Aku membasuh kamu supaya kamu ada dalam Aku
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
(Kel. 12:1-8.11-14; 1Kor. 11:23-26; Yoh. 13:1-15)
Rm. Yohanes Endi, Pr.
Saudara-saudariku terkasih, malam ini kita diajak masuk ke dalam sebuah suasana yang hening, dekat, dan penuh makna yakni Perjamuan Malam Terakhir. Kita dapat membayangkan sebuah ruang sederhana di mana Yesus duduk bersama para murid-Nya. Mereka mungkin tidak sepenuhnya mengerti apa yang akan terjadi, tetapi Yesus tahu bahwa salib sudah semakin dekat. Justru dalam kesadaran akan penderitaan yang akan datang itulah, Yesus memilih untuk mengasihi sampai tuntas. Ia tidak menunjukkan kasih dengan cara yang megah atau penuh kuasa, melainkan melalui tindakan yang sederhana namun sangat dalam maknanya: membasuh kaki para murid-Nya.
Dalam budaya saat itu, membasuh kaki adalah tugas seorang hamba yang paling rendah. Namun Yesus, Sang Guru dan Tuhan, justru berlutut di hadapan murid-murid-Nya, menyentuh kaki mereka yang berdebu dan kotor, lalu membasuhnya dengan penuh kelembutan. Di sini kita melihat wajah Allah yang sesungguhnya, yakni bukan Allah yang jauh dan tak terjangkau, tetapi Allah yang mendekat, yang merendahkan diri, dan yang tidak takut menyentuh kerapuhan manusia. Tindakan ini menjadi pewahyuan bahwa kasih sejati selalu bersedia turun, bukan meninggi.
Sesudah itu Yesus bertanya, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu?” Pertanyaan ini tidak hanya ditujukan kepada para murid pada waktu itu, tetapi juga kepada kita saat ini. Apakah kita sungguh mengerti makna kasih yang diajarkan oleh Yesus? Sering kali kita berbicara tentang kasih, tetapi tidak selalu mudah untuk menjalaninya. Kita mudah mengatakan “saya mengasihi”, tetapi sulit untuk merendahkan diri, untuk mengalah, atau untuk melayani tanpa mengharapkan balasan. Kasih yang diajarkan Yesus bukanlah kasih yang berhenti pada kata-kata, melainkan kasih yang nyata, yang memberi diri, yang bekerja dalam diam tanpa mencari pengakuan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering menemukan bentuk kasih seperti ini. Seorang ibu yang bangun pagi setiap hari untuk menyiapkan kebutuhan keluarganya, bekerja tanpa banyak pujian, bahkan sering kali tanpa disadari pengorbanannya, adalah gambaran nyata dari kasih yang melayani. Ia tetap setia melakukan semuanya bukan karena kewajiban semata, tetapi karena cinta. Di situlah kita belajar bahwa “membasuh kaki” bukanlah sesuatu yang besar dan spektakuler, melainkan kesetiaan dalam hal-hal kecil yang dilakukan dengan kasih yang besar. Seperti yang diingatkan oleh Mother Teresa, “Tuhan tidak menuntut kita melakukan hal-hal besar, tetapi mengerjakan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”.
Yesus tidak hanya memberi teladan, tetapi juga perintah, “Kamu harus saling membasuh kaki.” Artinya, iman kita tidak boleh berhenti pada perayaan liturgi, tetapi harus menjelma dalam kehidupan konkret. Membasuh kaki pada masa kini dapat berarti mengampuni orang yang melukai kita, bersabar terhadap mereka yang sulit, membantu tanpa diminta, mendengarkan tanpa menghakimi, atau hadir bagi mereka yang kesepian. Hal-hal ini mungkin tampak kecil, tetapi justru di situlah kasih Kristiani menjadi nyata. Yang sering kali paling sulit bukanlah melakukan hal besar, melainkan kerendahan hati untuk melakukan hal kecil dengan tulus.
Dalam Perjamuan Malam Terakhir itu pula, Yesus memberikan Ekaristi. Ia memberikan diri-Nya sepenuhnya dalam rupa Tubuh dan Darah-Nya. Ini bukan sekadar simbol, melainkan ungkapan kasih yang total, kasih yang tidak setengah-setengah. Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita tidak hanya mengenang peristiwa itu, tetapi kita sungguh mengambil bagian di dalamnya. Kita menerima kasih itu dan dipersatukan dengan-Nya. Namun Ekaristi tidak boleh berhenti di dalam gereja. Ekaristi harus menjadi hidup kita. Setelah menerima Tubuh Kristus, kita dipanggil untuk menjadi tubuh Kristus bagi sesama; setelah menerima kasih-Nya, kita diutus untuk membagikan kasih itu dalam kehidupan sehari-hari.
Maka pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah: apakah Ekaristi yang kita terima sungguh mengubah cara kita hidup? Apakah kita semakin rendah hati, semakin peka, dan semakin siap melayani? Peristiwa malam ini mengingatkan kita bahwa kasih sejati selalu bersedia berlutut, selalu siap merendahkan diri demi kebaikan orang lain. Karena itu, marilah kita membangun tekad yang sederhana namun mendalam, yaitu: menjadi pribadi yang berani mengasihi dengan cara Yesus. Mungkin tidak mudah, mungkin tidak selalu dihargai, tetapi justru di situlah kita sungguh menjadi murid-Nya.
Semoga kita semakin setia untuk “membasuh kaki” sesama dalam kehidupan sehari-hari, semakin rendah hati dalam melayani, dan semakin menjadikan Ekaristi sebagai sumber kekuatan dalam perjalanan iman kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Ignasius Joko Purnomo
Yohanes 13:21-33.36-38
Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,
Kita sudah memasuki Pekan Suci – masa yang sangat istimewa, di mana Gereja mengajak kita bukan hanya mengenang, tetapi masuk ke dalam misteri kasih Kristus. Injil hari ini membawa kita ke Perjamuan Terakhir. Suasana yang penuh keintiman, tetapi juga ketegangan. Di sana ada Yesus… ada para murid… dan ada dua tokoh yang sangat dekat dengan kita: Yudas dan Petrus. Hari ini, Sabda Tuhan tidak mengajak kita menghakimi mereka, tetapi bercermin. Karena kisah ini adalah kisah kita juga.
Saudara-saudari,
Dalam diri Yudas, kita melihat kemungkinan pengkhianatan. Ia bukan orang luar. Ia murid, ia dekat dengan Yesus. Namun ia memilih jalan yang menjauh. Bukankah ini juga bisa terjadi dalam hidup kita? Kita berdoa, kita datang ke Gereja, kita mengenal Tuhan. Tetapi dalam keputusan sehari-hari, kita bisa saja perlahan menjauh. Pengkhianatan itu sering kali tidak besar dan mencolok, tetapi halus – dalam kompromi kecil, dalam ketidakjujuran, dalam sikap hati. Maka Pekan Suci ini mengundang kita bertanya: Apakah ada bagian hidupku yang mulai menjauh dari Tuhan?
Namun Injil tidak berhenti pada Yudas. Ada juga Petrus. Ia adalah seorang yang penuh semangat. Ia berkata: “Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Tetapi Yesus tahu bahwa ia akan menyangkal. Di sini kita juga dapat melihat diri kita. Kita mempunyai niat baik. Kita ingin setia. Tetapi kita juga lemah. Kita jatuh. Dan di sinilah refleksi dari Santo Agustinus menjadi sangat dalam. Ia mengatakan bahwa Petrus jatuh karena ia terlalu percaya pada dirinya sendiri, tetapi ia bangkit dan menangis di hadapan Tuhan. Sering kali akar kejatuhan kita adalah rasa percaya diri rohani – merasa kita kuat, kita mampu sendiri. Tetapi justru ketika kita jatuh dan menyadari kelemahan kita, di situlah rahmat mulai bekerja. Air mata pertobatan Petrus menjadi jalan kembalinya kepada Tuhan. Lalu bagaimana dengan Yudas? Santo Yohanes Krisostomus memberi peringatan yang sangat tajam. Ia mengatakan bahwa Yudas tidak binasa karena ia mengkhianati Kristus, tetapi karena ia tidak percaya bahwa ia masih bisa diampuni. Ini sangat penting. Masalah terbesar Yudas bukan hanya dosanya, tetapi keputusasaannya. Ia tidak kembali. Ia tidak percaya pada belas kasih Tuhan.
Saudara-saudari terkasih,
Perbedaan antara Yudas dan Petrus bukan pada jatuhnya. Keduanya jatuh. Perbedaannya adalah: Petrus kembali, Yudas tidak. Dan ini menjadi cermin bagi kita. Ketika kita jatuh – dan kita semua pasti pernah jatuh – yang terpenting bukanlah seberapa besar dosa kita, tetapi apakah kita masih mau kembali kepada Tuhan. Pekan Suci adalah saat yang sangat tepat untuk jujur melihat diri. Mungkin kita menemukan diri seperti Yudas – ada bagian hidup yang kita sembunyikan. Mungkin kita lebih seperti Petrus – mempunyai niat baik, tetapi sering gagal. Apa pun itu, Tuhan tetap mengasihi. Bahkan dalam Injil tadi, Yesus masih memberikan roti kepada Yudas – tanda kasih terakhir. Itu berarti Tuhan selalu membuka pintu, bahkan sampai detik terakhir. Maka hari ini, kita diajak untuk bertanya: Siapakah aku dalam kisah ini? Apakah aku sedang menjauh, atau sedang berjuang untuk setia? Dan yang paling penting: apakah aku masih mau kembali kepada Tuhan?
Saudara-saudari,
Dalam beberapa hari ke depan, kita akan merayakan sengsara, wafat, dan kebangkitan Tuhan. Jangan biarkan Pekan Suci ini berlalu begitu saja. Mari kita masuk dengan hati yang jujur – hati yang mengakui dosa, hati yang menerima kelemahan, dan hati yang percaya bahwa kasih Tuhan selalu lebih besar dari kegagalan kita.
Semoga kita diberi rahmat: bukan hanya untuk mengenali diri kita dalam Yudas dan Petrus, tetapi terutama untuk menjadi seperti Petrus – yang kembali, bertobat, dan akhirnya setia.
Semoga Tuhan memberkati kita semua.