Seharusnyalah kita semakin percaya kepadaNya
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Injil Yohanes 8:51-59
“Aku berkata kepadamu: Siapa saja menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai selama-lamanya.” (Yoh 8:51). Pernyataan yang diucapkan Yesus kepada para pemuka Yahudi ini pastinya tidak mudah untuk dimengerti oleh mereka, termasuk juga saya dan Anda. Ada banyak alasan untuk meragukan dan mempertanyakan pernyataan Yesus ini. Siapakah Dia sehingga berani mengucapkan hal tersebut? Apakah Yesus ini lebih hebat dari para Nabi, bahkan lebih besar Abraham yang diagungkan sebagai Bapa bangsa Israel? Abraham dan para nabi saja pada akhirnya mati, lantas apa dasarnya Yesus berucap demikian? Dan tentunya masih banyak lagi alasan dan keraguan yang bisa muncul. Di sinilah kita diarahkan untuk semakin rendah hati memperdalam pengenalan akan Allah yang mulia dan mahakuasa. Pengenalan akan Allah yang benar akan membawa pada keyakinan dan sukacita karena percaya bahwa Allah beserta kita. Iman kita akan Yesus akan menuntun peziarahan manusia beriman ini pada hidup kekal, artinya hidup yang senantiasa dibimbing oleh Allah dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan.
“Jikalau Aku memuliakan diri-Ku sendiri, kemuliaan-Ku itu sedikit pun tidak ada artinya. Bapa-Kulah yang memuliakan Aku, tentang siapa kamu berkata: Dia adalah Allah kami, padahal kamu tidak mengenal Dia. Jika Aku berkata: Aku tidak mengenal Dia, Aku adalah pendusta, sama seperti kamu, tetapi Aku mengenal Dia dan Aku menuruti firman-Nya.” (Yoh 8:54-55). Satu pernyataan Yesus yang kalau kita renungkan lebih mendalam semakin menyadarkan kita tentang seberapa dalam kita mengenal Allah dan seberapa intens kita menjalin relasi dengan Allah. Mengenal Allah dapat ditempuh melalui pengenalan akan Yesus yang sengsara, wafat, dan bangkit sebagaimana kita renungkan selama masa prapaskah dan tobat ini. Sengsaranya memberikan gambaran nyata Allah yang peduli dan solider dengan penderitaan manusia, bahkan dosa-dosa manusia yang tak terhitung jumlahnya. Kematiannya memberikan jawaban konkrit bahwa maut tidak menguasainya dan menjadi akhir dari segalanya. Yesus memberikan keyakinan iman bahwa hidup ini tidak pernah dilenyapkan tetapi diubah menuju keabadian bersama Allah sendiri. Hingga akhirnya, kebangkitan Yesus menjadi tanda bahwa Yesuslah Alfa dan Omega, Awal dan Akhir dari segala ciptaan ini. Artinya kepercayaan kita pada Yesus ialah kepercayaan yang melampaui batasan ruang dan waktu, bahkan logika manusia.
Masa Tobat dan Tahun Kerahiman ini menjadi saat berahmat untuk memeriksa kembali pengenalan kita akan Allah yang menjelma dalam diri Yesus. Apakah saya dan Anda meragukan Yesus? Apakah kita meragukan ajaran iman Gereja Katolik? Apakah kita meragukan kebenaran Kitab Suci? Apakah kita masih percaya pantang, puasa, matiraga, amal kasih, dan perbuatan kesalehan sebagai latihan untuk merasakan bahwa kita sungguh bergantung pada Allah dan Allah sungguh bekerja dalam hidup kita? Marilah kita benahi kesalahpahaman dalam mengenal Allah dengan menggunakan segala daya manusiawi dan rahmat Ilahi untuk mengenali sisi kemunafikan diri kita lebih dahulu. Tuhan memberkati.
(RD Daniel Aji Kurniawan – Imam Diosesan Keuskupan Malang)
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm. Yusuf Dimas Caesario
(Yohanes 8:31-42)
“Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku; dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:31-32)
Pernahkah anda merasa seperti hidup ini penuh tuntutan namun kosong arah? Sudah kerja keras, ikut kegiatan rohani, berbuat baik, tapi hati masih gelisah? Bisa jadi kita sedang kehilangan satu hal penting: tinggal dalam firman Tuhan, bukan sekadar mendengarnya, tapi mengizinkan Sabda itu hidup dan mengubah kita dari dalam.
Yesus berkata kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya, namun masih berpegang kuat pada status mereka sebagai “keturunan Abraham.” Mereka berpikir, “Kami ini orang pilihan, kami sudah benar.” Tapi Yesus tidak mencari pengakuan lahiriah. Dia mencari hati yang mau tinggal bersama-Nya. Iman bukan soal status, tapi soal relasi. Bukan soal label rohani, tapi kesetiaan hati.
Belajar dari Tukang Kebun
Seorang tukang kebun tua di desa selalu berkata kepada anak-anak muda, “Kalau kalian mau pohon kalian berbuah manis, jangan hanya siram permukaan. Akar yang dalam itu butuh perawatan. Harus setia tiap hari.” Satu anak muda bertanya, “Tapi aku sudah siram seminggu lalu, kok daunnya tetap layu?” Kakek itu tertawa, “Airmu memang banyak, tapi hatimu belum tinggal di situ. Kau hanya datang lalu pergi.”
Kadang kita pun seperti itu dalam relasi dengan Tuhan. Kita dengar sabda-Nya, ikut misa, mungkin sesekali berdoa. Tapi apakah kita benar-benar tinggal dalam firman-Nya? Apakah Sabda itu hanya sekadar kata-kata, atau sudah menjadi cara kita berpikir, bersikap, dan memilih?
Yesus berkata, “Kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” Dan kebenaran itu bukan ide, bukan sistem, tapi pribadi-Nya sendiri. Dialah Sabda yang menjadi manusia, tinggal di antara kita. Dialah yang menyatakan kasih Bapa, yang mengundang kita keluar dari perbudakan dosa ke dalam kebebasan sebagai anak-anak Allah.
Yesus tahu, kita semua pernah jadi hamba-hamba ego, hamba keinginan dunia, hamba luka-luka lama, bahkan hamba dosa yang terus kita ulang. Tapi Dia tak ingin kita tinggal dalam perbudakan itu. Maka Dia mengulurkan tangan-Nya: “Tinggallah dalam Aku. Jadilah murid-Ku sungguhan. Bukan sekadar pengikut di keramaian, tapi sahabat dalam perjalanan.”
Dan itulah yang membawa kita kepada kemerdekaan sejati: bukan bebas melakukan apa saja, tapi bebas menjadi pribadi yang seutuhnya dikasihi dan mengasihi. Bebas untuk memilih kebaikan meski sulit. Bebas dari rasa tidak layak karena tahu kita dikasihi tanpa syarat.
Refleksi Pribadi:
Doa :
Tuhan Yesus, aku ingin tinggal dalam Sabda-Mu, bukan hanya mendengar tapi hidup bersama-Mu setiap hari. Bebaskan aku dari hal-hal yang mengikatku, dan ajarlah aku menjadi murid-Mu yang setia, yang mencintai Kebenaran, yaitu Engkau sendiri. Dalam hadirat-Mu, aku ingin merdeka dan bertumbuh. Amin.