Menjadi Sarana Berkat

Menjadi Sarana Berkat

RP Yakobus Hugo Susdiyanto O.Carm

Mark 10:28-31

Selasa, 4 Maret 2025

Disadari atau tidak kebanyakan orang menyukai tembang kenangan. Tentu bukan sesuatu yang buruk. Akan tetapi sedikit banyak hal tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang menyukai, bahkan terbelenggu oleh kemapanan, zona nyaman.

Dalam perikop sebelumnya dikisahkan tentang orang yang ingin memperoleh hidup kekal tetapi terjebak dalam keadaannya sebagai orang kaya. Kepada orang itu, Yesus berkata, “Hanya satu lagi kekuranganmu: pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.”[Mark 10:21]. Orang kaya itu keberatan. Ia tidak berani keluar dari zona mapan, nyaman. Ia gagal memperoleh hidup kekal!

Kegagalan orang kaya dalam mengikuti Yesus, tampaknya memicu Petrus menyampaikan isi hatinya mewakili  rekan-rekannya, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” [Mark 10:28]. Pernyataan tersebut mengacu pada kenyataan bahwa mereka telah meninggalkan pekerjaan, keluarga, dan barang milik mereka [Mrk. 1:16-20]. Mungkin Petrus dan rekan-rekannya berpikir, “Jika orang kaya itu gagal, bagaimana dengan mereka yang sudah memenuhi permintaan-Nya? Apakah akan berhasil memperoleh hidup kekal?

Yesus menghibur Petrus dan rekan-rekannya dan menegaskan “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang karena Aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, ibunya atau bapanya, anak-anaknya atau ladangnya, orang itu sekarang pada masa ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal” [Mark 10:29-30]. Dengan kata lain, Tuhan menjanjikan berkat bagi mereka yang berani dan rela meninggalkan kemapanan, zona nyaman.

Warta hari ini mengajak kita semua untuk berpaling kepada Tuhan. Sebab Dialah yang menciptakan kita, dan kepada-Nyalah kita akan kembali. Segala sesuatu berasal dari pada-Nya [Sir 17:1-15]. Karenanya meninggalkan kemapanan berarti kembali kepada keadaan kita yang sebenarnya, ketika kita diciptakan. Saat itu kita bukanlah apa-apa. Namun ditangan Tuhan, kita menjadi  seperti kita yang sekarang ini. Karenanya semua yang ada pada kita, anugerah yang kita terima sekarang ini semestinya menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan. Dengan menyadari jati diri kita yang sebenarnya, kita akan semakin dipacu untuk menjadi kreatif dalam melayani Tuhan dan makin dimampukan untuk melihat karya Tuhan dalam hidup kita. Dengan berani meninggalkan kemapanan dan hidup dalam Terang Tuhan, kita akan dijadikan oleh Tuhan sebagai sarana berkat-Nya. Dan inilah makna hidup kekal yang sebenarnya, sebagaimana ditegaskan St. Yohanes, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus”[Yoh 17:3].

Comments are closed.
Translate »