Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Bukti Nyata Sebuah Pengampunan

Bukti Nyata Sebuah Pengampunan

Kamis dalam Pekan Biasa ke-19
11 Agustus 2016
Matius Mt 18:21–19:1

Apa yang menjadi bukti nyata bahwa kita sungguh menerima berkat pengampunan? Pada Injil hari ini, Yesus memberikan sebuah perumpaan tentang seorang hamba yang dihapuskan hutangnya yang luar biasa banyak, tetapi dia sendiri tidak mau menghapus hutang rekannya. Sang Raja pun marah dan menangkap sang hamba tersebut. Tetapi, kenapa sang Raja harus menhukum sang hamba tersebut? Bukankah masalah utang piutang sang hamba dengan rekannya adalah urusan pribadinya? Bukankah jumlah utang piutang sebenarnya sangatlah kecil untuk mendapat perhatian sang Raja?

Alasan kenapa sang Raja sampai turun tangan bisa kita lihat dari jawaban beliau, “Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau (Mat 18:32-33)?” Kata kuncinya adalah kasih. Sang hamba telah menerima belas kasih yang luar biasa besar dari sang Raja, dan tentunya, dia diharapkan bisa juga membagikan belaskasih yang telah ia terima. Sang hamba yang jahat dihukum bukan hanya karena permasalahan utang piutang yang kecil, tetapi karena ia tidak mampu dan mau berbelas kasih.

Dari perumpamaan di atas, kita bisa menjawab bahwa bukti nyata bahwa kita sungguh menerima berkat pengampunan adalah saat kita juga bisa mengampuni sesama kita. Benar bahwa saat kita menerima sakramen rekonsiliasi, dosa-dosa kita diampuni Tuhan. Namun, apa yang Tuhan inginkan bukanlah sekedar penghapusan dosa, seperti halnya utang-piutang, tetapi juga perubahan hidup yang mendasar, atau metanoia.

Rasanya percuma jika kita pergi ke pengakuan dosa, tetapi kita masih terus memupuk dendam kepada mereka yang bersalah kepada kita. Sepertinya sia-sia, jika kita rajin ke Gereja, tetapi saja suka marah-marah. Sepertinya tidak ada yang baru, jika kita aktif di paroki, tetapi tetap saja suka gosip dan membicarakan orang, apalagi romo parokinya.

Tentunya, perubahan hidup tidaklah mudah, apalagi banyak kebiasaan yang telah mendarah daging. Tetapi, kita selalu diingatkan bahwa kita telah diampuni, kita telah menerima belaskasih yang tak berbayangkan besarnya. Setiap kali kita gagal atau jatuh, kita diingatkan bahwa belaskasih Tuhan melampaui segala kelamahan kita. Kita terus bangun dan berusaha menjadi sarana belaskasih Tuhan kepada sesama.

Pesta St. Laurentius, Martir

Pesta St. Laurentius, Martir

10 Agustus 2016
Yohanes 12:24-26
Dunia saat ini telah menjadi korban dari kesalahpahaman tentang arti menjadi martir. Dengan munculnya berbagai kelompok teroris dan fundamentalis, menjadi martir berarti rela mati demi agama, demi menghancurkan mereka yang dianggap musuh. Kehancuran mereka adalah kemenangan kita. Tidak mengherenkan jika ada orang yang tega meledakan dirinya dan sebisa mungkin membunuh banyak orang, termasuk mereka yang sama sekali tidak bersalah. Masyarakat saat inipun menjadi anti dengan istilah martir, apalagi menjadi martir.
Namun, menjadi martir sebenarnya sebuah konsep yang sangat berbeda di Gereja Katolik. Benar bahwa menjadi martir adalah rela mati demi iman, tetapi ada sesuatu yang sangat berbeda dengan menjadi pengembom bunuh diri. Sementara para teroris membawa bom dan berusaha menghancurkan sebanyak mungkin hidup dengan kematian mereka, martir yang sejati justru membawa hidup dengan kematian mereka. Yesus sendiri bersabda, “Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah (Yoh 12:24).”
 
Bagaimana kematian seorang martir dapat membawa kehidupan? Pada dasarnya, martir sejati menolak menjadi sarana kekerasan dan kematian. Benar bahwa para martir mati karena kekerasan, tetapi mereka merangkul kematian mereka dan menghentikan siklus dendam dan kekerasan dengan pengampunan. Martir pertama di Gereja Katolik adalah St. Stephanus. Dia dilempari batu, tetapi ia tidak memohon Tuhan menghukum mereka. Yang menakjubkan adalah dia berdoa bagi mereka yang membunuhnya dan memohon pengampunan bagi mereka. St. Laurentius yang kita peringati hari ini tidak jauh berbeda dengan para martir Katolik. Sebagai seorang diakon dia mempersembahkan hidupnya untuk melayani kaum miskin dan Gereja di kota Roma. Sebagai martir dia mempersembahkan hidupnya bagi Tuhan.
Beberapa waktu lalu, Rm. Jacques Hamel, seorang imam di Perancis utara, dibunuh saat ia merayakan misa. Gereja diserang oleh dua orang teroris, menyandera Rm. Hamel dan kemudian membunuhnya dengan kekejian. Para teroris tentunya bermaksud untuk menanamkan kebencian antara umat Kristiani dengan Islam. Tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya. Saat misa arwah bagi Rm. Hamel, banyak rekan-rekan Muslim yang menghadiri misa tersebut, dan relasi antara kedua umat pun menjadi semakin erat secara khusus dalam menyerukan perdamaian. Rm. Hamel mati sebagai martir, dan sebagai martir, ia menghentikan kekerasan dan membawa kehidupan yang lebih baik.
Selasa dalam Pekan Biasa ke-19

Selasa dalam Pekan Biasa ke-19

 
9 Agustus 2016
Matius 18:1-5, 10, 12-14
 
Dalam Injil hari ini, murid-murid bertanya kepada Yesus, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga ?” Mungkin, orang yang memiliki kekayaan sangat berlimpah atau posisi penting, atau orang yang memiliki koleksi mobil mewah, atau orang yang memperoleh gelar pendidikan dari Universitas terkenal. Tapi, Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya sebagai model. Yesus menantang konsep keberhasilan dan kebesaran manusia yang sebenarnya bermasalah. Sungguh bermasalah karena ini adalah prestasi yang diperoleh dengan mengorbankan orang lain. Kita perlu menginjak kepala orang lain hanya untuk berada di atas dan mereka yang di bawah tidak melihat apa-apa kecuali pantat kita! Sebuah gambaran yang menyedihkan, tapi dunia modern mempromosikan hal ini!
 
Ada sesuatu yang mendalam dan indah pada Injil hari ini. Anak kecil yang didipanggil Yesus tidak lain merupakan citra-Nya sendiri. Karya penyelamatan Allah sebenarnya terjadi melalui dua momen di mana Yesus adalah sungguh lemah. Raja segala raja lahir sebagai bayi yang lemah lembut di tempat yang sangat miskin, dan Juruselamat kita menyelesaikan misi-Nya sebagai korban ketidakadilan di salib yang paling keji. Namun, mengapa Tuhan menggunakan realitas ini untuk menunjukkan kuasa-Nya yang menakjubkan? Kita percaya karena Allah seorang pembebas, tetapi bukan sebagai komandan militer yang membebaskan dari penjajah atau politikus lihat yang membawa perubahan politik, tetapi bahwa Ia membebaskan kita dari konsep manusia sangat terbatas mengenai dirinya sendiri, secara harfiah Ia membebaskan kita dari diri kita sendiri!
 
Mengapa kita harus naik ke puncak dan akhirnya tidak menemukan apa-apa selain diri kita sendiri? Tuhan memang datang tidak sebagai jendral-penakluk atau seorang politikus cerdas, tetapi Dia adalah seorang bayi kecil yang lemah. Yesus ada di sini untuk menghancurkan dosa, dan salah satu dosa terbesar adalah bahwa kita begitu penuh dengan diri kita sendiri. Dan, ketika Tuhan telah membebaskan kita dari diri kita sendiri, penebusan dan kepenuhan hidup dapat mengalir di dalam hidup kita dan komunitas kita.
 
Peringatan Santo Dominikus de Guzman

Peringatan Santo Dominikus de Guzman

 
8 Agustus 2016
Matius 17:22-27
 
Hari ini Gereja, dan secara khusus, kelurga besar Dominikan di seluruh dunia merayakan pesta St. Dominikus de Guzman, pendiri Ordo Pengkhotbah. Perayaan kali ini sangat istimewa karena bertepatan dengan perayaan berdirinya Ordo Pengkhotbah 800 tahun lalu.
 
Santo Dominikus de Guzman dikenal sebagai “Vir Evangelicus”, atau manusia Injili. Gelar ini dia terima karena semangatnya yang membara untuk memberitakan Kabar Baik ke seluruh penjuru bumi. Saat dia memberitakan Injil di Perancis Selatan dan mencoba membawa kembali jiwa-jiwa yang tersesat karena ajaran Albigensian, dia selalu membawa buku Injil Matius. Misinya sangat melelahkan, sering kali ia menerima penolakan dan tidak sedikit musuh yang mencoba menghabisinya. Namun, ia tidak gentar untuk meninggalkan semua hal dan menghadapi berbagai bahaya dalam misi kerasulannya.
 
Kenapa Dominikus tidak pernah takut dan berhenti memberitakan Injil? Mungkin Injil hari ini bisa memberikan sedikit jawaban. Yesus bersabda kepada para murid-Nya, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia (Mat 17:22).” Diserahkan ke tangan manusia berarti Yesus akan dikhianati, ditangkap, diadili, dan akhirnya dihukum mati. Yesus akan menderita sengsara dan wafat secara mengenaskan. Semua karena Yesus memberitakan Kabar Baik. Mengikuti Yesus berarti Dominikus ikut memwartakan Injil-Nya. Dan seperti Yesus, mewartakan Kabar Baik membawa konsequensi yang tidak menguntungkan dan terkadang mematikan. Seperti Yesus, Dominikus juga akan ‘diserahkan ke tangan manusia’. 
 
Tetapi, Dominikus tidak gentar karena ia tahu bahwa penderitaan bahkan kematian bukanlah kata akhir dari pemberitaan Injil. Yesus telah bangkit dan mengalahkan maut dan semua usaha yang mencoba menghentikan pemwartaan Injil. Maka, ada kebangkitan yang menanti Dominikus dan semua orang yang dengan setia memberitakan Kabar Baik.
 
Kita semua dipanggil untuk mengikuti Yesus dan ini berarti kita ikut dalam misi-Nya mewartakan Kabar Baik. Mungkin kita tidak bisa menjadi seperti santo Dominikus saat dia mewartakan Injil, tetapi mewartakan Injil dapat kita lakukan setiap saat dengan cara-cara sederhana. Apakah kita ulet dalam mendidik anak-anak kita dalam iman katolik? Apakah kita berani untuk terus setia kepada pasangan hidup kita walaupun harus menghadapi banyak kesulitan? Apakah kita memberikan waktu kita untuk aktif di lingkungan atau paroki ditengah-tengah kesibukan kita?
 
Santo Dominikus de Guzman, doakanlah kami!
Translate »