Browsed by
Author: admin

RENUNGAN: SENIN, 6 JANUARI 2025

RENUNGAN: SENIN, 6 JANUARI 2025

Rm. Ignasius Joko Purnomo O.Carm

Matius 4:12-17, 23-25

Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,

    Bapak-ibu, saudara-saudari terkasih. Sebagai umat kristiani, kita semua baru saja merayakan Natal – Hari Raya Kelahiran Yesus Kristus – dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Bagi kita, Natal merupakan peristiwa agung dan luar biasa, di mana Allah berkenan menjumpai manusia secara nyata dalam diri Yesus, Putra-Nya. Natal adalah peristiwa perjumpaan antara Allah dan manusia, yang secara luar biasa mengubah hidup manusia.

    Bacaan Injil hari ini membawa kita kepada awal pelayanan Yesus di Galilea, sebuah daerah yang disebut oleh nabi Yesaya sebagai “wilayah Zebulon dan wilayah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang Sungai Yordan, Galilea wilayah bangsa-bangsa lain.” Tempat ini adalah simbol kegelapan dan keterasingan. Namun justru disitulah Yesus memulai karya-Nya, membawa terang bagi mereka yang hidup dalam kegelapan. Maka apa yang dikatakan atau dinubuatkan oleh Yesaya menjadi kenyataan:“Bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Yesus hadir sebagai terang yang menerangi kegelapan hidup manusia. Kegelapan di sini tidak hanya merujuk pada dosa, tetapi juga pada penderitaan, kebodohan, rasa tidak berdaya, dan ketidakadilan yang dialami manusia.

    Saudara-saudari terkasih.Mengawali pewartaan-Nya berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Pertobatan ini bukan hanya soal menyesali dan meninggalkan dosa, tetapi juga soal perubahan hati, cara berpikir, dan cara pandang terhadap hidup. Kerajaan Surga yang sudah dekat mengundang setiap orang untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai Allah: keadilan, kasih, pengampunan, dan belas kasih. Sebuah undangan untuk menyelaraskan hidup kita dengan kehendak Allah, untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, dan dengan sesama. Dalam konteks hidup sehari-hari, bertobat berarti berusaha membangun hubungan yang semakin lebih baik dengan Allah, dengan keluarga, komunitas, dan lingkungan hidup kita.

    Saudara-saudari terkasih. Bagi kita sekarang ini, Kerajaan Surga itu bukan lagi sudah dekat, melainkan sudah ada  dalam diri kita. Ketebukaan hati kita untuk menerima dan mengimani Yesus, Putra Allah, yang menjadi manusia; Kerajaan Surga itu tinggal dalam diri kita. Oleh karena itu, satu pertanyaan kecil yang perlu kita refleksikan dan jawab adalah apakah kehadiran Kerajaan Surga dalam diri Yesus yang kita imani sebagai Putra Allah, yang telah tinggal dalam hati kita itu sungguh-sungguh telah mengubah diri dan hidup kita? Inilah yang perlu kita jawab sebagai tanggapan atas seruan Yesus diawal karya-Nya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat.”

    Mari kita mohon Rahmat Tuhan, agar kita dimampukan untuk menanggapi seruan Yesus ini, sehingga seperti Yesus sendiri, kita mampu membawa dan menghadirkan terang kasih Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

    LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH

    LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH

    Rm. Marianus Siriakus Ndolu O.Carm
    (Yoh 1: 29-34)

    Yohanes Pembaptis memberikan kesaksian tentang Yesus sebagai Anak Domba Allah: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia..” (Yoh 1:29).

    Gelar Anak Domba Allah mengingatkan kita akan peristiwa penyelamatan Allah ketika IA membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pada malam paskah pertama, darah anak domba Paskah dioleskan pada pintu-pintu rumah bagsa Israel sebagai tanda pembebasan.

    “Darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah tempat kamu tinggal. Ketika Aku melihat darah itu, Aku akan melewati kamu…” (Kel 12:13).

    Dengan demikian Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus sebagai darah Anak Domba yang menyelamatkan umat manusia dari maut sebagaimana dialami orang Israel pada malam paskah pertama itu. Dan itu berarti Yesus adalah penyelamat umat manusia dari dosa dan maut, dari kematian kekal. Betapa kita berutang budi kepada darah mulia Tuhan kita Yesus Kristus yang telah ditumpahkan bagi penyelamatan kita.

    Doa kita sekarang adalah agar Tuhan menyentuh hati kita untuk semakin mencintai Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menyelamatkan kita dari kematian kekal. Dan cinta kita kepada Sang Anak Domba Allah terungkapkan dalam hidup harian kita yang semakin serupa dengan hidup Yesus sendiri: mencintai Bapa dan mengasihi manusia.

    Translate »