Browsed by
Author: admin

Renungan Prapaskah: Puasa yang Membuka Kesadaran

Renungan Prapaskah: Puasa yang Membuka Kesadaran

Romo Agung Wahyudianto O.Carm


(Refleksi berdasarkan Matius 6:1-6,16-18, 5 maret 2025)

Di tengah kota Lima yang sibuk, masa Prapaskah membawa perubahan kecil yang terasa di banyak tempat. Restoran menawarkan lebih banyak menu tanpa daging, pasar-pasar lebih sering menjual ikan dan sayuran, dan keluarga-keluarga mulai menjalankan pantang dengan mengganti makanan mereka dengan sesuatu yang lebih sederhana, seperti “sopa de lentejas” atau “chupe de pescado”. Namun, di balik semua ini, ada pertanyaan yang lebih dalam: apakah puasa hanya tentang makanan, atau ada sesuatu yang lebih mendasar yang perlu kita sadari?

Dalam Injil hari ini, Yesus mengingatkan bahwa puasa bukanlah soal bagaimana orang lain melihat kita, tetapi tentang bagaimana kita hadir dalam keheningan bersama Tuhan. Ia menegur mereka yang berpuasa untuk mendapat pujian, seolah-olah pengorbanan mereka adalah sesuatu yang perlu diakui oleh dunia. Tetapi dalam keheningan, dalam ketidaktampakan, ada sesuatu yang lebih sejati yang dapat ditemukan. Puasa bukanlah sekadar ritual, tetapi undangan untuk melihat lebih dalam ke dalam diri—untuk menyadari apa yang benar-benar menggerakkan kita, apa yang kita genggam erat, dan di mana kita sering terjebak dalam permainan ego.

Di Lima, di mana kehidupan perkotaan bergerak cepat, banyak orang menjalankan puasa sebagai bagian dari kebiasaan tahunan. Namun, apakah puasa hanya tentang mengganti daging dengan ikan, ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi dalam diri kita? Ketika kita berhenti sejenak dari pola makan biasa, apakah kita juga berhenti sejenak dari pola pikir yang reaktif, dari dorongan untuk terus mengejar sesuatu, dari kebiasaan untuk selalu mempertahankan citra diri? Apakah puasa membantu kita mengenali bahwa banyak dari keputusan dan tindakan kita didorong oleh sesuatu yang lebih dalam, yang sering kali tidak kita sadari?

Yesus mengundang kita untuk masuk ke dalam ruang batin di mana tidak ada lagi kepalsuan—di mana kita tidak perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun, di mana kita tidak perlu mempertahankan sesuatu yang sebenarnya rapuh. Dalam keheningan itulah kita menemukan bahwa puasa bukan sekadar tentang mengurangi sesuatu, tetapi tentang mengalami ruang yang lebih luas di dalam diri kita, ruang yang tidak lagi dikendalikan oleh dorongan ego yang ingin selalu memiliki, mengontrol, atau diakui.

Mungkin ini adalah tantangan terbesar dalam berpuasa: bukan menahan lapar, tetapi menahan dorongan untuk terus mempertahankan ilusi tentang siapa kita. Ketika kita melepaskan keterikatan itu, kita menyadari bahwa kita tidak kehilangan apa pun. Sebaliknya, kita menemukan sesuatu yang lebih besar—sebuah kesadaran yang jernih, kehadiran yang utuh, dan kebebasan untuk hidup tanpa dikendalikan oleh hal-hal yang selama ini kita anggap sebagai diri kita.

Masa Prapaskah bukan hanya tentang kepatuhan pada aturan, tetapi tentang perjalanan menuju kesadaran yang lebih dalam. Saat kita berpuasa, mari kita bertanya: Apa yang sebenarnya sedang kita lepaskan? Apa yang masih kita pertahankan karena takut kehilangan? Seberapa sering kita membiarkan diri kita diperbudak oleh keinginan yang sebenarnya tidak mendefinisikan siapa kita? Ketika kita berani memasuki keheningan tanpa mencari pengakuan, kita akan menemukan bahwa puasa bukan lagi beban, tetapi jalan menuju kebebasan yang sejati.

Menjadi Sarana Berkat

Menjadi Sarana Berkat

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mark 10:28-31

Selasa, 4 Maret 2025

Disadari atau tidak kebanyakan orang menyukai tembang kenangan. Tentu bukan sesuatu yang buruk. Akan tetapi sedikit banyak hal tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang menyukai, bahkan terbelenggu oleh kemapanan, zona nyaman.

Dalam perikop sebelumnya dikisahkan tentang orang yang ingin memperoleh hidup kekal tetapi terjebak dalam keadaannya sebagai orang kaya. Kepada orang itu, Yesus berkata, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”[Mark 10:21]. Orang kaya itu keberatan. Ia tidak berani keluar dari zona mapan, nyaman. Ia gagal memperoleh hidup kekal!

Kegagalan orang kaya dalam mengikuti Yesus, tampaknya memicu Petrus menyampaikan isi hatinya mewakili  rekan-rekannya, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” [Mark 10:28]. Pernyataan tersebut mengacu pada kenyataan bahwa mereka telah meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan barang milik mereka [Mrk. 1:16-20]. Mungkin Petrus dan rekan-rekannya berpikir, “Jika orang kaya itu gagal, bagaimana dengan mereka yang sudah memenuhi permintaan-Nya? Apakah akan berhasil memperoleh hidup kekal?

Yesus menghibur Petrus dan rekan-rekannya dan menegaskan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” [Mark 10:29-30]. Dengan kata lain, Tuhan menjanjikan berkat bagi mereka yang berani dan rela meninggalkan kemapanan, zona nyaman.

Warta hari ini mengajak kita semua untuk berpaling kepada Tuhan. Sebab Dialah yang menciptakan kita, dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Segala sesuatu berasal dari pada-Nya [Sir 17:1-15]. Karenanya meninggalkan kemapanan berarti kembali kepada keadaan kita yang sebenarnya, ketika kita diciptakan. Saat itu kita bukanlah apa-apa. Namun ditangan Tuhan, kita menjadi  seperti kita yang sekarang ini. Karenanya semua yang ada pada kita, anugerah yang kita terima sekarang ini semestinya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Dengan menyadari jati diri kita yang sebenarnya, kita akan semakin dipacu untuk menjadi kreatif dalam melayani Tuhan dan makin dimampukan untuk melihat karya Tuhan dalam hidup kita. Dengan berani meninggalkan kemapanan dan hidup dalam Terang Tuhan, kita akan dijadikan oleh Tuhan sebagai sarana berkat-Nya. Dan inilah makna hidup kekal yang sebenarnya, sebagaimana ditegaskan St. Yohanes, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”[Yoh 17:3].

Translate »