Browsed by
Author: admin

Rabu Pekan Biasa VI

Rabu Pekan Biasa VI

Rm. Gunawan Wibisono O.Carm


19 Februari 2025
Kej 8: 6-13 + Mzm 116 + Luk 8: 22-26

Lectio
Pada suatu kali tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya, dan bertanya: “Sudahkah kaulihat sesuatu?” Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: “Aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon.” Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: “Jangan masuk ke kampung!”

Meditatio
Pada suatu kali tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Betsaida. Di mana itu? Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon kepada-Nya, supaya Ia menjamah dia. Adakah rumusan dan ritual jamahan, sehingga Yesus diminta menjamahnya? Mengapa mereka tidak cukup hanya memohon belaskasihNya? Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata orang itu dan meletakkan tangan-Nya atasnya. Yesus tidak meludah dan menegadah ke langit, sebagaimana yang dpernah dilakukan di daerah Sidon.
‘Sudahkah kaulihat sesuatu?’, Tanya Yesus. Orang itu memandang ke depan, lalu berkata: ‘aku melihat orang, sebab melihat mereka berjalan-jalan, tetapi tampaknya seperti pohon-pohon’. Yesus meletakkan lagi tangan-Nya pada mata orang itu, maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh, sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas. Karya penyembuhan Yesus tidak serentak jadi? Mengapa harus ada tahapan semacam itu? Segala-gala sesuatu ada waktunya. Penghentian hukuman di jaman Nuh, sebagaimana dikatakan dalam bacaan pertama, juga berjalan dalam kurun waktu tertentu, tahap demi tahap. Ada proses kehidupan.
Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnya dan berkata: ‘jangan masuk ke kampong!’ larangan Yesus ini, tentunya agar dia tidak memberitahukan segala yang telah dilakukan oleh Yesus kepada dirinya, sehingga Yesus pun dapat masuk terang-terangan ke dalam kota.

Oratio
Tuhan Yesus, Engkau melimpahkan berkatMu tidak Engkau jatuhkan dari langit, sebaliknya Engkau berikan tahap demi tahap, agar kami berani berusaha mendapatkannya. Semoga segala pemberianMu itu menyenangkan hati dan budi kami, dan akhirnya kami merasa betah dalam kasihMu. Amin.

Contemplatio
Tuhan Yesus menjamah hidup kita selalu.

HIDUP DALAM KEDALAMAN ROHANI

HIDUP DALAM KEDALAMAN ROHANI

RENUNGAN LUBUK HATI
Selasa 18 Februari 2025
Markus 8:14-21

Kisah ini dimulai dengan para murid yang membawa roti hanya satu potong untuk Yesus dan mereka berada di tengah perjalanan. Namun, Yesus segera memperingatkan mereka untuk berhati-hati terhadap ragi orang Farisi dan Herodes. “Ragi” dalam konteks ini merujuk pada pengaruh atau ajaran yang dapat menyusupi dan mempengaruhi cara berpikir dan tindakan kita. Para murid yang kurang mengerti, justru berpikir bahwa Yesus menegur mereka karena mereka hanya membawa satu potong roti.

Di zaman kita sekarang, kita juga diingatkan untuk berhati-hati dengan “ragi” yang ada dalam hidup kita—baik itu pengaruh dunia yang materialistis, gaya hidup yang salah, atau bahkan ajaran yang menyesatkan. Kita harus tetap berpegang pada ajaran yang benar dan murni, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus.

Yesus lalu menegur para murid, mengatakan, “Mengapa kamu berbicara tentang roti? Jangan kamu masih tidak mengerti? Belum juga kamu mengerti?” Yesus menyoroti betapa para murid sering kali lebih memikirkan kebutuhan duniawi mereka daripada makna yang lebih dalam dari ajaran-Nya. Mereka masih terjebak pada pikiran yang terlalu sederhana bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah masalah roti fisik, padahal Dia ingin mereka melihat pesan yang lebih besar tentang iman dan pengajaran-Nya.
Tuhan ingin kita memiliki pemahaman yang lebih dalam.
Kita diajak untuk tidak terjebak hanya dalam kebutuhan jasmani atau cara berpikir duniawi. Yesus menginginkan kita untuk merenungkan dan memahami hidup ini lebih dalam, betapa Yesus bukan hanya memberi kita roti fisik, tetapi Dia juga memberi kita roti kehidupan yang sejati.

Kemudian Yesus mengingatkan para murid tentang dua mukjizat yang telah mereka saksikan sebelumnya: lima ribu orang diberi makan dengan lima roti, dan empat ribu orang diberi makan dengan tujuh roti. Dia bertanya kepada mereka tentang berapa banyak sisa makanan yang tertinggal setelah itu. Mereka menjawab, “dua belas keranjang” dan “tujuh bakul,” yang menunjukkan betapa besar kuasa Yesus dalam memberi. Namun, meskipun mereka telah menyaksikan mukjizat ini, mereka masih saja tidak mengerti. Yesus bertanya, “Apakah kamu belum mengerti?”

Dalam bagian ini, kita diingatkan jangan lupakan karya Tuhan dalam hidup kita. Sering kali kita cepat lupa akan karya besar Tuhan dalam hidup kita—baik itu dalam memberikan berkat, pertolongan, atau bahkan mukjizat. Yesus mengajak kita untuk selalu mengingat dan merenungkan bagaimana Dia telah bekerja dalam hidup kita. Ingatlah bahwa segala sesuatu yang baik datang dari-Nya, dan melalui pengertian ini, kita bisa lebih bersyukur dan lebih taat kepada-Nya.

Semoga kita dimampukan untuk tidak terjebak dalam cara berpikir duniawi saja, justru dengan iman kita semakin memahami karya-karya Tuhan yang lebih indah dalam hidup kita. Mari kita bersyukur dan bersyukur atas karya Tuhan. Tuhan Memberkati.

RD. Ignasius Adam Suncoko

“Rasa Syukur sebagai Tanda Beriman”

“Rasa Syukur sebagai Tanda Beriman”

Senin, 17 Februari 2025

Bacaan Injil Markus 8:11-13

      Satu fenomena yang menarik dalam perikop Injil Markus 8:11-13 yaitu orang-orang Farisi datang kepada Yesus bukan untuk mencari kebenaran, tetapi justru mereka datang untuk mencobai-Nya. Mereka meminta tanda dari surga. Mereka tidak menyadari bahwa Yesus melakukan banyak mukjizat. Namun, semua itu tidak cukup menjadi bukti bahwa Ia adalah Mesias. Hati mereka tetap keras dan penuh dengan keraguan. Di sinilah permenungan kita bersama, sampai kapan kita akan terus meragukan Allah yang menyertai dengan terus menerus meminta tanda pada Allah, terlebih dalam setiap untaian doa kita?

      Sabda Tuhan yang saya dan Anda renungkan hari ini memberikan satu pengajaran iman yang mendasar bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (bdk. Ibr 11:1). Iman bukan hanya sekadar perasaan sentimentil belaka, tetapi sebuah keyakinan yang teguh kepada Tuhan, meskipun kita belum melihat secara langsung apa yang dijanjikan-Nya. Iman membuat kita tetap percaya bahwa rencana Tuhan akan digenapi pada waktu dan cara-Nya yang tepat. Pengharapan menjadi nyala api yang memberikan dorongan kuat dalam diri seseorang untuk terus mengupayakan pertobatan dan situasi yang lebih baik dari hari kemarin dan hari ini.

      Di sisi lain, saya dan Anda tak jarang berada dalam fase mencobai Allah ketika kita mengalami keraguan dalam mengambil keputusan. Kita meminta Allah untuk memberikan tanda, jalan keluar, solusi, atau petunjuk dalam setiap persoalan yang kita alami. Apa yang lantas dapat kita lakukan ketika kondisi ini terjadi? Dalam keraguan yang pastinya menghampiri inilah kita menjadikan kesempatan ini sebagai pengalaman dimurnikan dalam iman. Proses pemurnian akal budi dan logika kita dengan segala pertimbangan baik buruknya, positif negatifnya, dan berbagai analisa rasional. Kita pun dimurnikan dalam menggunakan rasa dan daya batin untuk menimbang sambil membawanya di dalam doa, puasa, dan matiraga. Tak cukup mengolah akal dan rasa, kita juga semakin didewasakan untuk bersikap tenang mendengarkan suara hati di mana Allah sedang membisikkan pesan-Nya. Hingga akhirnya, saya dan Anda bertumbuh dalam kepekaan merasakan Allah yang tidak tinggal diam menuntun dan mengarahkan hidup kita. Allah menyertai untuk berani mengambil keputusan dan pilihan dalam hidup setiap harinya.  

      Belajar merasakan dan mengalami kehadiran Tuhan melalui pengalaman-pengalaman kecil dalam hidup sehari-hari adalah langkah awal untuk bertumbuh dalam rasa syukur. Tuhan tidak selalu hadir dalam tanda yang spektakuler, tetapi bisa melalui sapaan sederhana seperti renungan-renungan singkat yang setiap hari kita baca dalam Lubuk Hati ini. Jangan sampai saya dan Anda melewatkan momen kehadiran-Nya hari ini hanya karena kita mengharapkan sesuatu yang besar dan luar biasa. (RD Daniel Aji Kurniawan)

Translate »