Browsed by
Author: Romo Valentinus Bayuhadi Ruseno OP

Perayaan di tengah Krisis

Perayaan di tengah Krisis

Peringatan Santo Dominikus de Guzman

8 Agustus 2020

Matius 17:14-20

Hari ini Gereja memperingati St. Dominikus de Guzman, Bapak pendiri Ordo Pewarta [OP]. Keluarga besar Dominikan di seluruh dunia yang meliputi para romo, bruder, suster dan juga awam merayakan hari ini sebagai hari pesta besar. Tetapi, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun ini perayaan St. Dominikus tidak bisa semeriah tahun sebelumnya karena kita masih bergulat dengan pandemi korona. Misa dibuat sederhana dan online, pertemuan pun dibatasi jumlahnya. Apakah kita lantas bersedih karena tidak bisa melakukan perayaan seperti biasanya?

Perayaan di tengah krisis ini tidak hanya dialami karena pandemi. Sampai sekarang masih banyak Dominikan yang bekerja di daerah misi yang sangat berbahaya. Saudara-saudari Dominikan yang berkarya di Timur Tengah seperti di Irak dan juga beberapa daerah di Afrika merayakan pesta St. Dominikus di tengah ancaman serangan teroris, bom dan bahaya penganiayaan. Apakah mereka berhenti merayakan pesta ini? Tidak! Sekali lagi jawabannya adalah Dominikan justru menemukan identitas di saat krisis, bahkan krisis antara hidup dan mati.

Kenapa para Dominikan mampu hidup di tengah krisis dan bahkan tumbuh berkembang? Jawabannya Kembali kepada St. Dominikus itu sendiri. Dia menjadi pewarta dan mendirikan Ordo Pewarta sebagai respons terhadap krisis besar di Gereja pada saat itu. Banyak orang Katolik yang tersesat oleh ajaran Albigentian dan banyak imam tidak dipersiapkan untuk mewartakan kebenaran iman. Dominikus punya pilihan untuk Kembali hidup sebagai kanon reguler [imam projo yang hidup berdasarkan regula] dan menikmati kenyamanan hidup di Katedral Osma atau hidup miskin, tidak menetap dan selalu dalam bahaya demi mewartakan Injil. Dan kita tahu pilihan St. Dominikus. Setelah ini, keputusan-keputusan Dominikus selalu menjadi respons dari krisis yang ia jumpai. Saat orang-orang mulai mengikutinya, dia bisa saja mengatakan tidak kepada mereka, karena membangun komunitas pewarta jauh lebih sulit dari pada mewartakan sendirian, tetapi momen krisis ini mendorongnya membentuk sebuah Ordo revolusioner pada waktu itu, sebuah Ordo yang tidak menetap secara permanen di satu biara, tetapi itineran, hidup dalam pengembaraan sebagai pewarta. Saat komunitas kecilnya baru terbentuk, Dominikus menghadapi krisis berikutnya: apakah dia tetap menjaga saudara-saudaranya di dekatnya, atau mengirim mereka untuk belajar di kota-kota besar. Dominikus sekali lagi mengambil keputusan berani dan tidak pernah terdengar sebelumnya saat dia memutuskan untuk mengirim saudara-saudaranya dalam kelompok kecil untuk belajar dan membangun komunitas kecil di Prancis dan Bologna.

Ordo Pewarta terlahir di tengah-tengah krisis atau lebih tepatnya terlahir dari respons berani namun bijak terhadap krisis yang dihadapi. Ini menjadi bagian penting dari identitas kita. Seorang Dominikan terlahir dari krisis, hidup di tengah-tengah krisis dan berkembang di tengah krisis. Mungkin kita selalu punya bayangan bahwa St. Thomas Aquinas hidupnya tenang dan selalu fokus dalam belajar, menulis dan mengajar, tetapi kalo kita perhatikan dengan jeli, hidupnya pun dipenuhi oleh momen-momen krisis, dari oposisi keluarga sampai bagaimana dia membawa sistem filsafat dan logika Aristoteles ke Gereja yang dianggap kafir dan sesat pada saat itu.

Jika ada satu hal yang diajarkan oleh St. Dominikus, kita tidak perlu takut dengan momen krisis, tetapi meresponsnya dengan berani dan bijak, mengambil momen ini untuk melepaskan diri dari naluri insting kita untuk mencari amannya saja dan keluar dari zona aman kita, menjadikan momen ini kesempatan untuk melebarkan kapasitas kita untuk melayani dan berkorban untuk mengasihi lebih dalam.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Sebuah Paradoks Iman

Sebuah Paradoks Iman

Jumat dalam Pekan Biasa ke-18

7 Agustus 2020

Matius 16:24-28

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan titik balik dari kehidupan-Nya. Para pengikut-Nya mengharapkan dia sebagai seorang Mesias yang akan memimpin Israel dalam perang melawan Kekaisaran Romawi dan membawa mereka pada pembebasan politik dan kemerdekaan bagi bangsa Yahudi. Murid-murid-Nya hanya akan menerima Yesus sebagai raja agung yang akan mengembalikan kerajaan dan wilayah David. Selebihnya adalah kesalahan! Dengan demikian, Petrus, pemimpin para rasul, berani bertengkar dengan sang Guru ketika alasan mendasar mereka mengikuti Yesus terguncang. Namun, Yesus tidak datang sebagai jenderal atau komandan perang. Dia mengatakan kepada kita bahwa ia harus menghadapi penganiayaan, penyaliban, dan akhirnya kematian. Dan, lebih buruk lagi, Ia berharap para pengikut-Nya untuk menanggung salib yang sama seperti yang Ia lakukan. Siapa yang akan mengikuti guru gila semcam ini!

Namun, sejarah menceritakan bagaimana pada akhirnya para rasul setia memanggul salib mereka sampai akhir. Petrus disalibkan secara terbalik, Yakobus dan Paulus dipenggal dan rasul-rasul lain memiliki nasib yang tidak lebih baik. Para rasul adalah contoh terbaik dari pengikut Yesus dan salib yang sama diberikan kepada semua umat Kristiani termasuk kita sekarang. Kita juga berdoa bagi pengikut-pengikut Yesus yang menderita dalam perang yang terjadi di Suriah, Irak dan bahkan di Palestina. Ribuan orang meninggalkan kampung halaman mereka tanpa ada harapan akan pulang kembali dan tidak adanya kepastiaan akan masa depan mereka. Banyak meninggal sebagai korban tak berdosa dari perang, tapi yang lain harus kehilangan nyawa karena mereka adalah pengikut Kristus. Kematian mereka berharga di mata Tuhan, sabda sang Pemazmur. Namun, salib ini tidak hanya terjadi di wilayah di mana konflik berkecamuk, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

Salib adalah sebuah paradoks besar iman kita. St. Paulus menyatakan dalam suratnya ke umat di Korintus bahwa Yesus tersalib adalah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi yang bukan Yahudi (lih. 1 Kor 1:23). Namun, ini adalah jalan keselamatan. Salib Kristus menawarkan kita paradoks yang lebih besar. Hanya melalui salib, Tuhan menguatkan kita untuk menjadi seorang yang tidak egois dan membuka kemungkinan bagi kita untuk mengasihi secara lebih dasar. Jika kita membelikan anak kita sebuah iPhone karena kita memiliki banyak uang, itu adalah sebuah kasih yang biasa-biasa saja. Tapi, ketika kita tidak makan agar anak-anak kita memiliki sepiring nasi, tak seorang pun akan berani untuk menyebut kasih ini sebagai biasa-biasa saja. Ketika Yesus berkata bahwa Ia harus memikul salib-Nya dan pergi ke Yerusalem, Dia hanya mengatakan kepada kita bahwa Dia akan mengasihi kita secara lebih radikal. Oleh karena itu, rekan-rekan terkasih, jangan takut untuk mengambil dan memikul salib kita sehari-hari karena kita memasuki sebuah paradoks indah dalam iman kita. Melalui salib, kita dimampukan untuk mengasihi secara lebih besar.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Kemuliaan dan Salib

Kemuliaan dan Salib

Pesta Yesus Menampakan Kemuliaan-Nya

6 Agustus 2020

Matius 17:1-9

Transfigurasi atau Yesus menampakkan kemuliaan-Nya di gunung secara mendasar terkait dengan Salib Yesus. Dalam versi Lukas, Yesus berbicara kepada Musa dan Elia tentang “eksodus” -nya. Ini mengingatkan kita akan bangsa Israel kuno yang keluar dari Mesir, berjalan melewati padang pasir, dan memasuki Tanah Perjanjian. Namun, akhir eksodus yang sebenarnya adalah kota Yerusalem, dan akhirnya Bait suci tempat Allah tinggal di antara umat-Nya. Sama seperti bangsa Israel kuno, eksodus Yesus harus berakhir di Yerusalem.

Momen mulia transfigurasi tidak dimaksudkan untuk bertahan lama. Yesus harus turun dan berjalan lagi menuju Yerusalem. Namun, para murid salah kaprah ketika Petrus menawarkan untuk memasang tenda dan tetap tinggal di gunung itu. Yesus mengingatkan mereka bahwa mereka harus turun. Para murid tidak dapat tinggal di sana, dan mereka harus melanjutkan perjalanan mereka bersama Yesus di Yerusalem.

Ada saat-saat dalam hidup kita bahwa kita percaya bahwa kita telah melihat dan mencapai kemuliaan Allah. Kita merasa sangat diberkati ketika kita berdoa di hadapan Sakramen Mahakudus. Kita mengalami kedamaian selama retret dan meditasi kita. Kita terinspirasi setelah kita mendengarkan khotbah yang penuh semangat. Kita diberi energi kembali oleh lagu dan pujian. Hal-hal ini baik, tetapi mereka tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi akhir dari perjalanan. Kita harus turun bersama dengan Yesus, dan memikul salib kita sehari-hari. Yesus mengerti bahwa tidak ada kasih sejati tanpa penderitaan, tidak ada kemuliaan sejati tanpa rasa sakit, dan tidak ada keselamatan tanpa salib.

4 Maret 2020 lalu, rumah bagi orang tua dan orang cacat dijalankan oleh Misionaris Cinta Kasih di Aden, Yaman, diserang oleh para teroris. Empat suster terbunuh dalam serangan itu. Pekerjaan mereka untuk merawat orang tua di salah satu negara termiskin itu sendiri adalah tindakan heroik, tetapi kemuliaan sejati mereka terletak ketika mereka memberikan hidup mereka sepenuhnya bagi Tuhan dan orang-orang yang mereka cintai. Setiap pagi, para suster selalu berdoa bersama di komunitas, dan doa ini [dipercaya berasal dari St Ignatius dari Loyola] telah menginspirasi mereka melalui saat-saat terakhir kehidupan mereka:

“Tuhan, ajari aku untuk bermurah hati. Ajari aku untuk melayani-Mu sepantasnya; untuk memberi dan tidak menghitung imbalan, untuk berjuang dan tidak mengindahkan luka, bekerja keras dan tidak mencari istirahat, untuk bekerja dan tidak meminta imbalan, kecuali mengetahui bahwa aku melakukan kehendak suci-Mu. ”

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Perempuan Kanaan dan Ibu

Perempuan Kanaan dan Ibu

Minggu Biasa ke-20

5 Agustus 2020

Matius 15: 21-28

“Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuannya.” (Mat 15:27)”

Mengapa Yesus, yang penuh kasih, harus “mempermalukan” perempuan Kanaan? Jika kita menempatkan diri kita dalam konteks dan budaya pada zaman Yesus, kita akan mengerti bahwa apa yang Yesus lakukan adalah sesuai dengan apa yang diharapkan. Ingat Yesus sedang berhadapan dengan perempuan yang bukan Yahudi. Umumnya, orang Yahudi pada zaman itu menghindari kontak dengan orang-orang bukan Yahudi, dan seorang pria Yahudi tidak berdialog dengan perempuan yang bukan istri atau keluarganya di ruang publik. Yesus melakukan apa yang setiap orang Yahudi harus lakukan. Namun, pada akhirnya, Yesus memuji iman sang perempuan tersebut dan menyembuhkan putrinya. Akhirnya, belas kasihan mengatasi perbedaan, dan kasih menaklukkan semuanya.

Seberapa besar iman perempuan Kanaan ini? Jika kita membaca dengan saksama dialog antara Yesus dan perempuan Kanaan, ada tiga tahap “penghinaan”. Tahap pertama: perempuan itu berseru dengan lantang kepada Yesus, memaggil-Nya sebagai Tuhan, Anak Daud, dan mohon belas kasihan bagi putrinya. Yesus mengabaikannya. Tahap kedua: perempuan itu terus berteriak-teriak, dan Yesus menolaknya dengan alasan bahwa Dia dikirim hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Tahap ketiga: perempuan itu bersujud dekat Yesus dan menyembah-Nya, memohon untuk kehidupan putrinya. Yesus mengumpamakan ia seperti seekor anjing, mungkin karena hubungan antara orang Yahudi dan orang bukan Yahudi di wilayah ini telah menjadi sangat buruk sehingga mereka saling memanggil sebagai binatang. Namun, terlepas dari serangkaian penghinaan ini, perempuan tersebut bertekun dan dengan pintar membalikkan keadaan dengan menjawab bahkan anjing pun mendapat belas kasihan dari tuannya. Benar, ada tahapan “penghinaan”, tetapi ada juga perkembangan kerendahan hati dan iman. Dari seseorang yang di luar kelompok, sang perempuan perlahan-lahan mendekati Yesus. Dari seseorang yang di luar pikiran Yesus, iapun berada di hati-Nya.

Apa yang mengilhami kerendahan hati dan imannya yang begitu besar? Saya percaya bahwa itu adalah kasih. Ingat bahwa dia bukan hanya perempuan Kanaan, dia juga seorang ibu. Kita tahu orang tua yang baik, terutama seorang ibu, akan melakukan segala hal untuk anak mereka. Ada ikatan mendalam antara sang ibu dengan anak buah rahimnya, ikatan yang memberdayakan perempuan bahkan untuk mengorbankan hidupnya. Yesus membiarkan “penghinaan” ini karena Dia mengetahui dengan baik kemampuan sang ibu untuk mencintai. Tuhan terkadang membiarkan segala sesuatunya menjadi sulit dalam hidup kita, karena Dia tahu dengan baik kemampuan kita untuk mengasihi dapat berkembang secara luar biasa.

Mari kita mengingat dan berterima kasih ibu kita yang telah mencintai dan berkorban bagi kita. Dan sama seperti mereka, Tuhan memanggil kita untuk memiliki iman dan cinta kasih yang membuat kita jauh lebih besar dari diri kita yang kecil.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Imam Super Kudus

Imam Super Kudus

Peringatan St. Yohanes Maria Vianney

4 Agustus 2020

Matius 15:1-2,10-14

Hari ini kita bersama-sama memperingati Santo Yohanes Maria Vianney. Dia adalah seorang imam dari Perancis yang bekerja di kota kecil Ars. Menjadi pastor paroki di sana sepanjang hidupnya, diapun dikenal sebagai “curé d’Ars.” Paus Benedictus XVI mengangkatnya sebagai santo pelindung dari para imam.

Ada banyak hal tentunya yang bisa kita teladani dari Santo Yohanes Maria Vianney. Salah satu adalah bahwa kesetiaannya dalam pelayanan dan kasihnya yang luar biasa terhadap para pendosa. Santo Yohanes yang terlahir tahun 1786 ini melihat para imam sebagai para pahlawan imam karena saat Gereja Prancis mengalami masa persekusi di masa revolusi Prancis, ada imam-imam yang tetap setia melayani umat meski tahu jika tertangkap mereka akan dihukum mati. Ini yang menjadi inspirasi bagi Yohanes muda dan semangat yang sama ini akan ia hidupi saat iapun menjadi imam.

Saat dia mengikuti Pendidikan di seminari, dia mengalami kesulitan terutama dalam pelajaran Latin. Menguasai Bahasa Latin pada waktu itu sangat penting tidak hanya karena itu adalah Bahasa resmi dari Gereja Katolik Roma, tetapi juga berbagai perayaan sakramen secara khusus Ekaristi dilakukan dalam Bahasa Latin. Penguasaan Bahasa latin menjadi faktor penentu layak atau tidaknya seorang pria menjadi imam. Walaupun hampir gagal, uskupnya melihat bahwa Yohanes memiliki kelembutan hati dan semangat yang membara, sehingga iapun mengizinkan Yohanes untuk menjadi seorang imam.

Yohanes ditugaskan di sebuah kota kecil bernama Ars-sur-Formans tidak jauh dari kota Lyon. Walaupun ditugaskan di kota kecil, sedikit pun dia tidak mengeluh, dan bahkan sebaliknya dia memberikan diri sepenuhnya di dalam pelayanan. Salah satu tugas pentingnya adalah untuk mengembalikan iman dari umatnya yang sepanjang revolusi telah meninggalkan Gereja. Dia tidak hanya melakukan ketekese tetapi dia juga sangat terkenal memiliki kebijaksanaan mendalam saat dia duduk dan mendengarkan pengakuan dosa. Dia bekerja tanpa istirahat sepanjang hari, dan pernah dia bekerja lebih dari 16 jam dalam sehari. Kekudusan dan kebijaksanaannya mulai didengar banyak orang dan mereka pun mulai berziarah ke kota kecil ini untuk mengaku dosa kepada sang imam kudus ini. Menurut cerita, dalam setahun ada lebih dari 200 ribu orang berziarah dan dibawa ke dalam pertobatan dan semakin dekat lagi dengan Tuhan. Setelah mengabdi selama lebih dari 40 tahun sebagai imam di kota Ars ini, dia wafat pada usia 73 tahun. Pada tahun 1925, dia dinyatakan sebagai seorang santo.

St. Yohanes Maria Vianney, doakanlah kami.

Translate »