Sebuah Paradoks Iman

Sebuah Paradoks Iman

Jumat dalam Pekan Biasa ke-18

7 Agustus 2020

Matius 16:24-28

Dalam Injil hari ini, Yesus mengungkapkan titik balik dari kehidupan-Nya. Para pengikut-Nya mengharapkan dia sebagai seorang Mesias yang akan memimpin Israel dalam perang melawan Kekaisaran Romawi dan membawa mereka pada pembebasan politik dan kemerdekaan bagi bangsa Yahudi. Murid-murid-Nya hanya akan menerima Yesus sebagai raja agung yang akan mengembalikan kerajaan dan wilayah David. Selebihnya adalah kesalahan! Dengan demikian, Petrus, pemimpin para rasul, berani bertengkar dengan sang Guru ketika alasan mendasar mereka mengikuti Yesus terguncang. Namun, Yesus tidak datang sebagai jenderal atau komandan perang. Dia mengatakan kepada kita bahwa ia harus menghadapi penganiayaan, penyaliban, dan akhirnya kematian. Dan, lebih buruk lagi, Ia berharap para pengikut-Nya untuk menanggung salib yang sama seperti yang Ia lakukan. Siapa yang akan mengikuti guru gila semcam ini!

Namun, sejarah menceritakan bagaimana pada akhirnya para rasul setia memanggul salib mereka sampai akhir. Petrus disalibkan secara terbalik, Yakobus dan Paulus dipenggal dan rasul-rasul lain memiliki nasib yang tidak lebih baik. Para rasul adalah contoh terbaik dari pengikut Yesus dan salib yang sama diberikan kepada semua umat Kristiani termasuk kita sekarang. Kita juga berdoa bagi pengikut-pengikut Yesus yang menderita dalam perang yang terjadi di Suriah, Irak dan bahkan di Palestina. Ribuan orang meninggalkan kampung halaman mereka tanpa ada harapan akan pulang kembali dan tidak adanya kepastiaan akan masa depan mereka. Banyak meninggal sebagai korban tak berdosa dari perang, tapi yang lain harus kehilangan nyawa karena mereka adalah pengikut Kristus. Kematian mereka berharga di mata Tuhan, sabda sang Pemazmur. Namun, salib ini tidak hanya terjadi di wilayah di mana konflik berkecamuk, tetapi juga dalam kehidupan kita sehari-hari.

Salib adalah sebuah paradoks besar iman kita. St. Paulus menyatakan dalam suratnya ke umat di Korintus bahwa Yesus tersalib adalah batu sandungan bagi orang Yahudi dan kebodohan bagi yang bukan Yahudi (lih. 1 Kor 1:23). Namun, ini adalah jalan keselamatan. Salib Kristus menawarkan kita paradoks yang lebih besar. Hanya melalui salib, Tuhan menguatkan kita untuk menjadi seorang yang tidak egois dan membuka kemungkinan bagi kita untuk mengasihi secara lebih dasar. Jika kita membelikan anak kita sebuah iPhone karena kita memiliki banyak uang, itu adalah sebuah kasih yang biasa-biasa saja. Tapi, ketika kita tidak makan agar anak-anak kita memiliki sepiring nasi, tak seorang pun akan berani untuk menyebut kasih ini sebagai biasa-biasa saja. Ketika Yesus berkata bahwa Ia harus memikul salib-Nya dan pergi ke Yerusalem, Dia hanya mengatakan kepada kita bahwa Dia akan mengasihi kita secara lebih radikal. Oleh karena itu, rekan-rekan terkasih, jangan takut untuk mengambil dan memikul salib kita sehari-hari karena kita memasuki sebuah paradoks indah dalam iman kita. Melalui salib, kita dimampukan untuk mengasihi secara lebih besar.

Valentinus Bayuhadi Ruseno, OP

Comments are closed.
Translate ยป