Sekali lagi, Janganlah kita tenggelam dalam kesedihan diri (kesibukan)
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
RP Hugo Susdiyanto O.Carm
Rabu 8 April 2026
Lukas 24:13-35
Duka yang mendalam mengalahkan logika dan menutup mata. Kisah dua murid yang berjalan menuju Emaus merupakan contoh nyata. Mereka adalah potret orang yang kehilangan asa. Janji sang Guru belum terrealisati sudah keburu mati disalibkan. Karenanya mereka ingin kembali ke kampung asal dan mengerjakan pekerjaan lama. Tuhan Yesus yang telah bangkit hadir, menemani perjalanan mereka, dan pelan-pelan membuka mata mereka. Selama perjalanan Tuhan menjelaskan makna Kitab Suci, , mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi, yang selama ini mereka dengan, namun belum dipahami. Dan Ketika telah sampai tujuan perjalanan, Tuhan membuka mata hati mereka dalam perjamuan. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Saat itu mata hati mereka terbuka. Namun di saat yang sama, Yesus sudah lenyap dari tengah-tengah mereka. Peristiwa itu mengajarkan kepada kita bahwa perjumpaan dengan Tuhan mampu mengubah seseorang. Dua murid yang kecewa itu kembali ke Yerusalem dengan semangat dan harapan baru.
Kisah dua murid ke Emaus mengajarkan kepada kita bahwa kebangkitan Kristus bukan sekedar masa lalu yang historis, melainkan sebuah realitas iman yang selalu actual dan berlangsung terus. Dengan kata lain, kebanhkitan adalah pengalaman iman yang hidup. Karenanya setiap kita diundang untuk mewujudkan semangat kebangkitan dengan tidak terus menerus berada dalam kegelapan [kubur, duka], melainkan memperjuangkan harapan dan juga keadilan.
Dua murid Emaus yang berjalan dalam keputusasaan setelah penyaliban, mengingatkan kita akan kehidupan yang tidak mudah. Namun Ekaristi [Sabda (liturgi sabda) dan pemecahan roti (liturgi ekaristi)] mengubah perjalanan kekecewaan itu menjadi perjalanan iman dan pengharapan, sebagaimana mereka katakan, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”
Mari kita menjadi “manusia paskah”, artinya menjadi manusia yang menjalani hidup dan kehidupan ini dengan diperbarui oleh semangat kebangkitan, seperti dua murid Emaus yang bergegas Kembali ke Yerusalem untuk mewartakan kebangkitan setelah ber-Ekaristi. Pergilah Misa sudah selesai, pergilah kita diutus.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 20:11-18
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Injil hari ini mengajak kita masuk ke sebuah momen yang sangat menyentuh: Maria Magdalena berdiri di depan kubur dan menangis. Ia datang pagi-pagi, ketika hari masih gelap, membawa luka kehilangan yang begitu dalam. Bagi Maria, Yesus bukan sekadar Guru – Dia adalah harapan, kasih, dan makna hidupnya. Dan kini semuanya seakan hilang. Di titik inilah kita melihat bahwa perjalanan iman sering kali dimulai dari air mata.
Saudara-saudari, kita pun tidak asing dengan pengalaman ini. Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa kehilangan, bingung, atau bahkan merasa Tuhan jauh. Kita berdoa, tetapi terasa hampa. Kita berharap, tetapi kenyataan tidak berubah. Kita pun “berdiri di depan kubur” kehidupan kita sendiri dan menangis. Namun Injil hari ini memberi kita sebuah kunci penting: Maria tidak pergi. Ia tetap tinggal. Di sinilah kita diingatkan oleh Santo Gregorius Agung, yang mengatakan bahwa orang yang tetap mencari Tuhan, bahkan ketika tidak menemukan, pada akhirnya akan menemukan Dia. Maria tidak langsung melihat Yesus, tetapi ia tidak berhenti mencari. Ia setia dalam kebingungan, setia dalam kesedihan.
Saudara-saudari, iman bukan pertama-tama soal mengerti, tetapi soal bertahan dan tinggal bersama Tuhan, bahkan ketika hati kita gelap. Dan dari kesetiaan itu, sesuatu mulai berubah. Maria membungkuk ke dalam kubur. Ia melihat, ia bertanya, ia mencari. Dan di sini kita mendengar gema dari kata-kata Santo Agustinus: “Ia mencari Dia yang telah ia kasihi, dan karena ia mencari, ia menemukan.” Maria mencari bukan karena kewajiban, tetapi karena cinta. Ia tidak bisa pergi begitu saja, karena hatinya terikat pada Yesus. Pertanyaan penting bagi kita: Apakah kita sungguh mencari Tuhan, atau hanya menjalankan kebiasaan? Apakah kita datang kepada Tuhan dengan hati yang mengasihi, atau sekadar rutinitas? Karena hanya hati yang mengasihi yang akan terus mencari, dan akhirnya menemukan.
Lalu terjadilah sesuatu yang mengejutkan: Yesus sebenarnya sudah berdiri di dekat Maria, tetapi ia tidak mengenali-Nya. Ia mengira Yesus adalah penjaga taman. Betapa sering ini juga terjadi dalam hidup kita! Tuhan hadir, tetapi kita tidak menyadari. Tuhan bekerja, tetapi kita tidak mengenali. Ia hadir dalam peristiwa sederhana, dalam orang-orang di sekitar kita, dalam pengalaman sehari-hari, tetapi kita mencarinya dalam cara yang berbeda, dalam gambaran kita sendiri. Maka perjalanan iman menuntut kita bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk mencari dengan hati yang terbuka. Dan kemudian tibalah momen yang sangat pribadi dan mengubah segalanya. Yesus berkata: “Maria!” Satu kata. Satu nama. Tetapi cukup untuk mengubah dunia Maria. Di sinilah terjadi panggilan. Yesus tidak memanggil secara umum. Ia memanggil secara pribadi. Ia mengenal Maria. Ia masuk ke dalam relasi yang sangat dalam. Ketika Maria mendengar namanya dipanggil, ia langsung mengenali: “Rabuni!” – Guru! Dan dari situ, semuanya berubah. Dari tangisan menjadi sukacita. Dari kebingungan menjadi kepastian. Dari kehilangan menjadi perjumpaan. Namun perjumpaan itu tidak berhenti di situ. Yesus berkata: “Pergilah kepada saudara-saudara-Ku…” Inilah langkah terakhir: perutusan. Maria yang tadinya datang sebagai yang mencari, kini diutus sebagai pewarta. Ia yang menangis, kini bersaksi. Ia yang kehilangan, kini membawa kabar kehidupan. Dan kesaksiannya sederhana, tetapi sangat kuat: “Aku telah melihat Tuhan!”
Saudara-saudari terkasih,
Di sinilah inti iman Paskah kita: Paskah bukan hanya peristiwa dua ribu tahun yang lalu, tetapi pengalaman pribadi yang mengubah hidup. Kita semua dipanggil untuk menempuh jalan yang sama seperti Maria Magdalena: dari air mata kehidupan kita, menuju perjumpaan dengan Tuhan, mendengarkan panggilan-Nya, dan akhirnya hidup dalam perutusan. Hari ini Tuhan mengundang kita: untuk tinggal – tidak lari dari Tuhan saat sulit, untuk mencari Dia dengan hati yang mengasihi, untuk mendengar suara-Nya yang memanggil kita secara pribadi, dan untuk bersaksi melalui hidup kita. Sebab dunia saat ini tidak hanya membutuhkan orang yang tahu tentang Tuhan, tetapi orang yang sungguh mengalami Dia.
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm