Hati yang Tenang Tidak Menghitung

Hati yang Tenang Tidak Menghitung

Rm Agung Wahyudianto O.Carm

20 Agustus – Matius 20:1–16 | Peringatan Santo Bernardus

Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur: ada yang datang pagi-pagi, ada yang datang menjelang sore. Tapi semuanya menerima upah yang sama. Beberapa orang merasa tidak adil, tapi sang tuan menjawab: “Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?”

Injil ini mengajak kita melihat bahwa kasih Tuhan tidak bekerja dengan logika upah atau perbandingan. Ia tidak membayar sesuai lama kerja, tapi memberi sesuai kelimpahan kasih. Sayangnya, hati kita sering sibuk membandingkan: “Mengapa dia lebih diberkati?” “Kenapa saya yang berjuang sejak awal malah merasa rugi?”

Saat hati mulai membandingkan, kita kehilangan damai. Padahal Tuhan mengundang kita bukan untuk bersaing, tapi untuk hadir—bersyukur karena kita pun dipanggil masuk ke ladang-Nya.

Di akhir refleksi ini, kita bisa belajar dari Santo Bernardus, yang dikenang hari ini. Meski ia hidup di tengah pengaruh besar dalam Gereja dan politik, ia memilih jalan keheningan, cinta, dan kesadaran akan kasih Tuhan. Ia tidak sibuk menghitung atau menuntut, tapi menyerahkan hidupnya dengan utuh. Ia menulis, “Tuhan ditemukan bukan oleh pikiran yang gelisah, tapi oleh hati yang damai.”

Hari ini, semoga kita pun memilih untuk hadir dan bersyukur, bukan membandingkan. Karena dalam hati yang tenang, kita bisa melihat bahwa yang terpenting bukan seberapa banyak kita dapat, tapi bahwa kita dikasihi—sepenuhnya.

Comments are closed.
Translate »