Menjadi Lahan Subur

Menjadi Lahan Subur

RP Hugo Susdiyanto O.Carm

Markus 4:1-20

PW St. Tomas Aquino, Imam dan Pujangga Gereja

Rabu 28 Januari 2026

Salah satu perikop Kitab Suci yang sangat jelas adalh bagian yang diwartakan kepada kita hari ini. Mengapa demikian? Karena Tuhan Yesus sendiri telah menjelaskan makna perumpaan yang Ia gunakan untuk mengajar. Meskipun demikian, mari kita merenungkannya.

Dalam warta hari ini dikisahkan kepada kita tentang adanya empat jenis tanah sebagai lahan untuk bertumbuhkembangnya benih yang ditaburkan: Pertama, tanah pinggir jalan di mana benih yang belum bertumbuh dilahap oleh burung (ay. 4). Kedua, tanah berbatu di mana benih itu segera tumbuh, tetapi juga segera menjadi layu karena tidak berakar (ay.5-6). Ketiga, tanah bersemak duri di mana benih bisa tumbuh, akan tetapi semak mengimpit benih yang telah tumbuh hingga mati (ay.7). Keempat, tanah yang baik di mana benih bertumbuh dan berbuah (ay.8).

Benih yang ditaburkan itu adalah firman Tuhan. Yesus mengajarkan bagaimana Kabar keselamatan diterima di dalam hati setiap manusia. Bagaimana benih itu bertumbuh menggambarkan respons kita, manusia saat menerima sabda Tuhan. Ada Sebagian orang yang mendengar, akan tetapi tidak mengerti. Sebagian lagi berusaha menyimak, merasakan indahnya, akan tetapi hanya sesaat dan segera menghilang karena tidak berakar dalam hati. Ada sebagaian lagiyang menerima sabda itu, namun terguncang karena kekhawatiran dan keinginan fana dari dunia ini, maka sabda pun lenyap tanpa bekas.

Belajar dari ketiga jenis lahan, kiranya ada hal penting yang tidak pernah boleh dilupakan sebagai prasyarat bertumbuh dan berkembangnya sabda Tuhan, yakni sikap tobat. Pertobatan sejati adalah sikap terbuka akan rahmat Allah. Pertobatan sejati bagaikan tanah subur, hati yang terbukan untuk menerima benih firman Tuhan dan percaya bahwa sabda Tuhan berakar dengan kuat dalam dirinya. Jika sabda Tuhan telah berakar dengan kokoh, maka apa pun pergumulan hidup di dunia, kita tetap bertahan. Sabda Tuhan yang berakar kokoh dalam diri kita pasti akan menghasilkan buah berlimpah dan bermakna bagi diri kita dan sesama.

Santo Thomas Aquino dikenal memiliki devosi, penghormatan  yang tinggi terhadap Ekaristi Kudus. Dengan kata lain, ia sabda Tuhan telah berakar dalam dirinya. Karenanya, ia mendapatkan anugerah untuk menggubah lagi tentang keluhuran Ekaristi. Dari St. Thomas Aquino kita memperoleh 5 nyanyian indah tentang Ekarisri [1. Pange Lingua Gloriosi (PS 501. Mari Kita Memadahkan), 2. Adoro Te Devote (PS 560. Allah yang Tersamar), 3. Verbum Supernum Prodiens, 4. Sacris Solemniis [Panis Angelicus], 5. Lauda Sion Salvatorem (PS 556. Sion, Puji Penyelamat). Semoga hidup Santo Thomas Aquino menginspirasi kita dalam mengupayakan diri kita sebagai lahan yang subur untuk bertumbuh dan berkembangnya sabda Tuhan. 

RENUNGAN: 27 JANUARI 2026

RENUNGAN: 27 JANUARI 2026

Rm Ignasius Joko Purnomo

Markus 3:31-35

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Dalam Injil hari ini, Markus menceritakan bahwa ibu dan saudara-saudara Yesus datang dan berdiri di luar, lalu menyuruh orang untuk memanggil Yesus. Ketika orang-orang berkata, “Ibu dan saudara-saudara-Mu ada di luar dan ingin menemu-Mu,” Yesus menjawab dengan kata-kata yang mengejutkan: “Siapa ibu-Ku dan siapa saudara-saudara-Ku? Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, saudara-Ku perempuan, dan ibu-Ku.” Sepintas, kata-kata ini terdengar seperti penolakan terhadap keluarga sendiri. Tetapi sesungguhnya, Yesus sedang memperluas makna keluarga, dari keluarga berdasarkan darah menjadi keluarga berdasarkan iman dan ketaatan kepada Allah. Yesus mengajarkan bahwa kedekatan sejati dengan Dia tidak ditentukan oleh hubungan darah atau kedekatan sosial, melainkan oleh ketaatan pada kehendak Bapa. Setiap orang yang berusaha hidup menurut kehendak Allah – entah dia miskin atau kaya, laki-laki atau perempuan, dari bangsa mana pun – semuanya termasuk dalam keluarga Allah. Dengan demikian, Gereja menjadi keluarga rohani yang luas: satu tubuh dalam Kristus, di mana kasih, pengampunan, dan kesetiaan kepada kehendak Allah menjadi pengikatnya.

Saudara-saudari terkasih,

Kedekatan dengan Yesus tidak cukup hanya di bibir, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan. Kita mungkin sering berkata bahwa kita orang Katolik, kita mencintai Tuhan, kita beriman. Namun Yesus hari ini bertanya: Apakah engkau sungguh melakukan kehendak Allah?Melakukan kehendak Allah bisa berarti:memaafkan orang yang menyakiti kita, walau hati kita terluka,  setia dalam tugas harian, walau tidak ada yang melihat, menjalankan pelayanan dengan kasih, bukan demi pujian, dan hidup jujur di tengah godaan kompromi.Di situlah letak ketaatan yang membuat kita sungguh menjadi saudara dan saudari Kristus.

Hari ini, kita melihat teladan sempurna dari sabda Yesus itu dalam diri Bunda Maria.Ia bukan hanya ibu Yesus karena melahirkan-Nya, tetapi karena imannya yang taat:“Aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataan-Mu.”Maria adalah murid pertama yang melaksanakan kehendak Allah dengan sepenuh hati. Ia mengajarkan kepada kita bahwa melakukan kehendak Tuhan berarti membuka hati sepenuhnya, walau jalan hidup sering tidak jelas dan penuh salib.

Saudara-saudari terkasih,

Kita semua adalah putra-putri Allah, saudara-saudari Yesus. Kita dipanggil untuk membangun “keluarga Allah” di mana pun kita berada – di rumah, di komunitas, di tempat kerja. Ketika kita saling mengasihi, saling menolong, dan saling mengampuni, saat itulah dunia melihat wajah keluarga Allah. Mungkin di sekitar kita ada orang yang merasa sendirian, ditolak, atau kehilangan harapan. Dengan sikap terbuka dan penuh kasih, kita dapat menjadi saudara bagi mereka – menghadirkan kasih Allah yang merangkul semua orang tanpa batas. Semoga setiap hari kita semakin dapat belajar dari Bunda Maria, setia mendengarkan dan melaksanakan kehendak Tuhan, agar melalui hidup kita, dunia semakin melihat wajah kasih Allah yang mempersatukan dan menyelamatkan.

Selamat beraktivitas, semoga Tuhan memberkati kita semua.

Translate »