Jumat Pekan Biasa II

Jumat Pekan Biasa II

Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
24 Januari 2025
Ibr 8: 6-13 + Mzm 85 + Mrk 3: 13-19

Lectio
Pada suatu kali naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia.

Meditatio
Pada suatu kali naiklah Yesus ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan. Ada dua tugas yang diberikan Yesus, yakni menyertai sang Guru, tentunya ke mana saja Dia pergi. Para murid diminta membantu dan melayani Dia dalam karya pewartaan. Tugas lainnya adalah memberitakan Injil. Namun sejauh mana mereka ambil bagian dalam karya pewartaan Injil Allah? Apakah kelak dilakukan setelah kebangkitanNya? Yesus tidak hanya menyuruh mereka, tetapi memperlengkapi mereka dengan kuasa ilahi untuk mengusir kuasa kegelapan.
Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudara Yakobus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh, selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot, yang mengkhianati Dia. Yesus tentunya mengenal mereka satu per satu. Petrus dan Andreas, Yohanes dan Yakobus diceritakan secara istimewa oleh Markus dalam Injilnya. Namun mengapa Andreas tidak digandengkan langsung dengan Simon Petrus dalam Injilnya? Apakah panggilan Yudas Iskariot hendak menegaskan, bahwa iman tetap mengandaikan intervensi Tuhan dalam diri setiap orang? Panggilan olehNya tidak memperhitungkan kelayakan dan predikat seseorang? Bahkan seorang pribadi mempunyai hak dan kebebasan untuk melanggar dan melawan kehendak Allah? Itulah realitas kehidupan.

Oratio
Yesus Kristus, Engkau memanggil setiap orang untuk menikmati keselamatan yang indah dan sukacita hidup yang terpancar dalam tingkah laku. Semoga kami hari demi hari semakin menghayati panggilanMu itu, dan siap membagikannya juga kepada sesame kami. Amin.

Contemplatio
Yesus menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil.

“Hukum Kasih VS Hukum Formal”

“Hukum Kasih VS Hukum Formal”

Rm Yusuf Dimas Caesario O.Carm

Penjual Bakso yang Bijaksana

Suatu hari, seorang penjual bakso terkenal di desa memutuskan untuk libur setiap Minggu demi waktu istirahat dan pergi ke gereja. Namun, pada hari Minggu itu juga, seorang anak kecil mengetuk pintunya sambil menangis, “Pak, saya lapar. Saya belum makan seharian.” Dengan penuh iba, penjual itu menyalakan kompor, memasak semangkuk bakso, dan memberikannya kepada si anak. Sambil tersenyum, dia berkata, “Melayani Tuhan itu bukan hanya soal tutup warung di hari Minggu, tapi juga berbagi dengan yang lapar.”

Kisah sederhana ini mirip dengan apa yang Yesus ajarkan dalam Injil hari ini. Ketika murid-murid-Nya memetik gandum pada hari Sabat, orang Farisi mengkritik mereka karena dianggap melanggar aturan. Namun, Yesus dengan tegas berkata, “Hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.”

Yesus mengingatkan bahwa hukum agama diciptakan untuk mempermudah manusia mendekat kepada Allah, bukan untuk membelenggu. Tuhan tidak ingin kita sekadar mematuhi aturan tanpa memahami tujuan utamanya: kasih dan belas kasih.

Menemukan Kasih dalam Hukum Tuhan

Kita sering terjebak dalam formalitas aturan. Misalnya, kita merasa sudah cukup menjadi orang Katolik yang baik karena mengikuti misa mingguan atau mendoakan Rosario, tetapi apakah kita juga peka terhadap kebutuhan sesama? Jangan sampai hukum agama yang harusnya membawa kedamaian justru menjadi alat untuk menghakimi atau menekan orang lain.

Hari Sabat adalah waktu istimewa yang Tuhan berikan agar kita dapat beristirahat dan merenungkan kasih-Nya. Namun, lebih dari itu, Sabat juga menjadi kesempatan untuk membawa kasih kepada sesama. Yesus menunjukkan bahwa hukum terbesar adalah kasih kepada Allah dan sesama. Aturan dan ritual keagamaan hanya menjadi sarana untuk mewujudkan kasih itu dalam hidup kita sehari-hari.

Coba tanyakan pada diri sendiri: Apakah saya menggunakan waktu saya untuk melayani Tuhan dengan penuh cinta? Atau justru saya terlalu sibuk dengan formalitas agama hingga melupakan esensinya? Jangan sampai iman kita hanya menjadi rutinitas tanpa makna, melainkan biarlah itu menjadi kekuatan yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan sesama.

Pertanyaan Reflektif

  1. Apakah saya memahami hukum Tuhan sebagai sarana untuk mencintai Allah dan sesama?
  2. Dalam situasi apa saya lebih memilih “aturan” daripada menunjukkan belas kasih?
  3. Bagaimana saya dapat menjadikan waktu istirahat atau “hari Sabat” saya lebih bermakna, baik untuk hubungan saya dengan Allah maupun dengan orang lain?

Doa Penutup

Ya Allah yang Maharahim, kami bersyukur atas hukum-Mu yang penuh cinta. Bantulah kami untuk memahami bahwa segala aturan yang Engkau berikan bertujuan membawa kami lebih dekat kepada-Mu dan sesama. Berilah kami hati yang lembut, agar kami mampu melampaui formalitas hukum demi mewujudkan kasih-Mu dalam tindakan nyata. Semoga hidup kami menjadi persembahan yang berkenan di hadapan-Mu. Dengan perantaraan Kristus, Tuhan kami. Amin.

Translate ยป