Minggu Biasa VI A

Minggu Biasa VI A


(Sir. 15:15-20; 1Kor. 2:6-10; Mat. 5:17-37)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, minggu lalu kita merenungkan panggilan untuk menjadi garam dan terang dunia. Garam yang memberi rasa, terang yang menuntun langkah. Hari ini Sabda Tuhan membawa kita lebih dalam lagi: bagaimana agar terang itu sungguh bercahaya? Jawabannya ada pada hukum Tuhan, bukan sekadar hukum yang tertulis, tetapi hukum yang hidup di dalam hati.
Dalam bacaan pertama dari Kitab Kitab Sirakh, kita mendengar sebuah pernyataan yang sangat tegas dan indah: “Jika engkau mau, engkau dapat menuruti perintah; setia adalah pilihanmu.” Tuhan menaruh di hadapan kita api dan air, hidup dan mati. Kita diberi kebebasan untuk memilih. Tuhan tidak memaksa. Ia mempercayakan kepada kita hati dan kehendak untuk menentukan arah hidup.
Betapa lembut cara Tuhan mendidik manusia. Ia tidak memperlakukan kita seperti robot yang diprogram untuk taat, tetapi seperti anak yang diajak memahami makna kebaikan. Di sinilah letak keindahan hukum Tuhan: hukum bukan beban, melainkan penuntun menuju kehidupan.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Injil minggu ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi; Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” Yesus tidak membatalkan hukum Musa. Ia justru membawanya kepada kepenuhannya. Jika dahulu dikatakan, “Jangan membunuh,” kini Yesus melangkah lebih jauh: jangan marah yang mematikan kasih. Jika dahulu dikatakan, “Jangan berzinah,” kini Yesus menembus sampai ke dalam hati: jangan memandang dengan nafsu yang merendahkan martabat. Jika dahulu ada aturan tentang sumpah, kini Yesus berkata, “jika ya, hendaklah kamu katakan ya: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak”. Artinya, hukum Kerajaan Allah bukan hanya soal tindakan lahiriah, tetapi soal kedalaman batin. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan, tetapi siapa kita di dalam hati.
Ketika kita tinggal di negara lain, kita harus belajar menyesuaikan diri dengan bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, makanan yang berbeda, bahkan cuaca yang sangat kontras. Pada awalnya terasa berat. Kulit mungkin kulit mengelupas karena musim dingin, bibir pecah-pecah, lidah sulit menerima makanan yang hambar. Namun perlahan, tubuh belajar menyesuaikan diri. Ada proses dari luar ke dalam. Demikian pula hidup beriman. Pada awalnya hukum Tuhan mungkin terasa berat. Mengampuni ketika hati terluka tidaklah mudah. Berdamai ketika harga diri tersinggung terasa sulit. Mengendalikan amarah ketika diperlakukan tidak adil bukan perkara ringan. Tetapi bila
hati kita sungguh ingin hidup dalam Tuhan, perlahan-lahan batin kita akan dibentuk. Dari ketaatan yang terasa dipaksakan, menjadi kesadaran yang lahir dari cinta.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus menuntut kebenaran yang “melebihi” kebenaran orang Farisi. Apa artinya? Bukan lebih banyak aturan, tetapi lebih dalam kasih. Orang Farisi berhenti pada huruf hukum, sementara Yesus mengajak kita masuk ke roh hukum.
Mungkin kita tidak membunuh, tetapi apakah kita menyakiti dengan kata-kata? Mungkin kita tidak berzinah, tetapi apakah kita menjaga kesucian pikiran dan pandangan? Mungkin kita tidak bersumpah palsu, tetapi apakah kita sungguh jujur dalam keseharian?
Kadang kita merasa sudah cukup karena tidak melakukan dosa besar. Tetapi Yesus mengundang kita melampaui batas minimal. Ia mengajak kita menjadi pribadi yang hatinya bersih, relasinya jujur, dan tindakannya penuh belas kasih. Di sinilah bacaan kedua dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus menjadi sangat relevan. Paulus berkata bahwa hikmat Allah bukanlah hikmat dunia. Hikmat Allah tersembunyi, tetapi dinyatakan kepada mereka yang mengasihi-Nya. Hukum Kristus hanya dapat dipahami oleh hati yang dibimbing Roh Kudus. Tanpa Roh, hukum terasa seperti beban. Dengan Roh, hukum menjadi jalan kebebasan.
Saudara-saudariku terkasih, Yesus memberi contoh yang sangat konkret: sebelum mempersembahkan korban di altar, berdamailah terlebih dahulu dengan saudaramu. Bayangkan seseorang datang ke gereja dengan pakaian rapi, membawa persembahan terbaik, tetapi di dalam hatinya masih menyimpan dendam terhadap saudaranya sendiri. Secara lahiriah ia taat, tetapi secara batin ia terpecah.
Yesus ingin menyatukan kembali hati dan tindakan. Ibadah tidak bisa dipisahkan dari relasi. Doa tidak boleh bertentangan dengan sikap hidup. Hari ini kita pun diajak bertanya dengan jujur: Apakah saya sungguh hidup dalam hukum kasih di rumah? Bagaimana saya berbicara kepada pasangan, kepada anak, kepada orang tua? Apakah kata-kata saya membangun atau melukai? Apakah saya memilih dialog atau langsung mencari pembenaran diri?
Logika dunia sering berkata, “kalau perlu, bawa ke pengacara.” Logika Kerajaan Allah berkata, “datanglah, mari kita berbicara.” Bukan berarti hukum sipil tidak penting. Tetapi sebelum melangkah ke jalur konfrontasi, Kristus mengundang kita pada rekonsiliasi. Sebab hukum yang paling tinggi adalah kasih.
Saudara-saudariku terkasih, dalam Kitab Sirakh ditegaskan bahwa hidup dan mati diletakkan di hadapan kita. Dan Yesus dalam Injil menegaskan bahwa hukum mencapai kepenuhannya dalam kasih. Paulus menambahkan: hikmat itu hanya dimengerti oleh
mereka yang membuka diri pada Roh. Maka pertanyaannya sederhana namun mendalam: hukum mana yang mengatur hidup kita? Hukum minimal yang sekadar “asal tidak salah”? Ataukah hukum Kristus yang mengubah hati?
Semoga setiap kali kita datang ke altar Tuhan, kita tidak hanya membawa persembahan roti dan anggur, tetapi juga hati yang mau dibentuk. Semoga dalam keluarga, kita belajar mengendalikan amarah. Dalam pekerjaan, kita belajar jujur. Dalam komunitas, kita belajar berdamai. Jika kita memilih hukum Kristus, mungkin hidup tidak selalu mudah, tetapi hati kita akan damai. Dan di situlah terang kita bercahaya. Semoga Roh Kudus menolong kita untuk tidak berhenti pada huruf hukum, tetapi masuk ke dalam kedalaman kasih. Agar hidup kita sungguh menjadi Injil yang terbaca oleh dunia. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

Sabtu Pekan Biasa V

Sabtu Pekan Biasa V

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
14 Februari 2026
1Raj 12: 26-32 + Mzm 106 + Mrk 8: 1-10

Lectio
Pada waktu itu ada pula orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab: “Bagaimana di tempat yang sunyi ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka: “Berapa roti ada padamu?” Jawab mereka: “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan, dan mereka memberikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan, dan sesudah mengucap berkat atasnya, Ia menyuruh supaya ikan itu juga dibagi-bagikan. Dan mereka makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang sisa, sebanyak tujuh bakul. Mereka itu ada kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pulang. Ia segera naik ke perahu dengan murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta.

Meditatio
Dari tujuh roti berapa roti yang diberikan para murid untuk dibagikan? 7 x A = (4.000 x B) + 70. Inilah prakiraan rumusan pergandaan roti yang dikerjakan Yesus. A menyatakan dari ketujuh roti hendak dikalikan berapa, sehingga memenuhi kebutuhan semua orang yang hadir pada saat itu. B menyatakan rata-rata berapa orang mampu makan roti yang disajikan itu. Mereka orang-orang yang lapar. Mungkin cukup hanya satu biji, bahkan ada yang hanya separuh saja. 70 adalah 7 bakul sisa roti yang memang harus ditambahkan dalam jumlah pergandaan ketujuh roti itu.
Namun yang jelas ‘Ia menjadikan segala-galanya baik’, kalau kemarin yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata’, hari ini yang lapar dijadikanNya kenyang. Demikian juga, karena belaskasihNya air dijadikanNya anggur, yang mati dihidupkan, yang berdosa si pejahat itu dijadikan penghuni surga, dan kita yang dahulu jauh dijadikanNya dekat dan beroleh selamat. Kiranya semua peristiwa itu menjadikan kita semakin percaya dan mengandalkan Dia dalm keseharian hidup kita.

Oratio
Ya Yesus Kristus, Engkau menjadikan segala-galanya baik adanya. Semoga karena kebaikan dan kasihMu itu, kami semakin berani mendekatkan diri hanya kepadaMu; dan kami pun siap berbagi kasih kepada sesame kami. Amin.

Contemplatio
‘Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Dan jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh’.

​“Efata: Saat Allah Menata Ulang Hidup Kita”

​“Efata: Saat Allah Menata Ulang Hidup Kita”

Renungan Lubuk Hati – Jumat, 13-02-2026

Dalam kisah ini, kita bertemu dengan seorang pria yang terisolasi oleh sunyi dan ketidakmampuan berkata-kata. Ia berada di wilayah Dekapolis, tanah yang disebut dengan bangsa kafir. Hal ini menunjukkan bahwa kasih Yesus tidak mengenal batas geografis maupun religius.

Sentuhan yang Personal

​Hal yang menarik ialah Yesus membawa orang itu keluar dari orang banyak agar mereka sendirian. Yesus tidak memperlakukannya sebagai objek tontonan atau sekadar “kasus” medis. Yesus memberikan perhatian penuh. Terkadang, untuk menjadikan hidup saya dan Anda “baik”, Yesus perlu membawa kita menjauh sejenak dari kebisingan dunia agar kita bisa merasakan sentuhan-Nya secara pribadi.

“Efata!”: Terbukalah

​Kata “Efata!” bukan sekadar perintah agar telinga terbuka, tetapi sebuah perintah ilahi agar seluruh hambatan dalam hidup seseorang disingkirkan. Yesus menengadah ke langit dan mengeluh (berdesah). Desahan ini menunjukkan empati yang mendalam. Yesus turut merasakan beratnya penderitaan manusia. ​Hasilnya sungguh luar biasa bahwa yang tuli mendengar, yang gagap bicara dengan jelas. Kekacauan fisik dikembalikan kepada rancangan aslinya yang sempurna.

“Ia Menjadikan Segala-galanya Baik”

​Kalimat penutup dari orang banyak yang tersirat pada ayat 37 adalah inti dari seluruh kisah dalam perikop ini: “Ia menjadikan segala-galanya baik.” Kalimat ini menggema kembali ke kitab Kejadian, saat Allah melihat segala sesuatu yang diciptakan-Nya dan berkata bahwa itu “sungguh amat baik.” Dunia yang telah rusak oleh dosa, sakit penyakit, dan isolasi, sedang “diciptakan ulang” oleh Yesus. Yesus tidak melakukan pekerjaan setengah-setengah. Yesus tidak hanya menyembuhkan telinga, tapi juga memulihkan martabat dan relasi sosial orang tersebut.

​Satu refleksi sederhana yang seringkali terjadi dalam hidup kita adalah kita tidak jarang merasa hidup kita berantakan, komunikasi terputus, atau merasa “tuli” terhadap suara Tuhan. Namun, Injil hari ini mengingatkan kita bahwa​Yesus sanggup masuk ke area yang paling rusak dalam hidup kita dan memperbaikinya. ​Kebaikan versi Tuhan mungkin diawali dengan proses yang membuat kita merasa tidak nyaman (dibawa menjauh dari keramaian), tetapi akhirnya selalu membawa pemulihan. ​Tugas saya dan Anda adalah percaya bahwa di tangan Sang Pencipta, tidak ada yang terlalu rusak untuk diperbaiki.

​”Ia menjadikan segala-galanya baik; yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.” (Markus 7:37)

​(RD Daniel Aji Kurniawan)

Translate »