Browsed by
Tag: komitmen

Renungan, 6 November 2013

Renungan, 6 November 2013

Luke 14:25-27

Pada suatu kali banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka:  “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Bacaan hari ini membuat para murid Yesus berfikir ulang untuk mengikutiNya. Mereka berfikir bahwa tuntutan dan kata-kata Yesus keras, dan menuntut banyak pengurbanan. Sebenarnya kata “membenci bapa, ibu, istri, dan anak-anak” bisa diterjemahkan dengan kata “tidak lebih mencintai” saudara dari pada mengasihi Tuhan. Ada tuntutan dan prioritas yang paling utama dalam hidup ini. Yesus menuntut sebuah komitmen dari para pengikutnya.

Dalam kehidupan modern ini, menghidupi komitmen sangatlah mahal harganya. Budaya ini jauh dari kehidupan orang Amerika. Berapa banyak orang memilih menjadi single parent, dari pada memilih berkomitment untuk menjadi orang tua. Orang lebih memilih hidup sendiri dari pada mengikat komitment dengan orang lain. Berapa banyak orang melepaskan ikatan perkawinan karena merasa tak bisa bersatu dan memperjuangkan hidup komitmen perkawinannya.

Berkomitmen untuk setia menjadi orang Katolik juga tidak mudah. Namun Yesus tak mau pengikutnya menjadi murid yang setengah-setengah. Ia ingin agar setiap orang yang berjalan bersamaNya memiliki dasar hidup Kristen yang kuat.

Mari kita bertanya dalam diri, hal-hal apa yang menggoda kita sehingga komitmen mengikuti Yesus dan kesediaan memanggul salib menjadi luntur?

Semoga kita berani datang pada Yesus dan meminta pertolongannya karena dia bersabda, “marilah datang padaku, kalian yang berbeban berat, karena kuk yang kupasang ringan.”

Translate »