat Tuhan masuk, dan kehidupan baru mulai bertumbuh perlahan-lahan. Di sinilah Prapaskah menjadi perjalanan pertobatan yang penuh harapan, bukan perjalanan yang menakutkan.
Kisah Lazarus juga mengajarkan bahwa kebangkitan selalu berkaitan dengan komunitas. Setelah Lazarus keluar dari kubur, Yesus berkata, “Bukalah kain kafannya dan biarkan ia pergi.” Artinya, kehidupan baru membutuhkan bantuan sesama. Kita tidak bisa berjalan sendiri. Dalam keluarga, komunitas religius, paroki, atau lingkungan kerja, kita dipanggil untuk saling membantu melepaskan “kain kafan” yang membelenggu sesama, yakni sikap menghakimi, kata-kata yang melukai, atau ketidakpedulian. Gereja dipanggil menjadi komunitas yang menghadirkan kehidupan, bukan komunitas yang menutup harapan.
Pada akhirnya, kita diundang untuk mengarahkan pandangan kita kepada Kristus sebagai sumber kehidupan, sebab Ia datang untuk meneguhkan hati kita. Ia hadir bukan untuk menutup masa depan, tetapi untuk membuka harapan baru. Setiap orang yang percaya kepada-Nya akan menemukan kekuatan untuk bangkit dari segala kelemahan dan berjalan menuju kehidupan yang lebih baik. Inilah saat yang tepat untuk memperbarui iman bahwa Tuhan selalu bekerja dalam hidup kita, bahkan di saat-saat paling gelap sekalipun.
Semoga melalui permenungan Sabda Tuhan hari ini, hati kita semakin diteguhkan untuk percaya bahwa bersama Kristus selalu ada harapan. Ia adalah kebangkitan dan kehidupan, yang menghidupkan kembali semangat kita, memperbarui iman kita, dan menuntun kita menuju sukacita Paskah. Dengan hati yang teduh dan penuh kepercayaan, marilah kita melangkah bersama Tuhan, karena di dalam Dia selalu ada kehidupan baru bagi setiap orang yang percaya. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu IV Pekan Prapaskah

Sabtu IV Pekan Prapaskah

Rm Gunawan Wibisono O.Carm
21 Maret 2026
Yer 11: 18-20 + Mzm 7 + Yoh 7: 40-53

Lectio
Suatu hari beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.” Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.” Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia. Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya. Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?” Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!” Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan? Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi? Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka: “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?” Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.” Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,

Meditatio
‘Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal’. Itulah komentar banyak orang yang merasa gerah dengan kehadiran Yesus. Sempat juga terjadi perselisihan di antara mereka. Supaya tidak ada kesulitan bagi umat Israel di kemudian hari, mengapa kali lalu Tuhan Allah tidak memanggil keluarga Yusuf, agar pulang kembali ke Betlehem, dan tidak tinggal di Nazaret? Apakah memang percekcokan semacam ini sengaja dibiarkan oleh Tuhan Allah sang Empunya kehidupan dengan membiarkan keluarga Yusuf tinggal di Nazaret? Yesus pun pernah membiarkan para murid hampir tenggelam dalam berperahu, dan Yesus tertidur di dalamnya.
Masa Prapaskah mengajak kita agar tidak mengandalkan kekuatan akal budi dan insani dalam menikmati hidup. Aneka peristiwa kehidupan akan selalu terbuka, dan Allah membiarkan kita untuk memilih dan menikmatinya. Dalam perjalanan hidup memang akan ada selalu perubahan jaman, malah tidak sesuai dengan kemauan dan rencana kita.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau menganugerahi kami aneka kemampuan insani, karena memang kami tercipta sesuai dengan gambarMu. Semoga kami mampu menggunakan segala anugerahMu itu dengan penuh syukur, dan tetap meminta bantuanMu yang membahagiakan dan menyelamatkan. Amin.

Contemplatio
‘Mesias tidak datang dari Galilea! Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal’.

Translate »