Browsed by
Month: March 2026

RENUNGAN: 10 MARET 2026

RENUNGAN: 10 MARET 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Matius 18:21-35

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Tentu kita masih ingat bahwa beberapa puluh tahun yang lalu, tepatnya tahun 1981, Paus Paus Yohanes Paulus II ditembak di Lapangan Santo Petrus oleh seorang pria bernama Mehmet Ali Ağca. Peluru itu hampir merenggut nyawa Paus. Dunia sangat terkejut. Namun beberapa waktu kemudian terjadi sesuatu yang luar biasa. Paus Yohanes Paulus II pergi ke penjara untuk menemui orang yang menembaknya. Ia duduk berhadapan dengan pria itu, berbicara dengannya, dan memberikan pengampunan secara pribadi. Banyak orang bertanya: bagaimana mungkin seseorang bisa mengampuni orang yang hampir membunuhnya? Jawabannya sederhana: karena Paus hidup dari Injil. Ia tahu bahwa ia sendiri telah menerima begitu banyak belas kasih dari Tuhan.

Dalam Injil hari ini kita mendengar pertanyaan dari Petrus kepada Yesus Kristus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Bagi Petrus, tujuh kali sudah terasa sangat besar.

Pada zaman itu orang Yahudi biasanya mengajarkan bahwa mengampuni tiga kali sudah cukup. Jadi ketika Petrus mengatakan tujuh kali, ia sebenarnya merasa sudah sangat murah hati. Tetapi jawaban Yesus mengejutkan: “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Artinya bukan sekadar angka 490 kali. Yesus ingin mengatakan bahwa pengampunan tidak boleh dibatasi.

Pemahaman ini juga ditegaskan oleh salah satu Bapa Gereja besar, yaitu Santo Yohanes Krisostomus. Ia menjelaskan bahwa ketika Yesus menyebut “tujuh puluh kali tujuh kali”, Tuhan sebenarnya ingin menunjukkan bahwa pengampunan tidak boleh dihitung-hitung. Santo Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa Tuhan sendiri tidak menghitung kesalahan kita secara sempit. Allah tidak memperlakukan kita seperti seorang akuntan yang mencatat dosa kita satu per satu untuk menuntut balasan. Sebaliknya, Ia adalah Bapa yang penuh belas kasih. Karena itu, menurut Santo Yohanes Krisostomus, seorang Kristen juga tidak boleh menghitung-hitung kesalahan orang lain. Jika kita terus mengingat dan menghitung kesalahan sesama, hati kita akan menjadi keras. Ia bahkan mengatakan sesuatu yang sangat indah: mengampuni orang lain sebenarnya adalah kebaikan bagi diri kita sendiri, karena dengan mengampuni kita membuka hati kita bagi belas kasih Allah.

Saudara-saudari,

Yesus kemudian menceritakan perumpamaan tentang seorang hamba yang memiliki hutang sangat besar kepada rajanya. Hutang itu begitu besar sehingga mustahil dibayar seumur hidup. Namun ketika ia memohon belas kasihan, sang raja menghapus seluruh hutangnya. Hamba itu sebenarnya sudah menerima karunia yang luar biasa besar. Tetapi ketika ia bertemu dengan temannya yang berhutang kecil kepadanya, ia justru tidak mau mengampuni. Ia menuntut pembayaran dengan keras. Di sinilah pesan Injil ini menjadi sangat jelas: kita sering menerima pengampunan besar dari Tuhan, tetapi kita sulit memberi pengampunan kecil kepada sesama.

Saudara-saudari terkasih,

Sering kali kita membawa luka dalam hidup kita. Mungkin kita pernah disakiti, diperlakukan tidak adil, difitnah, atau dikhianati. Luka seperti itu tidak mudah dilupakan. Namun Injil hari ini mengajak kita melihat hidup kita dari sudut pandang yang berbeda: dari sudut pandang belas kasih Allah. Jika kita jujur, kita semua juga pernah menyakiti orang lain. Kita semua pernah jatuh dalam dosa. Tetapi Tuhan tetap memberi kita kesempatan baru. Karena itu, ketika kita mengampuni orang lain, kita sebenarnya sedang meniru cara Tuhan memperlakukan kita. Mengampuni memang tidak mudah. Kadang itu membutuhkan waktu dan perjuangan batin. Tetapi ketika kita mulai mengampuni, sesuatu yang luar biasa terjadi: hati kita menjadi lebih ringan, lebih bebas, dan lebih damai. Itulah sebabnya Santo Yohanes Krisostomus mengatakan bahwa pengampunan bukan hanya menolong orang lain, tetapi juga menyembuhkan hati kita sendiri.

Saudara-saudari,

Yesus menutup perumpamaan ini dengan pesan yang sangat kuat: kita harus mengampuni saudara kita dengan segenap hati. Artinya bukan sekadar kata-kata, tetapi sikap batin yang sungguh-sungguh mau melepaskan kebencian. Mungkin hari ini Tuhan mengingatkan kita tentang seseorang yang masih sulit kita ampuni. Mungkin luka itu sudah lama kita simpan dalam hati. Hari ini Yesus mengundang kita untuk mengambil satu langkah kecil, membuka hati dan berkata: “Tuhan, aku ingin belajar mengampuni seperti Engkau mengampuni aku.” Ketika kita mengampuni, kita sedang melakukan sesuatu yang sangat indah: kita membuka hati kita bagi belas kasih Allah sendiri.

Minggu Prapaskah III A

Minggu Prapaskah III A


(Kel. 17:3-7; Rom. 5:1-2,5-8; Yoh. 4:5-42)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, perjalanan masa Prapaskah mengundang kita untuk semakin masuk ke dalam misteri karya keselamatan Allah. Minggu lalu kita merenungkan peristiwa Yesus dimuliakan di atas gunung. Di sana para murid melihat kemuliaan-Nya dan mendengar suara Bapa yang menegaskan bahwa Yesus adalah Putra yang dikasihi. Peristiwa itu mempersiapkan para murid untuk memahami misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya. Bersamaan dengan itu kita juga merenungkan panggilan Abraham yang diminta meninggalkan tanah asalnya untuk mengikuti kehendak Allah. Ketaatan Abraham membuatnya menjadi bapa umat beriman dan sumber berkat bagi banyak orang.
Pada hari Minggu ini Tuhan mengundang kita melihat bagaimana Dia hadir dan bekerja dalam kehidupan yang sangat sederhana. Injil Yohanes mengisahkan perjumpaan Yesus dengan seorang perempuan Samaria di dekat sumur Yakub. Dalam perjalanan menuju Galilea, Yesus singgah di daerah Samaria. Ia duduk di tepi sumur karena merasa letih setelah berjalan jauh. Pada saat itu datanglah seorang perempuan Samaria untuk menimba air. Di tempat itulah terjadi percakapan yang pada awalnya tampak sangat sederhana. Yesus berkata kepadanya, “Berilah Aku minum.” Dari percakapan yang sederhana itu perlahan-lahan perempuan tersebut mulai mengenal siapa Yesus sebenarnya. Pada akhirnya ia menyadari bahwa Yesus bukan sekadar seorang Yahudi yang lewat, melainkan seorang nabi bahkan Mesias yang dijanjikan. Perjumpaan itu begitu menyentuh hatinya sehingga ia pergi ke kota dan mengajak orang-orang lain untuk datang menemui Yesus. Banyak orang akhirnya percaya kepada-Nya.
Agar kita dapat menangkap kedalaman makna kisah ini, ada beberapa situasi budaya yang penting untuk kita pahami. Pada masa itu wilayah Israel terbagi menjadi tiga bagian: di selatan terdapat Yudea dengan pusatnya di Yerusalem, di utara terdapat Galilea tempat Yesus dibesarkan, dan di antara keduanya terdapat wilayah Samaria. Hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria tidaklah baik. Orang Yahudi memandang orang Samaria sebagai kelompok yang tidak murni secara agama dan bangsa. Orang Samaria hanya menerima lima kitab Musa sebagai Kitab Suci dan mereka dianggap telah bercampur dengan bangsa-bangsa lain sejak masa penjajahan Asyur. Karena itu orang Yahudi biasanya menghindari berhubungan dengan orang Samaria. Dalam konteks inilah kita bisa memahami keheranan perempuan itu ketika Yesus, seorang Yahudi, meminta minum darinya. Permintaan itu sebenarnya sudah melampaui batas-batas sosial dan religius yang biasa berlaku pada masa itu.
Di balik kisah sederhana ini terdapat pesan yang sangat dalam tentang cara Allah menjumpai manusia. Pertama-tama kita melihat bahwa Yesus memulai percakapan dengan sebuah permintaan, “Berilah Aku minum.” Sekilas tampak bahwa Yesuslah yang membutuhkan air dari perempuan itu. Namun dalam percakapan selanjutnya Yesus justru berbicara tentang air hidup yang dapat memuaskan dahaga manusia untuk selama-lamanya. Di sini kita bisa melihat hubungan yang indah dengan bacaan pertama dari Kitab Keluaran. Dalam perjalanan di padang gurun bangsa Israel mengalami kehausan dan mulai bersungut-sungut kepada Musa. Mereka meragukan penyertaan Allah dan bertanya, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?” Atas perintah Tuhan, Musa memukul batu di gunung Horeb dan dari batu itu keluarlah air yang menyegarkan umat. Kisah ini mengingatkan kita bahwa Allah mengetahui kehausan manusia dan menyediakan air kehidupan bagi umat-Nya.
Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita menyadari bahwa manusia sebenarnya tidak hanya haus akan air jasmani. Di dalam hati manusia ada kehausan yang jauh lebih dalam yakni kehausan akan kasih, penerimaan, pengampunan, dan makna hidup. Sering kali manusia berusaha memuaskan kehausan itu dengan berbagai hal seperti harta, keberhasilan, kesenangan, atau pengakuan dari orang lain. Akan tetapi semua itu hanya memberi kepuasan sementara. Hati manusia tetap merasa kosong. Yesus menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia berbicara tentang “air hidup”, yaitu rahmat Allah yang dapat memenuhi kerinduan terdalam manusia. Air hidup itu adalah kehidupan baru yang berasal dari Allah sendiri.
Perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria juga menunjukkan bahwa Tuhan tidak menjauh dari manusia yang memiliki masa lalu yang rumit. Dalam percakapan itu Yesus mengungkapkan bahwa perempuan tersebut telah mempunyai lima suami dan orang yang sekarang bersamanya bukanlah suaminya. Situasi itu tentu membuat perempuan tersebut berada dalam posisi sosial yang sulit. Namun Yesus tidak mempermalukannya. Ia tidak menghakimi atau menolak perempuan itu. Sebaliknya, Yesus tetap membuka ruang dialog dan justru menuntunnya untuk mengenal kebenaran. Sikap Yesus ini mengingatkan kita bahwa kasih Allah selalu mendahului pertobatan manusia. Tuhan tidak menunggu manusia menjadi sempurna terlebih dahulu baru mendekatinya. Ia datang kepada manusia apa adanya, bahkan ketika hidup manusia masih penuh luka dan kerapuhan.
Hal ini sejalan dengan pesan yang disampaikan Rasul Paulus dalam bacaan kedua. Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan karena iman dan memperoleh damai sejahtera dengan Allah melalui Yesus Kristus. Lebih jauh lagi ia menegaskan bahwa kasih Allah telah dicurahkan ke dalam hati kita oleh Roh Kudus. Artinya, dasar hidup iman kita adalah pengalaman dicintai oleh Allah. Kristus wafat bagi kita justru ketika kita masih berdosa. Inilah kabar gembira yang meneguhkan: Tuhan tidak mencintai kita karena kita sudah baik, melainkan kasih-Nya justru membaharui dan mengubah kita menjadi lebih baik.
Perempuan Samaria mengalami perubahan batin yang mendalam melalui perjumpaan dengan Yesus. Pada awalnya ia memandang Yesus hanya sebagai seorang Yahudi. Kemudian ia menyebut-Nya sebagai nabi. Akhirnya ia mulai menyadari bahwa Yesus adalah Mesias yang dinantikan. Perubahan itu terjadi karena ia membuka diri dalam percakapan dengan Tuhan. Bahkan Injil mencatat bahwa setelah perjumpaan itu ia meninggalkan tempayannya dan pergi ke kota untuk memberitakan kepada orang-orang tentang Yesus. Tempayan yang ditinggalkannya seakan menjadi simbol bahwa ia telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada air yang hendak diambilnya. Ia datang untuk menimba air, tetapi pulang dengan membawa sumber air hidup.
Pengalaman perempuan Samaria ini mengajak kita menyadari bahwa keadaan hidup yang tidak sempurna tidak pernah menjadi penghalang untuk bertemu dengan Tuhan. Justru sering kali dalam situasi-situasi yang sederhana dan bahkan rapuh, Tuhan menyapa kita. Perempuan itu bertemu Yesus ketika sedang melakukan pekerjaan yang sangat biasa: menimba air. Ia tidak sedang melakukan sesuatu yang besar atau luar biasa. Namun dalam kegiatan sederhana itulah Tuhan hadir dan mengubah hidupnya. Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan juga sering menyapa kita dalam rutinitas hidup sehari-hari: saat bekerja, saat belajar, saat bercengkerama dengan keluarga, saat melakukan pekerjaan rumah, atau bahkan dalam keheningan sebelum kita beristirahat.
Masa Prapaskah menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk kembali menyadari kehadiran Tuhan dalam hidup kita. Mungkin ada kalanya hati kita menjadi kering karena berbagai kesibukan, kekhawatiran, atau bahkan karena pengalaman kegagalan. Tuhan hari ini mengundang kita untuk datang kembali kepada-Nya sebagai Sumber Air Hidup. Ia tidak menolak kita karena kelemahan kita. Sebaliknya, Ia ingin mengisi hati kita dengan kasih dan harapan yang baru. Seperti perempuan Samaria yang akhirnya berani bersaksi kepada orang-orang di kotanya, kita pun dipanggil untuk membawa sukacita iman kepada orang-orang di sekitar kita. Dengan demikian kehidupan kita tidak hanya dipenuhi oleh air yang memuaskan untuk sesaat, tetapi oleh air hidup yang memberi kehidupan untuk selama-lamanya. Semoga Sabda Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk terus membuka hati kepada Yesus, sehingga hidup kita diperkaya oleh rahmat-Nya dan menjadi berkat bagi sesama. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Translate »