Rm Ignasius Joko Purnomo
Markus 7:1-13
Saudara-saudari terkasih,
Ada seorang ibu yang dikenal sangat rajin ke gereja. Setiap hari Minggu, ia datang paling awal, selalu duduk di bangku depan, berdoa dengan rosario di tangan. Semua orang menghormatinya sebagai contoh umat yang saleh. Namun suatu hari, setelah misa, ada anak kecil tanpa sengaja menumpahkan air di dekat bangkunya. Ibu itu langsung marah besar, memarahi anak itu dan ibunya di hadapan banyak orang. Anak itu menangis ketakutan. Beberapa orang di sekitar hanya bisa diam, tetapi dalam hati mereka berkata: “Sayang sekali, ia begitu rajin ke gereja, tapi hatinya masih mudah marah.”
Kisah sederhana ini menggambarkan apa yang Yesus maksud dalam Injil hari ini: iman sejati tidak diukur dari apa yang tampak di luar, tetapi dari hati yang tulus di hadapan Allah. Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang sibuk dengan kebersihan tangan, dengan cuci wadah, kendi, dan peralatan; tetapi lupa membersihkan hatinya. Mereka mengira bahwa kesucian diukur dari kepatuhan pada aturan lahiriah. Yesus mengingatkan: “Bukan apa yang masuk ke dalam tubuh yang menajiskan, tetapi apa yang keluar dari hati.”
Saudara-saudari, kita pun bisa terjebak dalam hal yang sama. Kita bisa rajin mengikuti misa, berdoa panjang, bahkan aktif dalam pelayanan, tetapi kalau hati kita masih dipenuhi iri, benci, atau kesombongan; kita belum sungguh bersih di hadapan Allah. Tuhan tidak hanya melihat tangan yang bersih, tetapi hati yang jernih. Tidak cukup berdoa dengan bibir, tetapi harus juga dengan hati yang mengasihi.
Orang Farisi dalam Injil itu tampak sangat taat dan saleh, tetapi Yesus tahu isi hati mereka. Mereka lebih peduli pada bagaimana orang lain melihat mereka daripada bagaimana Allah melihat hati mereka. Yesus menyebut orang seperti itu sebagai “munafik.” Ia berkata: “Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari Aku.” Kemunafikan rohani adalah ketika kita tampak religius, tetapi kehilangan kasih. Kita rajin doa, tetapi sulit mengampuni. Kita ikut misa, tapi mudah menghakimi. Kita menyebut nama Tuhan, tapi enggan berbelas kasih pada yang menderita. Tuhan tidak mencari umat yang sempurna secara lahiriah, melainkan hati yang rendah dan jujur di hadapan-Nya. Ia lebih senang mendengar doa dari hati yang remuk karena cinta, daripada doa panjang dari hati yang sombong.
Saudara-saudari terkasih.
Yesus tidak menolak tradisi atau aturan. Ia tidak melarang orang mencuci tangan atau mengikuti adat. Tetapi Ia menegaskan: semua itu harus menjadi jalan menuju perjumpaan dengan Allah, bukan pengganti perjumpaan itu. Doa, misa, dan devosi adalah sarana, bukan tujuan. Tujuannya adalah relasi kasih dengan Allah. Iman sejati bukan pertunjukan di depan manusia, melainkan relasi pribadi dengan Tuhan.
Hari ini Yesus mengajak kita memperbarui batin: agar doa menjadi perjumpaan, bukan rutinitas; agar pelayanan menjadi ungkapan cinta, bukan kewajiban; agar ibadah menjadi pengalaman kasih, bukan pertunjukan kesalehan. Marilah hari ini kita mohon rahmat agar setiap doa, setiap misa, setiap pelayanan, sungguh menjadi jalan untuk menyucikan hati dan memperdalam cinta kita kepada Tuhan. Semoga kita menjadi murid-murid Kristus yang tidak hanya “terlihat baik”, tetapi sungguh baik dari hati, sebab dari hati yang murni, kasih Allah terpancar bagi dunia.