Cinta kepada Tuhan yang hadir dalam diri sesama
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
RENUNGAN 21 AGUSTUS 2025
MATIUS 22:1-14
Injil hari ini berbicara tentang perumpamaan perjamuan kawin yang diadakan oleh seorang raja untuk anaknya. Raja melambangkan Allah. Perjamuan kawin melambangkan Kerajaan Sorga atau keselamatan yang ditawarkan Allah. Selayaknya undangan pesta masa kini, undangan pertama-tama ditujukan kepada orang-orang terdekat, dikenal baik dan ,dikasihi. Tentu jumlahnya terbatas. Undangan pertama disini ditujukan bagi bangsa yang terpilih dan dicintai supaya mereka ikut bersama dalam kebahagiaan Raja. Beragam tanggapan pun muncul dari orang-orang yang diundang. Ada berbagai macam alasan mereka tidak hadir. Sesungguhnya mereka menolak hadir dalam perjamuan kawin. Mereka menolak Raja dan anaknya, yang tak lain adalah Allah Bapa dan Putera. Bangsa terpilih itu adalah bangsa Israel.
Di dalam kehidupan kita hari ini, tidak jarang kita juga tidak dapat hadir ketika diundang kenalan, teman, sahabat atau saudara. Ada berbagai macam alasan yang kita sampaikan kepada orang yang berpesta. Tentu saja kita tidak ingin merusak relasi yang telah ada. Sedapat mungkin kita hadir dalam perjamuan kawin, walaupun hanya sejenak saja. Sesungguhnya ketika kita diundang untuk suatu acara, kita adalah orang special di pikiran dan perasaan orang yang mengundang. Kita secara pribadi masih diingat dan dikenang oleh yang mengundang. Kita adalah pribadi yang tidak dilupakan oleh orang yang mengundang.
Undangan pertama ditolak oleh orang-orang yang terpilih. Raja selanjutnya mengutus hamba-hambanya untuk mengundang setiap orang yang mereka temui di jalan, untuk mewakili undangan Injil yang diberikan kepada semua bangsa. Sayangnya mereka datang dalam keadaaan tidak siap sedia. Mereka datang hanya ala kadarnya. Pakaian yang mereka gunakan juga ala kadarnya. Fisik dan batinnya tidak siap menghadiri perjamuan kawin.
Perumpamaan yang disampaikan oleh Yesus menggambarkan Kerajaan Sorga, undangan Allah kepada setiap manusia dan bagaimana setiap manusia menanggapi undangan-Nya. Undangan dari Allah sangat berharga bagi hidup manusia. Allah memilihkan yang terbaik untuk hidup manusia. Namun terkadang manusia kurang peka pada undangan Allah. Batin dan pikiran manusia tidak mampu menangkap tanda-tanda Allah yang hadir dalam diri manusia. Batin dan pikiran manusia disibukkan dengan kepentingan-kepentingan manusiawi.Allah setiap waktu dapat datang menyapa manusia. Dari pihak manusia yang dibutuhkan adalah kesiap sediaan dirinya menerima undangan Allah dengan hati dan pikiran yang terbuka dan tulus ikhlas. Siapakah kita sehingga berani menolak ajakan undangan Allah untuk berkarya bagi-Nya? Undangan perjamuan kawin adalah ajakan untuk bekerjasama, ajakan berbagi kehidupan, ajakan peduli pada kehidupan orang lain. Undangan Allah menuntut tindakan nyata dari kita. Semoga kita mampu berbuat karya dan tindakan nyata bagi sesama. Tuhan memberkati setiap kepedulian kita. (rm. Medyanto, o.carm)
Fr. Gunawan Wibisono O.Carm
Rm Agung Wahyudianto O.Carm
20 Agustus – Matius 20:1–16 | Peringatan Santo Bernardus
Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur: ada yang datang pagi-pagi, ada yang datang menjelang sore. Tapi semuanya menerima upah yang sama. Beberapa orang merasa tidak adil, tapi sang tuan menjawab: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?”
Injil ini mengajak kita melihat bahwa kasih Tuhan tidak bekerja dengan logika upah atau perbandingan. Ia tidak membayar sesuai lama kerja, tapi memberi sesuai kelimpahan kasih. Sayangnya, hati kita sering sibuk membandingkan: “Mengapa dia lebih diberkati?” “Kenapa saya yang berjuang sejak awal malah merasa rugi?”
Saat hati mulai membandingkan, kita kehilangan damai. Padahal Tuhan mengundang kita bukan untuk bersaing, tapi untuk hadir—bersyukur karena kita pun dipanggil masuk ke ladang-Nya.
Di akhir refleksi ini, kita bisa belajar dari Santo Bernardus, yang dikenang hari ini. Meski ia hidup di tengah pengaruh besar dalam Gereja dan politik, ia memilih jalan keheningan, cinta, dan kesadaran akan kasih Tuhan. Ia tidak sibuk menghitung atau menuntut, tapi menyerahkan hidupnya dengan utuh. Ia menulis, “Tuhan ditemukan bukan oleh pikiran yang gelisah, tapi oleh hati yang damai.”
Hari ini, semoga kita pun memilih untuk hadir dan bersyukur, bukan membandingkan. Karena dalam hati yang tenang, kita bisa melihat bahwa yang terpenting bukan seberapa banyak kita dapat, tapi bahwa kita dikasihi—sepenuhnya.