Browsed by
Tag: valentinus bayuhadi ruseno

Kita dan Para Kudus

Kita dan Para Kudus

Minggu ke-33 dalam Masa Biasa [B]
17 November 2024
Markus 13:24-32

Ketika seseorang bertanya apakah kita ingin masuk surga, kita dengan cepat menjawab, “Ya!” Namun, jika ditanya apakah kita ingin menjadi santo atau santa, antusiasme kita sering kali memudar. Hal ini mengejutkan karena semua orang di surga adalah orang kudus. Menjadi santo-santa berarti berada di surga! Jadi mengapa kita memisahkan gagasan tentang surga dengan menjadi orang kudus?

Setidaknya, ada tiga alasan:

  1. Kesalahpahaman akan Iman Katolik: Beberapa dari kita mungkin tidak sepenuhnya memahami iman kita. Kita mungkin berpikir bahwa ada dua kelompok di surga: orang-orang kudus yang terkenal seperti Bunda Maria, Santo Yosef, Santo Dominikus, dan Santo Fransiskus, dan kelompok kedua adalah mereka yang bukan orang kudus. Kita menganggap orang-orang kudus hanyalah mereka yang telah dikanonisasi (diakui secara resmi) dan memiliki hari-hari peringatan pada kalender liturgi Gereja. Namun, hal ini tidaklah benar. Semua orang di surga adalah orang-orang kudus, bahkan jika kita tidak mengetahui nama-nama mereka. Itulah mengapa kita merayakan Hari Semua Orang Kudus, untuk menghormati setiap orang yang karena rahmat Allah telah mencapai surga. Salah satu orang kudus itu bisa jadi adalah kerabat atau leluhur kita!
  2. Ide bahwa Terlalu Sulit untuk Menjadi Orang Kudus: Kita membaca kisah-kisah tentang orang-orang kudus dan merasa bahwa kita tidak akan pernah bisa sebaik mereka. Orang-orang kudus tampak sempurna, sangat baik, selalu berdoa, dan beberapa bahkan melakukan mukjizat. Dan bahkan para martir menghadapi kematian yang sangat kejam karena iman mereka. Tingkat kekudusan ini terasa mustahil bagi kita karena kita sadar akan kelemahan dan dosa-dosa kita. Tetapi sejatinya, orang-orang kudus tidak menjadi kudus karena usaha mereka sendiri; mereka bergantung pada rahmat Allah. Mereka adalah manusia yang tidak sempurna, sama seperti kita semua, namun mengizinkan kasih Allah untuk mengubah mereka.
  3. Takut akan Kematian: Kita mungkin berpikir bahwa menjadi orang kudus berarti kita harus mati terlebih dahulu, dan kita tidak ingin mati! Namun, tidak semua kematian itu terjadi secara biologis. Kita juga harus mati atas diri kita sendiri. Ini berarti melepaskan keterikatan duniawi dan hasrat-hasrat dosa kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus berbicara tentang kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan dan tanda-tanda yang akan terjadi sebelum kedatangan-Nya, langit menjadi gelap, bulan dan matahari yang redup, dan bintang-bintang yang berjatuhan. Hal ini dapat berarti akhir dari sebuah era atau bahkan akhir dari dunia. Namun, hal ini juga dapat memberikan pelajaran yang berharga: dunia yang kita kenal ini bersifat sementara, akan hancur, dan jika kita berpegang teguh padanya, kita juga akan hancur dan kehilangan segalanya. Kita harus memilih: apakah kita akan mati bagi dunia ini dan hidup untuk Tuhan, atau mati bersama dunia ini dan kehilangan Tuhan.

Kita memohon kepada Tuhan untuk menolong kita mati bagi diri kita sendiri, melepaskan dunia, dan hidup lebih bagi Kristus. Sehingga, kapan pun Yesus datang, kita akan siap untuk berdiri di hadapan-Nya, benar-benar hidup, seperti orang-orang kudus di surga.

Roma
Valentinus B. Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:
Seperti apakah surga itu? Bagaimana kita memandang orang-orang kudus dan peran mereka dalam hidup kita? Apakah kita ingin menjadi orang kudus, atau kita terlalu melekat pada dunia? Hal-hal apakah yang kita lekatkan dalam hidup ini? Bagaimana kita mempersiapkan diri untuk kedatangan Yesus?

Iman Janda yang Miskin

Iman Janda yang Miskin

Hari Minggu ke-32 dalam Masa Biasa [B]
10 November 2024
Markus 12:38-44

Dalam Injil Markus, Yesus memuji seorang janda miskin yang memberikan dua peser uang terakhirnya ke Bait Allah. Dia menunjukkan mengapa tindakan janda itu begitu luar biasa: “Janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh hidupnya.” (Markus 12:44). Yesus mengaguminya karena, meskipun sangat miskin, dia menunjukkan kemurahan hati yang luar biasa. Tetapi ada pesan yang lebih dalam di sini. Apakah itu?

Kita perlu bertanya, “Mengapa janda ini miskin?” Pada zaman Yesus, para janda termasuk golongan yang paling rentan, terutama jika mereka tidak memiliki keluarga yang mendukung dan melindungi mereka. Karena itu, Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memperhatikan para janda (lihat Ul. 14:29 dan Yes. 1:17). Namun, dalam perikop Injil ini, ada petunjuk mengapa janda ini jatuh miskin. Sebelum memuji janda tersebut, Yesus mengecam ahli-ahli Taurat bukan hanya karena mereka mencari popularitas, tetapi karena sesuatu yang lebih jahat, “Mereka menelan rumah-rumah janda” (Mrk. 12:40).

Bagaimana para ahli Taurat mengeksploitasi para janda? Ada beberapa kemungkinan:
Pertama, Penyalahgunaan Otoritas Hukum. Para ahli Taurat, sesuai gelarnya adalah ahli dalam hukum dan implementasi hukum Musa atau Taurat. Oleh karena itu, mereka dipercaya sebagai penasihat hukum atau bahkan wali, terutama bagi para janda yang membutuhkan bantuan untuk mengatur urusan mereka setelah kematian suami mereka. Bagaimanapun juga, para ahli Taurat ini adalah hamba-hamba Allah! Sayangnya, beberapa dari mereka menyalahgunakan kepercayaan ini, menggunakan pengetahuan hukum mereka untuk memanipulasi proses hukum demi keuntungan pribadi, bahkan melakukan penipuan.

Kedua, Pinjaman berbunga tinggi. Beberapa ahli Taurat terlibat dalam praktik pinjaman dengan bunga tinggi. Dengan kedok memberikan bantuan keuangan, mereka meminjamkan uang kepada para janda dan secara bertahap menjebak mereka dalam utang yang sangat besar. Ketika para janda tidak dapat melunasi utang-utang tersebut, mereka terpaksa menyerahkan rumah dan harta benda mereka, yang pada akhirnya menjadi miskin.

Meskipun kita tidak tahu persis bagaimana janda dalam cerita ini dieksploitasi, kita tahu bahwa dia menderita ketidakadilan. Meskipun demikian, responsnya sangat luar biasa. Alih-alih merasa sakit hati atau menyalahkan Tuhan, ia tetap bermurah hati. Bahkan dalam penderitaannya, ia tetap mengasihi Tuhan dengan segenap hati, kekuatan, dan hidupnya. Mengapa? Karena imannya bertumpu pada Tuhan itu sendiri, bukan pada perwakilan manusia yang memiliki kekurangan seperti para ahli Taurat. Sementara manusia dapat gagal atau bertindak tidak adil, Allah tidak. Ia percaya bahwa Allah menjaganya, dan memang, Yesus melihat tindakannya dan mengakui iman dan pengorbanannya.

Kisah ini membuka mata kita akan kenyataan pahit yang dapat terjadi bahkan di dalam Gereja kita. Namun, teladan sang janda juga mengajarkan kita bagaimana merespons tantangan-tantangan ini tanpa kehilangan iman.

Pertanyaan Refleksi:
Apakah kita membantu membawa orang lain lebih dekat kepada Allah, atau justru menjauhkan mereka dari Tuhan? Apakah kita menggunakan posisi dan pengetahuan kita untuk menolong orang lain atau mengambil keuntungan dari mereka? Ketika hal-hal buruk terjadi, apakah kita menyalahkan Allah atau tetap percaya kepada-Nya? Apakah kita berusaha melawan ketidakadilan di dalam komunitas dan Gereja kita, atau apakah kita diam saja?

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Ekaristi dan Kurban Salib

Ekaristi dan Kurban Salib

Minggu ke-31 dalam Masa Biasa
3 November 2024
Ibrani 7:23-28

Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita menyembah Allah dengan mempersembahkan kurban yang sempurna kepada-Nya. Kurban ini adalah Yesus Kristus, yang benar-benar hadir dalam Ekaristi. Namun, ketika kita membaca Surat Ibrani, tertulis bahwa Yesus telah mempersembahkan diri-Nya di kayu salib “sekali untuk selama-lamanya” (lihat Ibr. 7:27). Jadi, mengapa kita “mengorbankan” atau bahkan “menyalibkan” Yesus lagi dalam Ekaristi? Apakah ini berarti kita salah memahami penyembahan kita?

Pertama, kita perlu memahami konteks Surat Ibrani. Sang Penulis menyadari bahwa untuk menyembah Allah, seorang imam agung harus mempersembahkan kurban. Kemudian, sang penulis membandingkan imam agung Israel dari suku Lewi dengan Yesus sebagai imam agung sejati. Imam besar Lewi adalah manusia biasa dan tentunya, orang berdosa. Oleh karena itu, dia harus mempersembahkan korban berulang kali karena dia terus jatuh ke dalam dosa. Sementara itu, Yesus sungguh ilahi dan sungguh manusia, tanpa dosa, namun berbagi dalam pergumulan manusiawi kita. Sementara imam besar Lewi mempersembahkan kurban binatang yang tidak sempurna berkali-kali, Yesus memberikan diri-Nya di kayu salib sebagai kurban kasih yang sempurna dan paling layak. Karena nilai pengorbanan-Nya di salib jauh melampaui pengorbanan imam Lewi atau korban-korban manusiawi lainnya, maka pengorbanan duniawi tidak lagi diperlukan.

Namun, meskipun Yesus telah mempersembahkan diri-Nya satu kali untuk selamanya di bumi, bukan berarti Dia bersantai-santai di surga. Surat Ibrani yang sama menyatakan adanya “κρείττοσιν θυσίαις (kreittosin tusiais)” – korban-korban yang lebih baik di surga (Ibr. 9:23). Ini mengindikasikan bahwa ada persembahan kurban di surga. Jadi, saat memasuki surga, Yesus tidak menghentikan pelayanan-Nya; sebaliknya, Dia menyempurnakan identitas-Nya sebagai imam agung dengan mempersembahkan pengorbanan yang tak berkesudahan. Tetapi bagaimana Dia mempersembahkan korban tanpa harus mati lagi di kayu salib? Jawabannya adalah melalui korban yang hidup (lihat Rm. 12:1). Yesus mempersembahkan diri-Nya, tubuh-Nya yang mulia namun juga masih menanggung luka-luka di salib, sebagai persembahan yang sempurna kepada Bapa. Namun, kali ini, tanpa kematian. Karena Yesus di surga dan Yesus di kayu salib pada dasarnya adalah sama, maka korban hidup yang Dia persembahkan di surga memiliki nilai yang sama dengan korban di kayu salib.

Sekarang, mari kita lihat apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang Ekaristi sebagai korban. Katekismus Gereja Katolik mengatakan, “Apabila Gereja merayakan Ekaristi, ia mengenangkan Paska Kristus; Paska ini dihadirkan. Kurban yang dibawakan Kristus di salib satu kali untuk selama-lamanya selalu tinggal berhasil guna” (KGK 1364). Namun, apakah makna dari ajaran-ajaran ini?

Ini berarti bahwa Gereja Katolik memahami Ekaristi sebagai partisipasi kita dalam liturgi surgawi. Dalam Ekaristi, kita mempersembahkan kurban salib, bukan dengan menyalibkan Yesus lagi, tetapi dengan berpartisipasi dalam persembahan diri Yesus di surga, yang memiliki nilai tak terbatas yang sama dengan kurban-Nya di kayu salib. Hanya di dalam Ekaristi kita sungguh-sungguh menyembah Allah dan menerima buah-buah salib.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk Refleksi:
Bagaimana kita memahami Ekaristi? Apakah kita merasa perlu untuk berpartisipasi dalam Ekaristi? Apakah kita menyadari bahwa melalui Ekaristi, kita mengambil bagian dalam penyembahan surgawi? Bagaimanakah kita dapat memperdalam partisipasi kita di dalam Ekaristi? Buah-buah apakah yang Anda terima dari Ekaristi? Apakah Anda mendorong keluarga dan teman-teman Anda untuk berpartisipasi dalam Ekaristi?

Pengakuan Bartimeus

Pengakuan Bartimeus

Hari Minggu ke-30 dalam Waktu Biasa [B]

27 Oktober 2024

Markus 10:46-52

Bartimeus adalah seorang yang buta, dan hidupnya penuh dengan penderitaan. Dunia kuno adalah tempat yang kejam dan bahkan tanpa belas kasihan bagi para penyandang disabilitas. Dalam beberapa budaya kuno, bayi yang lahir dengan ketidaksempurnaan fisik akan ditinggalkan di hutan atau dibuang ke jurang. Mereka dikutuk dan akan membawa kutukan bagi orang-orang di sekitarnya. Jika penyandang disabilitas selamat dari masa kanak-kanak, mereka akan terus terpinggirkan, dirundung dan diejek. Bartimeus mengemis, dan itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk bertahan hidup. Gerbang kota Yerikho adalah tempat yang ideal karena banyak orang yang akan melintasi jalan ini.

Namun, meskipun buta dan miskin, Bartimeus adalah orang pertama yang menyebut Yesus sebagai Putra Daud. Gelar “Putra Daud” adalah unik karena beberapa nubuat penting dalam Perjanjian Lama berbicara tentang putra Daud. Salah satu yang terkenal adalah dari 2 Samuel 7, yang mengatakan bahwa Allah akan menegakkan kerajaan putra Daud untuk selama-lamanya (ay.13). Nubuat serupa juga dapat ditemukan dalam Yesaya 9:6-7 dan Yeremia 23:5-6.

Jauh di dalam hatinya, Bartimeus tahu bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat-nubuat ini. Bartimeus tahu Dia adalah Raja Israel untuk selama-lamanya. Ironisnya, tidak ada murid lain yang memanggil Yesus dengan gelar penting ini. Dibutuhkan seorang yang buta untuk melihat kebenaran. Kemudian, Yesus membenarkan pengakuan Bartimeus dan memberinya mukjizat penglihatan. Kisah ini diakhiri dengan Bartimeus yang mengikuti Yesus. Mungkin inilah alasan mengapa Markus dapat menulis kisah Bartimeus. Ia tetap menjadi pengikut Yesus bahkan setelah kematian dan kebangkitan Yesus, dan namanya dikenal oleh Gereja awal.

Bartimeus adalah salah satu dari sedikit tokoh yang mengakui identitas Yesus yang sebenarnya dalam Injil Markus. Ironisnya, tokoh-tokoh ini bukanlah pengikut Yesus. Roh-roh jahat menyebut Yesus sebagai ‘yang kudus dari Allah’ (Mrk. 1:24). Perwira Romawi, musuh orang Yahudi, mengakui Yesus sebagai Anak Allah (15:39). Perempuan dari Siria, tentunya bukan putri Israel, memanggil Yesus dengan sebutan Tuhan (7:28). Satu-satunya murid yang mengakui identitas Yesus adalah Simon Petrus ketika ia mengakui bahwa Yesus adalah Mesias (8:29). Namun, Petrus juga gagal memahami apa yang ia akui ketika Yesus menegurnya karena ia memiliki pemahaman yang salah tentang identitas sebagai Mesias.

Melalui Bartimeus dan tokoh-tokoh lainnya, Markus memberi kita sebuah pelajaran penting. Ya, kita adalah pengikut Kristus. Ya, kita dibaptis. Ya, kita pergi ke Gereja setiap hari Minggu. Namun, itu tidak berarti kita melihat siapa Yesus.  Meskipun Bartimeus buta secara fisik, ia memiliki iman yang memampukannya untuk melihat siapa Yesus sebenarnya, dan hal ini menyelamatkannya. Kita mungkin memiliki mata fisik yang sehat, tetapi apakah kita memiliki iman yang benar untuk melihat Yesus dan mengikuti-Nya?

Roma

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan refleksi:

Kita mungkin mengakui bahwa Yesus adalah Allah, tetapi apakah kita mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita, atau malah kita menyembah ilah-ilah lain seperti uang, kesenangan, dan ketenaran?  Kita mungkin mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Raja, tetapi apakah kita hidup sesuai dengan perkataan dan perintah Raja kita, atau malah apakah kita hanya melakukan apa pun yang ingin kita lakukan? Kita mengakui Yesus sebagai Juruselamat kita, tetapi apakah kita hidup sebagai orang yang telah diselamatkan dan ditebus, atau malah apakah kita masih diperbudak oleh dosa-dosa?

Yesus, Sang Imam Agung kita

Yesus, Sang Imam Agung kita

Minggu ke-29 dalam Masa Biasa [B]
20 Oktober 2024
Ibrani 4:14-16

Surat Ibrani menyebut Yesus sebagai Imam Agung kita. Sebagai umat Katolik, kita tidak asing dengan kata ‘imam’ karena imam adalah pemimpin liturgi atau pemimpin ibadah kita. Namun, penulis surat Ibrani tidak menyebut Yesus hanya sebagai imam biasa, melainkan sebagai Imam Agung. Mengapa penulis surat ini menyebut Yesus dengan gelar ini? Apa yang membedakan imam agung dengan imam-imam lainnya? Apakah maknanya bagi kita?

Pertama, kita perlu mengerti kata “imam”. Banyak dari kita sudah tahu bahwa seorang imam ditunjuk untuk memimpin ibadah, tetapi ada satu tanggung jawab khusus yang hanya dapat dilakukan seorang imam dan sering kali luput dari perhatian kita. Dalam Alkitab dan banyak peradaban kuno, bagian paling penting dari ritual penyembahan adalah persembahan kurban. Pada umumnya, kurban terdiri dari persembahan sesuatu yang paling berharga kepada Tuhan. Dalam masyarakat agraris kuno, hewan seperti domba dan hasil panen seperti gandum dapat menjadi persembahan kurban. Dalam kasus pengorbanan hewan, ritual dimulai dengan umat menyerahkan hewan kepada imam, dan kemudian imam akan menyembelih hewan tersebut dengan memisahkan darah dan tubuhnya. Setelah itu, imam membawa hewan tersebut ke altar untuk dibakar sebagai simbol bahwa Tuhan telah menerima kurban tersebut. Dalam hal ini, seorang imam berfungsi sebagai perantara antara Tuhan dan umat.

Pemimpin di antara para imam disebut ‘imam agung’. Kata Ibrani untuk imam agung adalah כֹּהֵן גָּדוֹל, kohen gadol, yang secara harfiah berarti “imam besar”. Dalam bahasa Yunani, imam besar adalah ἀρχιερεύς, archiereus , dan dapat diterjemahkan sebagai “imam yang pertama.” Tentu saja, imam agung harus memimpin para imam lainnya dan bertanggung jawab atas seluruh sistem peribadahan. Namun, fungsi utamanya adalah menjadi perantara utama antara Tuhan dan umat. Dengan demikian, hanya dia yang dapat memimpin ibadah yang paling penting. Dalam Alkitab, hanya imam agung yang dapat mempersembahkan kurban kudus pada hari pendamaian (Yom Kippur) dan masuk ke ruang maha kudus sebagai bagian dari ritus yang membawa penebusan dosa-dosa bangsa Israel (lihat Imamat 16).

Dengan latar belakang alkitabiah ini, kita dapat lebih memahami mengapa penulis surat Ibrani menyebut Yesus sebagai Imam Agung kita. Yesus adalah pengantara tertinggi antara Allah Bapa dan kita. Selain itu, Yesus jauh lebih sempurna daripada imam agung lainnya karena Dia ilahi. Namun, Yesus juga sepenuhnya manusia, mengalami semua penderitaan dan berbagai masalah dan kelemahan manusia. Karena itu, Dia mengetahui dengan tepat pergumulan dan kegagalan kita. Namun, yang paling penting, Imam Agung kita juga menjadi kurban yang sempurna bagi Bapa ketika Dia mempersembahkan diri-Nya di kayu salib. Oleh karena itu, ketika kita datang kepada Yesus dengan kerendahan hati, kita dapat berharap dengan keyakinan bahwa Yesus akan menerima kita karena Dia mengenal kita, dan akhirnya, Dia akan membawa kita kepada Bapa dan kita menerima belas kasih.

Roma
Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Pertanyaan-pertanyaan untuk refleksi:
Bagaimana kita memandang para imam di paroki/gereja kita? Apakah kita mengenali mereka sebagai orang-orang yang membawa kita lebih dekat kepada Allah? Apakah kita tahu bahwa Ekaristi adalah kurban Yesus Kristus dan, dengan demikian, merupakan penyembahan kita yang sejati kepada Allah? Pengorbanan apakah yang kita bawa ke dalam Ekaristi? Apa yang membuat kita tidak dapat mendekati Yesus? Malu, takut, marah, kecewa, dendam, tidak pantas?

Translate »